NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: HAL YANG TIDAK PERNAH DIUCAPKAN

Hari itu berjalan terlalu normal.

Itu yang justru membuatnya terasa tidak wajar.

Audit internal berlangsung tanpa suara. Tidak ada pengumuman besar. Tidak ada wajah panik yang terlihat jelas. Semua tampak profesional, teratur, terkendali.

Namun Aira tahu—

ketenangan seperti ini biasanya hanya permukaan.

Di bawahnya, sesuatu sedang bergerak.

Ia berdiri di depan mesin kopi, menunggu cangkirnya terisi perlahan. Beberapa staf berbicara pelan di belakangnya, topiknya samar tapi jelas menyentuh soal keamanan tambahan.

“Katanya kemarin hampir kecelakaan besar.”

“Siapa?”

“Yang di basement…”

Aira tidak menoleh.

Ia mengambil cangkirnya dan pergi tanpa ekspresi.

Ia tidak ingin menjadi bahan simpati.

Siang hari, panggilan masuk dari ruang utama.

Bukan melalui sekretaris.

Langsung dari Arlan.

“Ke ruangan saya,” ucapnya singkat.

Nada itu bukan perintah keras.

Lebih seperti sesuatu yang sudah dipikirkan sebelumnya.

Aira mengetuk dan masuk.

Arlan berdiri di dekat meja kerjanya, jasnya dilepas, lengan kemeja digulung sedikit. Pemandangan yang jarang terlihat oleh staf lain.

Itu bukan CEO.

Itu pria yang sedang memikirkan sesuatu terlalu lama.

“Kau makan siang?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu tidak sesuai konteks.

“Sudah.”

“Dengan siapa?”

“Sendiri.”

Jawaban singkat. Profesional.

Arlan mengangguk pelan, lalu berjalan mendekat.

“Audit menemukan sesuatu.”

Aira menunggu.

“Login akses administratif digunakan dua menit sebelum lampu padam.”

“Itu berarti disengaja.”

“Ya.”

“Dan pelakunya tahu jadwal saya.”

Arlan tidak menyangkal.

“Lingkarannya kecil.”

“Seberapa kecil?”

“Cukup kecil untuk membuatku tidak menyukainya.”

Aira memahami maksudnya.

Jika pelakunya benar-benar orang dalam, maka kepercayaan di perusahaan itu sedang retak.

Dan jika kepercayaan retak—

perang tidak lagi datang dari luar.

Ia menatap Arlan beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Kenapa Anda tidak terlihat terkejut?”

“Karena aku sudah menduganya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak insiden pertama.”

Motor itu.

Berarti selama ini ia sudah curiga.

“Tapi Anda tidak mengatakan apa-apa.”

“Aku tidak punya bukti.”

Jawaban yang rasional.

Namun tetap meninggalkan sesuatu.

Aira melangkah sedikit lebih dekat.

“Apakah ini hanya tentang bisnis?”

Pertanyaan itu membuat udara berubah.

Arlan menatapnya.

Ada sesuatu dalam tatapannya yang berbeda hari ini.

Lebih terbuka.

Lebih lelah.

“Tidak pernah hanya tentang bisnis,” jawabnya pelan.

Aira tidak langsung mengerti.

“Maksud Anda?”

Arlan menarik napas perlahan.

Ada garis tipis di antara alisnya.

“Kau pernah bertanya kenapa aku begitu membenci Mahendra.”

Itu bukan pertanyaan.

Itu pengantar.

Aira terdiam.

Ya, ia pernah bertanya.

Dan tidak pernah mendapat jawaban lengkap.

“Dia bukan hanya pesaing,” lanjut Arlan. “Dia seseorang yang pernah berada di dalam lingkaranku.”

“Partner?”

“Lebih dari itu.”

Satu detik.

Dua detik.

“Teman.”

Kata itu terdengar aneh keluar dari mulutnya.

Seolah jarang digunakan.

“Apa yang terjadi?” tanya Aira pelan.

Arlan berjalan ke arah jendela.

Punggungnya membelakangi Aira.

“Ambisi.”

Jawaban itu terlalu sederhana.

Aira tidak puas.

“Ambisi siapa?”

“Dua-duanya.”

Ia menoleh sedikit.

“Ketika dua orang menginginkan hal yang sama, salah satunya harus kalah.”

“Dan Anda memastikan dia yang kalah?”

Pertanyaan itu tajam.

Namun tidak menyerang.

Hanya mencari kebenaran.

Arlan terdiam cukup lama.

“Aku membuat keputusan,” katanya akhirnya.

“Keputusan yang menyelamatkan perusahaan.”

“Tapi menghancurkannya?”

Hening.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal—

Aira melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Penyesalan.

Tidak besar.

Tidak dramatis.

Tapi nyata.

“Bisnis tidak pernah bersih, Aira.”

“Jadi itu alasan Anda?”

“Bukan alasan.”

“Lalu apa?”

“Konsekuensi.”

