"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan
"Gilang, Papa dapat informasi kamu dekat dengan Jeny. Apa betul? "
"Dekat gimana maksudnya, Pa? "
"Kalian pacaran? "
"Nggak, Pa. Cuma teman aja. Info dari mana begitu?"
"Benar kamu tidak pacaran? Terus apa yang kamu sembunyikan? "
"Nggak ada, Pa. Gilang nggak sembunyikan apa-apa."
"Gilang memang suka sama gadis itu, Pa. Cuma itu yang dia sembunyikan. Tapi, Mama jamin Gilang nggak akan sampai punya hubungan khusus dengan gadis itu, " bela Ayu.
"Betul begitu Gilang?"
"Iya, Pa. Meskipun Gilang suka dengan Jeny, tapi Gilang tahu Jeny nggak akan mau pacaran sama Gilang."
" Baguslah, Papa pegang kata-kata itu. Sekarang kamu hanya fokus belajar. Selesaikan pendidikan mu setinggi mungkin, kalau perlu sampai Profesor."
"Wah, kalau gitu bisa botak di usia muda Gilang, Pa."
"Kamu ini, nggak semua Profesor botak."
Mereka bertiga tertawa, mencairkan ketegangan beberapa saat lalu di rumah mereka.
***
KEESOKAN HARINYA
Jeny ke kampusnya seperti biasa, karena ada satu mata kuliah di jam sepuluh. Tapi hari itu, Jeny pergi lebih awal satu jam sebelum kelas karena pagi-pagi sekali mendapat pesan dari civitas fakultas. Jeny diminta menemui Dekan jam sembilan pagi.
Suasana gedung civitas cukup padat. Beberapa mahasiswa tingkat atas sedang melakukan ujian sidang akhir. Panitia sidang mondar mandir di dalam sebuah ruang rapat.
Rupanya Dekan sedang membuka pertemuan sidang akhir itu dan Jeny duduk menunggu di kursi depan ruang Dekan.
Setelah sepuluh menit dalam ruang rapat itu, akhirnya Halim keluar dari ruangan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Selamat Pagi, Pak, " sapa Jeny ramah sambil berdiri dan sedikit membungkuk.
"Oh, Jeny. Silahkan masuk."
Jeny mengiringi langkah Halim dan duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Kamu ada jam kuliah?" tanya Halim membuka obrolan.
"Iya, Pak. Jam sepuluh."
"Oke, Saya tidak akan menyita banyak waktumu. Saya cuma mau konfirmasi. Apa betul kamu waktu SMP punya catatan negatif saat sekolah? "
Jeny terkejut, ia tak menyangka kisah masa lalunya sampai ke telinga Dekan fakultasnya.
"ekhem.. masalah itu. Sebenarnya salah paham, Pak."
"Apa betul? "
"Iya, Pak. Tapi, memang kejadian itu tidak terselesaikan dengan jelas di sekolah Saya. Karena saat itu Saya mengalami syok setelah kehilangan ayah Saya dalam kecelakaan kerja. Kami sekeluarga dalam situasi yang tak memungkinkan untuk menyelesaikan masalah itu, akhirnya Mama Saya memutuskan pindah sekolah. "
"Sayang sekali, itu tak terklarifikasi dengan baik. Begini Jeny, Saya mendapat informasi soal kasus itu. Dan saya khawatir ini akan berdampak pada nama baik fakultas dan universitas. Apalagi kamu terpilih menjadi model dalam video promosi waktu lalu. Apa ada kemungkinan, untuk mengantisipasi penyebaran berita ini, kamu membuat klarifikasi untuk berjaga-jaga. Apa kamu tahu siapa korban kejadian itu? Tinggal di mana sekarang dan apa mungkin bisa di lacak? "
" Saya Tahu, Pak. Dan tidak sulit menemukannya, " ujar Jeny santai.
" Baguslah, Saya sangat berharap kamu meminta kesediaan korban untuk meluruskan kejadian di masa lalu itu. Kamu bisa temui dia? "
Jeny mengangguk, " Bisa, Pak. Bahkan hari ini jika Bapak mau bertemu yang bersangkutan."
"Mungkin Saya tidak perlu terlibat secara langsung. Kamu saja bagaimana? langsung janjian bertemu di rumahnya atau di kafe."
"Mungkin di rumahnya lebih sopan, ya Pak."
"Ya, lebih baik begitu. "
"Kalau begitu, Saya minta alamat rumah Bapak. Saya akan buat videonya jika diperlukan."
"Alamat rumah Saya? untuk apa?"
"Untuk menemui putra Bapak, Gilang Putra Candra. Karena putra Bapak korbannya, " jawab Jeny sambil tersenyum.
