NovelToon NovelToon
Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irara

Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.

Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.

Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.

Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.

“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”

Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.

Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.

“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”

Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melipatgandakan emas

Terlepas dari perkataan Lucy yang terdengar cerah, Rhea masih merasakan rasa bersalah yang ditujukan kepadanya di mata zamrudnya.

Seperti biasa, Rhea tidak menggali alasan perasaan itu cukup dalam. Dia tidak perlu ikut campur terhadap emosi orang lain, walaupun dia bisa saja membantu.

“Sudah larut, Kak. Tidak kembali?”

Dia tidak bermaksud mengusirnya, hanya saja kedatangan Lucy terlalu tiba-tiba dan Rhea belum memberi peringatan pada John—takutnya bocah itu menyelinap masuk ke kamarnya karena sakit perut.

“Kakak ingin menemanimu di sini sampai kamu tidur,” kata Lucy santai, terlihat sudah terbiasa. Tangannya menata bantal keduanya dan melepas sepatu botnya.

“Kakak…” Rhea memutar matanya, mencari alasan. “Aku belum memperingatkan pelayanku untuk masuk.”

“Dia agak sensitif, suka memikirkan hal-hal yang tidak biasa.”

Meskipun John tidak seperti itu, dia hanya menambahkannya untuk menyiratkan ketidaknyamanannya.

“Tubuh wanita Kakak memang sulit menimbulkan kesalahpahaman, tapi tetap saja…”

Rhea benar-benar minta maaf pada Lucy dalam hatinya, tetapi dia memang tidak nyaman tidur bersama orang lain di ranjang yang sama. Dia sensitif terhadap suara dan selalu mendengar bunyi sekecil apa pun saat tidur.

Dia tidak mau mengorbankan tidur nyenyaknya hanya karena takut hubungannya dengan Lucy merenggang. Memang agak menyebalkan, tetapi dia harus seperti itu.

“Begitu ya?” Lucy memelintir rambutnya, berkata canggung. Tampak dia merasakan ketidaknyamanan Rhea. “Oke.”

Dalam benaknya terlintas bahwa Rhea mungkin tidak sepenuhnya mempercayainya karena kehilangan ingatannya. Jadi Lucy pun mengalah dan menghormati keinginannya.

“Kalau begitu, tolong mantra ilusinya.” Lucy turun dan menegakkan tubuhnya. Dia berputar sebentar sambil melihat dirinya di cermin, lalu menatap Rhea, menunggu.

Rhea mengamatinya dengan penasaran. Dia tidak terburu-buru menggunakan sihir dan membiarkannya mengagumi tubuh perempuannya sendiri.

“Tidak terasa umurku sudah hampir tiga puluh…”

Ketika Lucy bergumam, Rhea ikut berdiri dan duduk di sampingnya. Dia mengambil kotak kue di meja dan menyerahkannya padanya.

Setelah Lucy mengucapkan terima kasih dan asyik melihat kue itu, Rhea membuka bibirnya.

“Selama berpenampilan laki-laki…” Rhea berhenti, ragu ingin melanjutkan atau tidak.

“Hm?”

Lucy menoleh dan mengangkat alisnya, menunggu.

“Itu…” Rhea berdehem, sedikit malu-malu. “Sudah pernah menjalin hubungan romantis?”

Sebagai penggemar cerita menyimpang dengan alur absurd, Rhea tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

Baik Lucy menemukan pasangan pria maupun wanita, bukankah ini sangat menarik untuk ditonton sebagai drama?

“Uhuk… uhuk!”

Batuk disengaja keluar dari mulut Lucy. Dengan raut kesal bercampur malu, dia menggeram, “Hal aneh apa yang ada di otakmu itu?”

“Cerita romantis?” jawab Rhea pura-pura polos.

“Kamu pikir ada pria yang mau menjalin hubungan denganku saat ini?” Lucy menunjuk wajahnya sendiri, lupa kalau dia kini tidak memakai penyamaran.

Rhea tak tahan dengan ekspresi malu-malu itu dan bertanya polos,

“Kenapa? Kakak Lucy itu cantik, kuat, dan sangat seksi. Pria mana yang bisa menolak pesonanya?”

Meskipun Rhea hanya bercanda, wajah Lucy sudah semerah tomat. Dari situ, sebuah pencerahan muncul di kepala Rhea.

“Mungkinkah Kakak memang punya?”

Ini adalah pertanyaan yang muncul saat melihat Lucy bertingkah seperti seseorang yang menyimpan kisah asmara epik.

“Dan itu dalam identitas sebagai Komandan Louise? Seorang pria?”

Nadanya penuh energi, ingin mengulik lebih dalam.

