{Area khusus dewasa}
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada pria itu.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap pria itu dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Anda."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
Apakah nantinya dirinya akan menerima kehadiran pria itu atau dirinya lebih memilih untuk pergi dari kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal bersama ~
"Sebaiknya aku harus berhati-hati dengan Robi karena dia aku harus mengalami hal itu. Sampai akhirnya aku harus berurusan dengan pria itu yang menyebabkan kejadian dimalam itu."Batin Malia yang merasa begitu bersalah dengan apa yang selama ini jaga seketika hancur semua harapannya.
Malia segera keluar dari kamar mandi, seketika pandangannya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik berdiri di samping tempat tidurnya.
"Akhirnya kamu keluar juga."ucap wanita itu yang langsung membuat Malia kebingungan.
"Dia siapa lagi?"Batin Malia yang kebingungan dengan kehadiran wanita itu.
Perlahan-lahan Malia berjalan kembali ke tempat tidurnya dengan tatapan mengarah wanita paruh baya itu.
"Apa kamu masih merasakan sakit?"tanya wanita itu yang langsung memberikan perhatian lebih pada dirinya.
"Hanya sedikit pusing tante."Mendengar jawaban itu wanita paruh baya itu melirik ke arah Dio.
"Jangan panggil Tante,panggil saja Mama saja."ucap Mama Valia sembari melirik kearah putranya.
Malia terlihat bingung setelah mendengar ucapan wanita itu,apalagi dia baru pertama kalinya bertemu.Malia dibuat penasaran tentang siapa wanita itu.
"Mama?"
"Iya sayang,bukannya kamu calon istri dari putra Mama."Mendengar penjelasan Malia terlihat masih kebingungan.
"Apa, tidak mungkin jika Wanita ini..."
"Begini Malia,saya ini adalah Mamanya Dio."mendengar penjelasan itu Malia melirik langsung kearah pria itu.
"Dia benar-benar melakukan itu, bagaimana dia mudah mengatakan hal itu jika aku ini calon istrinya.Bahkan aku belum menjawab apapun."Malia benar-benar syok dengan kenekatan pria itu yang secara langsung mengenalkan jika dirinya adalah calon istrinya.
Mama Valia menggenggam tangan Malia."Akhirnya Mama memiliki seorang menantu, setelah penantian yang begitu lama.Mama janji, setelah kamu sehat secepatnya Dio akan melamarmu." Malia semakin kaget dengan ucapan wanita paruh baya itu.
"Tapi Tante."Malia makin terpojok kenapa dirinya segitunya dengan mudahnya orang lain mengatur hidupnya.
"Malia, Mama mohon terima permintaan terakhir Mama ini. Hanya kamu harapkan Mama." Mama Valia begitu memohon pada Malia untuk menyetujui keinginannya itu.
Malia makin dibuat bingung kenapa nasibnya menjadi seperti ini,"Apa tidak salah Tante memilih saya, saya hanyalah orang biasa ." Mama Valia langsung menyela bicara Malia.
"Mama tidak ingin penolakan, karena hanya kamu wanita yang mampu membuat putra Mama bangkit dari kepurukan." Malia langsung melirik kearah Pria itu.
"Kepurukan?" Malia terlihat bingung apa yang dimaksudkan oleh wanita paruh baya itu.
"Mama." Dio langsung memperingati Mamanya untuk menghentikan perkataan Mamanya.
Mama Valia langsung melirik kearah putranya."Mama tahu, pasti kamu malu, kan.Sudahlah nanti Mama akan bercerita jika kalian sudah menikah.Dan kamu jangan protes apa yang Mama akan lakukan,semua itu demi kebaikanmu." Mama Valia memperingati putranya untuk menuruti apa perintahnya, walaupun sedari awal putranya selalu menolak.
Dio merasa kalah jika Mamanya yang langsung turun tangan.
Setelah perdebatan mereka berdua,datanglah perawat yang saat itu sedang memeriksa Malia.
"Bagaimana?" Tanya Mama Valia pada perawat itu.
"Semua aman Nyonya, untuk kelanjutannya nanti Dokter yang akan memutuskan pasien kapan bisa pulang." Perawatan itu membalas dengan senyuman.
