NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 25

Malam telah menurunkan tirainya sepenuhnya ketika bayangan Cao Yi muncul dari balik gelapnya hutan savana. Angin malam berdesir pelan, membawa aroma darah kering dan tanah basah yang belum sepenuhnya hilang dari Desa Memping. Di belakang Cao Yi, belasan gadis berjalan tertatih, langkah mereka tidak seragam, beberapa hampir terjatuh karena kelelahan, namun di wajah-wajah pucat itu tersisa secercah rasa aman yang baru mereka rasakan kembali setelah sekian lama.

Begitu siluet itu terlihat dari kejauhan, kegelisahan yang menyelimuti perkemahan darurat seolah menemukan muaranya. Kabar kembalinya adik angkat sang Raja menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, dari prajurit penjaga hingga warga yang masih terjaga karena mimpi buruk.

Raja Yan Liao yang sejak senja tak henti mondar-mandir akhirnya tak mampu lagi menahan diri. Ia melangkah cepat, hampir berlari, diikuti oleh Permaisuri Bai Ling Yin yang wajahnya menyimpan kecemasan mendalam. Obor-obor yang dibawa para prajurit menerangi sosok Cao Yi, memperlihatkan wajahnya yang tetap tenang, tanpa luka, tanpa noda darah.

“Yi’er!” seru Yan Liao begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah. Nada suaranya pecah oleh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. “Kamu tidak terluka?”

Tatapan Yan Liao menyapu dari kepala hingga kaki Cao Yi, mencari sekecil apapun tanda bahwa adik angkatnya itu telah melewati pertarungan berat. Namun yang ia lihat hanyalah Cao Yi yang berdiri tegak, ekspresinya datar, seolah perjalanan malam itu bukan sesuatu yang berbahaya.

“Aku baik-baik saja, Kakak Raja,” jawab Cao Yi singkat.

Ia sedikit menggeser tubuhnya, memberi ruang agar rombongan di belakangnya terlihat jelas. “Mereka inilah yang kutemukan. Beberapa berasal dari Desa Memping. Sisanya diculik dari desa-desa kecil di sepanjang perbatasan. Aku membawa mereka kemari agar berada di bawah perlindungan kerajaan.”

Para gadis itu melangkah masuk ke area desa dengan pandangan ragu. Begitu kaki mereka menginjak tanah yang dipenuhi reruntuhan, ketenangan yang rapuh langsung runtuh. Beberapa gadis yang mengenali tempat itu berhenti mendadak, napas mereka tercekat. Mata mereka menatap gundukan kain penutup mayat yang tersusun rapi di kejauhan.

Satu jeritan terdengar, dan disusul jeritan lainnya. Ratapan yang semula tertahan akhirnya meledak tanpa kendali. Seorang gadis muda berlari menuju sisa rumahnya yang telah roboh, lalu jatuh berlutut ketika melihat tubuh ayah dan ibunya terbaring kaku. Tangan kecilnya mencengkeram kain penutup mayat, seolah berharap kenyataan itu akan berubah jika ia membuka penutup tersebut.

Bai Ling Yin segera berlutut dan memeluk salah satu gadis yang ambruk tak sadarkan diri. Tubuh sang Permaisuri ikut bergetar, air matanya jatuh membasahi bahu gadis itu.

“Menangislah,” bisiknya lembut, namun sarat luka. “Menangislah sepuas hatimu. Surga akan mencatat setiap tetes air matamu.”

Tatapan Bai Ling Yin terangkat, mengarah pada Cao Yi dan Yan Liao, seolah bertanya tanpa kata: apakah pembantaian ini telah dibalas setimpal.

“Markas mereka sudah menjadi kuburan,” ucap Cao Yi dingin, tanpa emosi berlebih. “Jing Zhen dan seluruh anak buahnya telah mati. Tidak akan ada lagi darah yang mereka tumpahkan.”

Ucapan itu tidak diiringi kebanggaan, hanya kepastian.

Keesokan paginya, matahari terbit dengan cahaya pucat yang seolah enggan menyinari tanah penuh duka. Kabut tipis masih menggantung di atas savana ketika prosesi pemakaman massal dimulai. Ratusan lubang telah digali sejak dini hari oleh Pasukan Elit, tanahnya lembab dan berat.

Tidak ada teriakan, tidak ada terompet kerajaan, yang ada hanya doa-doa lirih dan suara tanah yang menimpa peti sederhana.

Raja Yan Liao berdiri di barisan terdepan. Jubah kebesarannya dilepas, diganti pakaian sederhana sebagai tanda duka. Dengan tangan sendiri, ia mengambil segenggam tanah dan menjatuhkannya ke liang terakhir.

