Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ciwidey Bandung menyambut mereka dengan hamparan daun teh yang luas, dan Arga bisa rileks menikmati pemandangan sejenak melupakan pekerjaannya.
Karena seminggu lagi dirinya akan masuk bekerja.
Setelah dari kawah putih, Arga mengemudikan mobilnya ke kebun teh.
Lena memang membelikan tiket bulan madu dan akan membayar mobil sewa untuk keduanya, namun Arga memilih mengemudikan mobil sendiri tanpa harus merepotkan mertuanya.
Dan uang yang buat sewa supir travel itu lebih baik buat beli bensin.
Sekalian juga Arga sudah lama tak melakukan backpacker.
Mobil Arga melaju pelan menyusuri jalanan sempit dengan hamparan perkebunan teh yang luas.
Jendela sedikit terbuka, angin dingin dengan aroma daun basah, di kursi samping dekat Arga----Rania sibuk dengan kameranya, mengelap lensa, mengganti setelan, sesekali mencondongkan badan demi menangkap sudut terbaik.
"Mas...bisa berhenti?" pinta Rania yang amat tertarik dengan perkebunan teh.
Arga menepikan mobil tanpa bertanya, Rania tersenyum masih mengenakan jacket dan kupluknya---matanya tersenyum memandang luas kebun teh dengan langit warna biru.
Rania sedikit berjongkok di antara barisan tanaman teh.
Seekor kupu-kupu hinggap di daun muda, napasnya tertahan dan mengarahkan kamera---Arga melihat bagaimana istrinya kembali bersemangat.
Klik.
"Yeay dapat," ucap Rania melihat bagaimana fotonya sangat keren.
Arga memperhatikan dari kejauhan, cara Rania berjalan ringan di hamparan kebun teh yang luas.
Mata Arga memejamkan matanya, "Rania...," ujar Arga.
"Aku mencintaimu dengan terlambat, semoga aku bisa mendapatkan hatimu...," lanjutnya matanya mendongak ke langit-langit menatap langit biru.
Mereka kembali menyusuri Ciwidey.
Rania berjalan ringan sambil mengandeng tangan Arga, tatapan pria itu nampak lembut ke arah istrinya yang di lehernya menggantung kamera.
Rania memotret batu-batu besar di tepi jalan, para pemetik teh bekerja beriringan, setiap kali Rania mendekat dengan sopan dan bertanya.
"Permisi Bu?" ujar Rania bertanya dengan lembut.
"Iya ada apa Teh?" tanya ibu-ibu pemetik teh dengan bahasa daerah yang kental.
"Boleh saya minta foto kalian, untuk website saya?" tanya Rania.
Para pemetik teh itu mengangguk dan tersenyum ramah, Rania membalas dengan senyuman yang sama.
Klik.
Satu potret sudah di dapat dan hasilnya lumayan bagus, dan ini bisa di jual di website lalu Rania mengucapkan terimakasih dengan ramah.
Arga hari ini membiarkan Rania tenggelam dalam dunianya, sesekali melirik Rania untuk memastikan aman dan nyaman.
"Keinginan Rania amat sederhana, nggak minta yang aneh-aneh...beda ama para cewek yang gua kenal." ucap Arga melihat Rania.
Hal sederhana dengan membiarkan Rania melakukan hobinya, asal tetap menjaga marwah dan kehormatan keluarga prananda dan keluarga Wiratama-----itu saja sudah membuat Rania senang.
Arga heran kenapa Rania tak seperti para gadis lain yang senang belanja dan suka perhiasan sekaligus barang branded, padahal suaminya juga memiliki penghasilan yang besar----ayahnya Rania juga memiliki bisnis yang berkembang.
"Mas Arga!" panggil Rania yang suaranya menggema di hamparan kebun teh.
Mendengar suara Rania memanggil nama Arga----itu membuat hati Arga nampak menghangat.
Rania berjalan dengan ceria mendekati suaminya, lalu memeluknya erat.
"Liat deh, foto aku," tunjuk Rania.
Mereka nampak akrab. "Udah?" tanya Arga.
Rania menganggukkan kepalanya, lalu keduanya memutuskan kembali ke hotel yang ada di kota Bandung perjalanan amat jauh.
