‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Buruan Pertama
Darah itu tumpah di atas batu kapur yang dingin, menciptakan pola abstrak yang mengerikan di lantai gua. Warnanya bukan merah cerah yang melambangkan vitalitas, melainkan hitam pekat, kental seperti aspal cair, dan berbau amis yang menyengat—sisa-sisa kotoran yang baru saja dikeluarkan dari tubuhnya yang sedang bermetamorfosis.
Bagi manusia biasa, bau ini memicu rasa mual. Namun, bagi penghuni Hutan Kabut Kematian, bau ini adalah feromon kematian; sebuah tindakan yang dilakukan untuk mengundangan predator kedalam pesta.
Lu Daimeng duduk bersila di kedalaman gua, tersembunyi dalam bayangan yang paling pekat di mana cahaya bulan yang terbias kabut tidak mampu menjangkaunya. Dia tidak bergerak. Dia tidak bernapas. Dia menyerupai patung lilin kuno yang ditinggalkan.
Di dalam benaknya, tidak ada kata-kata. Tidak ada Pembahasan tentang dendam atau rencana masa depan. Pikiran manusiawi yang berisik telah dimatikan, digantikan oleh perhitungan sunyi yang dingin. Dia membedah pikirannya dengan meditasi mengubah pandangannya menjadi data: kelembapan udara yang menandakan hujan asam akan turun, getaran tanah dari langkah kaki predator, dan detak jantungnya sendiri yang sengaja diperlambat hingga nyaris berhenti—penerapan praktis dari Hukum Kemalasan untuk menghemat energi.
Dia tahu anatomi musuhnya: Kelinci Iblis Bertanduk Besi. Otot padat yang dirancang untuk ledakan kecepatan jarak pendek, tulang sekeras baja tingkat rendah hasil dari memakan bijih logam dan monster dahing logam, dan pola serangan linear yang didorong oleh insting agresif. Pengetahuan itu tidak perlu dirapalkan; itu sudah menjadi insting yang tertanam, seolah dia telah memburu makhluk ini selama seribu tahun, bukan baru hari ini.
"Mereka bodoh tapi kuat jika berkerumun. Maka dari itu aku akan membunuh mereka satu persatu."
Sreeeet...
Suara kuku menggesek batu terdengar dari mulut gua. Halus, nyaris tak terdengar di antara desau angin beracun yang melolong di luar.
Satu ekor.
Lu Daimeng membuka matanya. Tidak ada emosi di sana. Tidak ada ketakutan, tidak ada kegembiraan. Pupilnya menyusut, merekam pergerakan di ambang gua dengan akurat.
Seekor Kelinci Iblis Bertanduk Besi melangkah masuk dengan hati-hati. Ukurannya seperti anjing serigala besar. Hidungnya yang basah berkedut liar, mengendus aroma darah yang memuakkan namun memikat itu. Tanduk spiral hitam di dahinya berkilau suram dalam kegelapan, sebuah senjata alami yang dirancang oleh evolusi kejam untuk merobek perut mangsa dalam satu tandukan.
Binatang itu ragu sejenak. Ingatan jeleknya memberitahu bahwa daging Daimeng ini rasanya hambar dan tidak berharga. Namun, dominasi wilayah adalah hukum mutlak hutan ini. Darah yang tumpah tanpa izin di wilayahnya adalah sebuah penghinaan yang harus dibayar dengan nyawa.
Binatang bodoh itu mengirah Daimeng membunuh di wilayah miliknya, dan dia tidak menyukainya.
Binatang itu menatap ke dalam kegelapan, matanya yang merah menyala bertemu dengan mata hitam pekat Lu Daimeng.
Citt!
Pekikan tajam memecah keheningan gua. Otot-otot belakang kelinci itu menegang, memadat seperti pegas yang ditarik maksimal.
Dalam sepersekian detik berikutnya, kelinci itu melesat. Ia bukan lagi binatang, melainkan garis abu-abu kematian yang membelah udara.
