"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_15
Suara gemercik air menjadi satu-satunya pengiring di kamar mandi itu, memantul di dinding marmer dan menciptakan gema lembut yang justru membuat suasana semakin menyesakkan. Uap tipis mengepul dari air hangat, membungkus kami dalam ruang sempit yang terasa terlalu dekat—terlalu intim.
Desahan napas Narendra terdengar tidak beraturan. Ada sesuatu yang bergetar di balik tarikan napasnya, seperti pertempuran yang ia coba menangkan sendirian. Kedua tangannya bertumpu di pundakku, mendorongku pelan, seolah meminta jarak namun tak benar-benar ingin aku pergi.
“Aku sudah berjanji,” ucapnya akhirnya, suaranya berat dan tertahan. Tatapannya menelanku, seakan mencari alasan agar aku berhenti… atau justru sebaliknya.
“Aku hanya akan melakukan ini dengan Ajeng.”
Aku menelan ludah.
"Kamu harus tenang, Rayna,"batinku berusaha menenangkan diri.
Jangan biarkan dia tahu bahwa kamulah yang menginginkan ini. Buat seolah-olah dia yang membutuhkanmu. Jika tidak, ketika kesadarannya kembali, kamulah yang akan disalahkan. Dan jarak itu… akan semakin jauh. akalku terus bertempur dengan hatiku
Aku mengulas senyum terbaikku—senyum yang kupelajari dari bertahun-tahun berpura-pura baik-baik saja. Tatapanku kubuat selembut dan semengoda mungkin, tanpa terlihat memaksa.
“Aku tidak akan pernah membuat suamiku ingkar janji,” kataku pelan, nyaris berbisik. “Hentikan aku jika aku melampaui batas. Atau jika kamu sudah merasa lebih baik.”
Narendra terdiam.
Tak ada lagi penolakan di wajahnya. Tidak juga persetujuan yang jelas. Namun keheningan itu berbicara banyak. Tangannya yang sempat ragu kini bergerak kembali, gelisah, seolah tubuhnya tidak sejalan dengan pikirannya.
“Apakah ini terasa sakit?” tanyaku lirih, mencoba menarik perhatiannya, mencoba membuatnya tetap sadar bahwa ia masih memiliki kendali.
Jawabannya hanya berupa helaan napas panjang, berat, disertai gumaman yang membuat dadaku bergetar. Aku tahu—aku bukan perempuan yang berpengalaman dalam urusan seperti ini. Bahkan jauh dari itu. Namun hidup kadang memaksa kita belajar dari cerita orang lain.
Bayangan Maya terlintas di benakku. Celotehnya yang sering membuatku menutup telinga, ceritanya tentang hubungan intim bersama sang suami yang dulu terasa begitu menggelikan. Kini, tanpa kusadari, semua itu justru menjadi panduan yang tak pernah kupinta.
Aku bergerak perlahan, penuh kehati-hatian. Setiap sentuhan, setiap gerakan, kulakukan dengan ragu namun penuh niat. Aku bisa merasakan ketegangan Narendra meningkat—napasnya semakin memburu, tubuhnya semakin kehilangan keseimbangan.
Ia hampir terhuyung, dan refleks aku membimbingnya menuju bathtub. Air hangat menyambut kami saat tubuhnya rebah, seolah sengaja menenangkan badai yang sedang mengamuk di dalam dirinya.
Aku mengatur suhu air, memastikan kehangatannya pas. Tatapan Narendra mengikuti setiap gerakku—ke mana pun aku melangkah, ke apa pun tanganku menyentuh. Bahkan saat aku meraih botol sabun beraroma lavender, aroma kesukaannya, matanya tak lepas dariku.
Aku menyusul masuk ke bathtub, memiringkan tubuh agar bisa menghadapnya. Kedekatan ini membuat jantungku berdentum tidak karuan. Dengan gerakan hati-hati, aku membantu melepas kaus yang ia kenakan.
Untuk sesaat, aku terdiam.
Ini pertama kalinya aku benar-benar melihatnya tanpa sekat—tanpa jarak. Tubuh Narendra terlihat begitu nyata, begitu dekat, dan entah mengapa dadaku terasa sesak oleh perasaan yang sulit kujelaskan.
“Kita… mulai sekarang?” tanyaku, memastikan, suaraku sedikit bergetar.
Narendra memejamkan mata. “Maafkan aku, Ajeng,” gumamnya. “Aku terpaksa. Aku tersiksa.”
Kata-kata itu seharusnya membuatku berhenti. Seharusnya. Namun justru di situlah emosiku terpicu. Ada api yang menyala, liar dan tak terkendali. Aku tak lagi tahu apakah ini cemburu, sakit hati, atau keinginan untuk diakui.
