Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Hormat
🕊
Hari itu terasa lebih berat dari biasanya bagi Alea.
Bukan karena tubuhnya lelah—capek fisik sudah lama menjadi bagian dari rutinitasnya. Kaki pegal, punggung panas, telapak tangan perih karena terlalu sering mencuci dan mengangkat barang; semua itu sudah ia kenal baik. Yang membuat langkahnya terasa tertahan sejak pagi justru sesuatu yang tak kasat mata: tekanan.
Perasaan tertekan yang menggantung di udara, seperti awan gelap yang sengaja dibiarkan rendah—cukup rendah untuk membuat siapa pun yang berjalan di bawahnya harus menunduk, menahan napas, dan berhati-hati setiap melangkah. Alea merasakannya sejak membuka pintu restoran pagi itu. Dari tatapan-tatapan singkat, dari nada bicara yang sedikit lebih dingin, dari suasana yang terasa tidak ramah.
Ia mencoba mengabaikannya.
Alea menyapu area depan dengan gerakan teratur. Satu tangan memegang gagang sapu, tangan lain sesekali merapikan kursi yang bergeser. Ia fokus pada pekerjaannya—karena bekerja adalah caranya bertahan. Selama tangannya bergerak, pikirannya tidak sempat berkelana ke hal-hal yang menyakitkan.
Namun saat sapunya baru saja berhenti, sepatu kerja seseorang menghentak lantai tepat di sampingnya. Terlalu dekat. Alea bisa melihat ujung sepatu itu dari sudut matanya. Tidak bergerak. Sengaja berdiri di sana, seolah ingin memastikan keberadaannya terasa.
“Eh, Alea.” Suara Ka Wendy rendah, dingin, nyaris tanpa emosi. Nada yang tidak berteriak, tapi justru lebih menusuk. “Habis ini kamu balik ke gudang ya. Beresin ulang.”
Alea mengangkat kepalanya perlahan. Ia tidak langsung berdiri. Ada jeda sepersekian detik—bukan karena membangkang, tapi karena ia mencoba memastikan dirinya tidak salah dengar. “Gudang?” tanyanya pelan. “Tapi tadi sudah—”
“Balik.” Satu kata itu memotong kalimat Alea dengan kasar. Tidak ada ruang untuk penjelasan. “Jangan banyak alasan.” Alea menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun sedikit lebih cepat. Ia menancapkan ujung sapu ke lantai, berdiri dengan posisi tegak tapi tidak menantang.
“Ka,” ucapnya hati-hati, suaranya tetap sopan meski rahangnya mulai mengeras, “aku lagi jadwal depan. Nanti kalau Bu Rina nyari—” Wendy melangkah lebih dekat.
Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Wendy menundukkan wajahnya sedikit, suaranya diturunkan—pelan, tapi jelas. Nada seperti ini justru lebih berbahaya, karena tidak terdengar oleh siapa pun kecuali mereka berdua.
“Denger ya,” katanya. “Kamu boleh pinter. Boleh rajin. Boleh dipuji.” Alea menelan ludah. “Tapi jangan sok berani,” lanjut Wendy. “Kalau kamu sampai lapor Bu Rina lagi… aku pastiin kerja kamu di sini nggak bakal tenang.” Kalimat itu jatuh seperti beban berat di dada Alea.
Bukan ancaman yang berisik. Bukan makian. Tapi peringatan—yang terasa nyata, karena Alea sudah merasakan sendiri dampaknya sejak kemarin. Ia terdiam.
Tangannya mengepal tanpa sadar. Kuku-kukunya menekan telapak tangan, menahan getar yang mulai muncul. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut—ia sudah pernah berada di tempat yang jauh lebih menakutkan—melainkan karena marah yang terlalu lama ditahan.
Marah karena diperlakukan tidak adil.
Marah karena bekerja dengan benar justru dianggap kesalahan.
Marah karena diam pun tetap diserang.
“Aku cuma kerja, Ka,” ucap Alea akhirnya.
Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Tapi justru di situlah letak ketegasannya. “Aku nggak pernah niat jatuhin siapa pun.” Wendy tertawa kecil. Tawa pendek, sinis, tanpa kehangatan. “Di tempat kerja,” katanya sambil menggeleng pelan, “niat itu nggak penting.”
Ia menatap Alea dari atas ke bawah, seolah sedang menilai sesuatu. “Yang penting siapa yang dihormati.” Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik, lalu Wendy melangkah pergi begitu saja. Langkahnya ringan. Seolah ia baru saja memenangkan sesuatu.
Alea berdiri di tempatnya.
Sapu masih ia genggam. Dadanya terasa sesak, tapi wajahnya tetap tenang. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Hanya rasa campur aduk yang berputar di kepalanya—antara ingin melawan, ingin menghilang, dan ingin membuktikan bahwa ia tidak selemah yang mereka kira. Ia menunduk, mengangkat kembali sapunya.
Gudang.
Ia akan ke sana. Bukan karena tunduk. Bukan karena takut. Tapi karena untuk saat ini, Alea memilih bertahan—sambil diam-diam menyadari satu hal yang pahit namun nyata:
Di tempat kerja, kadang yang diuji bukan kemampuanmu… tapi seberapa lama kamu sanggup tetap menjadi dirimu sendiri tanpa ikut menjadi kejam. Di gudang, Alea merapikan ulang rak yang sebenarnya sudah rapi. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya penuh.