Lu Daimeng sedikit terkejut. Tubuhnya bereaksi bukan karena kecepatan visual yang meningkat—matanya masih mata manusia fana—melainkan karena refleks tubuhnya. Namun dia tetap telah menghitung sudut datang, kecepatan angin, dan titik benturan.
Dia membanting tubuhnya ke samping, berguling di atas lantai batu yang kasar.
Dhuarr!
Tanduk itu menghantam dinding batu tepat di tempat jantung Lu Daimeng berada sedetik yang lalu. Serpihan batu kapur meledak, menyebar seperti peluru tajam yang menggores pipi Lu Daimeng.
Sebelum debu sempat turun, kelinci itu menggunakan momentum benturannya. Ia memutar tubuh di udara, kakinya menjejak dinding vertikal, dan meluncur kembali ke arah Lu Daimeng seperti pantulan bola karet yang mematikan. Serangan susulan ini lebih cepat, lebih putus asa.
Kali ini, terlalu cepat untuk dihindari sepenuhnya oleh tubuh yang belum bisa berkultivasi.
Lu Daimeng tidak panik. Wajahnya menggeram gigi-giginya bergesekan bukan karena marah tapi karena semua tindakan kelinci bodoh itu sesuai dengan rencananya. Dia mengangkat lengan kirinya. Bukan untuk menangkis—tulang manusianya akan hancur jika beradu keras—tapi untuk mengorbankan. Dia memberikan daging untuk membeli waktu.
Sreeett!
Suara daging yang robek terdengar basah, tebal, dan mengerikan.
Tanduk spiral itu menyerempet lengan bawahnya, mengupas kulit, merobek lapisan lemak, dan menggesek tulang radius hingga terlihat putih di balik merahnya darah. Darah segar menyembur deras, melukis lantai gua dengan warna merah terang yang kontras dengan darah hitam sebelumnya.
Rasa sakit meledak. Saraf-sarafnya menjeritkan peringatan kematian, mengirimkan sinyal panik ke otak untuk segera melarikan diri.
Namun, Lu Daimeng tidak mendengarkan. Dia membuang sifat panik itu, kini dia adalah batu dingin yang tidak takut kematian. Baginya sekarang rasa sakit itu adalah kunci kekuatan.
Ini adalah momennya. Transaksi telah dilakukan: satu lengan untuk satu nyawa.
Saat tanduk itu tersangkut sesaat di jaringan ototnya yang terkoyak dan kain jubahnya yang kusut, Lu Daimeng menerjang. Dia tidak memukul. Pukulan tidak akan menembus kulit besi itu.
Dia membuka mulutnya lebar-lebar, seperti binatang buas purba yang kelaparan, dan menggigit tepat di leher kelinci itu—di titik lunak di bawah rahang di mana arteri karotis berdenyut kencang.
Rahangnya mengatup dengan kekuatan yang melampaui batas wajar manusia. Dia mengabaikan rasa sakit di gusi dan gigi serinya yang beradu dengan kulit alot.
Krakk.
Gigi serinya retak. Rasa amis dan asin darahnya sendiri bercampur di mulutnya. Tapi dia tidak peduli. Dia mengunci rahangnya seperti perangkap beruang.
Kelinci itu meronta liar. Cakarnya yang tajam mencabik-cabik dada dan perut Lu Daimeng. Kain jubahnya hancur menjadi serpihan, kulit dadanya berubah menjadi bubur berdarah.
Lu Daimeng tidak melepaskan gigitannya. Dia memeluk makhluk itu erat-erat, kakinya melilit tubuh kelinci itu, mengunci mangsanya dalam pelukan maut yang sunyi. Dia menerima setiap cakaran, setiap robekan di tubuhnya, tanpa satu pun teriakan.
Hanya suara napas kasar dan bunyi gluk saat dia mulai menelan.
Darah kelinci bertanduk itu panas, berbau busuk, dan korosif menyembur ke dalam mulutnya.
Rasanya menjijikkan. Rasanya seperti menelan Comberan atau mungkin kotoran binatang yang dicampur bangkai busuk yang telah difermentasi. Tubuh manusianya menolak keras. Perutnya bergejolak hebat, otot-otot esofagusnya kejang ingin memuntahkan racun itu keluar.
