Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Misi rahasia
Pak Aris kembali dengan wajah masam. Pria paruh baya itu menahan diri untuk tidak melawan kata-kata Davin. Dirinya harus menjaga image di depan orang baru.
"Ah, si*l!" umpatnya dalam hati. "Darimana aku dapat ceperan kalau begini?"
"Tapi, maaf ya, Pak Dokter. Seharusnya Anda berkoordinasi terlebih dahulu dengan kami. Bagaimana pun di desa ini punya pemimpin yang harus dihormati."
Davin menghela napas tersenyum tipis. "Begini ya, Pak Lurah. Ini bantuan bukan dari pemerintah, tapi dari teman-teman saya. Dan mereka ingin memastikan bantuannya tepat sasaran."
"Tapi memang Anda yakin kalau melalui prosedur, bantuan akan sampai pada mereka yang membutuhkan?"
Pak Aris terdiam tak bisa menjawab. Meskipun dalam benaknya sangat berisik, umpatan dan sumpah serapah yang sayangnya hanya bisa dia ucapkan dalam hati saja.
Akhirnya dia pun mengajak semua jajarannya untuk kembali ke balai desa.
"Woww... Saya salut sama Anda. Berani menentang mereka." Leo memberi aplaus dengan bertepuk tangan, diikuti yang lain.
"Selama kita benar kenapa nggak, Mas. Kita jangan takut menyuarakan kebenaran," jawab Davin.
Kemudian Davin berpesan kepada warga yang rumahnya terkena banjir dan tanah longsor untuk menjaga bahan-bangunan itu dengan baik.
"Bapak-bapak semua, saya minta kesediaannya supaya, bahan-bahan bangunan ini dijaga dengan baik. Karena saya tidak ingin ada tangan-tangan nakal yang tidak bertanggungjawab yang ingin mengambil keuntungan dengan adanya barang-barang ini," ujar Davin.
"Ini milik kalian, untuk membangun rumah kalian, jadi ini adalah tanggungjawab kalian. Saya hanya menyampaikan amanah agar bantuan tepat sasaran," lanjutnya menambahkan.
Rekan-rekan tim relawan tampak terkagum-kagum dengan Davin.
"Sepertinya Dokter Davin bukan orang sembarangan Dia punya koneksi dengan orang penting." bisik seorang relawan pada yang lain.
"Benar, sepertinya begitu," sambut yang lain.
"Yang jelas dia orang yang dermawan," timpal yang satunya lagi sambil menatap Davin dengan pandangan tak terbaca.
"Saya dengar, loh," celetuk Davin. "Saya hanya orang biasa yang kebetulan punya teman anak-anak konglomerat."
Rekan-rekannya saling perpandangan antara percaya ucapan Davin dan tidak. Akan tetapi, Davin tak peduli karena dirinya tak butuh validasi.
.
Sementara itu, akhirnya Melodi sampai juga di rumah Murni, setelah berjalan kaki kira-kira lima belas menit. Ia pun langsung masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam sebelumnya.
"Maaf, Bu. Saya kesiangan," ucap Melodi.
"Iya, tumben jam segini baru datang, ada masalah, Mel?" balas Murni.
"Tadi, itu...saya terjatuh di parit dekat sawah Pak Bayan...."
Belum selesai Melodi ngomong, Murni langsung berseru, "Astaghfirullah...! Kok bisa?" ia menutup mulutnya saking kagetnya.
"Terus, kamu nggak pa-pa, kan?" tanyanya, wajahnya tampak khawatir.
Melodi menggeleng pelan. "Alhamdulillah, sudah nggak apa-apa, Bu," katanya, meski sebenarnya ia mulai merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.
"Tadi kalau memang kamu masih merasa sakit, sebaiknya nggak masuk juga nggak apa-apa ijin," kata Murni, merasa iba dengan keadaan Melodi.
"Nggak pa-pa, Bu. Saya kuat, kok." Melodi kemudian pamit untuk memulai pekerjaannya.
.
Davin mengambil salah satu kursi roda dan mendorongnya menuju tenda Melodi.
