NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Dipaksa jadi mantu

Jordan menarik kursi sedikit ke belakang, memberi jarak yang aman antara dirinya dan tatapan neneknya yang tajam tapi penuh sayang.

“Nenek gak perlu tahu sekarang,” katanya akhirnya, suaranya dibuat serendah dan setenang mungkin. “Yang penting nenek sehat.”

Nenek Rita mendengus pelan. “Kamu selalu begitu. Menyimpan semuanya sendiri.”

Jordan tersenyum tipis, kali ini lebih lelah daripada sebelumnya. “Aku cuma gak mau nenek khawatir.”

“Justru nenek khawatir karena kamu begini,” balas Nenek Rita cepat. Tangannya bergerak merapikan selimut di pangkuannya, lalu ia menatap Jordan lebih lama. Nada suaranya melunak. “Jordan, kamu itu harapan keluarga. Anak tunggal. Jangan egois. Hidup bukan cuma soal kerjaan aja. Kamu harus nyari pasangan untuk ngurus kamu pas tua.”

Jordan terdiam. Kata-kata itu menekan tepat di tempat yang paling ia hindari. Ia mengangguk pelan. “Iya, Nek.”

Jawaban singkat. Aman. Tidak memicu perdebatan baru.

Nenek Rita menatapnya beberapa detik, seolah menimbang apakah akan melanjutkan atau tidak. Akhirnya ia menghela napas, menyerah untuk sementara. “Ya sudah. Untuk sekarang nenek ngalah. Kepala nenek pusing kalau bahas kamu.”

Jordan hampir tersenyum lega.

“Nenek mau pulang,” lanjut Nenek Rita. “Tapi jangan kamu yang antar.”

Jordan refleks mengangkat kepala. “Kenapa?”

“Biar nenek gak ngomel lagi di jalan,” jawabnya ringan.

Jordan ingin membantah, tapi melihat sorot mata neneknya, ia mengangguk. “Baik. Tapi aku minta suster temani sampai mobil.”

Nenek Rita berdiri perlahan, mengambil tasnya. “Gak usah. Nenek masih kuat.”

Jordan mengantarnya sampai pintu, memastikan langkah neneknya stabil. Setelah itu, ia berdiri di ambang pintu, menatap punggung renta yang berjalan menjauh di lorong. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup, tapi ia menekannya dalam-dalam.

Lampu-lampu parkiran rumah sakit menyala terang, memantulkan cahaya di aspal yang sedikit lembap. Nenek Rita berjalan pelan, langkahnya teratur meski pikirannya melayang ke mana-mana.

Harapan keluarga, gumamnya dalam hati. Anak itu terlalu keras pada dirinya sendiri.

Ia berhenti sejenak di dekat deretan mobil, menarik napas panjang. Tanpa disadari, kakinya melangkah sedikit ke samping—dan tersandung pembatas rendah yang tak ia lihat.

“Astaghfirullah—!”

Tubuhnya oleng. Tas di tangannya terlepas. Dunia terasa miring sesaat sebelum sebuah tangan cepat menopang lengannya.

“Nek, hati-hati!”

Suara itu terdengar panik tapi lembut. Nenek Rita terkejut, refleks berpegangan pada lengan orang yang menolongnya. Beberapa detik berlalu sebelum keseimbangannya kembali.

“Nenek gak apa-apa?” tanya perempuan itu lagi, kini lebih dekat.

Nenek Rita menoleh. Seorang gadis berdiri di depannya, wajahnya pucat karena kaget, mata beningnya penuh khawatir. Rambutnya diikat sederhana, jaket tipis menutupi tubuhnya.

“Aman, aman,” jawab Nenek Rita sambil menghela napas. “Terima kasih, Nak. Kalau tidak ditahan, nenek sudah jatuh.”

Gadis itu tersenyum lega. “Syukurlah. Saya lihat nenek hampir terjatuh, jadi langsung lari.”

Nenek Rita memperhatikan wajah itu lebih saksama. Ada sesuatu yang hangat, sesuatu yang—entah kenapa—terasa familiar.

“Siapa nama kamu?” tanya Nenek Rita tiba-tiba.

“Nana, Nek,” jawab gadis itu sopan.

Nama itu membuat Nenek Rita terdiam sesaat. Bibirnya melengkung pelan, bukan senyum biasa—melainkan senyum penuh arti.

“Oh,” katanya perlahan. “Kamu pasien kan? Kamu sakit apa? Mash muda kok sakit?" Nenek tampak penasaran lalu bertanya seketika itu juga.

"Sebenarnya aku gak sakit, Nek. Cumaa... Emh, dahlah. Kaki nenek masih sakit?" tanya Nana penuh perhatian.

"Gak... Kaki nenek udah baikan kok." Nenek Rita menghela nafas lalu...

"Kamu masih single?" tanya Nenek Rita tanpa berkedip.

"Ha?" Nana terkejut. Ini pertama kalinya ada orang asing bertanya soal status padanya.

"Kalau kamu single. Nikah ya sama cucu nenek?"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!