NovelToon NovelToon
Cinta Salah Sasaran

Cinta Salah Sasaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia X

Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngeselin tapi lucu

Mobil terbaru keluaran kuda jingkrak yang diklaim Cuma ada sepuluh didunia itu berjalan mulus memasuki halaman rumah megah. Dewa turun dari dalam mobilnya dengan wajah lesu. Ana yang sedang menyiram tanaman dihalaman depan mengernyitkan alisnya melihat wajah Dewa yang muram.

“Wajah dilipat kayak kurang duit aja,” gumam Ana menggelengkan kepalanya, menyamakan dirinya kalau lagi berwajah seperti itu pasti dompetnya kosong melompong, ia tidak sadar apa, kalau Dewa tidak pernah kekurangan duit.

“Woy.. mas Dewa, cemberut aja, kenapa, kurang makan.” sapa Ana setengah meledek, membuat Dewa yang tadinya menundukkan kepalanya seketika mendongak mencari sumber suara yang mengusik pendengarannya dengan wajah bertambah kesal ia menghampiri Ana, menatap gadis itu nyalang.

“Apa loe tadi bilang pendek, berani ya loe ngatain gue, semua ini salah loe tau, gara-gara loe bikin penyok mobil gue, dan membawa serta ikut kunci mobil gue, aku jadi putus sama pacar aku, tau tidak semua itu gara-gara loe, masih ngeledek lagi. Gue tambah pendek kin baru tahu rasa loe, bawakan tas ku, dan bikinkan jus mangga.” Dewa melempar tas ranselnya kearah Ana dengan kesal, sementara Ana jadi planga plongo mendengar Omelan Dewa dengan bahasa campur aduk.

“Sudah dikampus diledekin tiga curut, dari rumah masih ada juga yang ngeledek kin, apa gak menyala telinga dan hatiku”. gerutu Dewa dalam hati dan melepas sepatunya sembarangan dan masuk kedalam rumah menuju kamarnya, dilepas nya kaos yang dikenakannya karena merasa gerah dan menjatuhkan bokongnya di sofa. Mengotak Atik ponselnya, hingga suara jeritan terdengar dari pintu membuat Dewa bertambah kesal begitu melihat Ana yang membalikkan badan membelakanginya, Dewa berdecak.

“Kayak perawan mau diperkosa aja, pake teriak-teriak, sini in minumnya.” perintah Dewa jengah.

“Gak mau ya, pake baju dulu, aku gak mau ya mata aku ternodai oleh tubuh kerempeng mas Dewa,” balas Ana sewot, walau bagaimana pun Ana tidak terbiasa dengan tubuh terbuka seorang pria, karena didalam keluarga nya hanya bapaknya yang laki-laki .

“Eh pendek nyebelin banget sih loe.” ucap Dewa kembali memakai kaosnya.

“Lagian kenapa sih mas harus lepas baju segala kamar juga sudah dingin, ada AC nya, emang kamar ini neraka tiba-tiba jadi panas.” Omel Ana menyodorkan jusnya kearah Dewa yang sudah berkacak pinggang menatap Ana dingin, dengan reflek ia mencomot bibir Ana yang kata para kaum Adam seksi itu.

“Mulutmu, neraka-neraka loe kata gue Fir’aun apa.” kesal Dewa, ia jadi bingung niat hati mau nge-bully nih cewek, malah ia yang sering dikata-katain.

“Mas Dewa ah, tangannya bau terasi, main comot aja, emang bibir aku gorengan apa,” ucap Ana mengusap bibirnya.

“Mirip, loe kan sama tuh kayak si tahu bulat.” jawab Dewa enteng sembari menyesap jusnya.

“Ah..seger nya..” ledek Dewa meminum jusnya dengan dramatis seperti iklan di TV membuat Ana yang gampang tergoda dengan yang namanya makanan, atau yang segar-segar meneguk saliva nya susah payah, membuat Dewa rasanya ingin tertawa melihat wajah Ana yang melongo.

“Mas..” panggil Ana lirih.

“Apa?, mau..?” tawar Dewa dengan wajah dibuat songong.

“Boleh mas?” tanya Ana dengan wajah berbinar.

“Boleh.. tapi..” jawab Dewa menjeda ucapannya dan Ana sudah sangat senang mendengar kata boleh.

“Bikin aja sendiri lagi.” lanjut Dewa sembari terbahak dan langsung menghabiskan minuman yang tinggal separo itu penuh kemenangan, wajah Ana langsung cemberut.

“Dah sana keluar aku mau tidur, nih bawa sekalian gelasnya.” ucap Dewa merasa puas karena bisa mengerjai Ana, dengan wajah kesal Ana berbalik badan dan keluar dari kamar menyisakan tawa Dewa yang terdengar puas sekali karena berhasil membuat Ana marah. Sesampainya didapur Ana memberengut sembari mencuci gelas bekas jus, membuat bik Sum panik, takut Ana tidak betah tinggal dirumah itu karena ulah Dewa.

“Non Ana, kok cemberut, kenapa?, nak Dewa bikin ulah ya, yang sabar non nak Dewa memang begitu orang nya tapi sebenarnya baik kok.” ucap bik Sum agar Ana tidak marah lagi.

“Bibik bikin sambel mangga sama bakar ikan, ayo cicipi, enak banget Loh.” ucap bik Sum lagi, sebelum Ana menjawab, mendengar ikan bakar dan sambel mangga, mata Ana seketika berbinar senang, emosi yang tadi ia bawa dari kamar Dewa seketika lenyap tidak bersisa,

“Ayo bik, aku juga sudah lapar lagi, emang pas sekali, bibik memang the best, rasa kesal ku sama mas Dewa langsung lenyap, kan gak boleh menyia-nyiakan makanan, ayo bik cepat, keburu ileran nanti aku.” bik Sum seketika tertawa mendengar ucapan Ana yang ajaib, namun ia sangat senang dan langsung menarik pergelangan tangan Ana, mengajaknya kearah belakang dimana disana ada pohon jambu besar yang rindang dan sudah ada mba Wati dan Ida juga mang Usup, duduk bersila diatas tikar membentuk lingkaran, mereka menyambut Ana dengan senyum cerah.

“Wiih mantep banget, bisa gendut aku kalau tiap hari kayak gini.” seloroh Ana tanpa babibu langsung duduk dan mengambil piring, mengisinya dengan nasi.

“Gak usah takut gendut, yang penting kenyang dan bisa menghadapi kenyataan yang kata orang kejam.” ucap mba Wati penuh semangat.

“Iya, biar punya tenaga kamu An, biar bisa menghadapi tuan muda yang kalau rewel bikin pusing kepala, ngalahin sepupuku yang umurnya dua tahun.” sahut Ida cengengesan.

“Benar mba, mas Dewa kalau tantrum suka ngeselin, tapi tenang aja aku gak akan kalah, mas Dewa mah gak ada apa-apanya dibanding emak Ana dirumah.” sahut Ana dengan wajah santai walau yang di gibahi emak sendiri rada laknat memang jadi anak, emak sendiri dikata-katain, membuat semua orang menahan tawa, lucu melihat ekspresi Ana yang tanpa beban menjuliti emak sendiri, agak lain memang. Setelah selesai mengenyangkan perutnya Ana pun pamit mau menyiapkan keperluan nya besok untuk MOS dikampus, dan mereka pun langsung memberi semangat 45.

Bunyi alarm terdengar nyaring tepat pukul setengah lima subuh, tubuh berbalut selimut tebal itu menggeliat sesaat sebelum terduduk dengan rambut semrawut, dan menguap kecil.

“Astaga sudah pagi aja, ayo semangat Ana, kerjakan tugasmu sebelum membangunkan bayi besar.” ucap Ana beranjak dari ranjang empuknya menuju kamar mandi, setelah rutinitas pagi selesai Ana langsung berlari menuju kamar Dewa, mengetuknya sesaat dan mendorong pintu itu pelan, matanya seketika melebar, Ana kembali mengucek matanya tidak percaya.

“Kenapa loe cosplay jadi patung.” tegur Dewa yang sedang menyisir rambut nya melirik kearah Ana yang juga sudah rapi.

“Wow, apakah hari ini akan turun hujan deras, kok mas Dewa sudah rapi.” goda Ana mendekat.

“Maksudmu apa, aku kan memang rajin, gitu aja baru tahu, bawakan tasku.” perintah Dewa berjalan keluar dari kamar, Ana yang masih melongo heran dengan jawaban Dewa, hanya bisa pasrah dan segera mengambil tas Dewa yang berada diatas ranjang dan berlari mengejar langkah Dewa.

“Mas Dewa sarapan dulu.” ucap Ana yang sudah membawa sepiring nasi kehadapan Dewa yang sedang memasang sepatu.

“Aku gak biasa sarapan, kamu aja yang makan.” jawab Dewa tanpa melihat kearah Ana.

“Tinggal mangap aja kok susah to mas, ini aku suapin lho, kalau nanti mas Dewa gak makan tambah cungkring gimana, kan kasian cakep-cakep dibilang kurang gizi,” ucap Ana dengan gemas, perkara makan aja susah banget, kayak bocil harus dibujuk dulu.

“Aku bilang..” belum selesai Dewa ngomong sendok berisi nasi dan teman-temannya masuk kedalam mulutnya.

“Tinggal makan aja Lo susah mas, banyak orang diluar sana itu gak bisa makan, mbok ya bersyukur mas, kurang apa lagi, ini tinggal mangap doang Lo, masih gak mau makan, gak harus masak dulu gak kasian sama bik Sum yang sudah masak apa, makanan enak gini kok gak mau makan.” omel Ana sembari menyuapkan kembali kearah Dewa yang masih planga plongo dengan omelan Ana yang panjang kali lebar, namun terus membuka mulutnya begitu sendok itu didepannya terakhir segelas susu masuk juga ke perutnya.

“Nah pinter,” ucap Ana tersenyum puas, sedangkan Dewa mengerjabkan  matanya dengan wajah masih bingung, karena kekenyangan, karena setiap pagi ia tidak pernah sarapan.

“Kok jadi galakan dia dari pada aku, dasar pendek, awas aja.” gumam Dewa tersenyum smrik mengambil sesuatu dari tas Ana yang tergeletak disampingnya dan memasukkannya kedalam tasnya dan ia pun keluar dari rumah menuju mobilnya dengan hati bahagia.

1
Ria Ningsih
up nya 2 x sehari kak klau bsa
Sabia X: Waduuh, keriting nanti otak sama jariku kak Ria, 🤣 diusahakan.
total 1 replies
Heni Mulyani
lanjut
Heni Mulyani
lanjut.tetap semangat up nya
Heni Mulyani: tetap semangat
total 2 replies
Ria Ningsih
ceritanya seru
Sabia X: terimakasih..👍
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!