Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
" sisi gelap di balik kabut "
Pagi itu, suasana mansion terasa lebih dingin dari biasanya. Galen sudah berdiri di balkon kamar, mengenakan kemeja hitam yang belum dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan tato samar di dada bidangnya. Di tangannya, ia memegang sepucuk senjata perak yang sedang ia bersihkan dengan sangat tenang.
Rea terbangun dan melihat suaminya dari balik selimut. "Mas... Mas Galen sedang apa? Itu... itu alat potong rumput yang baru ya?" tanya Rea polos, menunjuk senjata di tangan Galen.
Galen tersentak kecil, ia segera menyimpan senjatanya ke dalam laci rahasia dan berbalik tersenyum tipis. "Iya, Bunny. Ini alat khusus untuk membasmi 'hama' yang sangat bandel. Kamu bangunlah, sarapan sudah disiapkan Leon."
Keberangkatan Sang Raja Mafia
Di depan gerbang mansion, lima mobil SUV
hitam sudah berbaris rapi dengan mesin yang menderu. Leon berdiri tegap dengan senjata yang tersembunyi di balik jasnya.
Galen memeluk Rea sangat erat di depan pintu utama. Ia mencium kening istrinya lama sekali. "Ingat pesan Mas, Rea. Jangan keluar dari gerbang ini. Jika ada orang asing datang, panggil Leon. Mas akan kembali dalam dua hari."
"Iya Mas, hati-hati ya. Jangan lupa makan!" seru Rea sambil melambaikan tangan saat iring-iringan mobil itu melaju kencang meninggalkan mansion.
Begitu mobil keluar dari area mansion, ekspresi Galen berubah drastis. Matanya yang tadi lembut pada Rea, kini berubah menjadi sedingin es yang mematikan.
"Leon, bagaimana laporannya?" tanya Galen dingin.
"Mereka sudah berkumpul di gudang dermaga, Tuan. Mereka pikir Anda tidak akan datang karena sibuk dengan 'Nyonya Muda'," jawab Leon.
Galen menyeringai kejam. "Mereka salah besar. Karena mereka mengusik ketenanganku bersama istriku, aku akan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang pulang dengan nyawa tetap melekat."
Di Lokasi Pertempuran (Dermaga Tua)
Galen turun dari mobil dengan langkah yang penuh otoritas. Suara tembakan mulai terdengar memecah keheningan dermaga. Galen memegang senjatanya dengan sangat tenang, bergerak maju seperti malaikat maut.
"Alonso datang!" teriak salah satu musuh ketakutan.
Baku tembak pecah. Galen bergerak sangat lincah, menghabisi lawan satu per satu tanpa belas kasihan. Di tengah kekacauan itu, Galen sempat melihat jam tangannya. Pukul lima sore. Rea pasti sedang membuat kue sekarang, batinnya di sela-sela dentuman peluru.
"Tuan! Awas!" teriak Leon saat seorang musuh mencoba menyerang Galen dari belakang.
Dengan gerakan cepat, Galen berbalik dan melumpuhkan pria itu. Ia mencengkeram leher musuhnya dengan satu tangan. "Katakan pada bosmu... jangan pernah bermimpi menyentuh wilayahku, atau kau akan berakhir di dasar laut ini," desis Galen sebelum mengakhiri nyawa pria tersebut.
Malam Hari di Mansion (Kecurigaan Rea)
Sementara itu, Rea merasa sangat gelisah di rumah. Ia mencoba menelepon Galen, tapi panggilannya dialihkan. Rea berjalan menuju ruang kerja Galen—yang biasanya dilarang—karena ia merasa ada sesuatu yang tertinggal.
Saat ia membuka laci meja yang tidak terkunci, Rea terbelalak. Ia menemukan sebuah paspor dengan nama "Galen Alonso" dan tumpukan uang dollar yang sangat banyak, serta foto-foto orang yang dicoret dengan tinta merah.
"Alonso? Bukannya itu nama orang kejam yang dibicarakan orang di pesta kemarin?" bisik Rea gemetar. "Mas Galen... sebenarnya Mas siapa?"
Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka. Bik sumi berdiri di sana dengan wajah yang sulit ditebak. "Nyonya Muda, Anda tidak seharusnya berada di sini."