Kenapa aku harus ngerasa bersalah karena kerja dengan benar?
Kenapa dapat pujian malah jadi masalah?
Ia ingat betul bagaimana kemarin Bu Rina memuji caranya melayani pelanggan VIP. Ingat bagaimana ia diberi reward tambahan—sekadar ucapan terima kasih dan jadwal istirahat lebih fleksibel. Hal kecil, tapi berarti.
Dan rupanya… itulah awal dari masalah.
–
Siang itu, tekanan tidak berhenti. Setiap kali Alea kembali ke depan, Wendy selalu menemukan alasan untuk menyuruhnya ke belakang.
“Lap mejanya belum bersih.”
“Ambil stok saus.”
“Bantu dapur, cepat.”
Padahal Alea tahu, beberapa tugas itu bisa dikerjakan staf lain.
Sarah sempat mendekat saat Alea mengantar minuman. “Lea… kamu nggak capek bolak-balik?” bisik Sarah. Alea tersenyum kecil. “Capek itu biasa.” Sarah menatapnya khawatir. “Ka Wendy ngapain sih? Dari tadi nyuruh kamu terus.” Alea menggeleng pelan. “Nanti aja, Sar.”
Ia tidak ingin Sarah ikut terseret. Ia sudah cukup belajar dari pabrik dulu—kadang, diam bukan berarti kalah, tapi bertahan. Namun hari itu, diam terasa semakin berat.
Sore menjelang, restoran semakin ramai. Pelanggan datang silih berganti. Alea tetap melayani dengan senyum yang sama—ramah, tulus, profesional.
Seorang ibu pelanggan menepuk bahunya ringan. “Mbaknya enak ya pelayanannya. Sabarnya kelihatan.”Alea tersenyum. “Terima kasih, Bu.” Ucapan itu terdengar sederhana… tapi Wendy melihatnya.
Tatapan Wendy berubah gelap.
Saat Alea hendak kembali ke dapur, Wendy mencegahnya. “Kamu seneng ya?” Wendy berbisik tajam. “Dipuji pelanggan. Dianggap paling bisa.” Alea menghela napas. “Aku cuma kerja, Ka.” Wendy mendekat lebih dekat lagi. “Denger. Kamu anak baru. Di sini ada urutannya. Jangan lupa diri.”
Alea menatap Wendy untuk pertama kalinya tanpa menunduk. “Aku nggak pernah minta diistimewakan.” Wendy mendengus. “Tapi kamu dapet.”
Kalimat itu seperti pisau kecil—tidak langsung melukai, tapi cukup untuk menekan.
Di ruang istirahat, Alea duduk diam, menatap bekal minumannya tanpa selera. Tangannya sedikit gemetar.
Kenapa rasanya selalu begini?
Di mana pun… selalu ada orang yang ingin menginjak yang diam.
Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Ia teringat pesan kakaknya Ayu: “Kalau kamu kerja jujur, pasti ada yang nggak suka. Itu bukan salah kamu.” Alea membuka mata. “Iya, Ka… tapi rasanya tetap sakit.”
Malam turun, dan tekanan semakin terasa. Wendy kembali mendekati Alea di dekat kasir. “Alea,” katanya dingin. “Habis ini kamu stay sampai closing. Gantikan si Dimas.” Alea terkejut. “Tapi jadwalku—”
“Masalah?” Wendy menyela. “Atau kamu mau aku ngomong ke Bu Rina kalau kamu susah diatur?” Alea terdiam lama. Di kepalanya, ada dua pilihan: melawan sekarang—atau bertahan sekali lagi. “Iya, Ka,” jawabnya akhirnya.
Wendy tersenyum tipis. Menang.
Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam saat restoran mulai sepi. Kaki Alea pegal, punggungnya terasa berat. Tapi ia tetap bekerja sampai akhir, menyelesaikan semuanya tanpa keluhan.
Saat Wendy lewat, Alea bisa merasakan tatapan puas di wajahnya.
“Dia ingin aku tunduk,” pikir Alea. “Bukan karena aku salah… tapi karena aku dianggap ancaman.” Dan untuk pertama kalinya, Alea menyadari sesuatu yang pahit tapi penting:
Di dunia kerja, tidak semua orang ingin kamu tumbuh. Beberapa hanya ingin memastikan kamu tetap di bawah.
Saat akhirnya Alea pulang malam itu, langkahnya pelan. Jalanan lengang, lampu warung masih menyala di kejauhan. Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Air mata hampir jatuh—bukan karena lemah, tapi karena terlalu lama kuat sendirian. “Tuhan…” bisiknya lirih. “Kalau ini jalannya, aku mohon… jangan biarkan aku berubah jadi pahit.” Ia mengusap wajahnya, menegakkan punggung.
Hari itu berat. Besok mungkin lebih berat. Tapi Alea tahu satu hal ia tidak akan selamanya diam. Dan ketika waktunya tiba… ia akan memilih caranya sendiri untuk berdiri.
☀️☀️