Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Ini Salah!
" Ya Om, lebihin uang jajan " kata Ayra yang kini duduk disebelah Hans yang masih terdiam menatap Ayra .
" Om " panggil Ayra mengejutkan Hans.
" Om cuma suruh kamu mandi bukan keras ini udah malam " suara berat Hans mengalihkan tatapan nya dari Ayra yang duduk tepat disebelahnya.
" Tadi aku cuma mandi tapi pas lagi pake sabun rambut aku lepas jadi basah, yaudah keramas sekalian deh " cerita Ayra dengan polos sementara Hans terus membentengi diri nya agar tidak membayangkan Ayra yang sedang mandi .
" Yaudah, masuklah kekamar kamu " ucap Hans yang tidak tahan melihat Ayra lama-lama dalam kamarnya .
" Om ngusir aku?" Ayra terlihat sebal menatap Hans dengan mata menyipit .
" Bukan ngusir Ay, ini sudah malam waktunya tidur " ucap Hans dengan nada rendah .
" Oooo, iya udah jam 10 ya " kata Ayra yang diangguki Hans .
" Om pinjam hairdryer dong , aku sampai lupa tujuan aku datang kesini selain lapor udah mandi " kata Ayra yang sudah melangkah pergi kembali menatap Hans .
" Hairdryer kamu rusak?" tanya Hans berjalan masuk keruang ganti .
" Iya , dia udah nggak berfungsi dengan baik " jawab Ayra yang ikut masuk kedalam ruang ganti .
" Ini bawalah , besok Om suruh pelayan ganti hairdryer kamu " ucap Hans memberikan.
" Jangan lupa besok bangun lebih awal Om perlu hairdryer nya besok " ucap Hans ketika Ayra akan pergi .
" Mmmh, aku besok mau bangun jam 8 karena kuliah siang " kata Ayra .
" Yaudah keringkan rambut kamu disini saja " ucap Hans memberikan jalan tengah .
" Om yang bantu " senyum senang Ayra langsung duduk di kursi .
" Ini Om" kata Ayra memberikan hairdryer nya .
" Kamu ini " Hans membantu mengeringkan rambut Ayra yang masih basah .
Ayra menatap pantulan mereka dari cermin lalu tiba-tiba memeluk Hans yang berdiri disebelahnya.
" Ada apa?" tanya Hans mengelus punggung Ayra yang duduk dikursi itu tiba-tiba memeluk perutnya.
" Nanti kalau Om udah nikah masih sayang aku nggak?" tanya Ayra dengan polos mendongak menatap Hans .
" Kamu bilang apa sih?, setiap orang itu punya tempat masing-masing jadi mau Om belum atau udah nikah kamu itu punya ruang sendiri di hati Om " ucap Hans melanjutkan mengeringkan rambut sekalipun Ayra duduk memeluk nya .
" Om bakalan tetap sayang kamu sampai kapanpun , percaya sama Om " ucap Hans .
" Janji ya Om" kata Ayra mengangkat kelingking nya .
Hans menaruh hairdryer diatas meja lalu menarik satu kursi lagi agar bisa duduk berhadapan dengan nya .
" Boleh Om ngomong sesuatu?" tanya Hans yang belum menautkan kelingking nya .
" Boleh tapi Om harus janji dulu " ucap Ayra yang masih saja mengangkat kelingking nya .
" Baiklah" kata Hans menautkan kelingking mereka.
" Om mau bicara apa?" tanya Ayra .
" Seperti yang kamu tau kita adalah dua orang yang berbeda dan tidak ada ikatan darah satu sama lain, Nanti disaat umur kamu 23 tahun maka status Om sebagai wali kamu sudah tidak ada , kamu bertanggungjawab atas diri kamu sendiri setelah nya " kata Hans memegang tangan Ayra .
" Bersamaan dengan itu tugas Om selesai , jadi,"
" Jadi Om bakalan ninggalin aku?" kata Ayra langsung menangis terisak tidak siap untuk itu .
" Enggak, sampai kapanpun Om bakalan ada di setiap langkah kamu walaupun nanti kita sudah berjauhan " ucap Hans mengelus kepala Ayra .
