Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
“Jadi, gimana Saputri sama orang-orang yang diajak rapat tadi? Depresi? Hahaha…”
Kening Echa berekerut mendapati reaksi Garra yang terlihat bermain-main.
“Sepuas itu kamu jadikan temen-temenku bahan lawak? Ini serius, lho,” omel Echa sembari mentap kosong sungai yang mengalir tenang malam itu.
“Jeni, kamu sama Kak Laisha. Kalian sudah lebih dulu hidup dibanding mereka. Sudah lebih dulu loncat-loncat ngerasakan apa arti jadi ‘bawahan’. Kamu ngerti kenapa mereka marah?”
Sesaat, Echa menggeleng ragu saat menatapnya.
“Tiga milyar, Cha. Nominal itu untuk 14 orang, kalo kamu bagi, paling sekitar 214 juta per orang. Anggap sebulan gaji kalian kerja siang malam itu 2,5 juta selama tiga tahun. Nominal 214 juta itu bahkan gak nyampe setengah dari total kerja selama 18 bulan. Kamu bayangkan, orang yang jual ginjal buat perdagangan gelap aja bisa tembus hampir dua milyar untuk satu ginjal. Ini satu orang yang kerja sudah ngorbankan lebih dari sekedar ginjal cuma dihargain segitu. Hidup mati mereka dikorbankan untuk macem-macem pasien. Saputri nangis, tuh, bayangkan itu, Cha.”
Tampak Echa menelan ludah kuat dan menatap lekat Garra yang kini tersenyum seraya menaikkan sesaat kedua alisnya.
“Nangkep, kan, maksudku?”
Echa menghela napas keras sebelum kemudian tersenyum sinis.
“Ternyata manusia yang kita anggap paling baik pun bisa sangat amat jahat.”
“Pelajaran hidup, Cha. Itu kenapa kadang cewe lebih banyak sakit karena mereka gunakan hati sama rasa kasihan. Makanya harus diimbangi sama cowo biar pikirannya jalan. Kalo seluruh makhluk gunakan hati, ya, gak ada yang bagus. Jadi, mau nikah sama aku?”
Seketika Echa terbelalak melihat Garra yang menahan senyum geli melihat Rouwheen yang juga ikut menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa, Rou? Mau punya Daddy kaya Om, gak?”
“Heh! Mulut,” bentak Echa.
Sontak Garra tertawa sambil mengusap puncak kepala Rouwheen yang masih kebingungan.
“Sabar, ya, Rou. Nanti juga Mami mau.”
“Heh!”
Lagi, Garra tertawa puas melihat reaksi kesal Echa.
“Becanda, Cha,” bujuk Garra.
“Jangan pernah lagi kamu ucap kaya gitu kalo masih mau beteman sama aku,” omel Echa.
“Kuusahakan. Hahaha…”
Untuk sesuatu yang membawa kenangan terlalu dalam. Mungkin aku kalah sekarang, karena dia pun sudah menjadi pijakan terkuatmu. Iya, aku tunggu karena setahun pun belum berlalu dan aku masih sanggup…11 Januari 2009.
“Ngapain, Cha? Gak pulang?”
“Motorku gak mau nyala, Gar? Kamu ngapain ke sini?”
“Lho? David mana?”
“Udah duluan sama Xander. Kamu ngapain?”
“Duh, Cha. Neduh dulu, dah.”
Segera, Garra menarik Echa ke depan salah satu kelas SMA Negeri 1 Tenggarong. Dilihatnya sekitar mereka sepi dan langit sudah semakin gelap karena hujan deras yang tiba-tiba turun saat dia datang.
“Heh! Kamu ngapain?”
Tapi, Garra acuh, dia hanya melepas jaket varsity hitamnya.
“Pake dulu jaketku,” ujar Garra sambil membantu Echa memasang jaketnya.
“Kamu ngapain?” tanya Echa yang akhirnya berteriak karena suara hujan yang lebih nyaring dari suaranya.
“David bilang, gak bawa motor karena motornya masuk bengkel. Jadi, pulang sekolah aku langsung ke sini jemput dia. Ternyata nyampe sini udah sepi.”
“Coba liat hp-mu. Mungkin David sempat hubungin kamu. Soalnya dia tadi bilang ke aku, mau pulang bareng Xander karena gak ada orang rumah yang bisa jemput.”
Segera Garra merogoh saku celana seragam sekolahnya dan dia hanya menghela napas keras usai mengutak-atik ponselnya.
“Apa?” tanya Echa penasaran.
“Iya, Cha. Dia ada telepon aku sampe sepuluh kali. Aku gak denger. Hujannya deras pula. Aku gak make mobil. Kamu gak dijemput?”
“Lagi ngabarin Mama ini.”
“Motormu gak bisa nyala kenapa?”
“Gak tau. Udah aku engkol juga gak mau.”
“Pegang bentar tasku.”
“Eh! Ngapa…”
Setelah menitipkan ranselnya, di bawah hujan deras, Garra berusaha mengecek motor Echa setelah mengeluarkan peralatan di bawah jok motornya. Echa yang merasa tidak nyaman hanya bisa diam memperhatikan Garra yang bergelut dengan motornya di bawah hujan deras sampai seperti sebuah rezeki, di pojok kelas dekat meja guru yang masih terbuka pintunya, Echa melihat sebuah payung. Ia bergegas mengambilnya dan langung memayungi Garra.
“Heh! Cha? Ngapain? Diem dulu di sana. Bentar lagi selesai ini bisa nyala,” omel Garra setengah berteriak setelah melihat bayang samar dan menoleh melihat Echa berdiri memayunginya.
“Gak apa-apa. Selesaikan aja.”
Garra menghela napas keras dan berusaha cepat menyelesaikan kegiatannya. Cukup lama dan bersamaan dengan ponsel Echa yang tiba-tiba berdering tanda telepon, motornya pun akhirnya bisa menyala dan segera, Garra menarik Echa untuk kembali berteduh.
“Halo, Mbak, Mama baru baca sms-nya. Bentar Abah ke san…”
“Gak usah, Ma. Udah nyala. Tadi salah arah kunci aja. Mbak nunggu hujan agak reda dulu, ya.”
Ada senyum geli yang Garra tahan saat mendengar alasan yang Echa lontarkan.
“Oh! Ya, udah. Kamu sendirian di sana?”
“Gak, Ma. Ada David nemani.”
DEG!
Iya, gimanapun yang aku tau kamu anak Mamamu yang sangat amat penurut. Aku pun tau dari David kalo kamu gak boleh berhubungan dengan teman dari luar sekolah. Orangtua? Dan aku pun paham keadaan itu setelah semua jalan hidup yang kulewati tentang arti anak perempuan bagi orangtuanya…