“Liungyi tidak akan melupakan kalian,” ucapnya pelan, namun setiap kata mengandung bobot yang membuat udara terasa berat. “Atas nama Raja dan negeri, aku bersumpah—darah rakyatku tidak akan tumpah sia-sia.”

Setelah pemakaman selesai, Yan Liao segera mengeluarkan perintah lanjutan. Kereta pertama yang sejak awal dijadikan umpan dibuka seluruh muatannya. Gandum, daging kering, dan persediaan makanan diturunkan tanpa sisa.

“Bagikan semuanya,” perintah Yan Liao tegas. “Tak satupun boleh kelaparan malam ini.”

Cao Yi kemudian melangkah maju. Di tengah kerumunan warga yang matanya kosong karena kehilangan, ia mengeluarkan beberapa kantong kain dari balik jubahnya. Satu per satu, ia menyerahkan Tail Perak ke tangan warga yang tersisa.

“Satu Tail Perak setara dengan seratus koin perak,” katanya tenang. “Gunakan untuk membangun kembali hidup kalian. Jika memilih pergi, gunakan itu untuk memulai di tempat baru.”

Tangan-tangan gemetar menerima kepingan perak itu.

“Terima kasih… terima kasih, Nona Dewi…” bisik mereka, sebagian bahkan berlutut dengan mata berkaca-kaca.

Tiga hari berlalu dalam suasana yang muram. Rombongan kerajaan membantu membersihkan reruntuhan, merawat yang terluka, dan memastikan tak ada ancaman yang tersisa. Namun luka batin warga Desa Memping terlalu dalam. Satu demi satu, mereka memilih pergi, meninggalkan tanah kelahiran yang kini hanya menyisakan kenangan pahit.

Pada hari keempat, Desa Memping benar-benar sunyi. Nisan kayu berdiri berjejer di pinggir savana, menjadi saksi bisu tragedi yang tak akan dilupakan.

Rombongan kerajaan bersiap melanjutkan perjalanan. Kereta diperiksa, pasukan kembali ke formasi. Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei memandang Cao Yi dengan perasaan yang jauh berbeda. Rasa hormat bercampur gentar terpatri jelas di mata mereka.

“Perjalanan masih jauh,” ucap Yan Liao saat menaiki keretanya. “Kota Chuwei menunggu. Dan kita harus memastikan tidak ada lagi Desa Memping di negeri ini.”

Cao Yi masuk ke dalam kereta keempat. Tirai tertutup perlahan. Roda-roda mulai bergerak, meninggalkan jejak debu panjang di savana.

Di belakang mereka, Desa Memping tertinggal sebagai luka yang tak akan pernah sembuh sepenuhnya.

—-

Setelah meninggalkan puing-puing Desa Memping yang masih menyisakan bau tanah basah dan duka mendalam, rombongan Raja Yan Liao kembali melanjutkan perjalanan ke selatan. Savana luas terbentang tanpa ujung, seolah menelan jejak penderitaan yang baru saja mereka lalui. Namun meski pemandangan di hadapan tampak tenang, suasana di dalam iring-iringan justru terasa lebih berat dibanding hari-hari sebelumnya.

Tidak ada lagi obrolan ringan di antara prajurit. Tidak terdengar canda dari kereta pengawal. Bahkan derap kuda pun seakan berjalan dengan irama yang lebih pelan. Tragedi Desa Memping, jeritan warga, serta bayangan pembantaian yang mereka saksikan sendiri telah mengendap dalam benak setiap orang. Semua memahami bahwa perjalanan ini bukan sekadar inspeksi biasa, melainkan menyentuh luka lama yang jauh lebih dalam dari sekadar laporan di atas kertas.

Menjelang sore, hamparan savana yang gersang perlahan berubah. Tanah mulai meninggi, rumput liar berganti dengan pepohonan rindang yang tumbuh rapat. Jalur perjalanan menyempit di antara perbukitan kecil, dan udara terasa lebih sejuk. Dari balik sebuah lembah yang diapit dua lereng berbatu, muncullah sebuah pemukiman besar dengan tata bangunan rapi dan tembok kayu tinggi yang kokoh.

Desa Wushan.

Sebuah desa yang terlihat makmur, tertata, dan jauh dari kesan rapuh seperti Memping. Atap-atap rumahnya seragam, jalan utamanya bersih, dan di beberapa sudut tampak menara pengawas sederhana. Gerbang utama desa terbuat dari kayu jati tebal berlapis besi, dijaga oleh pria-pria bertubuh tegap dengan sorot mata waspada.

Letnan Bai Wang segera memacu kudanya, bergerak sejajar dengan jendela kereta Permaisuri. Tatapannya menyapu cepat sekeliling, lalu kembali fokus pada Bai Ling Yin.

