Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilih Aku atau Dia?
"kimia merupakan salah satu bagian dari sains yang mempelajari secara khusus materi, sifat, perubahan, dan energi yang menyertai perubahan nya untuk menjawab keingintahuan tentang susunan, sifat dan perubahan zat serta energi yang mengikuti perubahan nya. "Jelas ibu Erna, yang sedang menjelaskan tentang pelajaran kimia.
Di saat ibu Erna sedang menjelaskan mata pelajaran nya itu tiba-tiba bel istirahat pun berbunyi....
Kringgg...
kringgg...
kringgg...
Suara sorak Sorai kemerdekaan para siswa dan siswi di penjuru kelas pun terdengar riuh.
Beberapa siswa dan siswi berbondong-bondong menuju surga—Nya sekolah, yaitu KANTIN.
"Gue tegasin sekali lagi, Aera itu cewek gue! Paham lo?" Azwan menunjuk dada Kevin dengan telunjuknya, Suaranya tajam, penuh tantangan.
Kevin mendengus, menyentakkan tangan pemuda itu dengan kasar. "Mimpi! Lo aja yang suka ngaku-ngaku. Dari dulu gue sama Aera udah deket, sebelum lo muncul nyelip kaya bajai!"
Kerumunan mulai berbisik-bisik, beberapa murid perempuan menahan napas, sementara murid laki-laki saling melirik, menunggu siapa yang akan menyerang lebih dulu.
Siang itu panas bukan main. Langit biru nyaris tanpa awan, tapi di tengah lapangan sekolah, suasana justru mendung karena pertikaian dua pemuda yang sama-sama memasang tampang amarah.
Kevin berdiri dengan rahang mengeras, tangan mengepal. Di depannya, Azwan tidak kalah garang, kedua alisnya bertaut, siap adu jotos jika perlu.
"Gue pacarnya Aera!" Tegas kevin, suaranya dalam.
"Ngimpi lo! Dari dulu gue yang selalu menemani Aera, tahu nggak? Lo datang belakangan!" Azwan membalas dengan sengit.
Sorak sorai samar terdengar dari kerumunan siswa yang berkumpul. Semua menahan napas menunggu siapa yang akan bergerak duluan.
Dan di tengah kekacauan itu, Aera datang. Sneakers putihnya berdebu, rambutnya di kuncir seadanya, langkahnya cepat seperti hendak memendamkan api. Tapi yang paling mencolok adalah ekspresi wajahnya meringis, canggung, seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.
Aera tahu ini salahnya. Semua ini karena ulahnya yang terlalu banyak bercanda, terlalu sering bersikap manis pada keduanya. Saling balas chat, sesekali kasih kode yang ambigu. Dan sekarang, dua pemuda itu bertarung demi dirinya.
Namun Aera bukan tipe yang suka di sudutkan.
Dengan cepat, ia berdiri di sisi Azwan, "Udah, Azwan. Lo jangan lebay. Gue lebih cocok sama Kevin."
Mata Azwan melebar. " Apa? Gila lo! Gue yang selalu ada buat lo! Ini nggak adil!"
Aera mendengus kecil. "Ya, udah deh." Ucapnya santai, lalu pindah berdiri ke sisi Kevin. "Fine. Gue sama Azwan aja."
Seketika Kevin jadi merah padam. "Lah, apaan sih lo? Kok plin-plan gini?"
Permainan itu berlanjut. Aera seperti bola pingpong, memantul ke kanan dan ke kiri, berpindah-pindah kubu. Sekali ke Azwan, sekali ke Kevin, lalu balik lagi. Sekilas mirip drama cinta segitiga, tapi makin lama, makin terasa ada yang tidak beres.
"Lo pilih siapa sih? Gue atau Kevin? Tanya Azwan, menuntut jawaban.
Aera menggaruk tengkuknya, ia bingung sendiri mengingat mereka hanya target dari sikap genitnya, ia tidak benar-benar serius hanya senang menggoda saja.
"Jawab dong!" Desak Azwan. "Jangan gantungi gue kaya gini."
"Anjayyyy! Di gantung nggak, tuh!" Dikira jemuran kali ah." Seloroh Aera dengan suara pelan.
Suasana semakin panas, semua murid yang berada di sana semakin penasaran, mereka menerka-nerka siapa yang akan Aera pilih.
Sedangkan Devanta dan yang lainnya tampak santai, mereka sudah bisa menebak akhir drama cinta segitiga itu, mengingat mereka juga korban dari mulut manis Aera.
"Lo nggak mainin gue sama Azwan, kan?" Kevin mulai curiga, apalagi ia dan Azwan teman satu kelas—IPA tiga.
"Kalian lanjutin deh berantemnya," Ucap Aera dengan wajah santai. "Yang menang temui gue di kantin."
"Yang menang berarti resmi jadi cowok lo?" Tanya Azwan.
"Ke kantin mau ngerayain hari jadi?" Timpal Kevin.
"Nggak! Gue cuman mau traktir makan sepuasnya." Aera meringis, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Mata Azwan dan Kevin saling bertemu. Untuk pertama kalinya. Mereka sadar yang mereka kejar ini sebenarnya tidak pernah serius.
"Ayo pergi." Ajak Azwan. "Aera cuman main-main."
Kevin mengangguk, kemudian menatap murid yang lain. "BUBAR! SEMUANYA BUBAR!"
Suara sorakan pun terdengar nyaring, mereka sudah menunggu adu jotos namun nyatanya kedua pemuda itu justru malah pergi begitu saja.
"AH, PENONTON KECEWA!" Ravindra teriak dari kejauhan.
"Eh, kok pada pergi, sih?" Aera menatap Azwan dan Kevin yang mulai menjauh. "KALIAN NGGAK JADI REBUTIN GUE?"
Kedua pemuda itu menoleh, menunjukkan wajah galak, kesal karena Aera hanya iseng menggoda mereka.
"GUE BANTING HARGA DEH! BUY ONE GET ONE."
Suara tawa dari gerombolan Devanta terdengar menggelegar, mereka semua tidak habis pikir dengan tingkah Aera yang ajaib.
Aera sendiri akhirnya ikut tertawa, ia menertawakan kekonyolannya karena mendekati Azwan dan Kevin dalam waktu bersamaan, padahal mereka teman satu kelasnya.
"Menarik." Satu kalimat yang keluar dari mulut Leo.
Ya, sedari tadi ia menonton perdebatan tersebut.
“Itu cewek yang lo ceritain?” Tanya Alex kepada Leo.
Leo yang mendengar pertanyaan dari sang sahabat ia hanya tersenyum lebar lalu menatap ke arah Alex, “Iya.”
“Hati-hati sepertinya dia bukan gadis biasa.”