Malia hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum."Untuk sementara Malia akan tinggal bersamaku." Ucap Dio yang secara langsung memutuskan hal itu.
Mama Valia awalnya tak sejutu jika Malia harus tinggal bersama putranya di apartemen milik putranya.Tapi jika dipikir itu akan membuat keduanya saling akrab dan nantinya Malia tak akan bisa menolak pesona dari putranya.
"Terserah kamu,yang penting jangan berbuat aneh-aneh pada Malia.Setelah itu kamu pikirkan juga tentang rencana kamu ingin melamar Malia." Pesan Mama Valia yang diam-diam mendukung putranya.
"Baik Ma." Jawab Dio yang semakin tanggap untuk semakin mendekati Malia.Berbeda dengan Malia yang justru menolak untuk tinggal bersama dosennya itu.
"Maaf saya tidak bisa"Malia langsung menolak ajakan pria itu.
"Aku hanya tidak mau jika terjadi sesuatu dengan lagi, apalagi Mama tidak mempermasalahkan jika nantinya kamu akan tinggal bersamaku."ucap Dio yang dengan santainya menjawab dan dibalik keinginan itu dirinya hanya ingin lebih dekat dengan calon istrinya.
"Sudahlah sayang, kamu lebih baik tinggal dulu bersama Dio. Setelah itu kamu bisa pulang, tidak ada masalah juga kan jika kalian tinggal berdua apalagi Mama percaya kamu pasti bisa menjaga dirimu." Kata Mama Valia yang membalas dengan senyuman.
Sebenarnya Mama Valia begitu berat jika Malia harus tinggal bersama putranya, Tapi semua ini dia lakukan untuk kebaikan putranya dan semoga saja Malia bisa menerima kehadiran putranya.
Malia terdiam tak bisa berbuat apa-apa selain Hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang kini yang masih terluka ditambah dengan urusannya dengan pria itu semakin menambah beban hidupnya.
Mama Valia melirik ke arah putranya."Kamu tidak masuk kampus?"tanya Mama Valia pada putranya.
"Hari ini Dio tidak masuk Ma, mungkin besok Dio harus masuk karena ada sesuatu hal yang harus diselesaikan."jawab Dio yang pada hari ini tidak masuk dikarenakan dia harus menunggu Malia yang saat ini sedang sakit.
"Baiklah, kalau begitu Mama pulang sekarang. Satu jam lagi Mama harus pergi menemui seseorang."Pamit Mama Valia yang langsung mengambil tas miliknya dan langsung berpamitan kepada Malia dan begitu juga dengan putranya Dio.
Ini di dalam ruangan itu hanya tinggal ada Dio dan Malia, Dio segera mempersiapkan beberapa makanan yang untuk Malia harus makan.
"Aku bisa makan sendiri, tak perlu kamu melakukan itu."ucap Malia yang merasa risih dengan kehadiran pria itu.
"Baiklah, semuanya aku taruh dimeja." Akhirnya Malia makan sendiri, sedangkan posisi Dio duduk memperhatikan Malia.
Jujur saja Malia merasa risih jika terus diperhatikan oleh pria itu."Kenapa juga hidupku selalu diganggu oleh pria ini." Malia merasa kesal sendiri.
Beberapa jam kemudian
Setelah Malia diperiksa oleh dokter, akhirnya dia bisa pulang dari rumah sakit. Malia merasa lega, tapi masih ada satu pikiran yang mengganggu.
Seharusnya dia pulang di tempat kosnya, seketika berubah haluan dirinya harus tinggal bersama pria itu sekaligus dosennya sendiri.
Dia benar-benar tak bisa berkutik dan memulai frustasi kenapa hidupnya harus seperti ini berurusan dengan satu pria orang yang ingin jauhi.
Posisi Malia masih duduk di tempat tidurnya dengan melihat Apa yang dilakukan oleh Dio yang sibuk memasukkan beberapa barang miliknya. Tas pun sudah dia tata rapi, sembari menunggu kedatangan asisten pribadinya untuk segera membereskan semuanya.
"Tolong antarkan aku pulang di kost ku."Dio menatap dengan tatapan tajam seolah dia ingin memperingati Malia untuk lebih menuruti apa perintahnya.