" Tuh kan beneran Om mau ninggalin aku ?" tangis Ayra menarik tangannya yang di pegang Hans.
Ayra tidak punya siapa-siapa selain Hans, bagaimana dia tidak takut jika Hans akan meninggalkan nya .
" Dengar Ay, kamu itu sudah dewasa dan menjadi seorang wanita dewasa kamu dituntut untuk bertanggungjawab pada diri sendiri dan perihal Om keluar dari rumah ini nantinya karena kita bukan keluarga yang ada ikatan darah jadi akan sangat tabu rasanya jika kita tinggal dalam satu atap " ucap Hans .
" Aku tau Om, tapi sejak kecil aku udah tinggal sama Om, aku percaya sama Om, Om pria yang baik dan sempurna serta kita tinggal disini kan bukan berdua aja " pendapat Ayra yang sejak kecil sampai sekarang memandang Hans sebagai pria sempurna yang layak di percaya .
" Ayra , Om juga seorang pria kamu tidak boleh terlalu percaya sama Om , Om juga bukan pria sempurna seperti yang kamu bayangkan , Om nggak sebaik itu " ucap Hans yang lebih memahami dirinya sendiri .
" Mau seribu orang bahkan satu duniapun bilang Om bejat aku nggak bakalan percaya , karena Om adalah pria terbaik yang pernah aku kenal " ucap Ayra yang terlihat dari matanya sangat mempercayai Hans .
" Aku tinggal dari kecil sama Om, jika memang Om bukan pria baik pasti Om udah memanfaatkan kesempatan, udahlah jangan mikirin orang, Aku sayang dan percaya sama Om " kata Ayra segera keluar ruang ganti setelah pembicaraan mereka selesai .
" Astaga, dia tidak tau saja betapa sulitnya aku menahan hasrat setiap kali bersentuhan dengan nya " batin Hans menatap punggung Ayra yang perlahan menghilang.
Ini salah!!!.
Hans tau itu, tapi gairah nya benar-benar selalu menggebu-gebu setiap kali Ayra didekat nya akhir-akhir ini .
" Tidak, tidak, ini salah, dia adalah amanah yang harus aku jaga " ucap Hans menenangkan diri nya sendiri .
Keesokan paginya.
Hans sarapan sendirian karena Ayra belum bangun namun setelah beberapa saat Hans menyadari satu hal.
" Bagaimana bisa aku menjauhi Ayra , makan tanpanya saja serasa hambar " batin Hans yang merasa makannya tidak enak tanpa celotehan Ayra .
" Pelayan , bangunkan Ayra katakan kalau aku menunggunya di meja makan " perintah Hans pada pelayan .
" Ehhhhh, tidak usah aku berangkat ke kantor saja " ucap Hans.
............
3 hari kemudian.
Tok
Tok
" Masuk " ucap Hans begitu mendengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
" Ommmmm, aku seneng banget " Ayra berlari kesenangan memeluk Hans yang berdiri didekat lemari berkas nya .
Hans menahan nafas ketika Ayra memeluk nya erat sekali sampai tubuh mereka begitu dekat tanpa jarak .
" Om, lihat ini, lihat ini " kata Ayra dengan excited menunjukkan selembar kertas pada Hans .
" Apa itu Ayra?" tanya Dave yang ternyata duduk disofa padahal Ayra pikir Hans sendiri saja diruangan nya .
" Ehhhh, Om Dave, ini aku berhasil mempertahankan IPK 4 dan Om Hans janji bakalan penuhi satu permintaan aku " ucap Ayra meronta-ronta kesenangan melihat kan IPK nya pada Dave .
" Mau minta apa sama Hans?" tanya Dave menatap nilai-nilai bagus Ayra bergantian dengan ekspresi wajah Hans yang masih tegang setelah dipeluk Ayra .
" Mau minta apa ya?" tanya Ayra mulai memikirkan apa yang dia inginkan.
Dave memberikan kode lawat mata pada Hans yang masih berdiri menahan nafas , menandakan ucapan Dave benar bahwa kehadiran Ayra membuat Hans bergairah.
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