Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolehkah aku datang lagi?
" Kak Elora!”
Tubuh Elora tersentak keras. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar panti yang sudah sangat ia kenal. Dinding kusam, lemari kayu tua, dan aroma khas minyak kayu putih.
“Kak Elora, kamu mimpi buruk ya?”
Romi berdiri di samping ranjangnya, wajah kecilnya tampak cemas. Matanya menatap Elora tanpa berkedip, seolah takut kakaknya itu akan kembali terlelap dalam mimpi yang menakutkan.
Elora tersentak duduk. Napasnya masih memburu. Tangannya gemetar saat meraih lengan bocah laki-laki itu. Hangat. Nyata. Sentuhan itu membuat dadanya sedikit lebih tenang.
“Romi…” suaranya parau. “Kamu yang panggil aku?”
Romi mengangguk pelan. “Iya.”
Ia menunduk sebentar, lalu berkata lirih, sedikit malu, “Aku mau pipis…”
Elora terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. Ia menarik Romi ke dalam pelukannya, menempelkan kening ke rambut bocah itu.
“Ya sudah,” bisiknya lembut. “Ayo, Kakak temani.”
Namun di balik senyum kecilnya, jantung Elora masih berdetak tak beraturan.
Karena meski ia sudah terjaga sepenuhnya, sisa-sisa mimpi itu masih terasa nyata..terlalu nyata untuk sekadar disebut bunga tidur.
“Apa… kamu dengar aku nyebut nama siapa?”
Romi berpikir sejenak. “Kayak… Arelion?”
Jantung Elora seakan berhenti berdetak.
Ia menoleh cepat ke meja kecil di samping ranjang. Di sana, buku dongeng itu tergeletak. Sampulnya sedikit terbuka, seolah baru saja dibaca. Judulnya masih sama.
Pangeran Tidur.
" Ayo kak..aku udah nggak tahan ," ujarnya seraya menarik pelan lengan Elora.
Dan saat Elora kembali ke kamar, matanya kembali jatuh pada buku dongeng yang semalam ia bacakan.
Jantung Elora berdegup tak karuan.
Perlahan ia mendekat. Jemarinya gemetar saat membalik halaman itu dengan hati-hati. Di sana, tepat di bagian akhir cerita, ada satu kalimat yang semalam tidak pernah ia baca.
Tulisan itu tampak berbeda dari huruf lainnya. Lebih halus. Lebih hidup.
Seakan baru saja ditorehkan.
Dengan tinta keemasan yang samar, kalimat itu terukir jelas:
Pangeran menatap sendu cahaya itu… kini ia kembali sendirian
Napas Elora tercekat.
Ia menatap kalimat itu lama, seolah huruf-hurufnya bisa menguap kapan saja jika ia berkedip.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak, seolah kesedihan yang bukan miliknya merambat masuk ke dalam hati. Bayangan taman bunga tanpa matahari itu kembali terlintas. Sungai berkilau. Tatapan mata abu-abu yang sunyi.
“Arelion…” bisiknya lirih, hampir tak bersuara.
Buku itu jelas bukan buku biasa.
Dan mimpi itu… bukan sekadar mimpi.
Di suatu tempat, di antara dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan,
Elora menutup mulutnya, menahan napas yang tiba-tiba terasa sesak.
Ia sudah kembali ke dunianya.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu
tidak semua bagian dirinya ikut kembali
Tangannya sedikit bergetar saat menyentuh halaman buku. Tinta hitamnya terasa hangat, nyata. Ini bukan mimpi semata. Ada sesuatu yang benar-benar berubah.
“Kak?” Romi mencondongkan tubuhnya, menatap wajah Elora penuh rasa ingin tahu. “Kamu kenapa?”
Elora tersadar. Ia segera menutup buku itu dan memeluk adiknya. “Nggak apa-apa. Kakak cuma mimpi aneh.”
Romi menguap, lalu tersenyum kecil. “Tentang pangeran tidur?”
Elora terdiam sejenak. “Iya.”
Bocah itu tampak puas, lalu kembali naik ke ranjang kecilnya. Tak lama kemudian napasnya kembali teratur, tenggelam dalam tidur polos anak-anak.
Namun Elora tak bisa tidur lagi.
Sepanjang hari, bayangan taman cahaya terus muncul di kepalanya. Sungai berkilau. Langit keperakan. Dan sepasang mata tenang milik Arelion yang menatapnya seolah ia adalah satu-satunya jangkar di dunia itu.
Saat sore tiba, Elora membantu pekerjaan di panti seperti biasa. Menyapu halaman, menyiapkan makan malam, tersenyum pada anak-anak lain. Tapi pikirannya melayang jauh.
Apakah ia akan bertemu Arelion lagi malam ini?