Lu Daimeng memaksa jakunnya bergerak.
Gluk.
Dia menelan lagi.
Gluk.
Dia memaksakan tubuhnya untuk mengikuti kehendaknya. Hingga dia tidak peduli dengan rasa makanan itu dan terus melahap dan mengunya.
Ini bukan racun ini sumber energi, doktrin itu bergema di kepalanya. Ini adalah kekuaran. Ini adalah salah satu potongan Puzzle untuk balas dendam.
Dia tidak meminum darah; dia merampas esensi. Dia menyedot darah itu sambil mempraktikkan Sifat Kerakusan miliknya bukan sebagai nafsu makan, tapi sebagai kewajiban.
Kelinci itu mengejang hebat. Mata merahnya yang penuh amarah perlahan meredup, kehilangan cahayanya, berubah menjadi abu-abu mati. Gerakannya melemah, dari rontaan mematikan menjadi kedutan saraf, hingga akhirnya diam total.
Lu Daimeng melepaskan gigitannya. Dia jatuh terlentang di samping bangkai itu. Napasnya berat, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Mulutnya penuh dengan bulu dan darah hitam.
Dia menyeka darah dari dagunya dengan gerakan lambat dan metodis.
Sunyi kembali menguasai gua. Hanya ada suara tetesan darah yang jatuh ke lantai dari tubuhnya yang hancur.
Lu Daimeng menatap langit-langit gua yang gelap. Dia merasakan panas yang membara di perutnya—sepert menjadikan perutnya itu tungku pembakaran.
Energi liar dari darah iblis itu tidak mengalir ke meridian (karena dia tidak memilikinya), melainkan menyebar langsung ke jaringan lunak, ke sumsum tulang, dan ke sel-sel otot.
Luka di lengannya berhenti berdarah. Jaringan daging di dadanya mulai menyembuhkan diri walau sangat lambat tapi itu sudah lebih dari cukup untuknya saat ini, pinggiran luka itu meninggalkan jaringan parut yang gelap, kasar, dan tampak lebih keras dari kulit sebelumnya.
Tapi itu belum cukup. Itu hanya hidangan pembuka.
Lu Daimeng bangkit duduk, mengabaikan rasa sakit yang masih berdenyut. Dia menarik bangkai kelinci itu ke sudut gelap gua.
Dia mulai makan.
Bukan hanya meminum darahnya. Dia merobek semua daging yang alot itu—daging yang sekeras ban karet tua—dan memakannya mentah-mentah bahkan isi perut dari kelinci tersebut juga dimakan. Dia mematahkan tulang rusuk kelinci itu dengan batu logam di belakangnya dan menghisap sumsumnya.
Bunyi tulang yang dipatahkan dan daging yang dikunyah mengisi keheningan gua selama satu jam penuh. Itu adalah ritual makan monster, brutal, dan efisien. Seorang pemuda bangsawan yang dibuang, kini berjongkok dalam kegelapan seperti binatang, melahap monster mentah-mentah untuk menyusun ulang pondasi tubuhnya.
Satu jam kemudian, hanya tulang putih bersih, kulit keras dan tanduk besi yang tersisa di lantai.
Lu Daimeng berdiri. Tubuhnya terasa lebih bertenaga. Otot-ototnya yang tadinya layu kini segar, terasa seperti kawat baja yang ditarik tegang di bawah kulitnya yang pucat. Dia mengepalkan tangannya. Kini sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
Namun, matanya melihat ke arah pintu gua. Tatapannya masih lapar.
Lapar di dalam jiwanya seperti ada lubang tanpa dasar yang tidak bisa dipuaskan hanya dengan satu nyawa kecil.
Dia berjalan kembali ke pintu gua. Dia melihat sisa darah dari pertarungan tadi. Dia tidak boleh merasa cukup hanya dari satu mangsa lemah. Untuk mempercepat proses ini, dia harus meningkatkan taruhan.
Risiko tinggi, imbalan tinggi.