Di dalam mobil Arga menyetir di samping Rania, keduanya tertawa kecil---rasa canggung sudah di gantikan obrolan ringan.
Tapi kedekatan keduanya lebih seperti persahabatan belum sampai hubungan intim, karena Rania masih belum siap dan memberikan izin pada Arga.
Arga mau hubungan ini tanpa ada paksaan, tanpa ada tuntutan----dia mau Rania secara sukarela menerimanya sebagai seorang suami.
Sesampainya di penginapan.
Yang masih dengan hamparan alam, Rania masuk dan langsung merebahkan diri di atas sofa. Penginapan dengan kolam air hangat pribadi.
Kaca jendela yang tipis memperlihatkan pemandangan kota Bandung yang masih alami dengan kerlap-kerlip lampu perkotaan.
Rania melepas sarung tangannya, lalu mencuci tangan sesekali melihat kameranya.
"Mas kamu mandi duluan, aku nanti."
Rania bicara pada suaminya, dirinya masih mau melihat foto-foto tadi di kebun teh dan pemandangan alam Ciwidey.
Arga akhirnya mandi lebih dulu, beruntung kamar mandi sudah tersedia air hangat.
Sementara Rania memeriksa foto-fotonya yang nanti akan dirinya jual ke website, "semoga aja besok laku biar nanti aku traktir Mas Arga es krim," ujar Rania menghela napas.
Tak berselang lama Arga sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos atasan santai warna abu-abu, sementara Rania masih sibuk berkutik dengan laptopnya.
"Udah Mas?" tanya Rania.
Arga mengangguk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, karena untuk mengeluarkan sisa aroma belerang.
Rania mandi.
Mandi dengan air hangat.
Setelah mandi Rania keluar dengan baju santai lengan panjang warna coklat, dan celana coklat, juga rambutnya keriting di biarkan tergerai.
Arga segera menyuruh Rania mengambil wudhu untuk melaksanakan solat----Arga menepati janjinya untuk membimbing Rania.
"Iya aku ambil wudhu," patuh Rania.
Sementara Arga tersenyum dirinya akan memesan makanan lewat ponselnya demi makan malam, memang Arga amat perhatian pada istrinya.
Selesai Rania dan Arga mengambil wudhu.
Arga dengan senang hati memakaikan Rania mukena, dan membantu agar rambutnya nggak kelihatan.
"Mas aku bisa sendiri!" ucap Rania.
Singkat waktu.
Setelah melaksanakan solat, makanan mereka datang dan Arga akan ke bawah mengambil makanan sementara Rania di kamar.
Rania menghela napas, dirinya akan memeriksa koper----Koper dari rumah sebenarnya Lena sendiri yang mengemas untuk putrinya.
Rania secara pribadi sudah membawa dua tas ransel berisi baju, dan berisi alat Photography.
Tapi sang ibu malah membawakannya koper.
"Makanan datang!" ujar Arga memperlihatkan makanan pada Rania.
Hari ini Arga memesan makanan cumi bakar dan sayuran, keduanya makan----Rania mencuci tangan dan membersihkan sisa makanan.
Lalu setelah melakukan aktivitasnya Rania membuka koper untuk mengambil piyama daster, tapi sialnya bukan piyama daster tidur yang seperti dirinya pakai.
Lingerie warna merah.
"Ibu bener-bener keterlaluan!" omel Rania.
Arga yang sedang asyik dengan ponselnya baru saja makan mendekati istrinya demi menanyakan apa yang terjadi.
"Kenapa sayang...," suara Arga mendekati Rania.
"Ini Mas!" ucap Rania yang jengkel.
Satu koper malah berisi lingerie dan hanya kaos tipis yang sudah Lena siapkan, "aku masa mau pake beginian lagi tidur!" gerutu Rania menunjukan lingerie warna merah marun di hadapan Arga.
Arga hanya tertawa terbahak-bahak, karena ibunya Rania lebih memiliki ide---daripada terus menerus menasihati seperti Dian Prananda dan Kartika Wiratama.
Kali ini ide dari Lena berjalan lebih baik untuk jala lintas memiliki cucu, sementara Arga terus tertawa tanpa berhenti.
"Mas...," suara Rania yang jengkel, mengibaskan lingerie ini.
*