Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Kriteria Ayra
" Ehhhh, iya-iya Om, Ayra bakal pelan-pelan maaf ya" kata Ayra lebih mendekatkan lagi wajahnya agar bisa melihat luka di bibir Dave .
" Kamu udah obati dia Ay , kenapa harus minta maaf" ketus Hans tidak suka melihat Ayra duluan yang minta maaf .
" Iya, bahkan yang memukulku saja tidak tau minta maaf" ketus Dave tersenyum kecut menyindir Hans yang memukulnya dan malah marah ketika Ayra mengobati nya.
" Emang siapa yang mukul Om, bilang sama aku , tega banget sampe lebam begini , Om juga kenapa biarin aja sahabat sendiri dipukuli?" kata Ayra dengan banyak pertanyaan.
" Ohhhh, jadi kamu nyalahin Om" kata Hans dengan ekspresi marah , tidak terima dan juga entahlah hati Hans memanas mendengar Ayra membela pria lain .
" Ehhhh Om mau kemana , kenapa marah " Ayra memegang sebelah tangan Hans yang akan pergi .
" Udahlah" ketus Hans menepis tangan Ayra dan berjalan sempoyongan menaiki tangga.
" Om Hans kenapa sih?" bingung Ayra yang masih duduk disebelah Dave .
" Dia sedang mabuk , cepat bantu dia nanti jatuh pula dari tangga , Om mau pulang " kata Dave menyuruh Ayra merawat Hans.
" Cepat kejar" ucap Dave yang tau kalau Hans seperti nya sulit mengendalikan rasa cemburunya.
" Om " Ayra mengejar Hans yang malah berjalan menaiki tangga semakin cepat .
" Om , Om, jangan tutup pintu nya " Ayra menahan pintu kamar yang akan ditutup Hans .
" Apa lagi? Om mau tidur " ucap Hans berdiri diambang pintu tidak ingin tangan Ayra sampai terjepit karena menahan pintu .
" Om " Ayra memegang Hans yang berdiri tak seimbang .
" Om kenapa mabuk lagi? Udah aku bilang jaga kesehatan Om " marah Ayra menyeret tangan Hans masuk kedalam kamar.
" Om tidak mabuk " jawab Hans yang masih sadar walaupun berjalan dengan tidak seimbang.
" Tapi Om minum kan?" suara meninggi Ayra merasakan suhu panas tubuh Hans .
" Om benar-benar nggak sayang sama diri sendiri " Ayra membantu Hans berbaring dan melepaskan sepatunya.
" Om baik-baik aja Ay, panas , panas " kata Hans yang sudah keringatan.
Ayra tidak bicara lagi dia hanya duduk ditepi ranjang menatap Hans yang sudah berbaring sambil menahan air mata .
" Ay, maafin Om, janji nggak bakal minum-minum lagi" kata Hans yang jadi merasa bersalah jika Ayra sudah seperti ini.
Ayra hanya diam seribu bahasa tidak bicara lagi bahkan akan pergi namun Hans menahan tangan nya .
" Ay, bicaralah , mau marah sama Om silahkan, tapi jangan diami Om " ucap Hans yang tidak akan kuat didiami oleh Ayra jika dia sudah marah .
" Untuk apa aku bicara kalau sama sekali nggak Om dengarkan, udahlah aku mau pergi " kata Ayra mengusap air matanya.
" Ay, panas , panas, sesak " Hans memegang tangan Ayra agar tidak pergi dan marah lagi padanya .
" Ya makanya Om jangan minum minuman beralkohol lagi " tangis Ayra membantu Hans duduk dan melepaskan dasinya .
" Panas Ay" kata Hans mengeluh pada Ayra yang sedang melepas dasinya .
" Lepas baju Om ya biar panasnya berkurang" kata Ayra melepas satu persatu kancing kemeja Hans .
" Udah baring lagi " kata Ayra menurunkan suhu AC agar lebih dingin lagi dan menyelimuti Hans .
" Panas Ay " keluh Hans tidak mau pakai selimut .
" Iya , aku udah turunin suhu AC pake selimutnya nanti Om masuk angin " kata Ayra menatap Hans yang berbaring telentang tidak memakai baju .
