Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Mas
Setelah kejadian pendarahan yang menegangkan itu, hubungan mereka terasa semakin spiritual sekaligus intim. Zayn benar-benar membuktikan ucapannya, ia menjadi pelayan nomor satu bagi Abigail selama masa pemulihan.
Sore Hari di kamar perawatan yang tenang, Abigail sedang bersandar pada tumpukan bantal. Zayn sedang telaten memotong buah apel untuk istrinya. Suasana begitu hening hingga Abigail menatap wajah suaminya yang terlihat sangat fokus.
"Mas Zayn..." panggil Abigail lirih.
Zayn seketika mematung. Pisau buah di tangannya hampir saja tergelincir. Selama ini, Abigail memanggilnya dengan sebutan "Gus", "Zayn", atau terkadang "Sayang" jika sedang manja.
Tapi panggilan "Mas", sebuah panggilan tradisional Jawa yang sarat akan rasa hormat dan kasih sayang seorang istri kepada suaminya, terasa begitu berbeda di telinga Zayn.
Zayn menoleh perlahan, matanya bergetar menatap Abigail. "Kamu... panggil apa tadi?"
Abigail tersenyum manis, pipinya sedikit merona. "Mas. Mas Zayn. Aku merasa panggilan Gus itu terlalu formal untuk pria yang sudah menggendongku lari-lari di tengah malam demi menyelamatkan nyawa anakku. Padahal Dari semalam loh aku panggil kamu Mas, Sayang. Aku ingin memanggilmu seperti istri-istri di sini memanggil suami mereka."
Zayn meletakkan piring buahnya. Ia mendekat dan duduk di tepi ranjang, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abigail. Bahunya sedikit berguncang, bukan karena sedih, tapi karena rasa bahagia yang menyesakkan dada.
"Kamu tahu, Sayang?" bisik Zayn dengan suara parau. "Panggilan itu... terasa lebih indah daripada pujian ribuan orang. Saat kamu memanggilku Mas, aku merasa benar-benar memiliki tempat berteduh. Aku bukan lagi sekadar pemimpin pesantren, aku adalah pria milikmu."
Zayn mendongak, menatap Abigail dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh gairah yang lembut. Ia mencium telapak tangan Abigail dengan takzim. "Panggil lagi, tolong."
"Mas Zayn..." ucap Abigail lagi, kali ini dengan nada menggoda.
Zayn tidak bisa menahan diri. Ia mengecup bibir Abigail dengan lembut namun penuh penekanan, sebuah ciuman yang menyalurkan rasa terima kasih dan cinta yang luar biasa. Panggilan sederhana itu ternyata mampu meruntuhkan dinding pertahanan seorang Gus Zayn yang dingin.
"Mulai sekarang, jangan pernah panggil aku Gus atau Zayn lagi kalau kita sedang berdua," perintah Zayn dengan nada posesif yang seksi. "Hanya Mas. Dan sebagai imbalannya, Mas-mu ini akan memberikan apa pun yang kamu inginkan, lahir dan batin."
Abigail tertawa kecil, merasakan jemari Zayn yang mulai mengelus perut buncitnya dengan penuh kasih. Panggilan itu benar-benar menjadi mantra baru yang membuat gairah di antara mereka terasa lebih dewasa dan bermakna.
Malam itu, setelah kepulangan mereka dari rumah sakit, suasana kamar terasa jauh lebih tenang. Abigail sedang bersandar di dada bidang Zayn sembari menikmati semilir angin malam yang masuk dari celah jendela. Zayn, yang kini sudah resmi dipanggil Mas, sedang membacakan bait-bait puisi Arab tentang cinta dengan suara rendahnya yang menggetarkan.
Tiba-tiba, Abigail tersentak. Ia meraih tangan kanan Zayn dan meletakkannya tepat di atas perut buncitnya yang berusia tujuh bulan.
"Mas... diam sebentar. Rasakan ini," bisik Abigail dengan mata berbinar.
Zayn terdiam, menahan napasnya. Awalnya tidak ada apa-apa, namun sedetik kemudian, sebuah gerakan kuat dari dalam rahim Abigail terasa tepat di telapak tangan Zayn. Dug! Sebuah tendangan kecil namun tegas, seolah-olah sang bayi sedang menyapa ayahnya.
Mata Zayn membelalak. Sisi bad boy yang biasanya tak kenal takut itu seketika luluh. Ia merasakan getaran aneh yang menjalar dari telapak tangannya langsung menuju jantungnya.
"Dia... dia menendang, Sayang? Mas merasakannya!" seru Zayn dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.
Zayn segera merosot dari sandaran ranjang, berlutut di samping perut Abigail. Ia menempelkan pipinya ke perut istrinya, menunggu tendangan berikutnya. Dug, Dug! Sekali lagi, sang bayi memberikan respons tepat di pipi Zayn.
"Masya Allah... Nak, ini Ayah," bisik Zayn dengan nada yang sangat lembut, jauh dari kesan dingin yang biasanya ia tunjukkan pada dunia. "Terima kasih sudah sekuat ini di dalam sana. Ayah dan Ibu sudah tidak sabar menunggumu."
Abigail mengusap rambut Zayn yang kini terasa sangat dekat. "Sepertinya dia tahu kalau Ayahnya sekarang dipanggil Mas. Dia jadi semangat sekali."
Zayn mendongak, menatap Abigail dengan tatapan yang sangat dalam. Ada kilatan gairah yang berbeda di matanya, bukan lagi sekadar nafsu, melainkan rasa cinta yang sakral. Ia mengecup perut Abigail dengan penuh takzim, lalu beralih mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.
"Terima kasih, Habibi. Tendangan kecil ini membuatku sadar bahwa tanggung jawabku sebagai pria bukan hanya menjagamu, tapi juga menjaga titipan Allah ini dengan nyawaku sendiri," ucap Zayn dengan janji yang tulus.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan bercengkerama bersama sang buah hati yang terus aktif bergerak. Setiap kali bayi itu menendang, Zayn akan membalasnya dengan usapan dan doa, menciptakan momen paling intim yang pernah mereka rasakan sejak menikah.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