Dan jika iya… apa yang sebenarnya ia masuki?
Malam turun perlahan. Setelah memastikan Romi tertidur, Elora duduk di ranjangnya, buku dongeng itu kembali terbuka di pangkuannya. Kali ini ia tidak langsung membaca. Ia ragu.
“Kalau aku membacanya lagi…” bisiknya pada diri sendiri, “apa aku benar-benar akan kembali ke sana?”
Keheningan menjawabnya.
Dengan tarikan napas panjang, Elora mulai membaca.
Bukan keras-keras. Hanya berbisik. Namun setiap kata terasa berat, seolah membuka pintu yang tak terlihat.
Kelopak matanya terasa berat.
"Kalau aku membacanya lagi…” bisik Elora pada dirinya sendiri, “apa aku benar-benar akan kembali ke sana?”
Keheningan menjawabnya.
Ia menarik napas panjang, lalu mulai membaca.
Bukan dengan suara lantang. Hanya bisikan pelan, nyaris tak terdengar. Namun setiap kata terasa berat, seolah mengetuk sesuatu yang tak kasatmata.
Tak ada cahaya.
Tak ada taman bunga.
Tak ada sungai berkilau.
Hanya sunyi.
Kelopak matanya akhirnya terpejam, tubuhnya terlelap… namun saat ia terbangun, dunia itu tak kunjung hadir.
Elora duduk di ranjang, menatap langit-langit kamar dengan dada terasa kosong.
“Kenapa… nggak bisa?” gumamnya pelan.
Tangannya membolak-balik buku dongeng itu dengan gelisah, mencari sesuatu yang mungkin terlewat. Setiap halaman terasa sama, diam, tak bereaksi. Tak ada kalimat baru. Tak ada sinar keemasan.
Rasa kecewa menyelinap perlahan, menekan dadanya tanpa ampun.
Bukan karena ia gagal bermimpi.
Tapi karena ia merasa… meninggalkan seseorang.
“Apa ada yang aku lewatkan?” bisiknya lirih.
Pandangan Elora berhenti pada halaman awal. Tepat di bawah judul Pangeran Tidur, ada tulisan kecil yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan. Hurufnya samar, hampir tersembunyi di lipatan kertas.
Ia mendekatkan wajahnya.
Dongeng ini hanya akan terbuka bagi mereka yang benar-benar terjaga saat bermimpi… dan tertidur saat hatinya terjaga.
Elora terdiam.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Mungkin…” suaranya nyaris bergetar, “bukan bukunya yang berubah.”
Tangannya menekan dada sendiri.
Di suatu tempat, jauh di antara batas sadar dan tidur,
seorang pangeran kembali menatap cahaya dengan harap yang nyaris padam.
Dan dunia pun kembali runtuh.
Malam berikutnya datang lebih pelan dari biasanya.
Elora tidak langsung membuka buku itu. Ia meletakkannya di samping bantal, seperti seseorang yang menaruh sesuatu yang berharga, lalu duduk bersila di ranjang. Lampu kamar ia matikan. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat celah jendela.
Kali ini ia tidak terburu-buru ingin kembali.
Ia memejamkan mata.
Mengingat taman itu.
Bunga-bunga yang bergoyang seolah bernapas.
Sungai kecil yang berkilau tanpa matahari.
Dan sepasang mata pucat yang menatapnya dengan kesepian yang tak pernah diucapkan sepenuhnya.
“Arelion…” bisiknya, bukan sebagai panggilan, tapi sebagai pengakuan.
Dadanya menghangat. Ada perasaan aneh, seperti rindu pada tempat yang baru sekali ia datangi, namun terasa lebih nyata daripada hidupnya sendiri.
Elora lalu membuka mata dan mengambil buku itu.
Namun kali ini, ia tidak membaca kisah pangeran.
Ia menutup halaman dongeng… dan berbicara.
“Aku nggak tahu kenapa aku dipanggil ke sana,” ucapnya pelan, jujur. “Aku cuma gadis biasa. Aku nggak punya kekuatan apa-apa.”
Jari-jarinya bergetar di atas sampul buku, seolah menyentuh sesuatu yang hidup.
"Tapi…” napasnya tertahan sesaat, “hatiku terus terpanggil untuk kembali ke sana. Bolehkah aku datang lagi?”
Suaranya melemah, hampir seperti doa.
“Aku nggak mau datang cuma sebagai mimpi.”
Hening.
Bukan keheningan kosong, melainkan sunyi yang terasa mendengar.
Lalu..
sesuatu berubah.
Udara di kamar Elora bergetar halus, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari. Cahaya bulan di dinding meredup, lalu memantul aneh, seolah terbelah menjadi dua bayangan.