Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah niat
Waktu terus berlalu, setelah kemarin Kanaya menghabiskan waktu setelah pulang dari kampus bersama Raihan sampai malam menjelang, maka hari ini, saat pulang dari kuliah Kanaya tak sengaja bertemu lagi dengan Karina, sama seperti kemarin, hanya saja hari ini mereka sama sama tengah sendiri, tanpa Raihan maupun Gavindra.
"Hai Nai..."sapa Karina, yang di di balas senyuman cantik Kanaya.
"Hai Rin, pulang sendirian aja?"tanya Kanaya basa basi.
"Iya nih, cowok gue udah pulang duluan tadi, selingkuhan gue juga lagi pada sibuk kayanya, makanya ga ada yang bisa nganter pulang gue."jawab Karina yang membuat Kanaya tertawa.
"Selingkuhan yang mana nih?"tanya Kanaya, bermaksud menggoda Karina.
"Yang mana ya, Gavin, Alex, Brian, Devano, siapa lagi ya, banyak sih, gue sampe lupa nama mereka."jawab Karina dengan di iringi kekehan.
"Mau bareng sama gue?"tanya Kanaya menawarkan, pasalnya Kanaya tau Karina memang selalu berangkat dan pulang dengan para pria itu, maka jika sekarang para buaya itu tidak ada, Kanaya pastikan Karina akan kebingungan, entah dimana sopir keluarganya, atau bahkan kendaraan miliknya sendiri, Karena yang Kanaya dengar, Karina bukanlah orang semiskin itu yang tak memiliki kendaraan atau pun sopir pribadi, hanya saja Karina memang begitu nyaman jika bersama para pria buaya itu.
"Lo gak apa-apa emang, kalo bareng sama gue?"tanya Karina, seolah ragu bahwa Kanaya mau mengantarkan nya pulang.
"Kenapa emang, kalo bareng sama lo?kalo mau ayo, sopir gue udah nunggu di luar."Ajak Kanaya, dan langsung menarik Karina untuk melangkah bersamanya.
"Ya gue pikir lo bakal jauhin gue kayak banyak cewek yang ada di kampus."jawab Karina.
"Emang kenapa mereka jauhin lo?"tanya Kanaya, sedikit penasaran juga sebenarnya, dengan kehidupan Karina, memang sepertinya Karina banyak tak di sukai oleh para gadis di kampus, berbeda dengan Hera yang seolah menjadi idola, bahkan Hera memiliki geng yang berisi 5 gadis cantik yang selalu bersamanya, berbeda dengan Karina yang lebih sering terlihat sendiri, atau bersama para pria di kampus.
"Mereka takut cowok mereka di rebut sama gue...maybe."jawab Karina, sambil mengangkat bahunya.
"Emang lo pernah nikung pacar temen lo?"tanya Kanaya, sebenarnya Kanaya pun termasuk dalam jajaran wanita uang tidak suka dengan apapun bentuk pelakor. Karina menggelengkan kepalanya.
"Gak pernah sih, cuma dulu gue sempet main sama cowok yang namanya Devano itu, lo mungkin pernah dengar, dulu Devano itu pacarnya Hera cuma mereka backstreet, karna Hera yang malu mungkin dengan status sosial Devano, yang waktu itu memang Devano gak mengumbar tentang siapa dirinya, berbeda sama Gavin and the geng, juga Brian, pada saat itu, belum ada yang tau latar belakang Devano, makanya Hera menyembunyikan hubungan mereka di depan orang lain, apalagi sebenarnya,Hera juga memang gak sepenuhnya menyukai Devano, sejak dulu Hera memang terobsesi dengan Gavin juga Alex "Jawab Karina, mulai bercerita.
