"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: HARAPAN YANG TERSISA
Lampu jalanan yang temaram membuat tulisan di atas kertas medis itu tampak seperti bayangan yang menari-nari di mataku. "Terdeteksi sisa jaringan vital yang berkembang abnormal." Kalimat itu terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.
"Aris, katakan padaku dengan bahasa manusia," suaraku bergetar, hampir pecah di tengah dinginnya angin malam. "Apakah anakku masih hidup? Apakah mukjizat itu benar-benar ada setelah semua siksaan itu?"
Aris menghela napas panjang. Dia menyandarkan tubuhnya di mobil, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara belas kasihan dan ketegasan profesional. "Dokter bilang, saat kamu jatuh, kamu mengalami keguguran parsial. Kamu kehilangan satu janin... tapi rahimmu memiliki anomali. Kamu hamil anak kembar, Widya."
Duniaku seolah berhenti berputar. Kembar?
"Satu janin tidak bertahan. Dia yang keluar malam itu, darah yang membuat Stevanus yakin kamu sudah kehilangan segalanya," Aris melanjutkan, suaranya melunak. "Tapi janin satunya... dia bersembunyi di balik trauma rahimmu. Dia bertahan di tengah badai. Namun, posisinya sangat lemah. Jaringan yang disebut 'abnormal' itu adalah cara tubuhmu memproteksi sisa nyawa ini, namun sekaligus membahayakan nyawamu."
Aku merosot, terduduk di aspal jalanan yang kasar. Aku menangis, bukan lagi tangisan keputusasaan, melainkan tangisan syukur yang amat dalam sekaligus ketakutan yang mencekam. Masih ada satu nyawa. Satu alasan lagi bagiku untuk tetap bernapas. Darah dagingku tidak sepenuhnya hilang.
"Aku harus menjaganya, Aris. Aku tidak peduli dengan nyawaku, tapi anak ini... dia sudah berjuang melewatinya. Dia bertahan saat ayahnya sendiri mencoba membunuhnya," aku mendekap perutku erat-alih, seolah-olah tangan ini bisa menjadi perisai dari segala kekejaman dunia.
"Tapi ada harga yang harus kau bayar, Widya," Aris berlutut di depanku, memegang bahuku dengan kuat. "Dokter melarangmu untuk stres. Kamu tidak boleh melakukan gerakan ekstrem. Jika kamu ingin bayi ini lahir, kamu harus berhenti. Kamu harus sembunyi dan membiarkan dendam ini berlalu."
Aku mendongak, menatap mata Aris. "Berhenti? Setelah dia membunuh kembaran bayi ini? Setelah dia merampas harta keluargaku dan menghina mayatku? Tidak, Aris. Justru karena bayi ini masih ada, Stevanus harus hancur lebih cepat. Aku tidak akan membiarkan anak ini lahir di dunia di mana ayahnya masih berkuasa dan bisa sewaktu-waktu merenggutnya dariku."
"Ini bunuh diri, Widya!"
"Ini keadilan, Aris!" teriakku. "Bantu aku. Sesuaikan rencana kita. Aku akan menghancurkan Stevanus dalam dua bulan, sebelum perutku mulai membuncit dan identitasku terbongkar."
Keesokan harinya, aku kembali ke medan perang. Namun, kali ini aku lebih waspada. Rasa mual di pagi hari kupaksakan hilang dengan obat-obatan herbal yang aman untuk janin. Aku mengenakan korset tipis yang longgar untuk menyamarkan sensitivitas perutku.
Di kantor Stevanus Group, suasana tampak tegang. Maya terlihat mondar-mandir di depan ruangan Stevanus dengan wajah kalut. Begitu dia melihatku keluar dari lift, dia langsung menghadangku.
"Kau!" Maya menudingkan jarinya tepat di depan wajahku. "Apa yang kau katakan pada Stevanus semalam? Dia membatalkan rencana liburan kami ke Singapura dan terus menyebut namamu di kantor!"
Aku tersenyum tipis, merapikan letak blazer merahku yang elegan. "Saya hanya memberikan penawaran bisnis yang tidak bisa dia tolak, Nona Maya. Jika calon suami Anda lebih tertarik pada angka-angka saya daripada kecantikan Anda, bukankah itu masalah internal Anda?"
