Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Riak yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
Pagi itu hujan turun tanpa ragu, seperti tahu bahwa kota membutuhkan alasan untuk melambat. Tetesannya membasahi jendela apartemen Alya, menciptakan garis-garis tipis yang berkejaran, lalu menghilang. Alya berdiri di balik kaca, secangkir teh hangat di tangannya yang tak disentuh sejak lima menit lalu.
Pesan dari Arga masih ada di layar ponselnya.
Belum ia hapus. Belum pula ia balas.
Bukan karena ia bingung harus menjawab apa, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alya tidak merasa memiliki kewajiban untuk menjawab apa pun. Dan kesadaran itu—anehnya—menakutkan sekaligus membebaskan.
Ia meletakkan ponsel, lalu menghela napas panjang. Hari ini akan panjang. Ia bisa merasakannya.
Di kantor, hujan belum meredam ketegangan. Bahkan seolah mempertebalnya. Lift terasa lebih sempit, lorong lebih sunyi, dan setiap langkah Alya terasa diawasi. Namun kali ini, ia tidak lagi menunduk. Ia berjalan seperti seseorang yang tahu ke mana ia pergi, meski belum sepenuhnya yakin apa yang menunggunya di ujung jalan.
Di mejanya, sebuah map biru tua telah tergeletak rapi.
Tanpa nama pengirim.
Alya membukanya perlahan. Di dalamnya, laporan internal—ringkas, padat, dan sangat jelas tujuannya. Audit proyek arsip sejarah perusahaan. Proyek yang kini berada di bawah tanggung jawabnya.
Dan di halaman terakhir, satu catatan kecil tertulis dengan tinta hitam:
“Perlu perhatian khusus. Potensi konflik kepentingan.”
Alya menutup map itu pelan.
Maya.
Ia tidak perlu membaca nama untuk tahu dari mana arah angin bertiup.
Rapat siang itu berlangsung lebih tegang dari biasanya. Sultan duduk di ujung meja panjang, wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Para manajer berbicara satu per satu, menyampaikan laporan rutin. Namun ketika giliran Alya tiba, udara seolah berhenti bergerak.
Alya berdiri, membuka laptop, dan mulai mempresentasikan progres proyeknya. Suaranya stabil. Tangannya tidak gemetar. Ia menjelaskan dengan runtut, menjawab setiap pertanyaan dengan data yang jelas.
Sampai Maya angkat bicara.
“Maaf, Pak Sultan,” katanya dengan nada manis yang dibuat-buat. “Saya hanya ingin memastikan, apakah penunjukan Alya sebagai penanggung jawab proyek ini sudah mempertimbangkan potensi konflik kepentingan dengan mitra eksternal?”
Beberapa kepala menoleh. Beberapa alis terangkat.
Sultan menatap Maya. “Maksud Anda?”
Maya tersenyum. “Saya dengar, salah satu mitra memiliki hubungan personal di masa lalu dengan Alya.”
Sunyi.
Alya merasakan detak jantungnya menguat. Namun ia tidak duduk. Ia tetap berdiri.
“Saya yang akan menjawab,” katanya sebelum Sultan sempat bicara.
Semua mata kini tertuju padanya.
“Benar,” lanjut Alya. “Saya pernah memiliki hubungan personal dengan salah satu individu di perusahaan mitra. Namun hubungan itu telah berakhir bertahun-tahun lalu, dan tidak pernah bersinggungan dengan urusan profesional.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Maya langsung.
“Dan jika perusahaan menilai hal itu berpotensi memengaruhi objektivitas saya, saya bersedia diaudit secara terbuka. Saya tidak punya apa pun untuk disembunyikan.”
Keheningan itu berbeda. Bukan hening yang menghakimi, melainkan hening yang menimbang.
Sultan mengangguk perlahan. “Baik. Kita akan lakukan sesuai prosedur. Transparan. Profesional.”
Ia menatap Alya. “Dan saya menghargai keberanian Anda menyampaikan ini secara terbuka.”
Maya menunduk, bibirnya menegang. Senyum tipisnya menghilang.
Untuk pertama kalinya, Alya tahu: serangan itu tidak berhasil.
Sore hari, hujan telah reda. Alya duduk di ruang arsip, memeriksa ulang dokumen. Pintu terbuka pelan, dan Sultan masuk tanpa banyak suara.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Alya tersenyum kecil. “Lebih baik dari yang saya kira.”
Sultan duduk di kursi seberangnya. “Saya minta maaf. Seharusnya saya bisa mencegah situasi itu.”
