Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Di Balik Lampion dan Senyum
Istana berubah wajah tiga hari sebelum pesta tahunan.
Lampion digantung di setiap lorong. Kain sutra baru menutup tiang-tiang tua. Bau dupa bercampur dengan aroma bunga segar yang didatangkan dari luar kota.
Semua tampak meriah.
Terlalu meriah.
Song An berdiri di depan jendela paviliunnya, memperhatikan pelayan yang lalu-lalang membawa baki dan gulungan kain.
“Ramai sekali,” gumamnya.
Mei, pelayannya, mengangguk cepat. “Lebih ramai dari tahun lalu, Selir.”
“Karena tamunya lebih banyak,” jawab Song An. “Dan karena orang-orang ingin terlihat sempurna.”
Mei menoleh ragu. “Selir tidak suka pesta?”
Song An tersenyum tipis. “Aku tidak suka kepalsuan.”
—
Di paviliun belakang, Selir Li dan Selir Zhang duduk berhadapan.
“Gaun ini terlalu mencolok,” kata Selir Zhang sambil memegang kain berwarna merah terang.
“Itu justru yang mereka inginkan,” jawab Selir Li. “Agar kita sibuk dengan penampilan.”
“Dan tidak melihat sekeliling,” lanjut Selir Zhang.
Selir Li menghela napas. “Song An akan bilang begitu.”
“Karena dia selalu benar,” jawab Selir Zhang sambil tertawa kecil.
—
Mereka bertiga bertemu sore itu, seperti biasa, di paviliun kecil yang kini dihiasi pita dan lampion.
“Aku benci lampion,” kata Song An begitu duduk.
Selir Zhang terkekeh. “Kenapa?”
“Karena semua orang bersembunyi di balik cahaya.”
Selir Li mengangguk pelan. “Aku merasa istana ini seperti panggung.”
“Memang,” jawab Song An. “Dan kita sedang menonton sebelum tirai dibuka.”
—
Persiapan pesta membuat Selir Chen jarang terlihat sendirian.
Ia selalu ditemani pelayan.
Atau berada di tempat ramai.
“Aneh,” gumam Selir Zhang. “Biasanya dia suka menyendiri.”
“Dia tahu,” kata Song An.
“Tahu apa?”
“Bahwa dia diawasi.”
Selir Li menegang. “Kau yakin?”
“Aku yakin,” jawab Song An. “Dan itu membuatnya lebih berbahaya.”
—
Malam itu, Kaisar Shen memanggil Song An lagi.
Namun kali ini, bukan di ruang kerja.
Di aula kecil yang sudah setengah dihias.
“Kau lihat ini?” tanya Kaisar Shen sambil menunjuk panggung musik.
“Ya,” jawab Song An. “Tempat sempurna untuk pengalihan.”
“Dan kau juga tahu,” lanjut Kaisar Shen, “bahwa malam pesta akan kacau jika kita salah langkah.”
Song An menyilangkan tangan. “Yang Mulia ingin aku melakukan apa?”
“Menjadi dirimu sendiri.” jawab Kaisar Shen
Song An mengangkat alis. “Itu perintah atau harapan?”
Kaisar Shen tersenyum kecil. “Keduanya.”
—
Hari pesta tiba.
Istana bersinar.
Tamu-tamu berdatangan dari berbagai kekaisaran. Bahasa asing terdengar di setiap sudut. Tawa, pujian, dan basa-basi mengalir tanpa henti.
Song An duduk di tempatnya.
Tidak menonjol.
Tidak bersembunyi.
“Selir tampak tenang,” bisik Mei.
“Karena badai biasanya datang saat semua orang lengah,” jawab Song An.
—
Selir Li dan Selir Zhang duduk tidak jauh darinya.
Mereka saling bertukar pandang.
Isyarat kecil.
Hanya mereka yang mengerti.
“Aku melihat Selir Chen,” bisik Selir Zhang saat musik mulai dimainkan.
“Di mana?” tanya Song An tanpa menoleh.
“Dekat tamu dari barat.”
Song An mengangguk. “Catat.”
—
Sepanjang malam, Song An memperhatikan.
Siapa yang terlalu sering keluar masuk aula.
Siapa yang berbicara terlalu dekat.
Siapa yang tersenyum terlalu lebar.
