NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Persiapan Pesta

Ayuna tertegun.

Akhir-akhir ini, Renan selalu pulang tepat waktu, entah dari kantor maupun dari luar. Ia hampir lupa bahwa dulu pria itu sangat gemar menghadiri jamuan dan pesta.

Ia bahkan hampir melupakan sisi Renan yang dulu terbiasa berada di tengah keramaian.

Renan sendiri merasa sedikit canggung. Orang-orang yang mengundangnya adalah teman-teman lamanya dalam lingkaran keluarga kaya. Jika ia menolak begitu saja, rasanya tidak pantas.

“Sekarang susah ditolak,” kata Adrian dengan nada serba salah.

“Dia sudah memberitahuku lebih dulu.”

“Kapan?” tanya Renan.

“Akhir pekan depan. Malam hari. Katanya dia sudah

mengirim pesan padamu untuk konfirmasi,” Adrian mengangkat alis.

Renan mengangguk singkat. “Oke. Aku akan datang.”

Ia melirik Ayuna. “Aku dan Ayuna akan pergi bersama.”

Adrian langsung manyun. “Iya, iya. Sudah kuduga.”

Tak lama kemudian, ruangan kembali sepi.

Ayuna tampak ragu sebelum akhirnya berkata pelan,

“Kamu pergi saja bersenang-senang. Aku tidak terlalu cocok di tempat ramai seperti itu.”

“Kalau kamu tidak ikut,” jawab Renan sambil mengetuk layar ponselnya pelan,b“aku pasti tidak bisa pulang lebih awal.”

Ia melanjutkan dengan santai, “Aku sudah bilang pada Edric, pesta itu tidak boleh ada rokok.”

“Kamu ikut denganku. Kita pulang cepat. Ke esokan harinya kita masih harus mencoba gaun pengantin.”

Kalimat terakhir itu langsung menghentikan penolakan Ayuna.

Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Ya sudah… terserah kamu.”

Renan mendongak dan menyeringai tipis. “Sekarang jadi patuh begini?”

Ayuna tertawa kecil. Ia bangkit, lalu—seolah memberanikan diri—duduk di pangkuan Renan.

Karena jarang mengambil inisiatif sedekat itu, pipinya langsung memerah.

Renan menatapnya dengan ekspresi geli.

“Datang-datang menggoda, tapi malah malu?”

“Ngomong-ngomong,” Ayuna menoleh, “gadis yang dulu sering datang ke kantormu itu ke mana?”

Ia sudah lama menyadarinya. Gadis itu biasanya selalu ada, bersikap dingin padanya setiap kali ia berkunjung. Namun beberapa kali terakhir, sosok itu sama sekali tak terlihat.

“Yang mana?” Renan tampak benar-benar tidak ingat.

“Yang sering ke kantor kamu,” ulang Ayuna, penasaran.

Renan menjawab ringan, “Dia dipindahkan. Melakukan kesalahan.”

“Kesalahan apa?”

“Dia menggoda suamimu.”

Renan menatapnya tanpa daya, lalu menambahkan,

“Kenapa kamu tidak pernah bilang, padahal kamu tahu niatnya tidak baik?”

Ayuna terdiam sejenak sebelum menjawab jujur, “Dia hanya sering datang ke kantormu. Kalau aku sampai meminta dia dipecat, bukankah itu akan membuatku terlihat picik?”

Namun di dalam hatinya, ia memang merasa lega karena tidak melihat gadis itu lagi.

“Kamu ini,” Renan menghela napas kecil.

“Kamu istri bos. Apa yang perlu kamu takutkan?”

Ayuna merasa dadanya menghangat. Ia tersenyum lebar tanpa sadar. “Renan… aku benar-benar senang.”

Renan mengangkat alis, lalu tersenyum tipis.

“Selama kamu senang, itu sudah cukup.”

❀❀❀

Akhir pekan pun tiba.

Atas permintaan khusus Renan, pihak butik datang membawa deretan koleksi terbaik mereka. Gaun-gaun itu disusun rapi di ruang tengah, masing-masing terbungkus plastik bening dengan detail berkilau yang memantul lembut di bawah cahaya lampu.

Beberapa menit kemudian, Ayuna turun dari lantai atas. Ekspresinya masih menyimpan kebingungan, seolah belum benar-benar tahu alasan ia diminta ke bawah.

Begitu tiba di ruang tengah, langkahnya terhenti.

Deretan gaun tersusun rapi di hadapannya.

“Renan?” panggilnya pelan. “Ini… untuk apa?”

Renan mengalihkan perhatian dari ponselnya.

“Kamu lupa?” katanya tenang. “Hari ini kita harus menghadiri pesta ulang tahun Edric.”

