NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Warisan Gaib

Waktu berlalu seperti air sungai kecil di pinggir desa—pelan, tenang, tapi terus mengalir tanpa henti, membawa sisa-sisa masa lalu yang dulu kelam menjadi sesuatu yang baru, yang lembut, yang penuh makna.

Sudah hampir setahun sejak malam di gua rahasia itu, dan Desa Durian Berduri kini seperti lukisan yang selesai dilukis dengan warna-warna hangat: sawah hijau membentang luas di bawah sinar matahari, anak-anak berlarian di jalan setapak dengan layang-layang buatan tangan, ibu-ibu duduk di teras sambil menganyam tikar sambil bercerita ringan, dan lelaki-lelaki kembali ke sawah atau dermaga kecil dengan senyum yang tak lagi dipaksakan.

Monumen batu kecil di pinggir hutan tetap berdiri tegak, dikelilingi bunga melati dan kenanga yang selalu segar—setiap minggu ada warga yang datang menggantinya, berdoa pelan, atau hanya duduk diam menatap ukiran “Maafkan kami” dengan hati yang kini lebih ringan.

Tapi yang paling indah dari semua perubahan itu adalah apa yang terjadi pada anak-anak desa. Mereka—generasi yang lahir setelah kutukan berakhir—mulai membawa warisan gaib yang tak terduga. Bukan mimpi buruk, bukan bayangan menyeramkan yang dulu sering diceritakan orang tua mereka untuk menakut-nakuti.

Yang mereka dapatkan adalah “penglihatan” positif—mimpi indah, bisikan lembut, dan perasaan hangat yang datang di malam hari, seolah roh Mbah Saroh yang sudah damai meninggalkan jejak cahaya, bukan kegelapan.

Cecep, anak sulung Siti Aisyah yang kini berusia sebelas tahun, adalah yang pertama menceritakannya. Suatu pagi, saat sarapan di bale kayu, ia duduk dengan mata berbinar sambil memegang pisang goreng. “Ibu... malam tadi Cecep mimpi lagi. Bukan mimpi buruk. Cecep mimpi ketemu nenek tua... tapi nenek itu senyum. Rambutnya panjang kelabu, tapi tidak seram. Dia duduk di tepi sungai, kasih Cecep bunga melati. Dia bilang, ‘Cecep... jaga adik-adikmu ya. Jangan takut gelap... karena gelap cuma tempat istirahat sebelum pagi datang.’ Lalu dia peluk Cecep... hangat sekali, Bu. Cecep bangun... pipi Cecep basah, tapi Cecep senang.”

Siti Aisyah menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Cecep erat, air matanya jatuh ke rambut anaknya. “Itu Mbah Saroh, sayang. Dia sudah damai sekarang. Dia datang bukan untuk mengambil... tapi untuk memberi pesan. Dia ingin kita ingat... untuk menjaga satu sama lain.”

Ratih, adik Cecep yang berusia sembilan tahun, ikut bercerita malam berikutnya. Ia duduk di pangkuan ibunya, tangan kecilnya memainkan ujung kain jarik Siti Aisyah. “Ibu... Ratih mimpi Mbah Saroh nyanyi lagu pengantar tidur. Suaranya lembut sekali... seperti angin sore. Dia bilang, ‘Ratih... kalau kamu  takut, pegang tangan adikmu. Jangan biarkan dia sendirian seperti aku dulu.’ Ratih bangun... Ratih peluk Lila sampai pagi. Ratih tidak takut lagi, Bu.”

Lila, yang masih lima tahun, hanya bisa bilang dengan kata-kata sederhana tapi penuh perasaan. “Mbah... kasih Lila bunga. Mbah bilang... Lila cantik. Lila senang.”

Cerita anak-anak itu menyebar seperti angin pagi di desa. Tak hanya anak-anak Siti Aisyah—anak-anak lain juga mulai bercerita hal yang sama. Seorang bocah nelayan kecil bilang, “Aku mimpi Mbah Saroh duduk di tepi laut, memberiku kerang kecil. Dia bilang, ‘Jaga laut ya... jangan buang sampah ke laut. Laut itu rumah banyak makhluk.’”

Seorang gadis kecil dari keluarga petani bilang, “Mbah Saroh ajak aku menanam bunga di sawah. Dia bilang, ‘Bunga ini untuk pengingat... kalau hati kita tanam baik, akan tumbuh indah.’”

Orang tua-orang tua mendengar cerita itu dengan air mata. Mereka duduk di teras malam hari, mendengarkan anak-anak bercerita dengan mata berbinar, lalu saling pandang dengan rasa syukur yang dalam.

Sari Wangi sering duduk bersama Lilis di pangkuan, mendengarkan cerita anak-anak tetangga. Suatu malam, ketika Cecep datang ke teras rumah Sari sambil membawa bunga melati kecil, Sari memeluk anak itu erat-erat.

“Cecep... kau tahu tidak, Teteh Sari dulu takut sekali sama Mbah Saroh. Teteh pikir dia mau mengambil Lilis... tapi sekarang... Mbah Saroh memberimu mimpi indah. Teteh senang sekali. Terima kasih sudah cerita ke Teteh.”

