NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Akting Cheryl benar-benar layak diganjar piala Oscar. Ia berdiri di tengah persimpangan jalan kampus dengan postur tubuh yang tegak dan dagu terangkat, meski di dalam kepalanya, ia sedang berteriak panik karena benar-benar lupa di mana letak gedung fakultas seni yang baru saja ia tinggalkan sepuluh menit lalu.

Daven Teldford, dengan insting predatornya yang tajam, mulai berjalan mendekat. Ia melihat Cheryl yang tampak diam terpaku, matanya menyapu sekeliling dengan gerakan yang sangat ia kenal, gerakan seseorang yang sedang tersesat namun berusaha terlihat keren.

"Kau butuh peta, Alton?" suara berat Daven terdengar tepat di belakang bahu Cheryl.

Cheryl tersentak, namun dalam sepersekian detik, ia berhasil mengubah ekspresi bingungnya menjadi tatapan yang sangat tajam dan merendahkan. Ia berbalik perlahan, menatap Daven dengan sorot mata yang seolah-olah mengatakan bahwa kehadiran Daven adalah gangguan besar bagi jadwal sibuknya.

"Peta?" Cheryl mendengus dingin, suaranya terdengar sangat elegan dan terkontrol. "Kau pikir aku ini turis, Teldford? Aku hanya sedang menikmati arsitektur gedung ini sebelum kelas berikutnya dimulai. Jangan proyeksikan ketidak mampuan mu dalam navigasi padaku."

Daven menyipitkan mata, mencari setitik celah di wajah tirus itu. "Benarkah? Karena kulihat kau sudah berdiri di sini selama tiga menit tanpa arah yang jelas. Aku baru saja akan menawarkan bantuan untuk mengantarmu, siapa tahu Brooklyn membuat ingatanmu jadi pendek."

Cheryl melipat tangan di depan dada, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Simpan bantuanmu itu untuk orang yang butuh, Daven. Aku tahu persis ke mana aku harus pergi. Sekarang, jika kau tidak keberatan, aku punya urusan yang jauh lebih penting daripada meladeni nostalgia konyol mu."

Daven terdiam. Ia merasa "mati kutu" untuk kedua kalinya hari ini. Sifat Cheryl yang sekarang begitu keras, dingin, dan sangat efisien dalam berkata-kata benar-benar memukul mundur keriwehan Daven. Ia merasa Cheryl bukan lagi "bakpao" yang butuh ia jaga, melainkan seorang lawan yang setara.

"Baiklah kalau begitu," ucap Daven dengan nada yang berusaha ia buat sedatar mungkin, meski hatinya remuk. "Selamat menikmati arsitektur mu. Aku harus ke gedung Fakultas Bisnis."

Daven berbalik, melangkah dengan bahu yang tampak kaku. Ia merasa gagal total.

Cheryl tetap berdiri tegak di posisinya, menatap punggung tegap Daven yang semakin menjauh menuju gedung seberang. Ia memastikan jarak mereka sudah cukup jauh sebelum bahunya yang tegang akhirnya melorot. Nafas yang sedari tadi ia tahan dibuang dengan kasar.

"Hah... gila... jantungku mau copot!" bisiknya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.

Ia melihat punggung Daven yang berbalut jaket universitas, cara pria itu berjalan dengan penuh otoritas, dan bagaimana rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin musim gugur. Cheryl menggigit bibir bawahnya, lalu sebuah senyum tipis, senyum nakal yang dulu selalu ia tunjukkan, muncul di wajahnya yang tirus.

"Kenapa dia sangat ganteng?" gumam Cheryl dengan suara kecil yang bergetar karena kegirangan. "Aku tidak menyangka dia menjadi cowok yang sesempurna itu. Hihihi!"

Cheryl menutupi wajahnya dengan kedua tangan, merasa pipinya mendadak panas. "Wajahnya makin tegas, suaranya makin berat... aduh, Cherie! Kau hampir saja gagal tadi karena mau pingsan melihat matanya!"

Ia tertawa kecil sendirian di tengah keramaian. Aktingnya berhasil. Ia sudah membuat si Kapten Basket yang angkuh itu merasa seperti orang asing yang menyebalkan. Namun di dalam hati, Cheryl berteriak kegirangan karena ternyata Daven masih mengingatnya, bahkan langsung menghampirinya.

"Tapi tunggu..." Cheryl tiba-tiba berhenti tertawa. Matanya melotot. "Bisnis? Dia bilang dia ke gedung Bisnis? Berarti jalannya lewat... lewat sebelah kiri?"

Ia kembali celingukan. "Aduh! Jadi tadi aku salah arah! Harusnya aku ke kanan untuk ke Fakultas Seni!"

Cheryl segera memutar tubuhnya dan berlari kecil ke arah yang berlawanan dari Daven. Sifat pelupanya benar-benar tidak tertolong. Sambil berlari, ia masih sempat memikirkan betapa kerennya Daven saat tadi mencoba mencubit pipinya.