Ayuna terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil saat ingatannya kembali.

“Oh… iya.” Ia mengangguk pelan. “Aku benar-benar hampir lupa.”

“Makanya aku siapkan,” jawab Renan singkat.

“Tapi sampai sebanyak ini?” tanyanya heran.

“Karena aku ingin kamu tampil paling cantik,” jawab Renan singkat, seolah itu hal yang wajar.

"Pilih saja yang mana yang kamu suka," pinta Renan.

Ayuna melangkah milirik deretan pakaian di rak yang terlihat sangat indah dan mahal. Dia bingung harus memilih yang mana.

Ia menoleh ke arah suaminya, seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata. “Bantu aku pilih, dong.”

Renan yang kembali menatap ponselnya segera berdiri dari sofa. Dengan satu tangan dimasukkan santai ke saku celana, ia melangkah mendekat dan mulai meneliti gaun-gaun itu satu per satu, ekspresinya serius namun tenang.

“Coba yang ini,” katanya sambil menunjuk sebuah gaun hitam.

Pelayan butik yang membantu mereka tak bisa menahan senyum. Sambil menyiapkan gaun pilihan Renan, ia mendekat ke Ayuna dan berbisik pelan, “Suami Ibu perhatian sekali. Semua pakaian ini koleksi terbaru. Pak Renan sendiri yang menelepon dan meminta kami membawa pilihan yang paling cocok untuk Ibu.”

Ayuna tersenyum tipis. Ia memang merasakannya, perhatian Renan yang semakin nyata setiap harinya. Kadang, semua ini masih terasa terlalu indah untuk benar-benar ia genggam.

Gaun pilihan Renan adalah sebuah gaun hitam tanpa lengan. Aksen berkilau menghiasi bagian tubuhnya, dengan detail mutiara kecil di kerah yang menegaskan garis leher dan tulang selangka Ayuna. Roknya berlapis, jatuh anggun hingga memberi kesan mewah yang tenang.

“Bagaimana, Bu Ayuna?” tanya pelayan itu setelah membantu Ayuna mengenakannya.

Ayuna menatap pantulan dirinya di cermin cukup lama, lalu mengangguk mantap. “Iya, yang ini pas banget.”

Pelayan butik mengangguk puas, lalu memberi isyarat pada tim lainnya. Tak lama kemudian, penata rambut yang sejak tadi menunggu pun melangkah maju, membawa perlengkapan mereka.

“Kalau begitu, kita lanjut menata rambutnya, Bu,” ucapnya ramah.

Ayuna kembali duduk di depan cermin. Penata rambut mulai bekerja dengan cekatan, mengeriting rambutnya dengan gelombang besar.

Rambut panjang itu dibiarkan terurai jatuh di dada, membingkai wajahnya dengan garis yang lebih tegas. Perlahan, bayangan di cermin menunjukkan sosok yang berbeda, lebih dewasa, lebih berani, namun tetap lembut dengan caranya sendiri.

Setelah rambut selesai, seorang pelayan lain mendekat membawa kotak perhiasan berlapis beludru. Kalung sederhana dengan liontin kecil dikenakan di leher Ayuna, kilauannya lembut, tidak mencolok.

Sepasang anting mutiara kecil disematkan di telinganya, disusul gelang tipis di pergelangan tangan. Semuanya dipilih ringan dan nyaman, tanpa memberi tekanan berlebih.

Ayuna kemudian mengenakan sepasang sepatu flat elegan berwarna hitam dengan ujung membulat. Desainnya sederhana, namun jelas berkelas, memberikan kenyamanan yang ia butuhkan.

Sebuah tas tangan kecil dengan tali pendek diserahkan padanya, cukup untuk membawa barang-barang penting tanpa membebaninya.

Di sisi lain, Renan memanfaatkan waktu itu untuk menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan. Sesekali ia melirik ke arah Ayuna, memastikan semuanya berjalan baik.

Saat Renan selesai dan merapikan jam tangan di pergelangan tangan, Ayuna juga telah benar-benar siap.

Tatapan Renan berhenti sejenak padanya. Bukan hanya kekaguman yang terpancar, tapi juga kehati-hatian dan rasa ingin melindungi.

“Selera aku memang tidak pernah salah,” ucapnya pelan.

Ayuna tersenyum malu-malu.

“Ayo pergi.”

Renan tidak lagi menggodanya. Ia hanya mengangguk, lalu menggenggam tangan Ayuna dengan hati-hati, seolah memastikan langkahnya aman sejak detik itu.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Iya, sih. Tapi, kan namanya juga novel. Apa saja bisa terjadi 😅
total 1 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!