“Yang Mulia Permaisuri,” ujarnya dengan suara rendah namun jelas. “Kita telah tiba di Desa Wushan. Ini adalah pemukiman perbatasan sebelum memasuki jalur utama menuju Kota Chuwei.”

Bai Ling Yin membuka tirai kereta sedikit. Matanya menelusuri gerbang desa, para penjaga, serta aura ketertiban yang menyelimuti tempat itu. “Desa ini terasa sangat berbeda dengan Memping, Letnan. Auranya jauh lebih… kokoh.”

“Benar, Yang Mulia,” jawab Bai Wang. “Wushan bukan desa tani biasa. Di pusat desa berdiri Perguruan Bukit Hijau, sekte beladiri lokal yang telah mengakar selama puluhan tahun. Pemimpin mereka adalah seorang Pendekar Raja, dan di bawahnya terdapat tujuh Pendekar Ahli yang bertindak sebagai instruktur utama.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada serius, “Lebih dari separuh penduduk dewasa di desa ini adalah Pendekar Tingkat Terlatih. Mereka memiliki dasar tenaga dalam yang solid dan disiplin tempur yang baik. Secara keseluruhan, pertahanan Wushan setara dengan benteng militer kecil.”

Permaisuri mengangguk pelan, namun kerutan di keningnya semakin dalam saat rombongan mulai memasuki jalan utama desa. “Jika mereka memiliki kekuatan sebesar itu… mengapa suasana di sini terasa begitu kaku?”

Kereta melaju perlahan melewati deretan rumah. Apa yang dilihat Bai Ling Yin membuat dadanya terasa tidak nyaman. Tidak ada sambutan. Tidak ada kerumunan rakyat. Para penduduk yang berada di tepi jalan hanya melirik sekilas, lalu kembali bekerja. Beberapa bahkan memalingkan wajah, seolah enggan menatap langsung iring-iringan kerajaan.

Anak-anak kecil yang semula bermain segera ditarik masuk ke rumah oleh orang tua mereka. Pintu-pintu kayu ditutup perlahan, tanpa suara, tanpa rasa takut, namun juga tanpa rasa hormat.

“Sikap mereka dingin sekali,” gumam Bai Ling Yin. “Seolah kehadiran kita tidak diharapkan.”

Bai Wang menghela napas panjang, lalu merendahkan suaranya. “Hamba mohon ampun, Yang Mulia. Inilah dampak dari kekuatan yang terlalu lama berdiri sendiri. Perguruan Awan Hijau telah melindungi desa ini dari perampok selama bertahun-tahun. Perlahan, penduduk Wushan mulai merasa bahwa mereka tidak lagi membutuhkan perlindungan kerajaan.”

“Hukum tertinggi bagi mereka bukan lagi dekrit dari Kota Yibei,” lanjutnya, “melainkan perintah dari Pemimpin Perguruan. Di mata mereka, rombongan kita hanyalah orang luar yang mungkin membawa urusan politik dan konflik baru.”

Dari dalam kereta keempat, Cao Yi mendengarkan semuanya dengan tenang. Inderanya menangkap aliran tenaga dalam yang berlapis-lapis, berputar di sekitar desa seperti jaring tak kasatmata. Banyak pendekar, memang. Namun dibalik itu, ia juga merasakan sesuatu yang lebih berbahaya daripada kekuatan semata.

Keangkuhan, dan kepercayaan diri yang berlebihan sering kali melahirkan kelengahan. Dan kelengahan, bagi Cao Yi, adalah aroma kehancuran yang paling mudah dikenali.

Di kereta ketiga, Raja Yan Liao tetap duduk tegak. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun matanya tajam memperhatikan setiap detail. Tatapan-tatapan dingin dari balik jendela rumah tidak luput darinya. Ia tahu, menghadapi desa yang merasa “mandiri” karena kekuatan beladiri bukanlah persoalan pedang atau pasukan, melainkan persoalan wibawa dan legitimasi kekuasaan.

Rombongan akhirnya tiba di penginapan terbesar di Desa Wushan. Bangunan itu kokoh dan bersih, namun bahkan di sana pun sambutan terasa hambar. Tidak ada kepala desa yang menyambut, tidak ada perwakilan perguruan yang muncul memberi hormat, yang ada hanya keheningan.

Desa Wushan mungkin aman dari perampok, namun rombongan Raja Yan Liao merasakan dengan jelas bahwa mereka sedang memasuki wilayah yang menyimpan kedinginan lain.

Kedinginan dari kesombongan para pendekar yang merasa tidak lagi membutuhkan seorang Raja.

1
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!