Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Revan Morris
“Tok… tok… tok…”
Ayuna terbangun oleh suara ketukan pelan di pintu. Kelopak matanya terbuka perlahan, masih berat oleh sisa kantuk. Dari balik cahaya temaram kamar, ia melihat Renan bangkit dari sisi ranjang dan berjalan menuju pintu.
Ia tidak bergerak. Hanya mendengarkan.
Suara seseorang terdengar lirih dari balik pintu.
“Tuan Muda Kedua, Tuan Muda Tertua sudah kembali. Beliau menunggu Anda di bawah.”
Jawaban Renan terdengar rendah dan singkat.
“Aku tahu.”
Revan.
Nama itu langsung terlintas di benak Ayuna. Kakak Renan, pria yang selalu disebut-sebut sebagai sosok tenang, bertanggung jawab, dan sangat melindungi adiknya. Sampai rela menghentikan pekerjaannya hanya untuk pulang.
Langkah kaki Renan kembali mendekat.
Ayuna refleks memejamkan mata, pura-pura tertidur.
Tak lama kemudian, ia merasakan sesuatu menyentuhnya. Berat, hangat. Telapak tangan Renan menyentuh dahinya dengan sangat lembut, seolah takut membangunkannya.
Jantung Ayuna bergetar.
Renan berbisik pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Apa yang harus kulakukan denganmu?”
Aroma parfum pinusnya terasa menenangkan, sekaligus menyesakkan. Lalu langkah kaki menjauh.
Pintu tertutup perlahan.
Barulah Ayuna membuka mata.
Langit-langit kamar terlihat asing, tapi sunyi di sekitarnya membuat pikirannya semakin gaduh.
“Renan…” gumamnya pelan.
“Mana yang sebenarnya dirimu?”
❀
Renan turun ke lantai bawah.
Langkahnya melambat saat ia melihat punggung Revan di ruang tamu. Bahu itu tegak, posturnya kokoh—pemandangan yang tiba-tiba menarik Renan ke ingatan yang tidak ingin ia sentuh.
Dulu, di lorong sempit yang penuh bau alkohol dan darah, Revan juga berdiri seperti itu. Tubuh kakaknya menjadi perisai saat kepalan tangan para preman menghujani mereka. Renan yang saat itu setangah sadar, terlalu lemah, hanya bisa bersembunyi di belakang punggung itu sambil menahan gemetar.
“Pukul saya saja!” suara Revan waktu itu keras, tanpa ragu.
Dan Revan benar-benar berdiri di sana… sampai semuanya berakhir.
Kenangan itu menghilang perlahan.
Melihat punggung Revan di ruang tamu, ia memanggil pelan, “Kakak.”
Kakaknya sekarang masih memiliki kaki yang utuh dan dia tidak akan membiarkan kakaknya lumpuh lagi.
Revan berbalik. Napasnya terdengar sedikit berat, wajahnya jelas menahan emosi.
“Kamu masih ingat aku ini kakakmu?” suaranya meninggi.
“Hal sebesar pernikahan, aku justru tahu dari orang lain. Apa kamu masih menghargai keluarga ini?”
Renan berdiri diam.
“Kamu pikir pernikahan itu permainan?” lanjut Revan tajam.
Di lantai atas, Ayuna berdiri di lorong dengan sandal rumah. Ia tidak berani turun, hanya mengintip dari balik dinding. Setiap kata Revan terasa menghantam dadanya.
Bagaimanapun, ia sadar. Dunia mereka berbeda.
Tak heran keluarga Renan marah.
“Aku tidak bermain-main,” jawab Renan tenang.
Revan menatapnya tak percaya. “Lalu gadis itu? Apa dia sungguh ingin menikahimu? Dan kamu membiarkannya hamil sebelum menikah?”
Nada suaranya mengeras. “Apa kamu pernah memikirkan bagaimana pandangan orang terhadapnya?”
Renan terdiam sejenak. Wajahnya tampak pucat.
Kemudian ia berbicara, suaranya tegas, namun
menyimpan luka. "Kalau dia tidak mau menikah denganku, lalu kenapa?”
Ia mengangkat pandangan. “Dia hanya bisa menjadi milikku seumur hidup.”
“Mau atau tidak, dia tetap harus menikah denganku. Kami sudah sah. Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku."
Di lantai atas, tubuh Ayuna bergetar.
Mendengar ucapan Renan langsung, ia tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut pria yang selama ini ia kenal. Ada sesuatu hangat sekaligus menakutkan yang menyusup ke hatinya.
Revan terdiam. Ia mengangkat pandangannya ke atas, berusaha memenangkan diri dari amarah yang masih membara.
Namun matanya menangkap sosok seorang gadis berwajah pucat, berdiri di lorong atas, menahan tangis. Jemarinya menggenggam ujung bajunya erat, seolah berusaha tetap tegar meski tubuhnya bergetar.
Tatapan itu menghantam Revan lebih keras daripada kata-kata adiknya. Seketika dadanya menegang. Amarah yang tadi menguasai perlahan mereda, berganti rasa iba. Ia sadar gadis itu mendengar segalanya, dan setiap kalimat yang ia lontarkan pasti membuatnya sedih.
