NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran Arka

Retak di cangkang telur semakin melebar setiap hari, seperti urat nadi yang pecah perlahan di kulit dunia. Cahaya merah dari dalam sudah tidak lagi redup. Ia menyala terang, menerobos celah-celah retak dan menerangi kuil rahasia seperti obor raksasa yang terlalu dekat. Panasnya bukan panas yang membakar batu atau kayu; panas itu hidup, bernapas, dan seolah meminta ruang untuk keluar.

Sari tidak lagi tidur di kamarnya. Sudah seminggu ia tinggal di kuil, membawa tikar pandan dan selimut tipis, tidur di depan altar dengan tangan selalu menyentuh cangkang telur. Ia tidak makan banyak—hanya buah dan air dari sungai kecil di belakang kuil. Api Phoenix di dadanya menyala terus-menerus, seolah tubuhnya sendiri menjadi bagian dari lingkaran api pelindung yang mengelilingi telur.

Malam itu hujan turun deras di luar. Air hujan mengalir melalui celah-celah batu atap, tapi tidak pernah menyentuh telur—seolah ada perisai tak terlihat yang menolak air. Sari duduk bersila, mata terpejam, tangan di atas cangkang. Denyut telur sudah tidak lagi seperti jantung bayi. Ia berirama kuat, cepat, seperti genderang perang yang mendekat.

Tiba-tiba retak terbesar di bagian atas cangkang pecah dengan suara keras—seperti kayu kering yang dibelah kapak. Cahaya merah menyilaukan meledak dari celah itu, menerangi seluruh ruangan hingga Sari harus menutup mata sejenak. Saat ia membuka mata lagi, cangkang mulai runtuh seperti kerang yang terbelah.

Sari tidak bergerak. Ia hanya menatap, napas tertahan.

Dari dalam telur, sesosok kecil muncul perlahan. Bukan bayi manusia, juga bukan naga dewasa. Seekor naga kecil—ukurannya sebesar anak kucing besar—dengan sisik merah menyala seperti bara yang baru terbakar. Sayapnya masih rapat menempel di punggung, basah oleh cairan telur yang bercahaya. Matanya tertutup rapat, tapi saat ia mengangkat kepala kecilnya, dua mata itu terbuka: mata merah seperti lava cair, tapi di dalamnya ada kilau emas samar—cahaya yang tidak seharusnya ada di naga api.

Makhluk itu mengeluarkan suara pertama—bukan raungan, tapi seperti desahan kecil yang hangat, seperti hembusan api dari tungku kecil.

Sari merasa dadanya terbakar—bukan sakit, tapi seperti api Phoenix-nya menemukan pasangannya. Ia mengulurkan tangan pelan, jari-jarinya gemetar.

Naga kecil itu mengendus udara, lalu kepalanya bergerak ke arah Sari. Ia merangkak keluar dari sisa cangkang, tubuhnya masih basah dan licin, sisiknya berkilau di bawah cahaya lilin dan api lingkaran. Saat ia menyentuh telapak tangan Sari, panas yang sama mengalir ke keduanya—api yang saling mengenal, saling melengkapi.

“Siapa kau?” bisik Sari, suaranya penuh takjub.

Naga kecil itu mengangkat kepala. Mulutnya kecil terbuka, dan suara pertama yang keluar bukan desahan lagi—tapi kata-kata, kecil, serak, tapi jelas.

“Aku… Arka,” katanya. “Aku lahir… untukmu.”

Sari menahan napas. Air mata emas jatuh dari matanya, menguap jadi uap tipis sebelum menyentuh sisik Arka.

“Arka…” ulang Sari. Nama itu terasa tepat, seperti sudah ditakdirkan. “Sinar api.”

Arka mengangguk kecil—gerakan yang lucu untuk naga bayi. Ia merangkak lebih dekat, kepalanya bersandar di telapak tangan Sari. Panas dari tubuhnya menyatu dengan panas api Phoenix Sari, menciptakan getaran hangat yang menyebar ke seluruh ruangan.

Sari memeluknya pelan—tubuh kecil Arka terasa ringan, tapi kuat. Sisiknya lembut seperti sutra yang terbakar, tapi tidak menyakitkan. Ia bisa merasakan detak jantung Arka melalui sisik itu—detak yang selaras dengan detak jantungnya sendiri.

“Kau aman sekarang,” bisik Sari. “Aku tidak akan biarkan mereka menyakitimu.”

Arka mengeluarkan suara kecil lagi—seperti dengkuran puas. Matanya merah lava itu menatap Sari dengan kepercayaan penuh.

