Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA DI BALIK KABUT
Lentera minyak di meja kayu Wisma Angin Sore berkedip pelan, memantulkan bayangan empat orang yang sedang membungkuk di atas peta kusam yang diberikan Ki Juru Tenung. Di luar, hujan pegunungan mulai turun, membasuh atap-atap Kutha Megamendung dengan suara gemericik yang konstan. Hawa dingin merayap masuk melalui celah jendela, namun ketegangan di dalam ruangan itu jauh lebih dingin daripada udara malam.
"Benteng Karang Bolong bukan sekadar benteng," Sekar Wangi memecah keheningan, jemarinya menunjuk ke sebuah titik di pesisir selatan yang terisolasi oleh tebing-tebing curam.
"Ini adalah labirin gua alami yang telah diperkuat dengan arsitektur kuno. Hanya ada satu jalan masuk melalui darat, dan itu dijaga oleh gerbang besi yang tidak bisa dibuka tanpa kunci khusus—atau tenaga dalam yang luar biasa besar."
Tirta mengamati peta itu dengan saksama. "Ki Juru bilang mereka beraliansi dengan kekuatan seberang. Apa maksudnya?"
"Bajak Laut Mata Satu," jawab Sekar pendek. "Mereka bukan perompak biasa. Mereka adalah praktisi aliran hitam yang menguasai teknik bertarung di air. Jika kita terjebak di dalam gua saat pasang laut naik, kita akan mati tenggelam sebelum sempat menghunus pedang."
Dimas Rakyan menghela napas panjang, ia menyandarkan galah kayunya ke dinding. "Jadi, rencananya adalah masuk ke sarang singa yang sedang lapar, di tengah labirin yang bisa tenggelam, melawan pendekar hitam dan bajak laut? Kedengarannya seperti cara yang sangat kreatif untuk bunuh diri."
"Kita tidak punya pilihan, Dimas," potong Mayangsari. Suaranya kini terdengar jauh lebih stabil. Ia duduk di samping Tirta, tangannya menggenggam sebuah bungkusan kecil berisi obat-obatan herbal yang ia siapkan sendiri. "Mereka sedang mengumpulkan sisa-sisa energi rembulan dari seluruh penjuru untuk ritual gerhana bulan depan. Jika kita menunggu, kekuatan mereka akan menjadi tak terbendung."
Tirta menoleh ke arah Mayangsari. Ada kekhawatiran yang mendalam di matanya. "Mayang, kau tidak perlu ikut ke garis depan. Kau bisa menunggu di desa terdekat bersama Dimas."
Mayangsari menatap balik Tirta, matanya yang jernih memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Tirta, kita sudah melewati perdebatan ini di Lembah Leluhur. Darah yang mengalir di tubuhku adalah kunci sekaligus senjata. Aku tidak akan membiarkanmu memikul beban ini sendirian lagi. Jika kita jatuh, kita jatuh bersama."
Tirta terdiam. Ia melihat perubahan besar pada diri Mayang. Gadis yang dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan di ladang padi, kini telah menjadi seorang wanita yang siap bertarung melawan takdir. Perlahan, Tirta mengangguk, sebuah tanda penghormatan sekaligus janji untuk melindunginya.
"Baiklah. Inilah rencananya," Tirta mulai menggambar garis di atas peta. "Kita tidak akan lewat gerbang utama. Sekar, kau bilang ada saluran udara tua di bagian atas tebing yang terhubung dengan ruang ritual utama?"
"Ya, tapi itu sangat sempit dan licin. Hanya orang dengan keseimbangan tinggi yang bisa melewatinya," jawab Sekar.
"Aku dan Sekar akan masuk lewat sana untuk menyabotase jebakan energi mereka dari dalam," lanjut Tirta. "Dimas, kau akan menjaga jalur pelarian di dermaga rahasia. Mayang, kau akan bersamaku. Energi rembulanmu adalah satu-satunya hal yang bisa melacak keberadaan Mustika Samudra di dalam labirin itu."
Dimas menyeringai, mencoba mencairkan suasana. "Tugas menjaga jalur pelarian? Kedengarannya seperti aku harus menyiapkan perahu yang sangat cepat. Serahkan padaku, Tirta."
