NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Menatap Kunci Gudang

Motor Fahmi bergerak menjauh meninggalkan halaman panti asuhan yang kini kembali dalam dekapan sunyi yang mencekam. Suara mesinnya perlahan mengecil hingga akhirnya benar-benar hilang ditelan oleh kegelapan jalan desa yang berliku dan sunyi.

Bayu masih berdiri mematung di teras depan, seolah-olah kakinya telah berakar pada semen lantai yang dingin dan berdebu itu. Ia memutar-mutar kunci gudang di antara ibu jari dan telunjuknya, merasakan tekstur logam berkarat yang kasar dan dingin menusuk kulitnya.

Benda kecil di tangannya itu terasa begitu berat, seolah membawa beban moral yang jauh lebih besar daripada ukurannya yang mungil.

"Satu kunci buat satu kesempatan terakhir," bisik Bayu pada diri sendiri sembari menatap logam tua yang nampak kusam di bawah cahaya lampu.

Nayla masih berdiri diam di ambang pintu utama, memperhatikan Bayu dengan sorot mata yang dipenuhi oleh perpaduan antara harapan dan kecemasan. Ia nampak sedang menunggu Bayu untuk memutuskan apakah akan segera masuk ke dalam atau menutup pagar besi di depan.

"Bay, kamu nggak mau pulang sekarang? Sudah makin larut, lho," tegur Nayla dengan suara lembut yang membelah keheningan malam Isya yang kian larut.

Bayu menoleh sedikit ke arah Nayla, memberikan senyum tipis yang nampak dipaksakan demi menenangkan kekhawatiran wanita yang kini berdiri kaku di sana. "Sebentar lagi, Nay. Aku cuma mau mastiin sesuatu sebelum aku pulang."

Langkah kaki Bayu perlahan beralih, ia mengarahkan pandangannya ke arah gudang kecil yang terletak di sisi samping bangunan utama panti asuhan. Gudang itu nampak seperti bangunan yang terlupakan, berdiri sunyi di bawah naungan pohon nangka yang daunnya sesekali berdesir ditiup angin malam.

Cahaya lampu teras yang redup dan berwarna kekuningan hanya mampu menerangi sebagian kecil dari pintu gudang yang terbuat dari kayu jati tua. Selebihnya, bangunan kecil itu terbungkus dalam kegelapan pekat, seolah menyimpan banyak rahasia dari masa lalu yang belum sempat terungkap ke permukaan.

"Itu gudang peninggalan Abah, ya? Aku hampir lupa kalau kita punya tempat semacam itu di sini," tanya Bayu sembari mulai melangkah pelan.

Nayla mengangguk pelan sembari berjalan mendekati pinggiran teras. Tangannya memegang erat bingkai pintu seolah sedang mencari pegangan untuk tetap berdiri tegak.

"Iya, peninggalan pengurus lama. Fahmi yang biasanya rajin bersihin, tapi belakangan ini dia terlalu sibuk buat sekadar nengok ke dalem."

Bayu berjalan menembus keremangan halaman samping, kakinya menginjak dedaunan kering yang mengeluarkan suara gemeresik pelan di bawah langkahnya yang sangat berhati-hati. Semakin ia mendekat ke arah gudang, aroma kayu tua yang lembap dan debu yang mengendap bertahun-tahun mulai menyergap indra penciumannya.

"Kamu beneran mau cek sekarang, Bay? Gelap banget di sana, besok pagi kan bisa," ujar Nayla mencoba menghentikan langkah Bayu yang nampak begitu bertekad.

Bayu menggelengkan kepalanya perlahan tanpa menghentikan langkahnya yang kini sudah berada tepat di depan pintu jati yang permukaannya nampak sudah mulai berserat. "Hati aku nggak akan tenang kalau belum liat apa yang ada di dalem, Nay. Aku butuh tau seberapa kuat senjata yang aku punya."

Bayu kini sudah berdiri tegak di depan pintu gudang tersebut, menatap serat-serat kayu yang nampak seperti urat nadi sebuah bangunan yang sudah sangat tua. Ia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, sebuah perasaan yang aneh mengingat ia hanya akan membuka sebuah gudang peralatan pertukangan yang sederhana.

Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang kunci, lalu mencoba memasukkan ujung logam besi tua itu ke dalam lubang kunci yang nampak sudah sangat kusam. Namun, lubang kunci itu terasa sangat seret karena tumpukan karat yang sudah mengeras di bagian dalamnya selama bertahun-tahun tanpa ada pelumasan.

"Karatnya udah parah, Nay. Kayaknya emang beneran nggak pernah dibuka dalam waktu yang cukup lama," keluh Bayu sembari sedikit menggoyangkan gagang kuncinya.

Nayla hanya bisa memperhatikan dari kejauhan, ia nampak cemas jika kunci itu akan patah di dalam dan justru akan menimbulkan masalah baru yang merepotkan. "Jangan dipaksa, Bay! Kalau patah malah repot, kita nggak punya kunci cadangannya lagi buat gudang panti yang satu itu."

Bayu tidak menjawab, ia justru mengatur napasnya dan memusatkan seluruh tenaganya pada ujung jari-jarinya yang kini mulai memerah karena menekan logam dingin. Ia merasakan tanggung jawab besar panti asuhan ini seolah sedang diuji melalui sebuah lubang kunci yang kecil dan nampak sangat keras kepala.

"Ayo, terbuka dong. Gue butuh lo buat nyelametin rumah ini," batin Bayu sembari memberikan tekanan tenaga ekstra pada pergelangan tangannya yang kini menegang keras.

Bayu menekan kunci itu lebih dalam lagi, merasakan gesekan logam dengan logam yang mengeluarkan suara mendecit halus yang sangat memilukan telinga di tengah kesunyian. Ia memutar kunci tersebut ke arah kanan dengan gerakan yang lambat namun pasti, memberikan tekanan yang konsisten agar mekanisme di dalamnya mau bergerak.

Tiba-tiba terdengar suara denting logam yang cukup keras dari dalam mekanisme kunci tersebut, menandakan bahwa karat yang mengganjal akhirnya berhasil ia taklukkan dengan paksa. Bayu merasakan kelegaan yang luar biasa saat ia merasakan kunci tersebut akhirnya mau berputar sepenuhnya mengikuti arah tarikan tangan kanannya yang kini gemetar.

"Dapet! Akhirnya mau juga diajak kerja sama," seru Bayu dengan nada suara yang penuh dengan kemenangan kecil di tengah kegelapan malam desa yang pekat.

Nayla mengembuskan napas lega yang nampak sangat panjang, ia tidak menyadari bahwa sejak tadi ia telah menahan napasnya sembari menunggu hasil kerja keras Bayu. "Syukurlah, aku udah sempet kepikiran kalau kita harus panggil tukang kunci besok pagi buat buka paksa pintu gudang tua itu."

Bayu kemudian meletakkan telapak tangannya pada permukaan pintu jati yang terasa sangat kasar dan dingin karena terkena embun malam yang mulai turun dengan tebal. Ia memberikan dorongan perlahan, namun pintu itu nampak sangat berat seolah ada sesuatu yang menahannya dari arah bagian dalam gudang yang gelap.

Bayu kembali menarik napas panjang dan memberikan dorongan yang jauh lebih kuat menggunakan bahunya agar pintu kayu tersebut bisa terbuka dengan sempurna malam ini. Pintu gudang akhirnya terbuka perlahan dengan suara gesekan kayu yang sangat nyaring dan memilukan di tengah keheningan malam yang sunyi senyap itu.

Suara gesekan itu nampak seperti sebuah jeritan panjang dari bangunan yang sudah lama tertidur dan kini dipaksa bangun untuk menghadapi kenyataan yang sangat pahit. Bau apek dari debu dan oli bekas langsung menyeruak keluar, memenuhi udara di sekitar Bayu dan membuatnya harus sedikit menutup hidung dengan lengan bajunya.

"Gelap banget di dalem, tapi baunya bener-bener kayak bengkel tua peninggalan zaman dulu," gumam Bayu sembari mencoba mengintip ke arah dalam gudang yang hitam pekat.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!