NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 Satu- Satunya Yang Terlewati

Aula Kusuma Bangsa masih begitu hening setelah penampilan dari Raihan dan Ramdan tadi yaitu puisi islami. Tari masih berdiri mematung karena masih terbawa perasaan oleh puisi islami tadi. Tari tahu Ramdan pergi bukan untuk selamanya tapi hanya sementara karena tugas negara yang harus dilakukan. Namun karena terbiasa bersama baik di kelas maupun di OSIS, apalagi Ramdan pergi di saat bener - bener diri Ramdan di butuhkan banget

" Ri, kamu oke kan?"Kak Anisa menepuk pundaknya Tari, karena Tari masih bengong terhipnotis oleh petikan gitar Ramdan Waketos

" Eh iya kak, aku oke kok , " kata Tari

" Oke Ri, acara selanjutnya ini adalah acara yang kita tunggu namun sebelum kita ke doa bersama , emang ada apa lagi sih Ri?" tanya Kak Anisa

" Jadi kak , yang akan memimpin do'a bersama itu adalah orang yang akan kita panggil sekarang. Ini kejutan buat temen-temen semua nya termasuk untuk ketua OSIS dan wakil ketua OSIS juga nih . Orang yang di maksud itu adalah seorang cowok ganteng, humble, seorang youtuber, murah senyum,jago main gitar dan pastinya suaranya sangat merdu membuat para kaum hawa tergila-gila deh melihat dia." kata Tari sambil tersenyum bahagia .

Begitu kalimat "membuat para kaum hawa tergila-gila" keluar dari bibir Tari dengan nada yang begitu ceria, suasana di sekitar Ramdan mendadak turun beberapa derajat Celsius. Ramdan tanpa sadar meremas dan merobek kertas yang digenggamnya, selain itu botol mineral yang ada di depannya tanpa terasa di remas sampai penyok

Ramdan yang tadinya sudah duduk tenang di barisannya, langsung menegakkan punggung. Rahangnya mengeras seketika. Mata tajamnya yang tadi menatap Tari dengan penuh kelembutan, kini berubah menjadi sorot penuh selidik yang dingin.

Ganteng? Humble? Murah senyum? kata-kata itu berputar di kepala Ramdan seperti kaset rusak.

Ramdan melirik ke arah Raihan yang duduk di sebelahnya. Raihan sendiri cuma bisa menahan tawa sambil menutup mulut dengan tangan, tahu banget kalau sahabatnya ini lagi menahan "gunung meletus" di dalam dadanya. Ramdan meremas pelan pulpen di tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.

Ada rasa tidak nyaman yang merayap di hatinya. Dia merasa... terancam? Seorang Ramdan Alvaro merasa tersaingi?

Bukannya dia tidak percaya diri, tapi melihat Tari tersenyum sebahagia itu saat mengenalkan cowok lain, rasanya lebih sakit daripada kalah debat tingkat nasional. Dia merasa "panggung" yang tadi sudah ia bangun dengan susah payah lewat tilawah dan petikan gitar, tiba-tiba runtuh begitu saja digantikan oleh sosok YouTuber misterius ini.

Ramdan kembali menatap Tari di atas panggung. Dia seolah menuntut penjelasan lewat tatapannya: 'Jadi ini kejutan yang kamu maksud, Ri? Kamu lebih pilih muji dia di depan aku yang sebentar lagi bakal pergi jauh?'

 " Oke sebelum aku panggil orangnya boleh gak aku nanya sama Ramdan, kan ramdan jago matematika nih pasti soal dari aku bakal gampang kok, Ndan coba dong kamu berhitung mulai dari awal sampai 5 aja " kata Tari sambil tersenyum penuh jahil

"0,1,2,3,4,5" jawab Ramdan

" Lah salah dong yang bener itu 0, 2,3,4,5" jawab Tari

"Anak TK juga tahu Ri, berhitung itu mulai dari 0 langsung ke satu ,tapi kenapa kamu di lewat?"kata Ramdan sambil mengernyitkan keningnya

" Iya satunya aku lewat, karena kamu adalah satu -satunya yang ada di hati,ups maaf ya buat para fansnya Ramdan " kata Tari sambil tersenyum manis

Detik itu juga, seluruh logika matematika yang ada di kepala Ramdan seolah menguap ke udara. Rahangnya yang tadi mengeras karena cemburu, mendadak kaku karena terkejut. Dia, si juara olimpiade yang selalu punya jawaban untuk soal sesulit apa pun, tiba-tiba kehilangan kata-kata.