Kali ini, dia tidak bersembunyi di bayangan. Dia duduk bersila tepat di tengah jalur masuk gua, bermandikan cahaya remang yang masuk. Terbuka. Rentan. Sebuah provokasi hidup.
Tidak lama kemudian, getaran tanah yang lebih berat terasa.
Seekor Kelinci bertanduk lain muncul dari balik kabut. Ukurannya hampir dua kali lipat dari yang pertama. Bulunya lebih gelap, penuh bekas luka pertarungan. Tanduk di dahinya lebih panjang, lebih tebal, dan bergerigi kasar—tanda dari pejantan dominan, raja kecil di area pinggiran hutan ini.
Makhluk itu berhenti di depan gua. Ia melihat Lu Daimeng. Ia mencium bau kematian Rasnya yang keluar dari pori-pori pemuda itu.
Kelinci itu tidak memekik. Ia menggeram rendah, suara yang mirip gesekan dua lempeng besi berkarat. Aura haus darah yang dipancarkannya cukup untuk membuat manusia biasa pingsan karena ketakutan.
Lu Daimeng hanya menatapnya. Wajahnya yang tidak berekspresi. Dengan cuek memejamkan mata memancing kelinci tersebut semakin mendekat.
Dia mengangkat tangan kanannya perlahan. Telapak tangannya terbuka menghadap ke depan, jari-jarinya rileks.
Sebuah undangan tanpa kata. Sebuah tantangan diam.
Kelinci dominan itu meraung, suara yang menggetarkan dinding gua. Ia menerjang dengan kekuatan penuh. Kecepatannya jauh melampaui yang pertama. Tanduk bergerigi itu mengarah lurus ke jantung Lu Daimeng—sebuah serangan pembunuh yang tidak menyisakan ruang untuk menghindar.
Lu Daimeng tidak menghindar. Dia juga tidak mencoba menangkapnya. Dia tahu kulitnya belum sekeras baja. Menangkap tanduk itu akan menghancurkan jarinya.
Jadi, dia memilih untuk membiarkannya masuk.
Dia memajukan tangan kanannya tepat ke jalur lintasan tanduk itu, menyambutnya.
ZLLLEB!
Suara itu terdengar basah, tumpul, dan memuakkan.
Tanduk besi sepanjang tiga puluh sentimeter itu menembus tepat di tengah telapak tangan kanan Lu Daimeng. Ujung tanduk yang tumpul menghancurkan tulang-tulang metakarpal menjadi serbuk, merobek tendon fleksor, menembus jaringan otot, dan keluar dari punggung tangan, terus melaju hingga ujung tanduknya berhenti hanya satu inci dari mata kanan Lu Daimeng.
Darah muncrat deras, membasahi wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.
Momentum serangan mematikan itu terhenti total. Bukan oleh kekuatan otot, tapi oleh tekanan tulang-tulang tangan Lu Daimeng yang memadat dan menjepit tanduk itu. Dia menjadikan tangannya sendiri sebagai sarung pedang hidup.
Sakit?
Kata itu terlalu sederhana.
Rasanya seperti tangannya dicelupkan ke dalam timah cair yang mendidih. Setiap ujung saraf di lengan kanannya meledak, mengirimkan kejutan listrik putih yang membutakan ke otak. Dunia berputar.
Namun, Lu Daimeng tidak berkedip. Dia tidak menjerit. Napasnya bahkan tidak tersentak. Dia menerima rasa sakit itu, menelannya, dan mengubahnya menjadi fokus yang tajam.
Kelinci itu panik. Kepalanya terkunci pada tangan manusia ini. Ia mencoba menarik mundur, menyentakkan kepalanya ke belakang.
Tapi tangan Lu Daimeng—yang kini berlubang di bagian tengah—mencengkeram. Jari-jarinya yang masih berfungsi melengkung ke dalam, mencengkeram pangkal tanduk itu, sementara otot-otot internal di dalam lukanya berkontraksi menjepit besi itu.
Mereka terkunci dalam jarak intim yang mengerikan. Lu Daimeng bisa melihat pori-pori di hidung kelinci itu. Dia bisa mencium bau napas busuknya.
