Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Su Ran tidak mengetahui jika sambal yang ia ingin gunakan sebagai tes pasar kini digunakan sebagai ajang perebutan makanan oleh Jiang Ran dan Feng Yu.
Kini, Su Ran kita sedang diam – diam pergi ke sebuah gang kecil di samping restoran. Su Ran dengan lihai masuk kedalam ruang ajaibnya dan segera menghela nafas ketika melihat tumpukan karung besar berisi cabai hasil panennya selama ‘sebulan’.
Hampir 500 kati! Masih ada lagi lobak dan kubis juga ada sekarung tomat segar, sekarung bawang putih beserta daun – daunnya yang masih segar.
4 karung cabai segar sekitar 200 kati ia keluarkan dan ia naikkan ke atas gerobaknya. Su Ran juga mengemas masing – masing 1 karung lobak dna juga kubis. Untuk bawang putih dan juga daun bawangnya, ia sengaja meninggalkan karena akan digunakan untuk membuat stok sambal.
Oh, bicara tentang sambal, Su Ran segera mengemas sekitar 100 botol seperti yang ia berikan kepada Jiang Ran dan Feng Yu. Sambal ini adalah hasil dari keisengannya saat senggang. Kini sudah tiba waktunya untuk ditukar dengan uang.
Setelah ini, Su Ran akan memastikan jika cabainya mendapatkan hasil sehingga paman dan bibi di desa akan percaya dan menanamnya banyak. Toh jika suksesmenanam dan terjual habis, mereka yang akan menjadi jutawan!
Setelah memastikan semua barang yang diperlukan sudah dikeluarkan, SU Ran segera mengeluarkan keledainya dan menuntunnya ke depan pintu belakang restoran.
Tidak khawatir dengan orang – orang, Su Ran memanggil kakak A Ming untuk membantu memindahkan beberapa sayuran ini.
Pintu belakang restoran langsung mengarah ke dapur. A Ming dengan gembira mengangkut karung demi karung yang berisi cabai dan sayuran hijau. Apakah ini artinya kesepakatan antara dua majikannya dengan saudara Ran berhasil? Waah, aku sangat senang.
Jiang ran dan Feng Yu juga menghentikan ‘perang’ perebutan sambal mereka ketika melihat A Ming memanggul banyak karung bergantian.
Belum sempat ingin bertanya, A Ming langsung lari dan memanggul lagi.
“ Xiao Ran. Ja... Jangan katakan jika 4 karung ini semua berisi .. Cabai?” dengan jari yang gemetar, Jiang Ran menunjuk deretan 4 karung yang menggembung, bertanya pada Su Ran yang juga masuk terakhir dengan menggendong sebuah keranjang bambu kecil di punggungnya.
Wajah gelisah tetapi penuh kegembiraan juga terlukis jelas di wajah Feng Yu. Ia berjalan cepat, tidak sabar menunggu jawaban Su Ran dan malah memeriksanya sendiri.
4 karung cabai, 1 karung kubis, dan juga 1 karung lobak gemuk yang tampak sangat segar!
Ini adalah keajaiban sayur! Feng Yu bahkan mengelus kubis tersebut dengan sayang tanpa mengindahkan tatapan jengah dari Jiang Ran. Berteman hampir 40 an tahun, membuat Jiang Ran paham dengan kecintaan Feng Yu terhadap bahan – bahan masakan.
“ Benar, ini semua adalah ‘Cabai’ yang saya panen diam – diam dari hutan di kaki gunung. Aku sangat beruntung karena bukan hanya mengambil benih tetapi menemukan ladang terbengkalai yang penuh dengan pohon cabai siap matang,” Su Ran berbohong dengan mata terbuka lebar!
Jelas – jelas ini adalah hasil panen ruang ajaib! Meskipun sudah dipanen beberapa hari yang lalu, tetap saja segar karena fitur ruang waktu di dalamnya.
Tetapi, siapa yang akan curiga? Hutan, alam, memiliki rahasianya sendiri. Siapa yang akan membuktikan jika cabai ini ditemukan di ladang tersebut apa bukan?
Jiang Ran dan Feng Yu sudah larut akan kegembiraan.