Mata Ramdan mengerjap beberapa kali. Dia menatap Tari yang sedang tersenyum manis nan jahil di atas panggung. Ada rona merah yang merayap cepat dari leher hingga ke telinganya warna yang tidak bisa dia sembunyikan meskipun dia sudah berusaha memasang wajah "kulkas"-nya kembali.

"Cieeeeeeee!!" Suara sorakan satu aula meledak, bahkan lebih kencang dari sebelumnya.

Ramdan berdehem pelan, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah balapan nggak karuan. Dia membuang muka ke arah lain, pura-pura memperbaiki letak kacamatanya yang sebenarnya sudah pas, hanya untuk menghindari tatapan Tari yang mematikan itu.

Dia menatap Tari, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih dalam, seolah berkata: 'Kamu menang kali ini, Ri. Matematika aku emang jago, tapi kalau soal kamu, aku nyerah.'

Di sebelahnya, Raihan sudah tertawa terpingkal-pingkal sambil menepuk bahu Ramdan. "Gimana Ndan? Rumus mana yang bisa jelasin kenapa angka satu bisa pindah ke hati? Hahaha!"

Ramdan hanya bisa menggeleng pelan sambil bergumam sangat lirih, "Dasar nakal..." tapi matanya tetap nggak bisa lepas dari sosok gadis di atas panggung itu.

"Ayo balas dong Ndan?" teriak Bu Melly dari barisan para guru

Mendengar tantangan dari Bu Melly, seisi aula makin histeris. Ramdan menarik napas panjang, mengusap tengkuknya yang mulai terasa panas. Dia tahu, kalau dia nggak jawab sekarang, dia bakal jadi bahan ceng-cengan seumur hidup di OSIS.

Ramdan perlahan berdiri dari kursinya. Dia nggak butuh mikrofon, karena suaranya yang berat dan tegas sudah cukup menggema ke seluruh ruangan. Dia menatap Tari lurus-lurus, senyum tipisnya masih tertahan di sana.

"Kalau Tari tadi main angka..." suara Ramdan mulai terdengar, bikin aula yang tadinya ricuh langsung hening seketika. "Saya mau main logika aja."

Ramdan menjeda kalimatnya sebentar, menatap manik mata Tari yang tampak menunggu dengan jahil.

"Ri, dalam matematika, variabel itu bisa berubah-ubah. Tapi dalam hidup saya, kamu itu bukan variabel. Kamu itu Konstanta."

Tari mengernyitkan dahi, "Maksudnya, Ndan?"

Ramdan tersenyum lebih lebar—kali ini bener-bener senyum yang bikin para siswi di sana sesak napas. "Konstanta itu nilainya tetap, Ri. Nggak akan berubah, sejauh apa pun saya pergi, dan sesulit apa pun soal yang harus saya selesaikan nanti."

Duar!

Kali ini bukan cuma suara "Ciee" yang kedengeran, tapi ada yang sampai gebrak-gebrak meja aula. Bu Melly bahkan terlihat tepuk tangan heboh sambil ketawa puas.

Ramdan kembali duduk dengan tenang, seolah nggak baru saja meledakkan bom perasaan di tengah aula. Dia melirik Raihan yang melongo, lalu bergumam pelan, "Puas, Han?"

Tari yang tadinya berdiri tegak dengan senyum jahil, mendadak mematung. Kata "Konstanta" yang diucapkan Ramdan barusan seolah bergema berulang-ulang di telinganya, lebih kencang dari sorakan riuh teman-temannya di aula.

Darah seolah berdesir naik ke wajahnya dalam hitungan detik. Tari bisa merasakan pipinya panas luar biasa. Dia yang biasanya jago merangkai kata sebagai sekretaris, tiba-tiba merasa kamus di kepalanya terbakar habis.

Tari refleks menutup mulutnya dengan map biru yang dipegangnya, mencoba menyembunyikan senyum yang sudah tidak bisa ia kontrol lagi. Matanya yang jernih beradu pandang dengan mata tajam Ramdan yang kini terlihat penuh kemenangan.

Skakmat... batin Tari.