"Sampai pada saat Devano gak sengaja, tau kalo ternyata Hera sering main sama Gavin dan Alex di belakangnya, Devano yang gak terima penghianatan Hera, akhirnya membalas sakit hatinya dengan main sama gue, gue emang gak tau kan kalo si Devano itu punya pacar ya gue mau aja,sampai akhirnya Hera marah,,, dan jadiin gue kambing hitam dari putusnya hubungan mereka, Hera juga pura-pura seolah dia ngerasa hancur waktu putus sama Devano dan nyalahin gue, dari situlah Hera and the geng, bikin rumor kalo gue emang pelakor, yang suka ngerebut cowok orang. Padahal yang sebenarnya, gue gak pernah main sama cowok yang udah jelas statusnya punya siapa, kalo belum ada pawang sih... ya gue emang gas aja, yang penting guenya suka."lanjut Karina membuat Kanaya kini mengerti alasan yang sebenarnya.
"Terus yang sebenarnya, Devano itu sebenarnya siapa, orang biasa aja apa... Sama kayak Gavin atau..?"ucapan Kanaya terpotong.
"Devano itu sepupu Gavin, cuma mereka pura-pura gak kenal, gak tau sih alasannya apa."Jawab Karina menjelaskan , membuat Kanaya paham situasinya sekarang.
"Oh ya... Lo mau ikut sama gue gak , entar malem?"tanya Karina tiba-tiba.
"Kemana?"tanya Kanaya yang malah balik bertanya.
"Ke club, lo belum pernah kan selama tinggal disini?"tanya Karina kembali.
"Eh, lo pernah ke club gak?"tanya Karina melanjutkan pertanyaan nya.
"Pernah sih, beberapa kali, tapi gue gak bisa minum."jawab Kanaya, Kanaya memang pernah beberapa kali mengunjungi tempat itu, dulu bersama Rangga sang kekasih dan teman-temannya, namun Kanaya tak bisa minum alkohol, karna itu Rangga yang selalu menjaganya setiap kali mereka berada di tempat itu, hah...kenapa lagi lagi Kanaya harus mengingat pria yang sudah menyakitinya itu.
"Gimana, lo mau?"tanya Karina lagi. Kanaya berpikir sejenak, mungkin memang tidak ada salahnya untuk sekedar menghibur dirinya malam ini. Kanaya pun menganggukan kepalanya tanda menyetujui ajakan Karina.
"Nah gitu dong, ok...nanti malem gue jemput lo."ucap Karina senang, akhirnya dia bisa memiliki teman yang bisa di ajaknya untuk bersenang senang.
******
Dan di sini lah Kanaya dan Karina berada malam ini, tepat pukul 8 malam Karina menjemput Kanaya, mereka hanya pergi berdua, Karina memang sengaja hanya ingin bersama teman perempuan pertamanya di kampus malam ini, jadi tak ada satupun pria yang di hubunginnya malam ini, walaupun kemungkinan untuk bertemu mereka malam ini sangatlah tinggi, karna semua laki-laki yang dekat dengannya, sangat sering berada di tempat seperti ini, seperti halnya Karina.
Kanaya dan Karina sengaja duduk di sebuah meja yang cukup jauh, dari tempat orang-orang yang sedang menari-nari mencari kepuasan diri, Karina tampak sudah meminum beberapa gelas alkohol, dan Kanaya hanya sibuk memperhatikan orang orang di sekitarnya,.
Kanaya juga hanya memesan Orange juice sebagai minumannya, entahlah Karina yang sengaja memesankan untuknya.
Dan tak lama, Karina mulai terkulai dan menyandarkan kepalanya di sofa membuat Kanaya cukup khawatir sekarang, Kanaya pun berusaha menyadarkan Karina tapi sepertinya efek minuman itu, sudah benar-benar membuat Karina hilang kesadaran, tak jauh dari mereka tampak beberapa Gadis dengan pakaian terbuka terus memperhatikan setiap gerak dua orang gadis yang tengah duduk sofa itu dua gadis yang di benci oleh ketua dari geng mereka.
Lalu seorang gadis yang memakai baju dengan warna merah mencolok, memanggil seorang pelayan dan membisikan sesuatu, pelayan itu pun tampak mengangguk mengerti dan menghampiri dua gadis yang kini tengah duduk berdua.