Tapi kedamaian itu tidak bertahan lama.

Pintu kuil terbuka dengan keras. Dewi Lara masuk bersama enam Phoenix bersenjata rantai api dan tombak api. Di belakang mereka, Raden Surya berdiri dengan wajah tegang.

“Kami merasakan kelahiran,” kata Dewi Lara. Suaranya dingin seperti angin di puncak gunung. “Telur itu sudah lahir. Dan sekarang… kita harus akhiri.”

Sari berdiri di depan Arka, tubuhnya menghalangi. Api Phoenix-nya meledak penuh—lingkaran api di sekitar altar menyala tinggi, membentuk dinding pelindung yang lebih kuat dari sebelumnya.

“Kalian tidak akan menyentuhnya,” katanya, suaranya tidak lagi gemetar. “Ia bukan ancaman. Ia anak yang baru lahir. Dan aku ibunya sekarang.”

Dewi Lara melangkah maju. Api di tangannya menyala merah gelap. “Kau sudah terikat dengannya, Sari. Itu yang membuatmu buta. Naga ini lahir dari api yang tidak seharusnya ada. Kalau kita biarkan ia hidup… keseimbangan empat raja akan runtuh lagi. Kutukan lama bisa kembali.”

Arka mengeluarkan suara kecil—bukan ancaman, tapi seperti tangisan bayi yang ketakutan. Ia bersembunyi di belakang kaki Sari, sayap kecilnya menutupi kepala.

Sari menatap Dewi Lara tanpa mundur. “Kutukan lama sudah dipatahkan. Garini dan anaknya mematahkan itu dengan cinta, bukan dengan pembunuhan. Kalau kalian bunuh Arka sekarang… kalian akan menciptakan kutukan baru. Kutukan dari darah yang tidak bersalah.”

Raden Surya maju. “Sari, mundur. Ini bukan pilihanmu.”

Sari menggeleng. “Ini pilihan aku. Dan pilihan dia.”

Arka mengeluarkan suara lagi—kali ini lebih kuat. Api kecil muncul dari mulutnya, bukan untuk menyerang, tapi untuk melindungi. Api itu menyentuh dinding pelindung Sari, membuat api Phoenix Sari semakin terang, semakin merah.

Dewi Lara menatap telur yang sudah pecah, lalu naga kecil di belakang Sari. Matanya menyipit.

“Kau sudah terikat dengannya,” katanya. “Kalau kami bunuh dia sekarang… kau juga akan mati bersamanya.”

Sari tersenyum kecil—senyum yang penuh tekad.

“Maka biarkan kami mati bersama. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian membunuh anak yang tidak bersalah hanya karena takut.”

Ruangan menjadi hening. Api lingkaran pelindung Sari berderit pelan, seperti napas yang menunggu keputusan.

Dewi Lara menatap Sari lama. Lalu ia menghela napas—bukan marah, tapi lelah.

“Pergi,” katanya tiba-tiba. “Bawa naga itu. Pergi dari klan. Kalau ia membawa kehancuran… kau yang tanggung jawab. Kalau ia membawa harapan… mungkin kau benar.”

Raden Surya tersentak. “Dewi—”

Dewi Lara mengangkat tangan. “Cukup. Kita sudah kehilangan terlalu banyak karena ketakutan. Biarkan Sari dan naga itu pergi. Kita akan lihat apa yang akan terjadi.”

Sari memandang Dewi Lara dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih.”

Dewi Lara tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan pergi, diikuti para tetua lain.

Sari berlutut di depan Arka. Naga kecil itu merangkak ke pelukannya, kepalanya bersandar di dada Sari. Api kecil dari mulutnya menyentuh kulit Sari. bukan membakar, tapi menghangatkan.

“Kita pergi sekarang,” bisik Sari. “Ke tempat yang aman. Ke tempat kau bisa tumbuh tanpa takut.”

Arka mengeluarkan suara kecil, seperti setuju.

Sari menggendongnya dengan hati-hati. Naga kecil itu ringan, tapi panas tubuhnya terasa seperti matahari kecil di pelukannya.

Mereka keluar dari kuil rahasia saat fajar menyingsing. Hutan pinus menyambut mereka dengan kabut pagi. Di belakang, Merapi masih mengeluarkan asap tipis, seolah gunung itu sendiri mengucapkan selamat tinggal.

Dan di depan, dunia menunggu. dunia yang belum siap untuk raja naga baru.

Tapi Sari sudah siap.

Karena ia tahu: api yang lahir dari cinta tidak akan pernah benar-benar membakar dunia.

Ia hanya akan menerangi.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!