Halim terdiam---Syok tak menduga.
***
Mona duduk di kantin setelah selesai mata kuliah metode penelitian dasar di kelasnya. Beberapa teman sekelasnya juga melakukan hal yang sama.
"Ya ampun, belum skripsi aja aku udah pusing duluan di kelas metil ini, " keluh Mona.
"Sama, Mon. Kebayang nggak sih kalau kamu skripsi di Finland nanti? ngomong sehari-hari udah ekstra tenaga apalagi harus bikin penelitian di sana?" celetuk sahabatnya di kursi sebelah.
"Iyaa, aku juga kayaknya nggak bakal sanggup sih. Palingan minta Gilang yang ngerjain, hihihi."
"Ngapain, ogah. Skripsi siapa yang pusing siapa? " celetuk Gilang yang tiba-tiba berdiri di depan Mona.
"Lang, tega banget kamu. Kita bakal berdua aja loh disana nanti. Harusnya saling membantu, " rengek Mona.
"Kalau kamu nggak sanggup, mending nggak usah ke sana kali. Daripada jadi benalu buat aku."
"Memangnya, kalau aku nggak ke sana, siapa yang sanggup? Jeny? " ledek Mona.
Kesalnya benar-benar tak tertahan sampai ia berdiri dan berkacak pinggang menantang.
"Ya mending dia lah, dia bahasa inggrisnya casciscus, " jawab Gilang asal. Dia sebenarnya tak tahu, hanya ingin membuat Mona semakin emosi.
"Ah mana mungkin, orang miskin begitu punya uang dari mana coba buat kursus bahasa inggris? "
"Loh, bisa bahasa Inggris kan nggak harus kursus mon? sering-sering praktek aja. Kamu kebanyakan nonton drama jadi waktunya habis sama drama bukannya belajar, " tambah indra.
"Memangnya ada bukti dia bisa bahas Inggris? " tantang Mona lagi.
Gilang seketika panik, niat hati mau mancing Mona malah dia yang kelabakan.
"Coba kita tanya Erwin. Erwin kan teman kecilnya tuh? " ujar indra.
'Waduh, belum sempat briefing Erwin. Kacau nih rencananya, " batin Gilang.
"Win.. win.. sini, " teriak Indra sambil tangannya melambai.
Erwin yang memang mau menuju kantin setelah dari toilet mempercepat langkahnya menghampiri Indra dan Gilang yang terlihat berdiri di kelilingi teman kelas wanita.
"Ada apa nih kalian? " tanyanya bingung.
"Si Jeny jago ngomong bahasa Inggris kan? "
"Iya.. emang kenapa? " jawab Erwin santai.
Gilang dan Indra terkejut lalu saling tatap.
'Syukur, ternyata bener, ' batin Indra.
"Apa buktinya? " tanya Mona.
"Dia waktu SMA juara pidato bahasa Inggris mewakili sekolah, kalau nggak salah juara 3 tingkat kota. Kadang dia kerja sambilan jadi tour guide. Terutama pas libur sekolah atau kuliah. Udah dari SMA dia kerja sampingan jadi tour guide."
Mona menelan salivanya. Tak menyangka, ada kemampuan tersembunyi dari diri Jeny.
'Wah kalau pengurus yayasan tahu, bakal batal aku kuliah di luar negri sama Gilang,' batin Mona.
"Emang ada apa sih? " Erwin masih bingung dengan apa yang sedang mereka permasalahkan.
"Kamu dengar kan Mon? kalau kamu masih macam-macam ngomongin Jeny kemana-mana, aku pastikan Jeny yang gantiin posisimu, " ancam Gilang lalu pergi meninggalkan kantin.
Mona mendengus kesal. Rencananya mau merusak reputasi Jeny dan menjauhkannya dari Gilang malah jadi bumerang baginya.
***
Gilang melangkah cepat ke sekretariat. Indra dan Erwin bergegas mengejarnya.
CEKLEK
BRUG!!
Gilang melempar tubuhnya ke atas kursi.
"Ada apa sih? aku masih nggak paham loh dari tadi, " tanya Erwin.
"Gilang, selesai matkul metil tadi di telpon Papanya ditanya soal kasus SMP dulu. Rupanya, Kasus itu yang cerita ke Papanya Gilang itu si Mona. Makanya Gilang jadi ngelabrak Mona ancam dia supaya nggak sebar info sembarangan soal Jeny, " terang Indra.
"Ooh gitu, tapi Mona tahu darimana ya? info itu cuma teman kecil dan pihak SMP lamanya aja yang tahu, " tanya Erwin.
"Apa mungkin, Boby? gumam Erwin.