Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG RIMBA KEMATIAN
Matahari baru saja mengintip di balik cakrawala, menyemburkan warna jingga yang memantul di atas hamparan pasir abu-abu kaldera Bromo. Tirta berdiri di mulut gua Widodaren, mengenakan pakaian perjalanan baru pemberian Mpu Sengkala—sebuah setelan kain rami berwarna hitam dengan pelindung lengan dari kulit kijang. Di pinggangnya, Sasmita Dwipa tergantung dengan gagah, dibalut sarung pedang kayu jati yang diukir dengan pola awan.
Mpu Sengkala berdiri di depannya, tangannya yang kekar bersedekap di dada. Di samping Tirta, Dimas sudah siap dengan galah kayunya, meski matanya masih nampak sedikit mengantuk.
"Jalan yang kalian tempuh menuju timur akan membawa kalian ke Alas Purwo," ujar Mpu Sengkala, suaranya parau namun penuh peringatan. "Tapi sebelum itu, kalian harus menyeberangi Hutan Larangan. Di sana, pohon-pohon memiliki mata dan angin memiliki telinga. Musuh terbesar kalian bukan lagi prajurit Nyai Rukmina, melainkan pikiran kalian sendiri."
Tirta menjura, membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih atas segalanya, Mpu. Aku tidak akan melupakan budimu."
"Jangan berterima kasih padaku sebelum kau berhasil membawa pulang gadis itu," potong Mpu Sengkala ketus, meski ada kilat bangga di matanya. "Sekarang pergilah. Jangan menoleh ke belakang."
Tirta dan Dimas mulai melangkah menuruni bukit pasir. Sepanjang perjalanan meninggalkan kawah, suasana terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Tirta bisa merasakan berat pedangnya yang baru, bukan secara fisik, melainkan secara spiritual. Setiap langkahnya terasa lebih mantap, namun hatinya tetap waspada.
"Tirta," panggil Dimas setelah mereka berjalan cukup jauh dari jangkauan suara Mpu Sengkala. "Apa kau merasakannya? Sejak kau keluar dari kawah itu... auramu berubah. Kau terasa seperti gunung yang siap meletus, namun permukaannya tertutup salju yang sangat dingin."
Tirta menghentikan langkah sejenak, menatap telapak tangannya. "Aku hanya merasa lebih... jernih, Dimas. Aku bisa mendengar detak jantungmu, aku bisa merasakan arah angin sebelum ia bertiup. Tapi di saat yang sama, aku merasa sangat haus akan keadilan."
"Haus akan keadilan atau haus akan darah?" tanya Dimas dengan nada yang setengah bercanda namun menyimpan kekhawatiran nyata.
Tirta terdiam. Pertanyaan itu menghunjam tepat di ulu hatinya. Ia tidak menjawab dan hanya melanjutkan langkahnya.
Tiga hari perjalanan mereka tempuh menuju arah tenggara. Pemandangan gunung yang gersang perlahan berganti menjadi hutan hujan yang sangat lebat. Pohon-pohon raksasa dengan akar menjalar nampak seperti tangan-tangan raksasa yang mencoba menarik siapa pun yang lewat ke dalam tanah. Cahaya matahari semakin sulit menembus kanopi daun yang rapat, menciptakan suasana remang-remang meski hari masih siang.
Saat mereka memasuki perbatasan Hutan Larangan, udara mendadak berubah menjadi sangat lembap dan berbau wangi bunga melati yang menyengat—tanda yang tidak lazim di tengah hutan liar.
"Tunggu," Tirta mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Dimas berhenti.
"Ada apa?" Dimas berbisik, jemarinya mempererat pegangan pada galahnya.
"Suara burung... hilang," desis Tirta.
Benar saja. Hening yang tercipta sangatlah tidak alami. Tidak ada suara serangga, tidak ada desir daun. Hanya ada suara napas mereka sendiri yang terdengar sangat keras di telinga. Tiba-tiba, kabut putih yang sangat tebal mulai merayap dari balik batang-batang pohon, menelan jalan setapak di depan mereka hanya dalam hitungan detik.
"Jangan lepaskan pandanganmu dariku, Dimas!" teriak Tirta.
Namun, saat Tirta menoleh, Dimas sudah tidak ada di sana. Sahabatnya yang hanya berjarak satu langkah tadi lenyap ditelan kabut yang seolah memiliki kehendaknya sendiri.
"Dimas! Dimas Rakyan!"
Suara Tirta memantul, bergema berkali-kali namun tidak ada jawaban. Tirta menghunus Sasmita Dwipa. Cahaya perak kemerahan terpancar dari bilah pedangnya, sedikit mengusir kegelapan kabut di sekelilingnya. Namun, kabut itu tidak lari; ia justru semakin mendekat, membentuk pusaran-pusaran yang nampak seperti wajah-wajah orang yang dikenal Tirta.
"Tirta... mengapa kau membiarkan aku mati?"
Suara itu lembut, namun sanggup meruntuhkan pertahanan mental Tirta. Ia mematung. Di depannya, dari balik kabut, muncul sosok Ki Darman—ayahnya. Sang ayah berdiri dengan pakaian petani yang bersimbah darah, luka tebasan di punggungnya masih menganga lebar.
