Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Langit Bali berwarna jingga saat matahari perlahan tenggelam.
Nara berdiri di balkon kamar, menatap garis laut yang memantulkan cahaya keemasan. Angin hangat meniup rambutnya lembut, berbeda dengan udara Jepang yang sejuk dan teratur.
"Di sini terasa lebih santai, lebih hidup." kata Nara di dalam hati.
“Laper?” suara Arkan terdengar dari belakang.
Nara menoleh. “Sedikit.” jawab Nara.
Arkan meraih kunci mobil. “Yuk. Kita jalan.”
“Ke mana?” tanya Nara.
“Keliling dulu. Lihat suasana malam Bali.”
Nara tidak banyak bertanya kali ini. Ia hanya mengikuti Arkan turun dari resort, menikmati suara ombak yang bersahut-sahutan dengan tawa tamu lain di sekitar pantai.
"Malam Bali ternyata berbeda." batin Nara lagi dengan senyum di bibirnya.
Lampu-lampu temaram di sepanjang jalan pantai menyala hangat. Musik akustik terdengar dari beberapa restoran terbuka. Aroma seafood bakar bercampur dengan angin laut.
Nara menghirup dalam-dalam. “Ini enak banget baunya,” kata Nara pelan.
Arkan tersenyum. “Pilih yang mana?” tanya Arkan.
Mereka akhirnya duduk di sebuah restoran tepi pantai. Meja kayu dengan lilin kecil di tengahnya. Pasir halus terasa di bawah kaki.
Nara memandangi menu, matanya berbinar saat melihat banyak pilihan sambal.
“Akhirnya!” seru Nara pelan. “Ada sambal beneran.” kata Nara.
Arkan tertawa. “Sejak kapan kamu tersiksa banget di Jepang?” tanya Arkan.
“Sejak hari pertama.” jawab Nara sambil terkekeh.
Makanan datang, ikan bakar, cumi, udang, lengkap dengan nasi hangat dan sambal matah.
Kali ini Nara makan dengan lahap. Arkan hanya menatapnya sambil tersenyum.
“Kamu lebih bahagia di depan sambal daripada di depan Gunung Fuji,” goda Arkan.
Nara mendengus kecil. “Gunung Fuji cantik. Tapi sambal bikin hidup.” jawab Nara yang membuat Arkan terkekeh.
Malam semakin larut. Setelah makan, Arkan mengajak Nara berjalan menyusuri deretan toko kecil di sekitar pantai.
Lampu toko menyala warna-warni. Pajangan tas rotan, kain pantai, gelang handmade, dan berbagai pernak-pernik lucu menggoda mata.
Nara berhenti di depan satu toko kecil. Tas-tas anyaman dengan bentuk unik tergantung rapi. Lucu. Sederhana.
“Astaga…” gumam Nara pelan.
Arkan berdiri di belakangnya. “Suka?”
Nara mengangguk tanpa sadar. Ia masuk ke dalam toko, menyentuh satu per satu tas kecil berbentuk bulat dengan hiasan bunga kering.
“Ini cocok buat Sandra,” kata Nara pelan. Lalu Nara mengambil tas kecil lain dengan warna lembut.
“Ini buat Ibu kayaknya bagus.” Tangannya berhenti di tas mungil dengan gantungan lucu.
“Kalau ini… buat Indira pasti senang.” Nara menyebut nama salah satu sepupunya.
Arkan memperhatikannya diam-diam. Nara tidak pernah berpikir membeli barang mahal untuk dirinya sendiri. Tapi begitu melihat sesuatu yang manis, yang pertama ia pikirkan adalah keluarganya.
“Kamu nggak beli buat diri sendiri?” tanya Arkan.
Nara tersenyum kecil. “Yang ini buat aku,” kata Nara sambil mengangkat tas rotan sederhana. “Yang lain titipan rasa kangen.” jawab Nara.
Arkan membayar tanpa banyak komentar.
Saat keluar dari toko, Nara menggenggam tas belanja kecil itu erat.
“Kemarin habis resepsi ngga ketemu ayah sama ibu, kok rasanya kangen ya,” gumam Nara.
Arkan menoleh. “Kangen rumah?”
“Sedikit.”
Angin malam meniup rok panjang Nara pelan. Musik dari kafe terdekat terdengar lembut. Arkan meraih tangan Nara.
“Nanti kita ajak mereka liburan,” kata Arkan ringan.
Nara langsung menatapnya. “Jangan langsung besar-besar dulu rencananya.”
Arkan tersenyum. “Istriku ini ya…”
“Apa?” tanya Nara.
“Kamu itu kayak ngga percaya sama aku." jawab Arkan.
Nara terdiam. "Ya mengajak keluargaku kan butuh persiapan, paling tidak kamu harus siap mental." jawab Nara.
"Gampang di atur." jawab Arkan.
Nara merasa terharu, suaminya benar-benar merangkul keluarganya. Dan sekarang Nara tahu, Ia berdiri di Bali, membawa tas kecil untuk keluarganya, makan seafood di tepi pantai bersama suaminya, dan tertawa tanpa beban. Itu semua bukti cinta dari suaminya.
“Terima kasih ya,” ucap Nara pelan.
“Untuk apa?”
“Untuk semua ini." jawab Nara.
Arkan menggenggam tangan Nara lebih erat. Mereka kembali ke resort saat malam sudah semakin sunyi. Suara ombak terdengar lebih jelas.