Alya menggeleng. “Tidak. Ini bagian dari proses. Saya tidak ingin dilindungi. Saya ingin dipercaya.”
Sultan menatapnya lama. “Kamu tahu, tidak semua orang siap dengan perempuan yang tahu nilai dirinya.”
Alya menatap berkas di tangannya. “Saya baru belajar itu sekarang.”
Keheningan di antara mereka terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi penuh ketegangan, melainkan kehati-hatian yang lembut. Ada jarak yang disepakati tanpa diucapkan.
Namun justru di sanalah perasaan tumbuh—di ruang yang tidak dipaksa.
Malam itu, Alya akhirnya membuka pesan Arga lagi.
Ia membaca ulang kalimat sederhana itu, lalu mengetik balasan.
Singkat.
“Terima kasih sudah meminta maaf. Aku menerimanya. Tapi aku tidak ingin bertemu. Semoga kamu baik.”
Ia menekan kirim tanpa ragu.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Alya merasa benar-benar selesai.
Di sisi lain kota, Maya berdiri di balkon apartemennya, ponsel di tangan, wajahnya keras. Rencana demi rencana telah ia susun, dan satu per satu tidak berjalan seperti yang ia harapkan.
Alya tidak runtuh.
Alya justru berdiri semakin tegak.
“Kalau begitu,” gumam Maya, “kita naikkan taruhannya.”
Ia membuka email, mulai mengetik sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Alya tidak tahu apa yang sedang disiapkan Maya. Namun ia merasakannya—seperti getaran halus sebelum gempa. Ada sesuatu yang akan datang.
Tapi kali ini, ia tidak ingin lari.
Ia menatap langit malam dari jendela kamarnya, cahaya kota memantul di matanya.
Ia telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Namun satu hal kini ia miliki sepenuhnya: dirinya sendiri.
Dan apa pun badai yang akan datang, Alya tahu satu hal pasti—
Ia tidak akan memadamkan cahayanya demi membuat orang lain nyaman.
Cahaya itu telah menjadi bagian dari dirinya.
Dan kali ini, ia siap membiarkannya menerangi apa pun yang tersembunyi dalam gelap.
Malam berikutnya datang dengan tenang yang mencurigakan. Alya menyadari, hidup jarang memberi jeda tanpa maksud. Ia duduk di sofa apartemennya, lampu temaram menyisakan bayangan di dinding, sementara pikirannya menelusuri hari yang baru saja berlalu. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan. Namun justru itulah yang membuat dadanya terasa penuh—seperti napas yang tertahan terlalu lama.
Keesokan paginya, audit resmi diumumkan. Surat edaran beredar cepat, rapi, dan dingin. Alya membacanya tanpa gemetar. Ia tahu, kebenaran bukan selalu tentang hasil, melainkan keberanian untuk berdiri di tengah sorotan tanpa menyembunyikan diri. Ia datang lebih awal ke kantor, menyusun dokumen, menandai catatan, dan menyiapkan diri untuk setiap kemungkinan.
Di ruang rapat kecil, ia menunggu sendirian. Ketika pintu terbuka, ia mengira itu auditor. Ternyata Sultan. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk—sebuah isyarat sederhana yang sarat makna. Alya membalas dengan senyum tipis. Tidak ada janji, tidak ada perlindungan. Hanya kepercayaan.
Dan di saat itulah Alya memahami satu hal: kekuatan terbesarnya bukan pada siapa yang berdiri di belakangnya, melainkan pada keberanian untuk berdiri sendiri—jujur, utuh, dan tidak lagi meminta izin untuk menjadi dirinya.
Ruang rapat kembali sunyi setelah Sultan pergi. Alya menarik napas dalam, menenangkan detak jantungnya. Ketika auditor akhirnya masuk, ia menyambut mereka dengan kepala tegak. Setiap pertanyaan dijawabnya tanpa berputar, setiap data disodorkannya tanpa ragu. Di sela proses itu, Alya menyadari sesuatu yang sederhana namun kuat: ia tidak lagi takut kehilangan apa pun.
Sore menjelang, audit ditutup sementara. Alya keluar gedung kantor dengan langkah ringan. Langit senja berwarna jingga keemasan, seolah memberi restu diam-diam. Di dalam dirinya, ada keyakinan baru yang tumbuh—bahwa apa pun hasilnya nanti, ia telah memilih dirinya sendiri. Dan pilihan itu, untuk pertama kalinya, terasa benar.