"Alvian, kamu sedang apa?" tanyanya pada bocah itu dan sedikit menyibak kain penutup tenda agar bisa melihat ke dalam.
Alvian menoleh, dengan senyumnya yang polos. "Vian sedang belajar mewarnai, Pak Dokter. Ini lihat, bagus nggak?" ucapnya seraya memperlihatkan hasil kerjanya.
"Wah, ini sangat rapi dan bagus sekali!" kata Davin dengan mata berbinar. "Ternyata kamu berbakat, ya?"
Alvian tampak tersanjung dengan pujian Davin.
"Nah, karena Vian telah mewarnai dengan sangat baik, maka saya ada hadiah untukmu." Davin kemudian keluar, mendorong kursi roda agar terlihat dari dalam, sehingga Alvian bisa melihatnya.
"Wahhh...! Itu apa, Pak Dokter?" tanya bocah itu dengan wajah penuh kekaguman.
"Ini namanya kursi roda." Davin menjawab, seraya masuk ke dalam tenda.
Dia mengangkat tubuh kecil Alvian, kemudian dengan perlahan mendudukkan bocah lelaki itu di atas kursi roda.
Alvian tersenyum, perasaannya membuncah dipenuhi kebahagiaan. "Pak Dokter, ini kursi buat Vian?" tanyanya polos.
"Tentu saja ini untukmu," sahut Davin, dia kemudian berjongkok di depan Alvian.
"Bagaimana... kamu suka, nggak?"
Alvian mengangguk dengan cepat. "Hu'um. Suka sekali, Pak Dokter."
Davin tersenyum senang, lalu mengacak pucuk kepala Alvian dengan gemas.
"Baiklah... Karena kamu sangat menyukainya, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" Davin berdiri, lalu berjalan ke belakang Alvian. "Apa kamu mau?"
"Mau... mau... mau, Pak Dokter," kata Alvian sambil tertepuk tangan saking senangnya.
"Oke, let's go...!"
Sebelum pergi, Davin menutup tenda Melodi terlebih dahulu. Kemudian dia mulai mendorong kursi roda Alvian perlahan untuk berkeliling.
Di atas kursi roda, Alvian tampak begitu bahagia. Selama hampir setahun ini, dirinya hanya bisa duduk dan berbaring saja di tempat tidur atau duduk di kursi sambil menunggu kakaknya pulang bekerja. Dan sekarang, dengan kursi roda ini, meskipun kondisi tubuhnya tetap lemah, tetapi setidaknya ia bisa melihat di sekitarnya dari sudut pandangnya sendiri. Hatinya melambung penuh angan-angan dan kebahagiaan, karena bisa menikmati momen kecil yang selama ini dia impikan.
"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu merasa senang?" tanya Davin, mereka berhenti di depan gedung sekolah dasar.
"Iya, Pak Dokter. Vian senang sekali." jawab bocah itu polos, sambil mendongakkan wajahnya menatap Davin.
"Tapi kenapa kita berhenti di sini?" tanyanya bingung.
"Apa kamu pengin sekolah?" Davin balas bertanya.
"Pengin, Pak Dokter. Tapi..." Alvian tampak tertunduk, memilin tangannya sendiri dalam genggaman.
"Baiklah, kalau begitu saya akan mengupayakan supaya kamu bisa sekolah juga kesembuhan kakimu. Tapi... ada syaratnya." Davin tersenyum misterius.
"Apa syaratnya Pak Dokter?"
"Syaratnya... kamu harus janji mau membantu saya."
Alvian tampak bingung. "Vian harus membantu apa, Pak Dokter?"
Davin berjongkok menyamakan tinggi dengan Alvian kemudian membisikkan sesuatu di telinga bocah lelaki itu.
"Ini misi rahasia. Apa kamu setuju?" tanyanya sambil menaik-turunkan kedua alisnya, menggoda.
Alvian mengangguk setuju, meskipun sebenarnya dia tak mengerti apa yang dimaksud Davin.
.
Kira-kira apa yang dibisikkan Davin, ya?🤗