Di kamar, Nara menata tas-tas kecil yang baru saja ia beli di meja, membayangkan wajah keluarganya saat menerima oleh-oleh.
Arkan berdiri di belakang Nara, memeluknya dari belakang dengan lembut.
“Bahagia?” bisik Arkan.
Nara mengangguk. “Malam pertama di Bali ternyata nggak kalah sama Jepang.”
Arkan tersenyum di rambut Nara. Dan di antara aroma laut, suara ombak, dan tas-tas lucu yang penuh makna, malam itu menjadi milik mereka.
Pagi harinya, Arkan menurunkan ponselnya perlahan setelah panggilan dari Indah berakhir. Beberapa detik Arkan hanya diam, menatap layar yang sudah gelap.
Di kamar hotel Bali yang tenang itu, suara ombak samar terdengar dari kejauhan. Arkan menghela napas pelan.
Arkan sebenarnya mengerti keinginan ibunya. Indah sudah lama menunggu Arkan menikah, wajar jika sekarang ia juga mulai membicarakan cucu. Namun bagi Arkan, pembicaraan itu terasa terlalu cepat. Nara masih sembilan belas tahun. Baru mulai kuliah. Masih terlalu banyak hal yang harus Nara nikmati sebagai gadis muda sebelum menjadi seorang ibu. Arkan mengusap tengkuknya, sedikit gelisah.
Namun ternyata Nara tidak jauh. Nara berdiri di dekat meja, pura-pura merapikan tas kecil yang semalam ia beli. Padahal sejak tadi Nara sudah mendengar semuanya.
Arkan tadi menyalakan loudspeaker tanpa sadar. Jadi setiap kata Indah terdengar jelas.
“Arkan Ibu cuma bilang… kalau kalian jangan terlalu menunda punya anak. Ibu juga pengen cepat gendong cucu.” Kalimat itu masih terngiang di kepala Nara.
Nara menggigit bibirnya pelan. Bukan karena marah. Lebih karena bingung.
Arkan baru menyadari Nara berdiri di dekat meja ketika Arkan menoleh.
“Kamu sudah selesai?” tanya Arkan. Yang tadi memang Nara dari kamar mandi.
Nara mengangguk kecil. “Sudah.”
Arkan menatap wajah istrinya beberapa detik. Ia tahu Nara pasti mendengar pembicaraan tadi.
“Dengar ya,” kata Arkan akhirnya sambil mendekat. Nara mengangkat wajahnya.
“Kalau Ibu ngomong soal cucu, kamu jangan dipikirin.” Nada suara Arkan tenang, tapi tegas.
“Kita tidak perlu terburu-buru.” kata Arkan lagi.
Nara berkedip pelan. “Tapi… Ibu kelihatannya berharap,” ucap Nara hati-hati.
Arkan menghela napas pendek lalu duduk di tepi tempat tidur. “Ibu memang begitu. Tapi yang menjalani hidup ini kita.” Arkan menatap Nara dalam. “Kamu masih kuliah.” lanjut Arkan.
Nara tidak menjawab, hanya mendengarkan.
“Aku tidak mau kamu merasa hidupmu berhenti hanya karena menikah sama aku.” Kalimat itu membuat Nara terdiam.
“Kalau nanti kamu siap… kalau kamu sendiri yang ingin punya anak… baru kita pikirkan,” lanjut Arkan.
Nara berjalan mendekat perlahan. “Kalau kamu?” tanya Nara.
Arkan mengangkat alis. “Aku?”
“Iya. Kamu mau cepat punya anak atau tidak?” tanya Nara.
Arkan menatap wajah Nara beberapa detik. Lalu ia tersenyum tipis.
“Aku mau… tapi bukan sekarang.”
Nara terlihat sedikit lega. “Aku baru dapat kamu. Masa langsung dibagi sama bayi?”
Nara langsung memukul bahu suaminya pelan. “Ih… apaan sih.” wajah Nara memerah.
Arkan tertawa kecil. “Tapi serius,” kata Arkan lagi. “Aku mau kamu menikmati hidup dulu. Jalan-jalan, kuliah, bikin desain, apa pun yang kamu suka.” kata Arkan.
Nara menatap Arkan lama. Entah kenapa, hatinya terasa hangat. Selama ini ia sering merasa dirinya hanya gadis sederhana yang kebetulan dinikahi pria seperti Arkan. Namun setiap kali Arkan bicara seperti ini, Nara merasa dihargai. Bukan hanya sebagai istri. Tapi sebagai dirinya sendiri.
“Kalau suatu hari aku ingin punya anak?” tanya Nara pelan.
Arkan tersenyum. “Aku yang paling senang.”
Nara menunduk sedikit, tersipu.
“Tapi sekarang…” Arkan tiba-tiba menarik tangan Nara dan membuatnya duduk di sampingnya.
“Kita masih honeymoon.” kata Arkan.
Nara mendesah pelan. “Kamu ini ya…”
“Apa?” tanya Arkan dengan wajah meledek.
“Maniak.” jawab Nara.
Arkan tertawa. “Baru tahu?”
Nara memutar mata, tapi bibirnya ikut tersenyum.
Di luar jendela, suara ombak Bali terus berbisik pelan, sementara di dalam kamar hotel itu, dua orang yang baru belajar menjadi pasangan suami istri masih mencoba memahami masa depan mereka, tanpa terburu-buru, tanpa tekanan, hanya mengikuti langkah yang terasa benar bagi keduanya.