Cecep tersenyum malu, pipinya tembem merah. “Teteh... Mbah Saroh bilang di mimpi... ‘Kasih salam ke Sari Wangi. Bilang aku maafkan dia... dan aku senang Lilis tumbuh sehat.’”

Sari menangis pelan, memeluk Cecep lebih erat. “Terima kasih, Cecep... terima kasih Mbah Saroh...”

Siti Aisyah sering duduk bersama anak-anak di depan monumen sore hari. Ia menceritakan kisah Mbah Saroh dengan suara lembut, tapi kini cerita itu tak lagi menakutkan—ia menjadi cerita inspiratif. “Mbah Saroh dulu manusia biasa... seperti ibu kalian. Dia punya suami, punya mimpi punya anak. Tapi hidup tak adil padanya. Dia tersakiti... tapi dia akhirnya memaafkan. Itu yang bikin Mbah Saroh sekarang datang di mimpi kalian... bukan untuk mengambil, tapi untuk mengajar kita menjadi lebih baik. Kalian... kalian warisan gaib Mbah Saroh sekarang. Kalian bawa cahaya yang dia tinggalkan.”

Cecep mengangguk serius. “Ibu... Cecep mau jadi orang yang mendengar cerita orang lain. Cecep tidak mau mengkhianati orang seperti dulu orang desa mengkhianati Mbah Saroh.”

Ratih menambahkan, “Ratih mau tanam bunga banyak... biar Mbah Saroh senang kalau datang dalam mimpi lagi.”

Lila hanya memeluk kaki ibunya. “Lila mau kasih bunga ke Mbah Saroh... setiap hari.”

Siti Aisyah tersenyum, air matanya jatuh pelan. “Kalian luar biasa... Mbah Saroh pasti bangga sama kalian.”

Kang Ujang, yang kini lebih sering membantu di rumah-rumah warga, mulai menunjukkan kedewasaan yang membuat desa kagum. Ia tak lagi tergoda nafsu murahan—ia sering duduk di depan monumen malam hari, berbicara pelan seperti berdoa. “Mbah... terima kasih sudah beri aku kesempatan kedua. Aku dulu lemah... aku hampir jatuh ke godaan. Tapi sekarang... aku mau jadi lelaki yang benar. Aku mau cari istri yang baik... aku mau punya keluarga yang penuh cinta, bukan nafsu.”

Suatu sore, Kang Ujang bertemu Sari Wangi di sungai. Ia membantu Sari mengangkat ember air, lalu duduk di batu besar di tepi sungai. “Teteh Sari... aku minta maaf. Dulu... malam itu... aku hampir salah besar. Aku malu sama diri sendiri.”

Sari tersenyum lembut, tangannya menyentuh bahu Kang Ujang. “Ujang... aku sudah memaafkan kamu sejak dulu. Kau tahan godaan itu... kau tarik diri. Itu butuh hati yang kuat. kamu sudah dewasa sekarang. Jangan pikir masa lalu lagi. Pikir masa depan... kamu akan jadi suami dan ayah yang baik.”

Kang Ujang mengangguk, air matanya jatuh. “Terima kasih, Teteh. Aku... aku janji akan jaga desa ini. Aku akan mengajar anak-anak nanti... untuk menghormati orang lain.”

Di malam-malam pesta kecil atau cerita bersama, warga sering duduk melingkar di lapangan. Daeng Tasi berbagi cerita lautnya, Bang Jaim bercerita tentang mantra leluhur, Kang Asep bercerita tentang kekuatan keluarga. Tapi yang paling ditunggu adalah cerita anak-anak—mimpi indah mereka dari roh Mbah Saroh yang damai.

Suatu malam, Cecep berdiri di tengah lingkaran, suaranya kecil tapi jelas. “Malam tadi... Mbah Saroh datang lagi. Dia duduk di tepi sungai, kasih aku kerang kecil. Dia bilang, ‘Cecep... jaga desa ini ya. Jangan biarkan orang tersakiti lagi. Kalau ada yang sedih... dengar ceritanya. Seperti kalian dengar cerita aku.’ Lalu dia tersenyum... dan lenyap. Cecep bangun... Cecep senang sekali.”

Warga diam, air mata mengalir di banyak wajah. Pak Kades mengangguk pelan. “Itu warisan gaib Mbah Saroh... mimpi indah yang mengubah legenda jadi cerita inspiratif. Dulu kita takut cerita dia... sekarang kita belajar darinya.”

Siti Aisyah memeluk Cecep, suaranya penuh emosi. “Kalian... kalian membawa cahaya yang Mbah Saroh tinggalkan. Kalian buktikan... pengampunan bisa ubah segalanya.”

Malam itu, desa tidur dengan hati penuh. Legenda Nenek Gerandong tak lagi menakutkan—ia menjadi cerita tentang luka, pengampunan, dan harapan. Anak-anak membawa warisan gaib itu dalam mimpi indah mereka, mengubah ketakutan menjadi pelajaran, dan kegelapan menjadi cahaya.

Desa Durian Berduri tak hanya pulih—ia tumbuh menjadi tempat di mana cinta, maaf, dan pengertian menjadi warisan terbesar.

***

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!