“Siapa pria istimewa itu? Ksatria di bawah komandomu? Wakil komandan? Atau mungkin rival?”

Ini pertama kalinya Rhea begitu bersemangat mencari tahu sesuatu selain sihir dan makanan. Tubuhnya terasa geli oleh kesenangan yang memabukkan.

“Bagaimana kamu bisa menebak itu wakil komandanku!” Lucy mengerutkan alisnya, tersentak keras, lalu menunjuknya dengan tangan gemetar.

“Tebakanku benar?” Rhea berkedip, tak percaya salah satu tebakannya tepat sasaran.

Menyenggol Lucy ringan, dia menatap polos.

“Kakak belum memberitahunya kebenaran? Jadi dia mencintai wujud Komandan Louise, kan?”

“Siapa yang dominan? Dia atau Kakak?”

Lucy tidak menjawab. Kesadarannya sudah melayang jauh karena malu—hubungan cintanya terbongkar oleh adik perempuannya sendiri.

Rhea berhenti menanyainya dan menyelimutinya dengan mantra ilusi seperti sebelumnya.

“Ka-karena sudah larut, aku pergi dulu.”

Lucy—yang kini sudah berubah menjadi Komandan Louise yang kekar—melambaikan tangan ramah, lalu menuju pintu dan menghilang dibawa angin malam.

Setelah menutup pintu balkon dan menarik tirai selambu, Rhea merebahkan diri di ranjangnya.

Disengaja atau tidak, dilihat dari cara Lucy kabur setelah dihujani pertanyaan, mungkin frekuensi Lucy menemuinya akan berkurang.

Itu hanya tebakan Rhea. Jika Lucy memang memiliki urat malu yang tebal, meskipun menemuinya berarti harus menghadapi pertanyaan memalukan seperti tadi, bisa saja besok dia tetap datang.

“Sejujurnya aku tidak sengaja melakukannya,” gumam Rhea.

Dia selalu pandai mengulik emosi seseorang jika benar-benar ingin. Saat rasa penasaran muncul, kadang dia melewati batas. Pada akhirnya, menyakiti perasaan orang lain sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan.

Setelah menepuk kepalanya pelan, dia mengingatkan dirinya sendiri untuk menahan diri agar tidak mengorek rahasia orang lain.

Dia pun memiliki rahasia yang harus dijaga.

“Tapi sesekali melakukannya juga tidak apa-apa…” tambahnya munafik.

Kesadarannya berputar pada rencana kegiatan esok hari dan kejadian tadi, hingga tanpa sadar dia tertidur.

...........

Pagi harinya, waktu sarapan Rhea terganggu oleh kedatangan kepala pelayan tua.

“Yang Mulia Putra Mahkota ingin menemui Anda nanti pukul sepuluh siang. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.”

“Kenapa menunggu sampai pukul sepuluh? Dia bisa menemuiku kapan saja jika ada yang ingin dibicarakan,” ucap Rhea tak percaya.

Putra Mahkota Azz adalah orang yang memberinya cuti sakit. Dia pasti tahu Rhea tidak melakukan apa-apa seharian dan tak perlu membuat janji hanya untuk menemuinya.

Kepala pelayan itu berdehem beberapa kali, membuat Rhea meletakkan garpunya yang berlumuran selai stroberi.

“Kalau begitu, Yang Mulia diperbolehkan masuk sekarang?”

Kata-kata itu membuat Rhea hampir tersedak. Dia segera mengambil serbet, menyeka mulutnya, lalu menatap kepala pelayan seolah berkata, kau bercanda? Kenapa Yang Mulia meminta izinku?

Kepala pelayan memalingkan muka dan mengarahkan pandangannya ke pintu yang terbuka perlahan.

Sosok bocah berambut hitam itu tampak mencolok seperti biasa, hanya saja raut wajahnya terlihat terdistraksi. Aura ketenangan khasnya tak mampu menyembunyikan kecemasan yang tertangkap jelas oleh Rhea.

“Ada apa, Yang Mulia? Apa yang bisa gurumu bantu?” Rhea mengambil inisiatif setelah menjawab salamnya. Dia duduk tegak dan menatap serius.

Azz tak membuang waktu untuk basa-basi. Dia menunduk, memohon dengan sungguh-sungguh.

“Guru, tolong temani saya keluar istana!”

Nada suaranya berat, jelas takut membuat Rhea tidak senang, tetapi tampak tak punya pilihan lain.

“Untuk apa, Yang Mulia?” tanya Rhea dengan ekspresi netral.

Dia tidak sepenuhnya menolak, hanya ingin penjelasan agar dapat meminimalkan hal yang tidak diinginkan.

Ekspresi Azz mengeras. Setelah mengamati Rhea dan tak menemukan tanda keengganan, dia pun menjelaskan.

