Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Paket Rahasia Milik Jennie
Malam itu, obsesi Ajeng telah mencapai level yang tidak sehat. Sejak dipermalukan di restoran dia tidak bisa tidur dengan tenang, dia masih sangat penasaran siapa Jennie sebenarnya.
Wanita itu terlalu biasa untuk pria sekelas Johan, apalagi saat melihat penampilannya saat pertama kali bertemu di apartemen Johan. Lebih mirip seperti wanita bayaran.
Jadi dengan tekat yang sudah bulat untuk menyelidiki wanita itu, sekarang di sinilah dia berada.
The Skyline Residence.
Dengan sumber informasi terbatas yang dia dapatkan, ternyata wanita itu satu gedung apartemen dengan Johan dan unit mereka berdampingan. Hal itu membuatnya semakin murka.
Dan sekarang sudah dua jam dia berdiam di dalam mobil yang dia parkiran sedikit ke belakang, tapi sama sekali tidak melihat wanita itu keluar. Dia hanya melihat Johan yang sudah kembali dari kantor.
Kesabarannya sudah mencapai batas, dia turun dari mobilnya dan berjalan menuju lobi. Kaca mata bertengger di atas kepalanya meskipun hari sudah gelap, dan seperti biasa bau parfum tersebar di mana-mana.
"Security!" panggil Ajeng dengan suara melengking, membuat Pak Bambang yang sedang merapikan beberapa paket di atas meja resepsionis terkejut.
Pak Bambang segera menoleh, wajahnya yang sudah lelah tampak semakin kuyu saat melihat kedatangan Ajeng. "Eh, iya Mbak. Ada yang bisa dibantu?"
Bukannya menjawab, Ajeng malah mendekat dan melihat paket-peket yang sedang di rapikan Pak Bambang. Siapa tahu ada paket milik Johan, jadi dia memiliki alasan untuk menemui pria itu.
Tapi bukan milik Johan yang dia temukan, justru nama penerima "Lady Velvet Unit 501" menarik perhatiannya. Dia ingat jelas jika itu adalah nomor unit milik Jennie.
"Ini paket milik Jennie, kan? Yang unitnya di sebelah Johan?" tanya Ajeng sembari menunjuk sebuah kotak kardus berukuran sedang.
"Berikan saja padaku, kebetulan aku mau ke atas ketemu Johan. Nanti sekalian aku kasih ke wanita itu," sambungnya dengan nada sedikit memaksa.
Pak Bambang mengerutkan keningnya, "Waduh, maaf Mbak Ajeng. Aturannya paket harus diantar oleh petugas keamanan atau diambil sendiri oleh penghuni, saya tidak berani memberikannya kepada orang lain, apalagi ada label 'pribadi'."
Ajeng mendengus, matanya menatap Pak Bambang dengan tatapan merendahkan yang sangat kental. "Jangan kaku-kaku amat jadi orang, Pak! Bapak tahu kan siapa saya? Saya ini anak relasi bisnis utama keluarga Alexander, kalau saya bilang saya yang bawa ya saya yang bawa."
"Memangnya Bapak mau saya telpon pengelola gedung ini sekarang juga dan melaporkan ketidaksopanan Pak Bambang?"
Pak Bambang tampak serba salah, dia jelas tahu Ajeng adalah wanita dari keluarga berpengaruh, namun tanggung jawab profesinya menuntut keamanan. "Tapi Mbak, prosedurnya----"
"Sudahlah!" Ajeng mengambil pekat itu dari atas meja sebelum Pak Bambang sempat bereaksi lebih lanjut. "Aku yang bakal tanggung jawab!"
Ajeng melangkah menuju lift dengan angkuh, meninggalkan Pak Bambang yang hanya bisa mengeluh dalam hati.
Di dalam lift yang bergerak naik, Ajeng menatap kotak di tangannya. Label Discreet Packaging itu berteriak seolah-olah minta dibuka, rasa penasaran di dorong oleh kebencian membuatnya tidak tahan.