"Duh, kok mendadak gerah ya di sini?" bisik Tari pelan ke arah mikrofon, yang justru malah terdengar oleh seluruh aula dan memancing tawa makin keras.

Tari mencoba menunduk, pura-pura memeriksa kembali catatan acaranya, padahal matanya sama sekali tidak fokus melihat tulisan di sana. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sensasi geli yang menyenangkan. Dia nggak menyangka kalau "Kulkas" sekolahnya itu bisa memberikan balasan se-romantis itu lewat istilah matematika yang biasanya sangat membosankan.

"Oke, oke... skornya satu-sama ya, Ndan," ucap Tari akhirnya sambil kembali mendongak, berusaha mengembalikan wibawanya meski binar matanya nggak bisa bohong kalau dia sedang sangat berbahagia.

" Balas lagi dong Ri," teriak Arga dan Raihan dari barisan tim panitia

" Oke , seru- seruannya udah dulu ya karena kita akan memanggil guest Star kita, mau sama kak Anisa panggilnya?"Tari mengalihkan topik pembicaraan

" Yeahhh kamu bisa aja Ri, sama kamu dong kan kamu jago pantun boleh ga manggilnya pake pantun" kata Kak Anisa

" Oke deh dengerin ya " kata Tari

 jalan jalan ke Kalimantan.

Jangan lupa beli sekoteng.

 Mari kita shalawatan.

Bersama pemuda ganteng." kata Tari

 membuat Ramdan hatinya cemburu

" Beli sekoteng dan SOP buah.

  Belinya itu dari kota Medan.

  Pemuda ganteng dan ramah.

   Dia adalah... Kak Ridan ."panggil Tari

Ayo kak Ridan ....Kak Ridan....

Suara Tari yang begitu bersemangat menyebut nama itu seolah menjadi dentuman lonceng yang mematikan bagi Ramdan. Detik itu juga, binar kemenangan yang tadi sempat menghiasi mata sang Waketos langsung meredup, digantikan oleh sorot dingin yang jauh lebih beku dari biasanya.

Logika matematika yang tadi ia banggakan mendadak terasa tak berguna. Ramdan mengepalkan tangannya di bawah meja panitia. Kata "Ganteng" dan "Ramah" yang barusan meluncur dari bibir Tari untuk cowok lain terasa lebih menyakitkan daripada soal kalkulus paling rumit di dunia.

Aula yang tadinya penuh tawa mendadak dipenuhi bisik-bisik penasaran. "Ridan? Ridan YouTuber itu?" suara-suara itu mulai terdengar bersahutan.

Ramdan melirik ke arah pintu besar di belakang aula yang mulai bergerak terbuka perlahan. Cahaya dari luar menerobos masuk, membentuk siluet seseorang yang tampak sangat percaya diri. Ia bisa melihat bagaimana Tari gadisnya masih berdiri di sana dengan senyum paling cerah, menatap ke arah pintu dengan binar antusias yang tak tertahankan.

Ada rasa tidak rela yang membakar dada Ramdan. Sore ini ia akan terbang menyeberangi samudera, meninggalkan Tari dalam jarak ribuan kilometer. Dan tepat di saat ia akan melangkah pergi, sosok "Variabel Pengganggu" ini justru muncul dan disambut begitu meriah oleh sang mawar di pinggir jurangnya.

Kenapa harus dia, Ri? Dan kenapa harus sekarang? batin Ramdan pahit.

Langkah kaki dari balik pintu itu terdengar kian mendekat, memecah keheningan aula yang mencekam bagi Ramdan. Sorak-sorai mulai meledak saat ujung sepatu sang guest star terlihat melewati ambang pintu.

Ramdan menarik napas panjang, rahangnya mengeras sempurna. Ia tidak lagi menatap pintu, melainkan menatap Tari dengan tatapan yang sarat akan luka dan posesif yang tertahan. Seolah ingin bilang bahwa sejauh apa pun ia pergi nanti, tidak boleh ada nama lain yang membuat senyum Tari sehebat itu.

Tepat saat sosok Ridan mulai menampakkan wajahnya di depan publik...

— BERSAMBUNG —

"Gimana guys? Udah dapet jawaban kan kenapa angka 1-nya dilewat? Tapi kok abis terbang malah dijatuhin sama Ridan sih? Tim Ramdan mana suaranya? Kasih emot ❄️ kalau kalian ikutan cemburu bareng Waketos kita!"

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!