“Ada pekerjaan yang harus saya lakukan di Kota Templess, tetapi saya tidak ingin banyak pengawal. Satu orang saja cukup, jadi saya memilih Anda.”

Yang sulit dipahami adalah alasan Putra Mahkota mengajaknya, bukan orang lain. Rhea merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Haruskah Guru yang ikut? Tidakkah Anda mempertimbangkan orang lain yang lebih dapat diandalkan?” tanyanya.

“Ingatanku belum sepenuhnya pulih. Jika ada yang mencelakai kita, takutnya aku tak bisa melindungi,” ucap Rhea.

Namun Putra Mahkota tetap bersikeras.

“Tidak. Saya hanya ingin ditemani Anda, Guru,” katanya tegas.

“Kalaupun ada situasi berbahaya, tidak apa-apa jika Guru kabur. Saya bisa melindungi diri sendiri.”

“Baiklah.”

Rhea tidak mendorongnya lebih jauh dan menerima permintaan itu.

Kecemasan Putra Mahkota jelas menyembunyikan sesuatu. Rhea merasa perjalanan ini berpotensi berbahaya—mungkin berkaitan dengan sekte atau urusan lain yang hanya diketahui Azz.

Meski demikian, Rhea tak tega membiarkan muridnya menghadapinya sendirian. Setidaknya dia memiliki banyak mantra. Jika bahaya muncul, dia masih bisa membawa muridnya kabur.

Mungkin menyadari kekhawatirannya, Putra Mahkota menenangkan.

“Tidak sampai sebahaya yang Guru kira. Kita hanya perlu pergi ke suatu tempat di kota itu.”

“Guru tidak mengkhawatirkan hal itu.”

Yang dikhawatirkan Rhea justru kegelisahan Putra Mahkota sendiri. Apa yang membuat anak setenang dan serasional itu begitu gelisah?

Pasti sesuatu yang sangat istimewa.

...........

Perjalanan menuju Kota Templess terasa panjang bagi Rhea yang tidak terbiasa bepergian. Tiga jam menaiki kereta kuda membuat punggungnya nyeri, sampai-sampai dia menggunakan mantra penyembuhan lebih dari lima kali.

Templess adalah salah satu kota besar di Kerajaan Romanov yang berada di wilayah kekuasaan Marquis Herbert.

Dikelilingi hutan dan Pegunungan Evergreen di utara hingga barat, udara di sini jauh lebih sejuk dibandingkan ibu kota kerajaan yang berada dekat pantai.

Begitu kereta berhenti, Rhea langsung melompat turun tanpa menunggu. Dia hampir terjatuh di depan muridnya karena kecerobohan itu.

“Kita tidak menginap di kediaman Marquis Herbert?” Rhea bertanya dengan bingung ketika mereka tiba di depan sebuah penginapan tak dikenal yang sekilas tampak jarang dimasuki pelanggan.

Sambil mengambil ranselnya dari kusir, Azz mengenakan jubah untuk menyembunyikan dirinya, lalu menjawab pertanyaan Rhea.

“Ini perjalanan rahasia. Ayah pun tidak tahu. Tidak mungkin kita tiba-tiba mengunjungi Marquis Herbert tanpa izinnya.”

“Anda sangat berani, Yang Mulia,” ujar Rhea dengan nada tak percaya, memujinya secara sarkastik.

“Terima kasih, ini sifat bawaan sejak lahir.”

Sungguh kepercayaan diri yang luar biasa. Rhea tak bisa memungkiri betapa kagumnya dia pada bocah sepuluh tahun ini.

Melihat ransel di punggungnya, Rhea menyadari dirinya tidak membawa apa pun selain dirinya sendiri. Merasa tidak nyaman membiarkan anak kecil memikul beban sendirian, dia berinisiatif untuk membawanya.

“Ransel ini terlalu berat bagi Guru. Biar saya saja yang membawanya,” kata Putra Mahkota saat Rhea menawarkan bantuan.

Ucapan itu sungguh tidak masuk akal. Selemah apa dirinya jika dibandingkan bocah sepuluh tahun?

Namun, jika bocah itu adalah Putra Mahkota Azz, Rhea tak dapat sepenuhnya menyangkalnya. Bocah itu juga telah menapaki jalan ksatria, sehingga otot-ototnya jelas lebih kuat daripada archmage kurus sepertinya.

Meski begitu, Rhea tidak menyerah. Dia merebut ransel itu secara paksa. Wajahnya seketika memucat ketika merasakan beratnya di lengan.

“Apa—kenapa berat sekali?!” Rhea hampir kehilangan keseimbangan dan terseret jatuh ke tanah karena tak sanggup menahan bebannya.