Dan siapa yang terlalu tenang.
—
Di sela musik, seorang tamu mendekat ke Song An.
“Kau tampak tidak menikmati pesta,” katanya dalam bahasa yang kaku.
Song An tersenyum sopan. “Aku menikmati mengamati.”
“Menarik,” jawab pria itu. “Kau berbeda.”
“Aku sering mendengarnya.”
Pria itu tertawa kecil. “Hati-hati. Orang yang berbeda sering dianggap ancaman.”
Song An menatapnya lurus. “Atau justru cermin.”
Pria itu terdiam sejenak sebelum pamit.
Song An mencatat wajahnya.
—
Selir Chen melintas.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sesaat.
Namun cukup lama untuk menyampaikan pesan.
Kau tahu.
Dan jawaban itu terlihat jelas di mata Selir Chen.
Aku juga.
—
Musik mengeras.
Tarian dimulai.
Lampion berayun lembut.
Namun di balik semua itu, ketegangan mengental.
Selir Li mendekat ke Song An. “Ada pelayan yang tidak kukenal di sisi timur.”
“Pakaian?” tanya Song An cepat.
“Sedikit lebih gelap.”
Song An berdiri. “Aku ke sana.”
—
Di lorong samping, Song An berhenti.
Ia mendengar suara berbisik.
“…malam ini…”
“…setelah kembang api…”
Song An tidak masuk lebih jauh, ia kembali.
Dan langsung menemui Kaisar Shen.
“Ada pergerakan,” katanya singkat.
Kaisar Shen mengangguk. “Aku juga merasakannya.”
“Belum sekarang,” lanjut Song An. “Tapi malam ini.”
Kaisar Shen menatap aula penuh tamu.
“Baik,” katanya. “Kita tunggu.”
—
Saat kembang api pertama meledak di langit, semua orang menengadah.
Sorak terdengar.
Cahaya memenuhi udara.
Dan di saat itulah Song An melihat Selir Chen bergerak menjauh dari keramaian.
Sendirian.
Tanpa pelayan.
Song An menoleh pada Selir Li dan Selir Zhang.
Mereka mengangguk.
Tanpa kata.
—
Mereka tidak mengejar.
Mereka mengikuti dari jauh.
Selir Chen berhenti di dekat kolam belakang.
Ia mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya.
Song An melangkah maju.
“Indah, bukan?” katanya santai.
Selir Chen terkejut. “Kau—”
“Kembang api,” lanjut Song An. “Atau mungkin kekacauan?”
Selir Chen tersenyum tegang. “Kau terlalu banyak berpikir.”
“Mungkin,” jawab Song An. “Atau mungkin aku berpikir tepat.”
Selir Li dan Selir Zhang muncul di sisi lain.
Jalan tertutup.
Hening.
“Sudah cukup,” kata Selir Zhang pelan.
Selir Chen menatap mereka satu per satu.
“Kalian tidak mengerti,” katanya akhirnya. “Aku hanya ingin keluar.”
“Dengan cara menghancurkan?” tanya Song An.
Selir Chen tertawa pahit. “Istana ini menghancurkanku duluan.”
Song An menatapnya lama.
“Aku mengerti,” katanya pelan. “Tapi bukan begini caranya.”
—
Langkah kaki terdengar.
Pasukan istana muncul dari balik bayangan.
Kaisar Shen berdiri di depan.
Wajahnya tenang.
“Cukup,” katanya.
Selir Chen jatuh berlutut.
—
Malam itu berakhir tanpa kerusuhan.
Tanpa darah.
Tanpa teriakan.
Tamu-tamu pulang dengan kesan pesta yang sempurna.
Namun di balik dinding istana, satu topeng jatuh.
—
Di paviliun, Song An duduk bersama Selir Li dan Selir Zhang.
“Capek,” kata Selir Zhang.
“Tapi lega,” tambah Selir Li.
Song An tersenyum kecil. “Ini baru awal.”
“Masih banyak?” tanya Selir Zhang.
“Selalu,” jawab Song An.
—
Di kejauhan, Kaisar Shen memandang paviliun itu.
Ia tersenyum pelan.
Bukan karena kemenangan.
Melainkan karena untuk pertama kalinya Ia tidak sendirian menjaga istana.
Bersambung