Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Pagi datang tanpa suara istimewa.
Tidak ada hujan, tidak ada cahaya yang terlalu terang. Matahari hanya terbit seperti biasa—seolah hidupku semalam tidak baru saja berubah arah.
Aku terbangun lebih awal dari biasanya. Rumah masih sunyi. Ibu tertidur di sudut ruangan, napasnya teratur tapi wajahnya tampak lelah bahkan dalam tidur. Alfa mendengkur pelan di kasur tipisnya. Wajahnya begitu tenang—terlalu tenang untuk anak yang sejak kecil nyaris tak pernah diberi pilihan.
Aku duduk lama, memandangi mereka. Dua orang yang selama ini menjadi alasanku bertahan, meski sering kali rasanya hidup hanya berjalan di tempat.
Cerita ibu semalam kembali terngiang. Kali ini bukan sekadar rasa sedih atau sakit hati. Ada sesuatu yang tumbuh pelan di dadaku. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan tekad yang mengeras, dingin, dan pasti.
Aku tidak akan tinggal diam lagi.
Aku akan lulus.
Tiga bulan lagi.
Hanya hitungan bulan.
Setelah itu, aku akan bekerja sekuat tenaga. Bukan untuk membuktikan apa pun pada siapa pun. Aku hanya ingin ibu tidak lagi bangun sebelum subuh, tidak lagi menyalakan tungku kayu dengan tangan gemetar, tidak lagi berdiri berjam-jam di depan wajan panas demi uang receh.
Aku ingin ibu menikmati hidup di usia senjanya.
Bukan sekadar bertahan,
tapi benar-benar hidup.
Dan pagi itu, aku juga membuat janji lain—pada diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjakku lagi. Bahkan jika orang itu kakak kandungku sendiri.
Sejak kecil, Kak Rini tidak pernah benar-benar terasa seperti kakak. Ia lebih mirip orang asing yang diberi kuasa. Di rumah ini, ia seperti penguasa tak tertulis. Aku, Alfa, bahkan ibu—kami semua hanya orang-orang yang menumpang, meski darah yang mengalir di tubuh kami sama.
Kenangan lama kembali menyergapku, datang tanpa aba-aba.
Hari itu, Alfa baru pulang sekolah. Seragamnya kusut, kancing atasnya terbuka. Tasnya menggantung di satu bahu, tampak berat bagi tubuh kecilnya. Ia melangkah pelan menuju ruang makan.
Di sana, Kak Rini dan suaminya sedang makan siang.
Rendang.
Mentimun segar.
Kerupuk putih yang masih utuh.
Makanan mewah—setidaknya bagi kami.
Alfa berhenti di dekat meja. Ia ragu, tapi rasa lapar lebih kuat dari rasa takut. Suaranya kecil, hampir seperti bisikan.
“Kak… aku lapar. Minta sedikit, boleh?”
Tidak ada jawaban.
Kak Rini bahkan tidak menoleh. Ia tetap mengunyah, lalu meneguk air dengan tenang. Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya ia berseru keras, “Ibu!”
Ibu keluar dari dapur dengan wajah terkejut.
“Lihat ini,” kata Kak Rini sambil menunjuk Alfa. “Si Alfa bikin malu aja. Anak sekolah tapi nggak tahu diri.”
Alfa menunduk. Tangannya mencengkeram tali tasnya erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak runtuh.
Ibu berdiri kaku. Aku mengenal wajah itu—wajah yang ingin membela, tapi tahu betul tidak punya kuasa.
Dadaku panas. Aku ingin berteriak.
Ingin bilang: dia lapar, bukan kurang ajar.
Tapi suaraku tertelan, seperti biasa.
Kak Rini kembali menyuap rendang, seolah tidak ada anak kecil yang baru saja dipatahkan harga dirinya di hadapannya.
Sejak hari itu aku tahu—
rumah ini bukan lagi tempat pulang.
Hanya tempat bertahan.
Dan aku sudah terlalu lama bertahan.
Malam-malam berikutnya, aku sering terbangun karena suara isak ibu. Pelan, tertahan, seperti takut suaranya terdengar. Aku pura-pura tidur, karena aku tahu jika aku bangun dan memeluknya, tangis itu justru akan pecah.
Melihat ibu hancur seperti itu selalu terasa menyakitkan. Sejak aku kecil sampai sekarang, hidupnya seolah tidak pernah benar-benar memberi jeda. Penderitaan datang berganti wajah, tapi rasanya sama. Padahal seharusnya, di usia seperti ini, ibu sudah menikmati ketenangan.
Tentang ayah, aku tidak ingin membahasnya lagi. Ada luka yang terlalu lama dibiarkan terbuka hingga akhirnya mati rasa.
Tentang abang-abangku, aku tahu mereka kadang mengirim uang. Tapi uang itu hampir selalu ditransfer ke rekening Kak Rini. Aku tidak pernah tahu bagaimana pembagiannya. Ibu tidak pernah bercerita. Ia terlalu sering memilih diam, seolah diam adalah satu-satunya cara untuk menjaga kami tetap utuh.
Yang aku tahu pasti, sampai hari ini aku masih berjualan keliling kampung. Pagi hingga sore, membawa dagangan, menelan malu, dan menahan lelah. Semua itu kulakukan bukan karena aku kuat, tapi karena aku tidak punya pilihan lain.
Namun pagi itu berbeda.
Aku menatap Alfa yang masih tidur. Anak itu terlalu cepat belajar tentang lapar, terlalu dini mengenal rasa rendah diri.
Dan aku bertekad—
Alfa tidak boleh merasakan hidup seperti yang aku jalani.
Ia harus sekolah tinggi.
Ia harus kuliah.
Ia harus berhasil—lebih dariku.
Aku rela menanggung lelah dua kali lipat, asal ia tidak perlu menunduk di depan meja makan orang lain hanya untuk meminta sesuap nasi.
Kak Pipi dan Kak Rita masih sering menelepon ibu. Suara mereka selalu membuat ibu sedikit lebih tenang. Alhamdulillah, mereka kadang mengirim uang meski tidak banyak. Setidaknya, ibu tahu masih ada yang peduli, masih ada yang mengingat kami.
Tentang Bang Ari, aku hanya mendengar kabar samar. Katanya ia mulai sukses di kota. Tapi tak pernah ada cerita lebih lanjut. Tak pernah ada kabar langsung.
Seolah kami hidup di dunia yang berbeda, dipisahkan oleh jarak dan keheningan.
Mungkin kami sudah terlalu lama hidup tanpa benar-benar diberi penjelasan. Terbiasa menerima apa pun tanpa bertanya, terbiasa menelan ketidakadilan sebagai bagian dari hidup.
Tapi pagi itu, aku tahu satu hal dengan pasti—
Aku tidak boleh lagi hanya berharap.
Harapan tanpa langkah hanya akan membuatku tetap di tempat yang sama.
Aku harus berjalan.
Pelan atau cepat, tak masalah.
Meski sendiri.
Karena jika aku tidak memulai sekarang, tidak akan pernah ada pagi yang benar-benar berubah.