Jawaban itu menggantung.

Aira merasakan sesuatu dalam dadanya bergerak pelan.

Ia selalu tahu Arlan bukan pria polos.

Tapi mendengar langsung bahwa ada seseorang yang hancur karena keputusan yang ia ambil—

membuat semuanya terasa lebih kompleks.

“Apakah dia benar-benar bersalah saat itu?” tanya Aira.

Arlan tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup.

Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan:

“Aku tidak menyesal menyelamatkan perusahaan.”

“Dan dia?”

“Aku menyesal caranya.”

Itu pengakuan paling jujur yang pernah ia berikan.

Aira menatapnya dalam.

Sekarang ia mengerti kenapa Mahendra tidak menyerang secara membabi buta.

Ini bukan sekadar perang bisnis.

Ini luka lama.

Dan luka lama biasanya tidak sembuh hanya dengan kemenangan.

“Apakah ini sebabnya semua ini terjadi?” tanyanya.

“Sebagian.”

Sebagian.

Berarti masih ada bagian lain.

“Kau ingin tahu semuanya?” tanya Arlan tiba-tiba.

Aira tidak ragu.

“Ya.”

Arlan menatapnya lama.

Lalu berkata pelan—

“Tunggu sampai kau tidak lagi terikat oleh kontrak denganku.”

Kalimat itu mengejutkannya.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin kau merasa terpaksa berpihak.”

Itu bukan jawaban yang ia duga.

Ia mengira Arlan akan menahan informasi untuk mempertahankan kontrol.

Tapi ternyata—

ia menunggu sampai Aira bebas memilih.

Dan itu justru membuatnya semakin bingung.

“Kalau begitu,” kata Aira pelan, “semoga tidak ada yang terlambat sebelum hari itu tiba.”

Arlan tidak menjawab.

Namun di matanya ada sesuatu yang tak biasa—

ketakutan.

Bukan pada Mahendra.

Bukan pada saham.

Tapi pada kemungkinan kehilangan kesempatan menjelaskan sebelum semuanya runtuh.

Ketika Aira keluar dari ruangan itu, pikirannya tidak lagi sesederhana pagi tadi.

Mahendra bukan sekadar musuh.

Arlan bukan sekadar korban.

Dan dirinya—

berada di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari kontrak kerja.

Di dalam lift, ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Ia ragu beberapa detik sebelum mengangkat.

“Halo?”

Suara di ujung sana tenang.

Dewasa.

Hampir sopan.

“Aira Senja?”

“Siapa ini?”

“Seorang pria yang pernah mengenal Arlan jauh sebelum kau melakukannya.”

Jantungnya berdetak lebih lambat.

“Mahendra.”

Bukan pertanyaan.

Senyum tipis terdengar dalam suara itu.

“Kita perlu berbicara.”

Lift berhenti di lantai dasar.

Pintu terbuka.

Dunia di luar tampak sama seperti biasa.

Namun untuk pertama kalinya—

Aira menyadari garis yang tidak terlihat itu

akhirnya mulai ditarik secara langsung.

Lift tertutup kembali.

Aira tidak bergerak.

Suara Mahendra masih terngiang di telinganya.

“Kita perlu berbicara.”

Bukan ancaman.

Bukan permintaan.

Lebih seperti kepastian.

Ia keluar dari gedung dengan langkah terkontrol. Sore itu langit Jakarta menggantung abu-abu, udara terasa berat sebelum hujan.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan masuk.

Mahendra:

Tidak perlu takut. Aku hanya ingin meluruskan sesuatu yang seharusnya kau ketahui sejak awal.

Aira membaca kalimat itu dua kali.

Sejak awal?

Sejak kontrak?

Sejak ia meninggalkan Arlan dulu?

Atau sejak perseteruan mereka dimulai?

Ia tidak membalas.

Mobil hitam berhenti di depannya.

Sopir Arlan.

“Bapak minta saya antar Ibu pulang.”

Aira mengangguk pelan dan masuk.

Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak tenang.

Kalimat Arlan tadi terus berputar.

“Tunggu sampai kau tidak lagi terikat oleh kontrak denganku.”

Kenapa terdengar seperti ia sedang menyiapkan perpisahan?

Malamnya, hujan benar-benar turun.

Aira berdiri di balkon apartemennya, memandangi garis-garis air yang jatuh seperti tirai tipis.

Ponselnya kembali menyala.

Bukan pesan.

Telepon.

Nomor yang sama.

Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.

“Apa yang Anda inginkan?” tanyanya langsung.

Mahendra terkekeh pelan. Suaranya lebih dalam dari yang ia bayangkan.

“Aku ingin kau berhenti berada di sisi yang salah.”

“Saya tidak berada di sisi mana pun.”

“Kau yakin?”

Hening.

“Arlan tidak pernah menceritakan semuanya padamu, bukan?”

Aira tidak menjawab. Itu sudah cukup sebagai jawaban.