Dengan kuku french manicure-nya yang tajam, dia merobek selotip pengaman dengan gerakan tidak sabar.
"Mari kita lihat apa yang disembunyikan oleh wanita jalang itu," gumamnya sinis.
Begitu celah kotak itu terbuka, kedua matanya membelalak seketika. Dia menutup mulutnya dengan tangan, bukan karena ngeri, tapi karena kegembiraan yang meluap.
"Jadi ini selaramu? Tidak salah aku menyebutmu wanita bayaran," monolognya di iringi senyum miring.
Di saat yang sama di dalam unit Johan, suasananya sangat jauh dari kata tenang. Jennie sedang berdiri di ruang tamu sang pemilik dengan wajah cemberut.
"Bentar doang kok Mas, katanya kamu bakal jawab semua yang mau aku tau," omel wanita itu dengan bibir mencebik kesal.
Johan yang baru saja selesai mandi menghela napas panjang, "Pertanyaanmu itu di luar nalar dan tidak membutuhkan jawaban."
"Tapi ini untuk pembacaku! Kalau posisinya tidak logis mereka akan menyerbuku di kolom komentar," balas Jennie tak mau kalah.
Johan menatap Jennie dalam, wanita itu kini tampak menggemaskan sekaligus berbahaya dari caranya menatap dengan mata bulatnya dengan rasa ingin tahu.
Dia melangkah mendekat dan berkata rendah, "Aku lebih suka langsung mempraktikannya daripada menjawabnya, bagaimana? Kau mau?"
Jennie memukul dada Johan dengan wajah yang memerah, "Modus!"
Tadi saat Johan baru pulang kerja dia memang datang ke apartemen pria itu, dan saat dia mengajukan pertanyaan terkait novelnya pria itu mengatakan akan mandi terlebih dahulu.
Dan sekarang setelah dia menunggu Johan mandi, pria itu tidak mau menjawabnya.
"Mas, dengar-----"
TING TONG
TING TONG
TING TONG
Suara bel yang berbunyi tidak sabaran menghentikan percakapan keduanya. Tapi itu bukan suara bel unit Johan, dari suaranya yang agak jauh sepertinya itu dari unit miliki Jennie.
"Siapa yang datang? Aku tidak memiliki janji dengan siapapun," ucap Jennie dengan ekspresi bingung.
"Mungkin Pak Bambang nganter paket," sahut Johan, dan Jennie mengangguk kecil karena memang ada paket yang belum dia terima.
Jennie segera melangkah menuju pintu diikuti oleh Johan. Begitu dia membuka pintu, bau menyengat langsung tercium oleh keduanya.
"Oh, ternyata kalian sedang bersama, bagus," ucap si pemencet bel saat melihat Jennie dan juga Johan keluar.
Jennie memutar bola matanya malas, "Ternyata dia yang memencet bel seperti orang kesurupan," cibirnya pelan.
"Ada apa ya Mbak Ajeng yang terhormat? Mengganggu kami bermesraan saja," sambung Jennie bertanya.
Ajeng tersenyum, senyum yang menurut Jennie terlihat mengerikan. "Sebenarnya aku ingin mengunjungi Johan, dan saat di lobi aku lihat security kesulitan membawa paket-paket, jadi aku membantunya dan membawa milikmu sekalian," ucapnya dengan melirik Johan yang berdiri tepat di belakang Jennie.
Jennie merasakan firasat buruk yang sangat kuat saat melihat kotak paketnya sudah dalam keadaan robek. "Berikan paketnya padaku, Mbak," pintanya.
"Kenapa? Kamu takut Johan tahu apa yang kamu pesan dari pengirim rahasia ini?" balas Ajeng dengan senyum miring.
Belum sempat Jennie bereaksi, Ajeng membalikkan kotak itu dengan gerakan kasar di depan Jennie.
BRAK!