“ Baiklah, baiklah. Mari kita berbicara soal bisnis,” Jiang Ran segera mengakhiri masa kagumnya. Ia mempersilahkan Su Ran untuk duduk, meminta A Ming mengambil beberapa kertas dan mulai merumuskan naskah kontrak.
“ Di sini, kami akan menerima semua cabai milikmu. Berapapun hasil panennya kami akan menerima. Tetapi kamu harus berjanji akan menjadikan kami prioritasmu. Artinya, selain restoran ini kamu tidak boleh menjualnya ke restoran lain,”
“ lalu, untuk resep makanan, kami akan memberikan keuntungan 15% untuk setiap hidangan yang terjual dengan catatan kamu tidak boleh memberikan resep kepada siapapun,”
“ Juga, untuk sambal ini. kami akan mengambilnya secara eksklusif. Hanya boleh kami yang menjual merek sambalmu ini,” Jiang Ran menuliskan beberapa rumusan kontrak dan memberikan kepada Su Ran untuk dilihat.
“ Nak, kamu harus membuat merek untuk sambalmu ini. rasa ini sangat segar dan cocok untuk dipadukan dengan apapun,” feng Yu dengan murah hati memberikan saran yang sangat bijak menurut Su Ran.
Bayangkan saja, bisa saja mereka membeli sambal miliknya tetapi mengklaim merek mereka sendiri. Ini benar – benar menandakan jika mereka adalah orang – orang yang jujur.
Hal inilah yang membuat Su Ran memilih restoran ini untuk bekerja sama. Ia banyak mendengar gosip jika restoran ini terlalu ‘ mengalah’.
“ Paman, untuk pasal 1. Aku bisa pastikan jika setengah tahun atau dua kali panen cabai, kami akan memprioritaskan restoran paman. Tetapi setelah itu, aku tidak bisa menjamin. Karena kami pasti akan membuka lahan dengan besar – besaran. Tetapi paman bisa yakin 1 hal, resep – resep milikku eksklusif hanya untuk restoran SEDAP MAKAN,” tegas Su Ran. Jiang Ran dan Feng Yu saling berpandangan.
Benar juga, jika nantinya lahan diperluas, panen akan melimpah dan mereka belum tentu bisa mengambil alih semua hasil panen.
Baiklah, jadi orang jangan tamak. Yang terpenting mereka sudah curi start setengah tahun lebih awal dan pasti sudah mendapatkan nama terlebih dahulu.
“ Juga mengenai merek sambal, aku juga berencana membuka merek sendiri. Nantinya aku akan bekerja sama dengan para bibi untuk membuat pabrik sambal,”
“ Nantinya tidak hanya rasa original, tetapi juga ada berbagai macam lainnya. Tentu saja hanya kepada paman aku menjualnya,” jawab Su Ran dengan tegas.
“ Untuk harga, aku akan memberikan harga 250 perkati cabai, lalu untuk sambalnya 350 untuk satu botol. Paman, silahkan diskusi terlebih dahulu,” Su Ran jelas tidak ingin berkompromi dengan masalah harga.
Bagaimanapun, niatnya adalah membuka penghasilan bagi para bibi baik di desa. Ia tidak ingin membuat warga desa Fen Tong menderita kerugian.
Kecuali kepada beberapa keluarga tertentu.
Setelah beberapa saat, Jiang Ran dan Feng Yu selesai dengan perhitungan untung ruginya. Mereka berbalik ke arah Su Ran yang dengan tenang menikmati teh yang disajikan oleh A Ming.
“ Xiao Ran. Aku sudah berdiskusi dengan paman Feng -mu. Kami setuju dengan harga yang kamu ajukan,” ucap Jiang ran.
Feng Yu, tentu saja tahu dengan jelas betapa berharganya barang ini. mereka tidak akan rugi.
Makanan yang mereka coba tadi sangat lezat, mereka sangat yakin jika mereka malah akan untung dengan bekerja sama dengan pemuda ini.
Dengan ini, Jiang Ran segera meminta A Ming untuk mengesahkan kontrak dan menandatanganinya lalu melaporkannya pada pemerintahan.
Sehingga mereka sah bekerja sama!