"Dia masih mau mencubit ku? Setelah tiga tahun?" pikir Cheryl dengan hati yang menghangat. "Sialan kau, Daven Teldford. Kau membuat misiku untuk tetap dingin jadi sepuluh kali lebih sulit."

Satu jam kemudian, Cheryl sedang duduk di pojok kantin dengan sebuah buku sketsa di depannya. Ia berusaha terlihat sangat serius, menggambar garis-garis artistik, meski sebenarnya matanya terus melirik ke arah pintu masuk.

Dan benar saja, rombongan tim basket masuk dengan tawa yang berisik. Daven berada di tengah mereka, tampak paling mencolok dengan ekspresi dinginnya yang khas. Daven langsung menangkap sosok Cheryl yang sedang duduk sendirian.

Daven mencoba untuk tidak peduli, namun kakinya seolah memiliki otaknya sendiri. Ia berjalan melewati meja Cheryl bersama teman-temannya. Salah satu teman Daven, seorang pria bernama Marcus, bersiul saat melihat Cheryl.

"Wah, siapa gadis cantik ini, Dev? Anak baru?" tanya Marcus dengan nada menggoda.

Daven tidak menjawab, namun matanya menatap Cheryl dengan tajam. Cheryl, yang menyadari ia sedang diperhatikan, langsung masuk ke mode Oscar-nya. Ia menatap Marcus dengan tatapan yang sangat membosankan, seolah Marcus hanyalah serangga pengganggu.

"Maaf, apa aku mengenalmu?" tanya Cheryl pada Marcus dengan nada yang sangat dingin.

Marcus langsung terdiam, merasa terintimidasi oleh keanggunan Cheryl. Sementara itu, Daven hanya berdiri di sana, mengamati Cheryl yang tampak begitu berkuasa atas situasi itu.

"Dia Cheryl," sahut Daven pendek. "Dan dia tidak suka diganggu oleh pria-pria yang IQ-nya di bawah rata-rata."

Cheryl menatap Daven, matanya berkilat. "Terima kasih atas pembelaannya, Teldford. Tapi aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau dan teman-teman atlet mu ini sebaiknya cari meja yang cukup besar untuk ego kalian yang raksasa itu."

Teman-teman Daven melongo. Belum pernah ada mahasiswi yang berani bicara seperti itu pada Daven. Daven sendiri hanya bisa menahan nafas. Ia ingin marah, tapi ia juga terpesona.

Setelah rombongan Daven menjauh, Cheryl kembali menunduk ke buku sketsanya. Tangannya gemetar saat mencoba menggambar.

"Duh, hampir saja aku puji jaketnya tadi!" bisik Cheryl pada dirinya sendiri. "Keren sekali dia pakai baju itu... tapi tidak, Cherie! Pertahankan taringmu! Jangan luluh dulu!"

Daven duduk di mejanya, namun ia tidak bisa makan. Ia memperhatikan Cheryl dari jauh. Ia melihat Cheryl sedang mencari sesuatu di dalam tasnya lagi. Ia melihat Cheryl meraba-raba meja seolah kehilangan sesuatu.

"Dia pasti kehilangan sesuatu," gumam Daven.

"Siapa?" tanya Marcus sambil mengunyah burger.

"Bukan siapa-siapa," jawab Daven ketus.

Daven berdiri. Ia tidak bisa menahannya. Ia berjalan menuju meja Cheryl, dan matanya menangkap sebuah benda di lantai di bawah kursi Cheryl. Sebuah kunci dengan gantungan kepala kelinci yang telinganya sudah hilang sebelah.

Daven mengambil kunci itu. Senyum tipis muncul di wajahnya yang beku.

Dia masih si pelupa yang dulu.

Daven tidak langsung mengembalikan kunci itu. Ia menyimpannya di saku jaketnya. Ia akan menunggu sampai Cheryl mulai panik di depan pintu apartemennya atau di depan loker kelasnya.

"Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan dengan akting sempurna ini, Bakpao," bisik Daven.

Sementara itu, Cheryl yang tidak sadar kuncinya hilang, masih asyik membayangkan wajah Daven di dalam buku sketsanya. Ia menggambar siluet rahang Daven dengan sangat detail.

"Dia benar-benar jadi cowok yang sempurna..." gumamnya lagi dengan wajah merona. "Tapi dia tetap asisten pribadiku yang paling berisik. Aku tidak sabar melihat wajahnya saat dia tahu aku hanya mengerjainya."

Daven dan Cheryl, dua orang yang sama-sama membangun tembok es, sebenarnya sedang saling mengagumi dari balik bayangan. Keriwehan Daven telah kembali, dan drama Cheryl baru saja dimulai. Di kampus NYU yang luas itu, permainan kucing dan tikus antara si Pangeran Es dan si Dewi Marmer palsu ini akan menjadi cerita yang jauh lebih menarik daripada yang pernah mereka bayangkan di masa sekolah dulu.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!