Karina tampak sedang mulai bisa membuka matanya kembali setelah beberapa kali Kanaya memanggil manggil namanya, bahkan memukul-mukul tangannya.
"Rin, kalo lo tepar kaya gitu mending gue pulang aja deh sekarang, gue takut tau disini, mumpung belum terlalu malam juga."ucap Kanaya pada Karina yang masih menyandarkan kepalanya di sofa panjang yang mereka duduki, sekarang memang masih menunjukkan pukul 11 malam.
"Jangan Nay, nanti pulang bareng gue aja, gue bercanda barusan."jawab Karina yang sulit di percaya oleh Kanaya jawabannya.
Tiba-tiba seorang pelayan datang menemui mereka dan memberikan dua gelas minuman kepada gadis itu.
Kanaya mengernyit bingung, dia merasa belum memesan minuman apapun lagi dari tadi, apalagi setelah keadaan Karina sempat setengah sadar.
"Maaf mas, kayaknya kita berdua belum pesan minuman lagi deh."tegur Kanaya sopan, pada pelayan di hadapannya.
"Oh, ini memang minuman yang sengaja di berikan gratis oleh club ini kak, ini minuman untuk pereda mabuk, karna tadi saya melihat kakak yang ini sepertinya sudah mulai kehilangan kesadarannya kan kak, dan ini minuman non alkohol untuk kakak karrna tadi pesannya yang non alkohol juga."ucap pelayan laki-laki itu.
Mendengar ucapan pelayan itu membuat Kanaya cukup senang, Kanaya pikir mungkin minuman ini bisa membuat Karina kembali sadar, sehingga mereka berdua bisa segera pulang. Kanaya pun memberikan minuman itu pada Karina tanpa mencurigai apapun.
"Rin, minum biar mabok lo ilang, gue mau pulang."ucap Kanaya sambil menepuk nepuk pipi Karina, Karina tampak membuka matanya sedikit, kemudian meminum minuman yang di berikan Kanaya. Membuat Kanaya tersenyum senang.
Kanaya pun mengambil satu minuman lagi yang tadi di berikan pelayan itu dan meminumnya hingga tandas, rasanya seperti blueberry juice, namun ada rasa pahit yang berbeda dari yang biasanya Kanaya minum.
Beberapa menit berlalu Karina tampak gelisah dalam duduknya, sementara Kanaya pun merasa tiba tiba badannya terasa panas, dan kepalanya juga sedikit pusing, dengan pandangan berkunang kunang.
Sementara tak jauh dari mereka berada, tampak 5 gadis tengah bersorak seneng melihat keadaan Karina dan Kanaya, kemudian memanggil beberapa pria untuk mendekat ke arah mereka.
"Lo lihat, dua cewek yang duduk di sofa itu?"tanyanya pada seorang laki-laki yang kini berdiri tepat di hadapannya. Laki-laki itu menganggukan kepalanya.
"Sekarang, lo sama temen lo, pake tu cewek rame-rame sampe kalian puas, oya lo juga harus videoin apa yang kalian lakuin ke mereka, gak perlu nunjukin wajah kalian, tapi wajah mereka harus jelas terlihat di video yang kalian buat, setelah itu, lo kirim video itu ke gue ,ngerti?"tanya wanita itu, yang langsung di angguki oleh pemuda di hadapannya.
"Ini bayaran kalian, kalian bisa senang-senang sekarang, tapi... Jangan pernah sebut nama gue kalo terjadi sesuatu di luar rencana gue tadi, ngerti?"ucap wanita itu kembali. Setelahnya dia memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang terlihat cukup besar kepada pemuda yang ada di hadapannya, setelah itu, wanita itu pun pergi begitu saja meninggalkan 6 lelaki yang kini tertawa senang.
"Wih...ketiban durian runtuh kita malam ini bos, udah bisa make cewek cantik, dapet duit pula."ucap seorang laki-laki yang badanya sedikit gemuk, yang di angguki teman temannya.
"Ya udah buruan bro, mumpung tempat ini makin rame jadi gak ada yang bakal curiga kalo kita bawa tu dua cewek."ucap laki-laki yang sedikit lebih pendek dari ke lima lelaki lainnya.