Lu Daimeng menatap mata merah kelinci itu dengan tatapan sedingin es kutub, tatapan yang mengatakan: Aku memegangmu sekarang.
Tanpa suara, tanpa ancang-ancang, tangan kirinya bergerak.
Ibu jari dan telunjuknya meluncur lurus, kaku seperti pisau belati, masuk ke dalam rongga mata kelinci yang tak terlindungi oleh tulang keras.
Splats.
Bola mata itu pecah di bawah tekanannya. Cairan vitreous muncrat keluar.
Kelinci itu menjerit memilukan. Suaranya melengking tinggi, penuh teror dan kesakitan, bergema memantul di dinding gua. Kakinya menendang-nendang udara, mencakar tanah, berusaha lepas.
Lu Daimeng tetap diam. Dia tidak bersorak. Dia tidak mengejek kemalangan musuhnya. Wajahnya tetap datar di tengah cipratan darah dan cairan mata.
Dia terus menekan jarinya lebih dalam, merobek saraf optik, menembus lapisan tipis tulang di belakang mata, mencari jalan menuju otak.
Kelinci itu menjerit memilukan. Rontaannya menjadi liar. Ia membantingkan kepalanya ke kiri dan kanan, menyeret tubuh Lu Daimeng bersamanya.
Tangan kanan Lu Daimeng terasa seperti akan putus dari pergelangannya. Tapi dia bertahan. Dia harus bertahan. Jika dia melepaskan, dia mati.
"MATI!" Lu Daimeng berteriak.
Bukan mantra. Bukan jurus. Itu adalah perintah frustrasi dari seorang manusia yang menolak menjadi mangsa.
Jarinya menekan lebih dalam ke rongga mata, merobek saraf, terus menuju otak yang lunak di balik tulang tipis.
Kelinci itu mencakar paha Lu Daimeng, merobek daging hingga tulangnya terlihat. Darah Lu Daimeng dan darah kelinci itu bercampur di lantai gua, menciptakan kubangan merah.
Ini bukan pertarungan kultivator yang elegan. Ini adalah dua binatang yang saling membunuh di dalam lumpur.
Lu Daimeng merasakan jarinya menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat di dalam tengkorak kelinci itu. Dia mengaduknya.
Tubuh kelinci itu menegang kaku. Kejang hebat. Lalu jatuh lemas. Berat badannya menarik tangan kanan Lu Daimeng ke bawah, mengirimkan gelombang rasa sakit baru yang menyengat.
Lu Daimeng ambruk di atas bangkai itu. Napasnya seperti parutan besi.
Dia menang.
Tapi dia tidak merasa seperti dewa. Dia merasa seperti daging cincang.
Dia mencoba menarik tangannya dari tanduk itu. Tidak bisa. Tanduk itu bergerigi, dan otot-ototnya yang bengkak telah menjepitnya. Besi itu tertanam mati di dalam dagingnya.
Dia terengah-engah, menatap tangan kanannya yang kini menyatu dengan tanduk monster itu.
"Hah... hah..." tawa kering keluar dari tenggorokannya yang parau.
Selanjutnya Dia harus memakan monster ini. Secara manual. Gigitan demi gigitan.
Lu Daimeng, dengan tubuh gemetar dan tangan kanan yang tertancap pada kepala kelinci itu, mulai menyeret tubuh besar itu masuk lebih dalam ke gua.
Dia akan memakan dagingnya. Dia akan memakan hatinya. Dan dia akan membiarkan tubuhnya menyerap nutrisi itu secara perlahan, menyakitkan, dan alami, hingga tidak tersisa.
Dan tanduk di tangan kanannya?
Dia memutuskan untuk tidak mencabutnya sementara karena darahnya akan merembes lebih cepat dan dia hanya perlu menunggu sebagian lukanya pulih dan mencabut tanduk besi tersebut.
Di kegelapan gua, suara kunyahan basah kembali terdengar. Pelatihan yang sesungguhnya—di mana manusia membuang kemanusiaannya demi kelangsungan— Baru saja dimulai.
Bersambung...