Bunyi benda plastik keras yang menghantam lantai marmer terdengar sangat nyaring. Sebuah mainan dewasa berukuran besar dengan warna ungu metalik yang mengkilap menggelinding tepat ke arah sandal Jennie.
Tak berhenti di situ, sepasang borgol berbulu merah muda dan dua botol cairan pelumas dengan label yang sangat eksplisit ikut berserakan di lantai.
Waktu seolah membeku, Jennie merasa sluruh dunianya runtuh seketika. Rasanya seperti ditarik paksa ke tengah panggung tanpa sehelai benang pun. Wajahnya berubah dari merah padam menjadi pucat pasi.
Ajeng tertawa dengan nada menghina, "Lihat ini, Jo! Inilah wanita yang kamu bela mati-matian di depan orang tuamu! Seorang penulis sejarah? Lebih tepatnya wanita pemuas nafsu murahan! Lihat barang-barang kotor yang dia beli!"
Jennie menunduk, tangannya gemetar hebat. Air mata rasa malu mulai menggenang di sudut matanya. Jikapun dia berteriak mengatakan itu untuk penelitiannya, tidak mungkin Ajeng percaya, karena yang wanita itu tahu dia adalah penulis sejarah.
Namun hal yang tak terduga terjadi. Johan maju dengan tenang tanpa rasa jijik sekalipun, dengan gerakan yang sangat santai dia membungkuk dan memungut mainan berwarna ungu tersebut.
"Jadi warna ini yang akhirnya kamu pesan, sayang?" ucapnya sembari menatap Jennie.
Ajeng berhenti tertawa mendengar ucapan Johan, "Apa maksudmu, Johan?"
Johan menoleh ke arah Ajeng lalu melingkarkan lengannya di pinggang Jennie, menarik tubuh gemetar itu agar merapat ke sisinya. Dia menunjukkan mainan itu di depan wajah Ajeng.
"Kau sangat berisik, Ajeng! Ini barang yang kami pesan bersama," ujar Johan dengan nada datar.
Jennie tersedak napasnya sendiri, dia menatap Johan dengan mata membelalak tak percaya.
"Kami merasa kehidupan ranjang kami sedikit datar akhir-akhir ini, jadi aku menyarankan Jennie untuk membeli beberapa peralatan baru untuk eksperimen kami di akhir pekan ini," lanjut Johan tanpa ragu.
Setelah itu dia memungut borgol merah muda dengan ujung jarinya. "Sebenarnya aku lebih suka warna hitam, tapi Jennie bilang warna pink lebih lucu, jadi aku menurut saja."
Wajah Ajeng seketika pucat pasi. "Kamu...kamu memakai benda-benda menjijikkan ini dengannya?!"
"Menjijikkan, ya?" Ulang Johan dengan kekehan kecil. "Terima kasih sudah repot-repot mengantarkannya, tapi lain kali jangan lencang membuka paket pribadi orang lain. Silahkan pergi sebelum aku menelepon polisi atas tuduhan perusakan barang pribadi."
Ajeng gemetar karena syok yang luar biasa, dia merasa seperti baru saja di tampar di depan umum oleh pria yang dia dambakan.
Dengan wajah hancur, dia berbalik dan berlari ke arah lift, meninggalkan suara sepatu hak tinggi yang berdentum liar di koridor.
Begitu Ajeng sudah menghilang, Johan melepaskan rangkulannya dan menyerahkan mainan ungu itu ke tangan Jennie yang masih kaku.
"Kamu seharusnya tidak perlu melakukannya," cicit Jennie dengan air mata yang akhirnya jatuh.
Johan menatap Jennie dengan lembut, "Aku hanya tidak suka melihat orang lain merasa menang karena mempermalukan orang yang sedang bersamaku."
Setelah mengatakan itu, Johan berbalik untuk masuk kembali ke dalam unitnya seolah tidak ada apa-apa, meninggalkan Jennie sendiri.
Bersambung