" Nggak , biarin aja begini " ucap Hans yang merasa lebih baik .
" Kamu mau kemana?" tanya Hans memegang tangan Ayra yang akan pergi .
" Om nggak mau aku bilangin jadi ngapain lagi aku disini , Om juga bakalan tetap melakukan apa yang Om inginkan" ucap Ayra yang memilih pergi saja .
" Iya-iya Om pakai selimut " kata Hans menarik selimut dengan lemas hingga akhirnya Ayra membantu nya .
" Kepala Om sakit Ay, tolong pijit " kata Hans memukul kepala nya sendiri .
" Ya gimana nggak sakit, habis kerja bukannya istirahat malah mabuk" omel Ayra duduk ditepi ranjang meluruskan kakinya.
" Sini " Ayra membawa kepala Hans agar berbaring menjadikan paha nya bantal dan mulai memijit .
" Sampe keringatan begini , minum empat gelas lagi " Ayra yang sedang memijit kepala Hans tidak berhenti mengomel sementara Hans hanya menikmati menganggap Omelan itu sebuah dongengan .
" Besok aku tugaskan satu bodyguard pribadi yang bakal menjaga Om 24 jam " kata Ayra .
" Nggak mau " kata Hans membantah .
" Ya kalau nggak mau , nggak usah keras kepala kayak anak kecil , udah dewasa tapi masih aja nggak mementingkan kesehatan" emosi Ayra .
" Om baik-baik aja Ay" senyum Hans mendengar omelan Ayra sejak tadi .
" Udah, sekarang Om istirahat" ucap Ayra menaruh kepala Hans di bantal dan menyelimuti nya .
" Selamat malam Ay" ucap Hans tersenyum pada Ayra yang akan keluar dari kamarnya.
" Malam Om" ucap Ayra mematikan lampu utama kamar Hans dan menutup pintu .
" Tuhan mengapa kau menghadirkan rasa cinta di hatiku untuk wanita yang sudah aku sayangi sejak bayi, dia menganggap ku seperti sosok Ayah bagaimana bisa aku menyatakan perasaan ini padanya " lirih Hans memejamkan mata.
Drettt
Drettt
Hans menoleh ketika ponselnya berdering dan menarik nafas panjang melihat nama Vallen .
" Aku pasti bisa, aku harus mengalihkan perasaan terlarang ini " ucap Hans yang merasa tidak pantas juga untuk Ayra .
" Malam Sayang, ada apa?" tanya Hans mulai mengobrol dengan Vallen membicarakan hal-hal yang membuat mereka semakin dekat .
1 Minggu kemudian.
" Om ngapain suruh aku datang keperusahaan?" tanya Ayra yang langsung datang begitu pulang dari jalan-jalan .
" Om mau bicara beberapa hal sama kamu"ucap Hans mengajak Ayra duduk disofa .
" Iya Om " kata Ayra duduk disebelah Hans memainkan tali tas selempang nya .
" Berhubung karena kamu sedang libur kuliah jadi mulai besok kamu ikut Om keperusahaan, belajar cara memimpin perusahaan sendiri " ucap Hans yang diangguki Ayra .
" Dan satu lagi mengingat umur kamu sudah 21 tahun maka Om udah bolehin kamu pacaran untuk mencari kekasih kamu sendiri " pernyataan Hans dengan nada datar .
" Kemarin katanya Om yang mau cariin " ucap Ayra .
" Ayra kamu yakin mau nurut dan menerima pilihan Om ?" kaget Hans .
" Ya mau lah , kan Om sayang aku pasti Om pilihkan yang terbaik untuk aku , aku percaya sama Om " ucap Ayra tanpa ragu .
" Enggak, kamu bisa mempercayakan apapun sama Om tapi tidak soal pasangan " ucap Hans .
" Mmmm, iya juga sih Om kan nggak tau kriteria aku kayak gimana" ucap Ayra manggut-manggut.
" Emang kriteria kamu seperti apa Ay?" tanya Hans dengan penasaran.
" Ada lah pokoknya " senyum nakal Ayra menahan tawa melihat wajah penasaran Hans .
" Cepat kata kan atau Om cubit?"
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