Setelah rencana matang, mereka memutuskan untuk beristirahat. Dimas dan Sekar kembali ke kamar masing-masing, meninggalkan Tirta dan Mayangsari di balkon kecil yang menghadap ke lembah Megamendung yang tertutup kabut.
Hujan telah mereda menjadi gerimis tipis. Tirta berdiri menyandarkan lengannya di pagar kayu, menatap lampu-lampu kota yang nampak seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
"Tirta..." Mayang mendekat, berdiri di sampingnya. "Apa kau takut?"
Tirta menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. "Setiap hari. Aku takut gagal melindungimu. Aku takut menjadi seperti Aki Sapu Jagad jika aku terlalu tenggelam dalam amarah. Kekuatan ini... Sinar Gadhing... terkadang terasa seperti api yang ingin membakar segalanya."
Mayangsari meletakkan tangannya di atas tangan Tirta yang sedang mencengkeram pagar. Sentuhannya hangat dan menenangkan. "Ayahmu, Baskara, memberikan nama 'Sinar' padamu bukan tanpa alasan. Cahaya tidak membakar kecuali kau memaksanya. Cahaya itu untuk menerangi jalan. Selama kau memiliki sesuatu untuk dicintai, kau tidak akan pernah tersesat dalam kegelapan."
Tirta menoleh dan menatap wajah Mayang di bawah temaram cahaya bulan yang sesekali muncul dari balik awan. Tanpa sadar, wajah mereka semakin dekat. Di tengah ketidakpastian maut yang menanti esok hari, ada sebuah momen hening yang seolah menghentikan waktu.
"Aku akan membawamu pulang, Mayang," bisik Tirta. "Ke desa kita. Ke ladang hijau yang tenang. Itu adalah janji ksatria, dan janji seorang pria."
Mayangsari tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Tirta. "Aku memegang janjimu, Pendekar Gerhana."
Keesokan paginya, sebelum fajar benar-benar menyingsing, keempatnya sudah meninggalkan Megamendung. Mereka bergerak dengan cepat menuju pesisir selatan, menghindari jalan-jalan besar.
Saat mereka tiba di perbukitan yang menghadap langsung ke arah laut, suara gemuruh ombak mulai terdengar. Di kejauhan, nampak sebuah struktur bangunan raksasa yang menyatu dengan tebing karang—Benteng Karang Bolong. Asap hitam tipis terlihat membubung dari puncaknya, menandakan adanya aktivitas besar di dalam sana.
"Lihat itu," Sekar Wangi menunjuk ke arah pelabuhan di bawah benteng. "Kapal-kapal Bajak Laut Mata Satu sudah bersandar. Mereka sudah siap."
Tirta menghunus sedikit Sasmita Dwipa, memeriksa pantulan cahayanya. "Ini saatnya. Ingat, tujuan kita adalah menyabotase ritual dan mengambil kembali Mustika Samudra. Jangan terpancing duel yang tidak perlu kecuali terpaksa."
"Dimas, kau tahu apa yang harus dilakukan," Tirta menatap sahabatnya.
"Perahu sudah siap di teluk sebelah. Aku akan menunggu sinyal kembang api perakmu," Dimas mengangguk mantap.
Mereka mulai membagi tugas. Tirta, Mayangsari, dan Sekar Wangi mulai memanjat tebing curam di sisi belakang benteng dengan bantuan tali rami dan teknik pernapasan ringan. Angin laut yang kencang mencoba menghempaskan mereka ke jurang, namun tekad mereka lebih kuat dari badai mana pun.
Saat mereka mencapai lubang udara di puncak tebing, Tirta bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang keluar dari sana. Itu bukan udara biasa; itu adalah hawa murni dari ritual hitam yang sedang berlangsung.
"Kita masuk," bisik Tirta.
Satu per satu, mereka merayap ke dalam lorong sempit yang lembap. Di dalam sana, suara nyanyian mantra kembali terdengar, lebih keras dan lebih mengerikan daripada di Tebing Ratapan. Ritual Gerhana Darah telah dimulai, dan mereka baru saja masuk ke dalam jantung pusaran bencana.
Tirta memegang hulu pedangnya erat-erat. Di kegelapan lorong itu, matanya mulai berpijar perak. Infiltrasi ke Benteng Karang Bolong telah dimulai, dan sejarah nusantara akan ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam gua-gua karang ini dalam beberapa jam ke depan.