NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario di Balik Layar

Di balik senyum kemenangan Ria saat menerima surat panggilan kerja, ada sebuah percakapan rahasia yang terjadi satu malam sebelumnya. Arya, yang sangat mengenal watak keras kepala istrinya, tahu bahwa melarang Ria bekerja adalah hal mustahil. Namun, membiarkan Ria terjun ke dunia luar tanpa perlindungan di tengah ancaman Soraya adalah risiko yang tidak bisa ia ambil.

Arya berdiri di ruang kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan daftar anak perusahaan di bawah naungan Arya Group. Matanya tertuju pada sebuah agensi kreatif bernama Neo-Modelling & Marketing, sebuah perusahaan cabang yang bergerak di bidang fashion branding.

Arya menekan tombol panggil di ponselnya. Sesaat kemudian, suara berat seorang pria menjawab di seberang sana.

"Halo, Pak Arya? Apa ada instruksi mendadak?" tanya Hendra, Kepala HRD Neo-Modelling yang sudah mengabdi belasan tahun.

"Hendra, dengarkan baik-baik," suara Arya terdengar dingin namun penuh penekanan. "Besok, seorang wanita bernama Ria Rinjani akan datang melamar untuk posisi di bagian Pemasaran Kreatif. Dia adalah istriku."

Hendra terdiam sejenak, terkejut. "Nyonya Ria? Baik, Pak. Saya akan segera siapkan posisi Manajer Senior atau bahkan Direktur untuk beliau—"

"Tidak!" potong Arya cepat. "Jangan berani-berani memberikan karpet merah. Ria ingin membuktikan kemampuannya sendiri. Jika dia tahu aku terlibat, dia akan pergi dan tidak akan pernah memaafkan ku."

Arya menarik napas panjang, menatap foto Ria yang ada di meja kerjanya. "Proses dia seperti pelamar biasa. Berikan wawancara yang sulit, uji kemampuannya. Jika dia kompeten—dan aku tahu dia sangat kompeten—terima dia. Tempatkan dia di posisi yang dia lamar, jangan lebih."

"Lalu, apa instruksi khusus Anda, Pak?" tanya Hendra bingung.

"Hanya dua hal," tegas Arya. "Pertama, awasi dia dengan ketat. Pastikan tidak ada karyawan lain yang merundungnya atau memberinya beban kerja yang membahayakan kesehatannya. Kedua, jaga identitasnya. Di kantor itu, dia hanya Ria, seorang karyawan baru. Jangan ada yang tahu dia adalah istriku kecuali kau dan Direktur Cabang."

"Mengerti, Pak. Kami akan menjaganya tanpa dia sadari."

Keesokan harinya, di ruang wawancara Neo-Modelling, Ria duduk berhadapan dengan Hendra dan dua manajer lainnya. Ria tidak menyadari bahwa jantung Hendra berdegup kencang karena harus bersandiwara di depan istri bos besarnya.

Hendra melemparkan pertanyaan-pertanyaan teknis yang tajam tentang strategi pemasaran fashion di era digital. Ria menjawab dengan lugas, menggabungkan teori ekonomi yang ia pelajari dengan insting desainnya yang tajam.

"Strategi Anda cukup berisiko untuk perusahaan baru," pancing Hendra, mencoba bersikap profesional sesuai perintah Arya.

Ria tersenyum tenang. "Risiko adalah bumbu dari inovasi, Pak. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi pengikut, bukan pemimpin pasar."

Hendra terkesan. Bukan karena ia adalah istri Arya, tapi karena pemikiran Ria memang brilian. Di akhir sesi, Hendra menjabat tangan Ria. "Selamat, Ria. Kemampuanmu jauh melampaui ekspektasi kami. Kau bisa mulai Senin depan sebagai Asisten Manajer Pemasaran."

Saat Ria pulang dan memamerkan surat itu pada Arya, Arya berpura-pura terkejut dan bangga. Ia memeluk Ria dengan erat, menyembunyikan rasa bersalah di balik matanya.

"Kau lihat, Mas? Aku melakukannya sendiri!" seru Ria kegirangan.

Arya tersenyum, mengelus rambut Ria yang kini mulai tertutup turban sutra barunya. "Iya, Sayang. Kau memang hebat. Aku tidak pernah meragukan mu."