“Ya—Yang Mulia… ransel ini tidak berisi batu, kan?” ucap Rhea terengah-engah.

Azz membantunya berdiri, lalu membuka sedikit ransel itu di hadapannya.

“Sejenis, tetapi jauh lebih berharga.”

Melihat benda berkilau yang sangat familiar dari celah kecil yang dibuka Azz, Rhea buru-buru menghentikannya.

Mereka masih berada di jalan. Terlalu banyak pasang mata yang mungkin berniat jahat pada keduanya yang tampak seperti mangsa empuk.

Isinya adalah kepingan emas. Putra Mahkota benar-benar…

Ekspresi Rhea berubah serius setelah mengetahui isi ransel tersebut. Dia segera memberi mantra gravitasi untuk meringankan bebannya, lalu menambahkan mantra ilusi agar emas itu tampak seperti tumpukan pakaian.

Bergandengan tangan, keduanya masuk ke lobi penginapan dan langsung dicegat oleh pemilik penginapan itu sendiri.

Putra Mahkota ternyata telah menyiapkan segalanya sebelumnya. Tak lama kemudian, Rhea sudah berada di kamarnya dan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur begitu melihatnya.

“Guru, bolehkah saya masuk?”

Mendengar ketukan dan suara Putra Mahkota, Rhea bangkit dan membuka pintu.

Azz masuk sambil membawa ransel berisi emas itu lagi, membuat Rhea tak kuasa menahan diri untuk bertanya.

“Yang Mulia, kenapa Anda membawa ransel berat itu lagi?”

Sihir yang Rhea gunakan memang masih berlaku, tetapi rasanya tetap tidak enak dilihat ketika seorang anak kecil membawanya ke mana-mana.

“Guru, murid ini punya permintaan.”

Azz meletakkan ransel itu di atas tempat tidur Rhea dan mengeluarkan isinya. Kepingan emas itu masih terlihat seperti tumpukan pakaian.

“Permintaan apa?” tanya Rhea.

“Apa Guru bisa melipatgandakan emas ini?”

Rhea memiringkan kepalanya. Pikirannya seakan terhenti.

“Yang Mulia, apa yang Anda harapkan dari saya?”

Di dunia ini, archmage memang sangat diagungkan, tetapi tidak sampai dianggap setara dengan dewa, bukan?

Atau inikah alasan para archmage begitu dikagumi oleh Kekaisaran Arcana?

1
Manisaja
Sudah kuduga /Yawn/Akuh bilang tahan atu
Lily air: apa si kak gak ngerti, aku pusing ;)
total 1 replies
Andi Ilma Apriani
hadiiirrr thooorr
Manisaja
Aku tau dari kebiasaan mu buat sama baca cerita sukanya buat mc lemah gampang sakit atau pingsan padahal latarnya op, aku tahu tapi tolonglah dikendalikan ya ya? gak maksud ngajak berantem aku jangan maragh 🙏🙏 Jangan ngambeg awas
Lily air: ❤️┐(︶▽︶)┌❤️
total 1 replies
Manisaja
Lanjut!!!! Udah lumayan ngalir lancar gak kaku kayak pertams
Manisaja
Keliatan banget ini putra mahkota kalau gak regresi atau reikarnasi juga tingkahnya gak kayak bocah, bener gak dugaanku? 🧐
Lily air: kamu maunya gitu? oke kutulis gitu (¬‿¬ )
total 1 replies
Manisaja
Ulah gurumu itu Yang mulia sihirnya gak bener ngerusak kaca
Manisaja
Bisa sok keren juga dia 🤣
Manisaja
Gilakk pantesan cowo pada takutt tapi pelayan cewe gak diapa apain ya sama dia
Manisaja
Tak kusangka sangka ternyata kejadiaannya kayak ginj
Manisaja
Mi apa to?
Manisaja
Lah iya siapa yang nyangka kalau ngancemnya pake candaan ggak masuk akal?
Manisaja
Sebenarnya gak lucu tapi apa hah? Makan daging bisa nguras energi sihir?? aku baru tahu di sini
Manisaja
Lo Kok di skip gimana ceritanya? Cerita yang diceritain John mana?!!
Manisaja
Lah elah dipotong gini gak jelas iih
Manisaja
Apaan tuh 🧐🧐
Manisaja
Cowo imut
Manisaja
Putra mahkota siapa namanya? Belum disebuttin
Manisaja
Mmemuji di bawah sinar bulan? aku bayanginnya ko lucu ya🤣 Apa si yang lo tulis ra aamh
Manisaja
Novel baru ya raaa 🤣 Oke ku baca
Lily air: terserah baca aja gak ada yang larang :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!