Entah keberanian dari mana yang menyusup ke dalam diriku, satu hal menjadi jelas: aku ingin diakui. Aku ingin menjadi istrinya, sepenuhnya.
Aku mendekat dan mengecup bibirnya singkat—hanya sekejap. Namun cukup untuk membuatnya membuka mata dan menatapku, terkejut, tapi tak menolak.
Tanganku bergerak, menyentuhnya dengan ragu, lalu semakin yakin. Tubuhnya bereaksi, dan aku bisa merasakan ketegangan yang selama ini ia tahan.
Desah kecil lolos dari bibirku sendiri—suara yang bahkan tak kusangka akan keluar.
Narendra menoleh cepat, menatapku. Aku tahu inilah momennya. Aku mengubah ekspresiku, memainkan peran yang bahkan tak kusadari bisa kulakukan. Aku menggigit bibir bawahku, menatapnya dengan mata yang meminta, bukan memaksa.
Tubuh kami saling mencari, saling merespons. Air di bathtub bergoyang pelan, menciptakan irama yang anehnya menenangkan.
Namun tepat sebelum segalanya melampaui batas, aku menarik diri.
Narendra langsung menatapku tajam. “Kenapa?”
Aku berdiri, keluar dari bathtub, meninggalkannya dengan pertanyaan yang menggantung di udara.
“Apa aku sudah bilang kalau aku sudah merasa lebih baik?” tanyanya ringan, aku berpura-pura polos.
Di dalam hati, aku hampir tertawa. *Berhasil.* Strategi tarik-ulur Maya ternyata memang berbahaya… dan efektif.
“Bukankah kamu hanya ingin melakukan itu dengan Ajeng?” lanjutku, suaraku kini lebih tenang. “Kalau aku melangkah terlalu jauh, aku bisa kehilangan kendali. Dan kalau itu terjadi, kamu tak akan bisa menghentikanku.”
Aku membelakanginya, perlahan melepas jilbab bergo yang sejak tadi menempel di kulitku. Rambutku terurai, jatuh menutupi bahu. Aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku, bahkan sebelum ia menyentuhku.
Ia berbalikkan tubuhku dengan satu gerakan cepat, menahan tengkukku, dan melumat bibirku tanpa aba-aba. Napasku tercekat. Ia baru melepaskannya saat aku benar-benar kehabisan udara.
“Mas—”
Belum sempat aku bicara, ia kembali menciumku, lebih dalam, lebih mendesak.
Tubuhku bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tatapan Narendra kini berbeda—tidak lagi ragu, tidak lagi menahan. Ada nafsu yang terang-terangan, bercampur emosi yang sulit dibaca.
“Mas… aku boleh minta sesuatu?” tanyaku akhirnya.
Ia hanya mengangguk.
“Lunakkan pandanganmu,” ucapku pelan. “Bicaralah dengan lembut. Aku istrimu… bukan perempuan yang kau perlakukan tanpa perasaan.”
Ia terhenti.
Untuk sesaat, aku menyesal. Takut telah merusak segalanya. Namun kemudian ia mendekat, membelai pipiku dengan lembut, dan mencium bibirku perlahan—kali ini penuh kehati-hatian.
“Kau suka?” tanyanya, suaranya begitu lembut hingga dadaku terasa hangat.
Aku mengangguk.
Ia tersenyum kecil. “Kalau begitu, biarlah begitu.”
Malam itu menjadi kabur. Yang kuingat hanyalah kehangatan, sentuhan yang tak tergesa, dan rasa diterima yang perlahan mengisi ruang kosong di hatiku. Waktu seolah kehilangan makna.
Saat semuanya berakhir, kami terbaring berdampingan, sama-sama berusaha mengatur napas. Dinginnya udara kamar mandi berganti panas yang menyelimuti tubuh.
Aku menatapnya diam-diam. Narendra terlihat begitu damai—peluh di dahinya, mata terpejam, wajah yang jarang kulihat selembut ini. Aku tersenyum, merasa anehnya bersyukur.
Saat ia membuka mata, aku buru-buru memalingkan wajah, rasa malu tiba-tiba menyerbu.
Ia bangkit, mengambil tisu, lalu kembali mendekat. Aku menarik selimut, tapi ia menahannya.
“Biar aku bersihkan dulu,” katanya lembut.
Sentuhannya membuatku menggeliat kecil. Ia hanya tertawa pelan.
Namun saat ia melirik ke bawah dan mendesah pelan, aku tahu—badai itu belum benar-benar usai.
“Ah… sial,” gumamnya.
Dan aku hanya bisa tersenyum, menyadari satu hal, malam ini aku sudah berhasil mengambil hak ku dan mengalahkan Ajeng dengan telak
plisss dong kk author tambah 1 lagi