"Ayo.."dan si pria yang sepertinya bos dari mereka berenam pun kini melangkah mendekati kedua gadis yang kini terkulai di sofa, dan terlihat gelisah.
Karina malah tampak seperti kepanasan dan sedang menarik narik gaun yang di pakai nya, sementara Kanaya pun sama di seperti dia terlihat mengangkat dressnya ke atas memperhatikan celana pendek dan paha mulusnya begitu saja, bahkan perut bagian bawah nya kini sudah terekspose, membuat ke enam pria yang kini melihatnya meneguk air liurnya.
"Wih bos, ini mah bener-bener kita dapet rejeki besar, cantik cantik dan mulus mulus banget."Ucap seseorang dari mereka terdengar.
"Ya udah buruan bawa ke atas, kita pake rame-rame!"ucap si bos mereka menyuruh ke lima temannya, namun belum sempat mereka menyentuh dua gadis itu, tiba-tiba seseorang mengintrupsi mereka.
"Jangan pernah lo sentuh mereka!"ucap seorang pria terdengar mengalihkan perhatian enam pria itu.
Ke enam pria itu melihat ke arah dua orang pria yang kini berdiri di depan mereka.
"Lo...."
"kalian, jangan ikut campur urusan kita."ucap pemuda yang jadi pemimpin dari enam pria itu.
"Lo tau kan siapa gue, dan gue bukan bermaksud ikut campur, tapi cewek yang kalian lihat ini adalah temen-temen gue, jadi jangan pernah kalian sentuh mereka."ucap pria itu.
Kemudian melemparkan sebuah amplop coklat yang sama seperti yang di berikan oleh wanita yang menyuruh para pria itu.
"Gue kasih bayaran yang lebih besar dari pada orang yang udah nyuruh kalian, dan gue minta kalian pergi sekarang... Kecuali kalian mau berurusan sama gue."lanjut pria itu.
Ke enam pria itu saling pandang kemudian menggeleng, mereka tak mungkin mencari gara-gara dengan pria di hadapannya, bisa hancur hidup mereka semua bila mereka melakukannya.
"Oke... Kalo gitu kita pergi, sorry bos, kita gak tau kalo dua cewek itu teman kalian. "Ucap pemimpin dari ke enam pria itu, kemudian mereka pergi begitu saja meninggalkan dua pemuda tampan , yang kini saling pandang.
"Lo bawa Karina Lex, gue bawa Kanaya!"ucap Gavin, yah... Dua pria tampan yang kini tengah menatap Kanaya dan Karina adalah Gavin dan Alex, kebetulan mereka memang sedari tadi sudah memperhatikan dua gadis di hadapan mereka ini.
"Gav... Gue gak bakal bisa nahan kalo lihat Karina lagi hornyy begini."ucap Alex, Kanaya dan Karina sepertinya memang meminum obat perngsang yang di campurkan seseorang kedalam minuman yang mereka minum tadi.
"Gak bakal marah Karina kalo lo yang pake, cukup jelasin aja keadaan yang sebenarnya. Lo bawa dia ke apartemen lo aja."ucap Gavin lalu beranjak dan membawa Kanaya dalam gendongan nya, yang di susul Alex yang membawa Karina.
"Ahh... Gue gak tahan, bantuin gue please."suara Karina terdengar dalam gendongan Alex, membuat Alex mempercepat langkah nya.
"Ahh... Gue kenapa sih, badan gue kok panas banget bukain baju gue ...Ahh."Sementara Kanaya juga meracau tidak jelas. Gavin pun mempercepat langkahnya, dan membawa Kanaya langsung ke dalam mobilnya, yang di susul oleh Alex, mereka pun berpisah di parkiran dan menuju apartemen masing-masing dengan membawa dua gadis yang yang sama sama dalam pengaruh obat perngsang.
Entah apa yang akan terjadi pada mereka berempat setelah ini, hanya tuhan lah yang tau.
-Bersambung