Dalam hati, Arya berjanji akan menjadi bayangan yang menjaga Ria. Ia membiarkan Ria merasa terbang dengan sayapnya sendiri, meski ia telah menyiapkan jaring pengaman di bawahnya. Namun, Arya tidak menyadari bahwa rahasia ini adalah bom waktu. Jika Ria tahu bahwa kesuksesannya masih berada di bawah bayang-bayang suaminya, benteng kepercayaan yang baru dibangun itu bisa hancur lebih parah dari sebelumnya.

Senin pagi yang dinanti akhirnya tiba. Suasana di kediaman Arya terasa jauh lebih hidup dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Sejak pukul enam pagi, Arya sudah sibuk di dapur. Pria yang biasanya hanya menerima kopi dari pelayan itu kini tampak serius membalik omelet dan menyiapkan roti gandum panggang dengan alpukat—makanan bergizi yang disarankan dokter untuk masa pemulihan Ria.

Ria turun dari tangga dengan penampilan yang memukau. Ia mengenakan celana kain berwarna krem, blazer senada, dan turban sutra bermotif geometris yang memberikan kesan profesional sekaligus modis. Tidak ada lagi raut wajah pasien yang lemah; yang ada hanyalah seorang wanita karier yang siap menaklukkan dunia.

Sarapan dan Tawaran yang Ditolak

"Sarapan dulu, Sayang," ujar Arya sambil menarikan kursi untuk Ria. Matanya tak lepas menatap istrinya dengan bangga dan sedikit rasa khawatir yang masih tersisa.

Ria tersenyum, duduk dan menikmati sarapan buatan Arya. "Terima kasih, Mas. Enak sekali."

"Aku sudah meminta supir untuk memanaskan mobil. Dia akan mengantarmu sampai lobi kantor, dan menjemputmu tepat pukul lima sore," kata Arya sambil menyesap kopinya, mencoba terdengar santai seolah itu bukan sebuah perintah.

Ria meletakkan garpunya perlahan. Ia menatap Arya dengan tatapan lembut namun penuh peringatan. "Mas, kita sudah membicarakan ini. Aku akan naik transportasi umum. Kantor itu hanya berjarak beberapa blok dari jalur busway."

"Tapi Ria, kau baru saja sembuh. Bagaimana jika di bus sangat ramai dan kau terdorong? Bagaimana jika kau pusing?" Arya mulai panik. Bayangan Ria yang kelelahan di angkutan umum membuatnya tidak tenang.

"Aku akan baik-baik saja," potong Ria tegas. "Jika aku turun dari mobil mewah dengan pengawalan supir, semua orang di kantor akan langsung bertanya-tanya siapa aku. Aku ingin memulai ini sebagai karyawan biasa, bukan sebagai 'Nyonya Arya' yang sedang bermain kantor-kantoran."

Arya hanya bisa menghela napas panjang, menyerah pada prinsip keras kepala istrinya yang kini justru menjadi daya tarik tersendiri baginya. "Baiklah. Tapi biarkan aku setidaknya mengantarmu sampai halte depan. Hanya sampai halte."

Ria tertawa kecil dan mengangguk. "Hanya sampai halte. Deal."

Setelah berpamitan, Ria melangkah keluar rumah dengan tas kerja di bahunya. Di dalam bus yang cukup padat, ia berdiri sambil berpegangan pada tiang, merasakan guncangan kendaraan dan hiruk-pikuk suara orang-orang yang berangkat kerja. Alih-alih merasa terhina karena harus berdesakan, Ria justru merasa bebas. Ia merasa menjadi bagian dari dunia nyata lagi, bukan sekadar hiasan di dalam rumah mewah yang sunyi.

Tepat pukul delapan pagi, Ria berdiri di depan gedung Neo-Modelling & Marketing. Ia menghirup napas dalam-dalam, membetulkan letak turbannya, dan melangkah masuk melalui pintu putar.

Di lobi, ia melihat beberapa karyawan lain berlarian mengejar lift. Ia menuju meja resepsionis untuk melapor.

"Selamat pagi, saya Ria. Hari ini hari pertama saya bekerja sebagai Asisten Manajer Pemasaran," ucapnya dengan nada percaya diri.

Resepsionis itu memeriksa daftar hadir dan tersenyum ramah. "Silakan menuju lantai lima, bagian Kreatif dan Pemasaran. Pak Hendra sudah menunggu Anda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!