"Bapak...?" Tirta menjatuhkan lututnya ke tanah. Air mata yang selama ini ia tahan sejak kematian ayahnya mulai jatuh membasahi pipinya. "Bapak, aku minta maaf... aku tidak cukup kuat waktu itu..."
"Kau lemah, Tirta," sosok ayahnya melangkah maju, wajahnya yang tadi lembut kini berubah menjadi penuh amarah dan kebencian. "Kau menikmati kekuatan ini sementara aku membusuk di tanah. Kau pengecut yang lari ke gunung sementara Mayangsari diperkosa oleh nasib!"
"Tidak! Bukan begitu!" jerit Tirta.
Tiba-tiba, sosok itu berubah lagi. Kini di depannya berdiri Mayangsari. Pakaiannya compang-camping, matanya sayu dan penuh air mata. Ia menatap Tirta dengan tatapan kecewa yang sangat dalam. "Kau terlambat, Tirta. Aku sudah mati karena menunggumu yang terlalu lama bermain dengan palu dan api."
Rasa sakit fisik yang ia rasakan di kawah Bromo tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan mental ini. Tirta merasakan kepalanya seolah hendak pecah. Sinar Gadhing di dalam tubuhnya bergejolak hebat, tidak stabil karena emosinya yang hancur. Pedangnya, Sasmita Dwipa, mulai bergetar hebat di tangannya.
"Ini tidak nyata... ini hanya tipu daya hutan," bisik Tirta pada dirinya sendiri, mencoba memanggil sisa-sisa logikanya.
Namun, ilusi itu terasa sangat nyata. Ia bisa mencium bau tembakau favorit ayahnya. Ia bisa merasakan keharuman rambut Mayangsari. Hutan Larangan sedang mengunyah jiwanya, mencari celah terkecil dari rasa bersalah untuk menghancurkannya dari dalam.
Tepat saat "Mayangsari" hendak membelai wajahnya dengan tangan yang dingin seperti es, Tirta teringat kata-kata Mpu Sengkala: "Jangan bertarung karena benci pada musuh di depanmu, tapi bertarunglah karena cinta pada apa yang ada di belakangmu."
Tirta memejamkan mata. Ia membiarkan bayangan-bayangan itu menyentuhnya. Ia berhenti melawan dengan pedang. Ia mulai bernapas dengan ritme yang diajarkan Ki Ageng Lingga—Napas Rembulan.
"Ayah... Mayang... aku mencintai kalian," bisik Tirta dengan tenang. "Dan karena aku mencintai kalian, aku tidak akan membiarkan bayangan kalian dinodai oleh iblis di hutan ini."
Tirta menyalurkan energi Sinar Gadhing yang jernih ke seluruh syarafnya. Bukan untuk menyerang, tapi untuk memurnikan pikirannya sendiri. Saat ia membuka mata, pupil matanya berkilat perak murni yang sangat tenang.
"Lenyaplah," perintah Tirta.
Ia mengayunkan Sasmita Dwipa dalam satu gerakan melingkar horizontal. Gelombang energi perak-merah melesat keluar, menghantam kabut di sekelilingnya. Bukan pohon yang tertebas, melainkan dimensi ilusi yang menyelimutinya.
PRANG!
Suara seperti kaca pecah terdengar di udara. Kabut putih itu buyar seketika, menyingkap pemandangan hutan yang sebenarnya. Di depannya, Dimas sedang berdiri mematung dengan galah kayu yang siap menghujam tenggorokannya sendiri—rupanya Dimas juga sedang mengalami ilusi yang sama mengerikannya.
"Dimas! Sadar!" Tirta melompat dan memukul pergelangan tangan Dimas, membuat galah itu terjatuh.
Dimas tersentak, napasnya memburu, keringat dingin membanjiri wajahnya. Ia menatap Tirta dengan linglung sejenak sebelum akhirnya jatuh terduduk. "Aku... aku baru saja melihat ibuku... ia menyuruhku untuk menyusulnya ke alam kubur..."
Tirta merangkul pundak sahabatnya. "Itu bukan ibumu, Dimas. Itu adalah napas hutan ini. Kita sudah memasuki wilayah kekuasaan Tujuh Bayangan."
Di kejauhan, dari balik pepohonan yang gelap, sepasang mata merah mengamati mereka. Suara tawa dingin yang halus terbawa angin, menghilang di antara dedaunan. Tirta tahu, perjalanan melewati Hutan Larangan ini baru saja dimulai, dan mereka baru saja mengetuk pintu neraka yang sebenarnya.
"Ayo berdiri, Dimas," Tirta membantu sahabatnya bangun. "Kita tidak boleh berhenti di sini. Jika kita berhenti, hutan ini akan memakan kita hidup-hidup."
Dengan pedang yang masih terhunus, Tirta memimpin jalan, melangkah lebih dalam ke jantung kegelapan hijau yang menanti di depan mereka. Tekadnya kini tidak lagi goyah oleh bayangan masa lalu; ia telah melampaui ketakutannya sendiri, siap menghadapi apa pun yang bersembunyi di balik rimbunnya Hutan Larangan.