"Jangan sombong, Widya. Detektifku sudah mulai bekerja. Aku tahu kamu tidak punya catatan medis sebelum enam bulan lalu. Kamu seperti muncul dari lubang hitam," desis Maya, matanya berkilat penuh kebencian.
"Mungkin karena saya terlalu sibuk menghasilkan uang di luar negeri, sementara Anda sibuk mengurus pria orang lain," jawabku santai sambil melangkah melewatinya.
Aku masuk ke ruangan Stevanus tanpa mengetuk pintu. Pria itu sedang mempelajari dokumen investasi yang kuberikan semalam. Begitu melihatku, wajahnya yang kaku langsung melunak.
"Widya! Aku baru saja ingin meneleponmu. Penawaranmu tentang akuisisi lahan tol ini... sangat berisiko, tapi keuntungannya bisa membuat perusahaanku tiga kali lipat lebih besar," ucap Stevanus, matanya berbinar penuh keserakahan.
Aku duduk di hadapannya, menyilangkan kaki dengan anggun. "Risiko adalah nama tengah saya, Tuan Stevanus. Tapi untuk melanjutkan ini, saya butuh jaminan. Saya ingin aset pribadi Anda termasuk rumah mewah Anda dan surat-surat tanah di desa yang Anda banggakan itu dijadikan agunan sementara."
Stevanus terdiam. Itu adalah harta terakhirnya. Harta yang dia curi dari keluargaku.
"Itu permintaan yang berat, Widya."
"Tanpa jaminan, konsorsium saya tidak akan menurunkan dana. Dan kita berdua tahu, minggu depan adalah jatuh tempo utang bank Anda," aku memajukan tubuh, aroma parfumku memenuhi ruangannya. "Percayalah padaku, Stev. Setelah ini, kita akan berada di puncak dunia bersama-sama."
Stevanus menatapku lama. Di matanya, aku bisa melihat pertarungan antara logika dan nafsu. Dan seperti dugaanku, nafsu serta keserakahannya menang. Dia meraih tanganku, mengusap punggung tanganku dengan jemarinya yang kasar.
"Baiklah. Aku akan menyiapkan surat-suratnya. Tapi dengan satu syarat," dia merendahkan suaranya. "Setelah kesepakatan ini ditandatangani, aku ingin kau pindah ke rumahku. Aku merasa... ada koneksi yang aneh di antara kita. Aku ingin mengenalku lebih dalam."
Aku menahan gejolak mual di perutku. Bukan mual karena hamil, tapi mual karena jijik. Dia ingin membawaku kembali ke rumah tempat dia mendorongku jatuh.
"Tentu saja, Stev. Saya akan sangat senang melihat rumahmu," jawabku dengan senyum manis yang menyembunyikan belati.
Malamnya, Aris menemuiku di apartemen. Wajahnya sangat pucat.
"Ada masalah, Aris?"
Aris meletakkan sebuah foto di meja. Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi di sebuah laboratorium. "Maya tidak hanya menyewa detektif untuk menyelidiki masa lalumu, Widya. Dia mencuri sisa sampel darahmu dari pemeriksaan rutin di kantor tadi siang. Dia sedang melakukan tes DNA untuk membandingkanmu dengan sampel milik Yati yang tertinggal di sisir lama di rumah itu."
Jantungku berdegup kencang. Jika hasil itu keluar, penyamaranku berakhir. Aku akan diburu sebelum rencanaku tuntas.
"Berapa lama waktu yang kita punya?"
"Hasilnya akan keluar dalam 24 jam."
Aku menatap ke arah jendela, ke arah kegelapan malam. "Maka besok, sebelum matahari terbenam, Stevanus harus sudah menandatangani surat agunan itu. Dan Maya... dia tidak boleh sampai ke laboratorium itu."
Tiba-tiba, pintu apartemenku digedor dengan sangat keras. Suara teriakan Maya terdengar dari luar, "Widya! Keluar kau! Aku tahu siapa kau sebenarnya! Kau tidak bisa membohongiku dengan wajah palsu itu, Yati!"
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...