“Dia ahli dalam menyembunyikan hal yang membuatnya terlihat buruk,” lanjut Mahendra.

“Setiap orang melakukannya.”

“Tidak. Tidak semua orang menghancurkan hidup orang lain untuk melindungi reputasinya.”

Kalimat itu tajam.

Lebih tajam dari yang Arlan ucapkan siang tadi.

“Kalau Anda ingin menyalahkannya, lakukan langsung padanya. Bukan lewat saya.”

“Aku akan melakukannya,” jawab Mahendra tenang.

“Dan kau akan ada di tengahnya.”

Jantung Aira menegang.

“Kenapa saya?”

“Karena kau satu-satunya variabel yang tidak bisa ia kendalikan.”

Kalimat itu membuat napasnya tertahan.

Mahendra melanjutkan, suaranya lebih rendah.

“Dulu, Arlan selalu bisa menghitung risiko. Ia tidak pernah melibatkan emosi. Sampai kau kembali.”

Aira menggenggam ponselnya lebih erat.

“Kau tahu apa yang membuat pria seperti dia lemah?” lanjut Mahendra.

“Apa?”

“Bukan uang. Bukan kekuasaan. Tapi rasa takut kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia beli.”

Hujan semakin deras.

Aira merasa seperti sedang berdiri di ambang sesuatu yang tidak ia mengerti sepenuhnya.

“Jika Anda hanya ingin memprovokasi saya, Anda salah orang.”

“Bukan provokasi. Peringatan.”

“Peringatan tentang apa?”

“Bahwa perang ini tidak akan berhenti di saham atau reputasi.”

Hening panjang.

Lalu Mahendra berkata pelan—

“Aku tidak akan menyentuhmu.”

Itu bukan kalimat yang menenangkan.

“Itu bukan gaya ku.”

“Lalu?”

“Aku akan membuatnya memilih.”

Memilih.

Antara apa?

Sebelum Aira bisa bertanya, panggilan terputus.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk lagi.

Satu alamat.

Sebuah restoran privat di pusat kota.

Besok. Jam tujuh malam. Datang jika kau ingin tahu kebenaran.

Aira menatap layar lama.

Ia tahu ia seharusnya memberitahu Arlan.

Tapi entah kenapa—

ia tidak langsung melakukannya.

Pagi berikutnya, suasana kantor terasa lebih tegang dari biasanya.

Beberapa manajer dipanggil satu per satu ke ruang audit.

Clarissa terlihat terlalu tenang.

Terlalu rapi.

Terlalu tersenyum.

Aira memerhatikannya dari kejauhan.

Ada sesuatu yang tidak pas.

“Kenapa kau menatapnya seperti itu?”

Suara Arlan muncul dari belakang.

Aira menoleh.

“Karena dia terlihat seperti orang yang tidak takut kehilangan apa pun.”

Arlan mengikuti arah pandangnya.

“Orang seperti itu biasanya sudah menyiapkan jalan keluar.”

“Apakah Anda sudah menemukannya?”

“Belum.”

Jawaban itu jujur.

Dan berbahaya.

Arlan menatap Aira lebih lama dari biasanya.

“Kau terlihat tidak fokus.”

“Ada banyak hal yang harus dipikirkan.”

“Termasuk telepon semalam?”

Tubuh Aira menegang.

Ia tidak menceritakannya.

“Bagaimana Anda tahu?”

“Nomor itu sudah lama kuawasi.”

Jadi Arlan memang sudah memperkirakan ini.

“Kau akan menemuinya?” tanya Arlan langsung.

Pertanyaan itu bukan perintah.

Tapi ada tekanan halus di dalamnya.

Aira terdiam beberapa detik.

“Kalau saya bilang iya?”

Arlan mendekat satu langkah.

“Aku tidak akan melarangmu.”

Jawaban itu mengejutkannya.

“Tapi?” tanya Aira.

“Tapi aku ingin kau tahu satu hal.”

Tatapan mereka bertemu.

Intens.

Tidak ada dinding profesional di antara mereka sekarang.

“Mahendra tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan ganda.”

“Dan Anda?”

“Selalu dengan tujuan.”

Kejujuran itu nyaris kejam.

“Apa tujuan Anda pada saya, Arlan?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Ruangan terasa sunyi.

Untuk beberapa detik, CEO dingin itu tidak menjawab.

Lalu, dengan suara yang jauh lebih rendah dari biasanya—

“Awalnya? Dendam.”

Aira tidak bergerak.

“Sekarang?” tanyanya pelan.

Arlan menatapnya seolah sedang mempertimbangkan apakah ia akan menyesal mengatakan ini.

Lalu ia berkata—

“Itu yang sedang coba ku mengerti.”

Hening.

Dan untuk pertama kalinya sejak kontrak itu dimulai—

tidak ada kebencian di antara mereka.

Hanya sesuatu yang jauh lebih rumit.

Sesuatu yang tidak lagi bisa dikontrol oleh pasal dan tanda tangan.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!