“Renan,” suara Revan melembut.
“Kamu tidak bisa bertindak impulsif hanya karena menyukainya.”
Ia menarik napas.
“Kamu memaksanya menikah, dan dia hamil. Apa pun alasannya, itu tetap salah.”
“Tunggu dulu. Aku akan mencari cara terbaik.”
Niatnya pulang untuk memarahi kini berubah menjadi keinginan melindungi. Karena ini pertama kalinya Renan benar-benar jatuh cinta.
Namun justru itu membuat Renan memejamkan mata.
Kakaknya masih melihat jalan keluar.
Masih ada kemungkinan melepaskan.
Dan itu tidak bisa ia terima.
“Kakak…” suara Renan terdengar rendah.
“Kalau bukan karena dia hamil, dia tidak akan menikah denganku.”
Tatapannya melirik sekilas ke arah tangga. “Aku mencuri semua ini.”
“Kakak bilang akan mendukung apa pun keputusanku,” lanjutnya lirih namun tegas.
“Sekarang, maukah Kakak merestui pernikahanku?”
Revan terdiam lama sebelum akhirnya menepuk bahu adiknya.
“Aku bekerja keras supaya kamu bisa hidup bebas,” katanya pelan.
“Termasuk soal pernikahanmu.”
“Aku akan selalu berdiri di sisimu.”
Namun ia tetap menambahkan, lembut tapi jelas, “Tapi hamil sebelum menikah tetap salah. Dan hal sebesar ini seharusnya dibicarakan dengan keluarga.”
Revan tidak tahu apakah adiknya telah melamar gadis itu kepada orang tuanya? Apakah orang tua gadis itu tahu tentang kehamilan putri mereka? Bagaimana dia akan menjelaskan perbuatan Renan kepada mereka?
Renan akhirnya berkata pelan, “Kami sudah menikah.”
Revan memijit pelipisnya. “Baik. Tapi tetap saja seharusnya keluarga bertemu dulu. Bukan kamu yang memaksa gadis itu datang ke kantor KUA begitu saja.”
Ia ingin kesal, tapi sulit.
Karena pada akhirnya, ia selalu menuruti adik satu-satunya itu.
Renan kemudian berkata pelan, “Dia tidak punya orang tua. Jadi, keluargaku sekarang adalah keluarganya. Dan kalian menyetujuiku itu berarti kalian juga menyetujuinya.”
Revan tertawa kecil, lelah namun penuh sayang. “Kamu benar-benar membuatku terlihat seperti orang jahat yang ingin memisahkan sepasang kekasih.”
Revan menghela napas, memijit pelipisnya.
“Baik. Tapi tetap saja caramu salah. Papa dan Mama harus tahu.”
Akhirnya ia menyerah.
“Kembalilah ke kamar. Biar aku bicara dengan Papa dan Mama.”
“Terima kasih, Kak.” Renan menunduk tulus.
Di lantai atas, Ayuna buru-buru kembali ke kamar sebelum siapa pun naik.
Renan kembali ke lantai dua.
Lorong itu kosong.
Ia menghela napas, lalu masuk ke kamar.
Ayuna tidak berpura-pura tidur.
Ia duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk bantal. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya lelah, bukan mata orang yang ingin menangis, melainkan seseorang yang sudah terlalu lama menahan.
Pandangan mereka bertemu.
Ayuna buru-buru menunduk.
Renan mendekat perlahan.
“Kamu sudah bangun?” suaranya lembut.
“Iya.”
“Kamu lapar?”
“Belum.”
“Kita makan nanti,” katanya pelan. “Aku mandi dulu.”
Ia masuk ke kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, Ayuna memeluk bantal erat-erat.
Dadanya penuh. Takut, kacau, namun juga hangat.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu harus merasa apa.
❀❀❀
Langit masih menyisakan semburat jingga keemasan ketika mobil keluarga Morris berhenti di halaman rumah. Matahari baru saja terbenam, meninggalkan cahaya senja yang perlahan ditelan gelap. Papa Herman dan Mama Reni turun dari mobil dengan langkah tergesa, masih mengenakan pakaian pesta. Wajah mereka terlihat lelah, tetapi jelas terpancar kegelisahan.
Sejak menerima telepon mendadak dari Revan, mereka langsung meninggalkan pesta teman mereka lebih awal. Nada suara Revan terlalu serius, bukan hal sepele.
Begitu masuk ke rumah, Revan sudah menunggu di ruang tamu. Sikapnya terlihat tenang, namun ketegangan di matanya tidak bisa disembunyikan.
“Kalian sudah kembali,” ucap Revan pelan namun mantap.
“Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Mama Reni, tak bisa menyembunyikan kecemasannya. “Ini tentang Renan, kan? Dia membuat masalah lagi?”
Papa Herman menatap lurus. “Katakan saja langsung, Revan.”
Revan menarik napas panjang sebelum bicara.
“Ada hal penting yang harus Papa dan Mama tahu. Renan, dia sudah menikah.”
Suasana langsung membeku. Senja di luar seolah ikut berhenti bergerak.
Mama Reni terpaku di tempat. Papa Herman menegang.
“Menikah!?” seru mereka hampir bersamaan.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta