Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seakan Terlahir Kembali
Sesampainya di rumah sakit, langkah kaki pak Brahma yang biasanya tegas kini terasa berat. Ia menelusuri lorong berbau obat-obatan itu dengan perasaan campur aduk.
Saat ia sampai di depan kamar yang ditunjukkan resepsionis, ia melihat papan nama di pintu. Ruang Isolasi Onkologi.
Tangannya gemetar saat membuka pintu.
Pemandangan di depannya membuatnya membeku di ambang pintu, napasnya tercekat.
Di atas ranjang putih itu, terbaring sosok yang nyaris tidak ia kenali.
Itu bukan Putri yang ia ingat. Putri yang ia ingat memiliki pipi yang agak berisi meski jarang tersenyum. Putri yang ia ingat memiliki rambut hitam panjang yang sering dikuncir kuda saat membantu pembantu di dapur.
Sosok di depan matanya kini hanyalah tulang berbalut kulit, kepalanya tertutup topi rajut kedodoran. Selang-selang infus dan alat bantu napas melilit tubuh ringkih itu seperti ular. Wajahnya seputih kertas, dengan lingkaran hitam pekat di sekitar mata yang tertutup rapat.
"Putri..." suara Brahma keluar sebagai bisikan parau.
Ia melangkah mendekat, kakinya lemas. Ia menyentuh tangan putrinya, dingin dan begitu kecil.
Bagaimana mungkin ia tidak tahu? Bagaimana mungkin ia tinggal satu atap dengan anak ini selama bertahun-tahun, tapi tidak melihat bahwa anaknya sedang layu perlahan?
Seorang dokter masuk, mengecek monitor detak jantung.
"Dok..." Brahma menatap dokter itu dengan mata berkaca-kaca. "Sejak kapan? Sejak kapan anak saya begini?"
Dokter itu menatap Brahma sekilas, mengenali wajah pengusaha terkenal itu.
"Sudah lama, Pak. Kankernya sudah menyebar jauh sebelum dia dibawa ke sini. Tapi..." Dokter itu menghela napas, menahan rasa geramnya melihat keluarga yang baru muncul sekarang. "Pasien sepertinya menahan rasa sakitnya sendirian selama berbulan-bulan. Tidak ada riwayat pengobatan sebelumnya, tubuhnya hancur bukan hanya karena kanker, tapi karena stres dan kelelahan kronis."
Brahma teringat kejadian malam itu. Saat Putri datang merawat Rian dan pulang dalam keadaan basah kuyup, saat pipi Putri merah bekas tamparan Anggun. Saat ia melihat Putri berjalan gontai di tengah hujan dari balik kaca mobil mewahnya, dan ia memilih untuk memalingkan wajahnya.
Saat itu... anaknya sedang menahan sakit kanker yang menggerogoti tulangnya, dan Brahma justru meninggalkannya.
"Ya Tuhan." Brahma ambruk duduk di kursi samping ranjang.
Air mata tua itu akhirnya tumpah, wibawanya sebagai pengusaha sukses runtuh seketika di hadapan tubuh sekarat anak yang ia sia-siakan.
Ia teringat mendiang istri keduanya, ibu kandung Putri. Wanita sederhana yang meninggal demi melahirkan Putri.
"Mas, jaga Putri ya. Dia satu-satunya peninggalanku. Meski tahu, kamu tidak akan mencintai seperti cinta aku pada anak kita. Tapi aku mohon, jangan pernah sia-siakan anak kita."
Pak Brahma berjanji, karena memikirkan bahwa keadaan istri keduanya yang sedang sekarat.
Namun kini, Janji itu ia ingkari, ia biarkan Putri tumbuh sebagai pembantu di rumahnya sendiri. Ia biarkan Putri menjadi tumbal untuk menutupi aib Tamara.
"Maafin ayah, Put... Maafin ayah..." isak Brahma, menggenggam tangan kurus Putri, mencium punggung tangan yang penuh bekas suntikan itu. "Ayah berdosa, ayah jahat sama kamu..."
Perlahan, kelopak mata Putri bergerak. Matanya terbuka sedikit, sayu dan buram. Ia merasakan genggaman hangat di tangannya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari ayahnya seumur hidup.
Putri menoleh lemah. Melihat sosok pria paruh baya yang menangis di sampingnya.
"Ayah?" suaranya nyaris tak terdengar, terhalang masker oksigen.
Brahma mengangguk cepat, menghapus air matanya. "Iya, Nak. Ini ayah, ayah di sini."
Putri tersenyum tipis, sangat tipis. Ada binar kebingungan di matanya. Apakah ia sudah mati? Apakah ini surga? Karena di dunia nyata, ayahnya tidak pernah menangis untuknya. Ayahnya tidak pernah memegang tangannya seerat ini.
"Sakit, Yah," rintih Putri pelan, satu kata jujur yang akhirnya ia ucapkan pada ayahnya setelah puluhan tahun diam.
Hati Brahma remuk redam. "Iya, Sayang. Ayah tau, ayah minta maaf... Kamu kuat ya. Jangan pergi dulu. Ayah mau tebus kesalahan ayah. Ayah janji."
Namun Putri sudah terlalu lelah untuk mencerna janji itu, matanya kembali terpejam.
Di luar ruangan, Devan baru saja sampai. Ia berlari tergesa-gesa setelah akhirnya melihat puluhan panggilan tak terjawab di ponselnya yang ia silent saat sedang menonton bioskop bersama Tamara.
Devan mematung di kaca jendela kamar rawat, ia melihat pemandangan di dalam.
Pak Brahma, pria angkuh itu sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tangan Putri.
Devan mundur selangkah, rasa bersalah kembali menghantamnya. Ia yang seharusnya ada di sana, ia suaminya. Tapi ia justru bersenang-senang dengan masa lalu, sementara istrinya berjuang sendirian melawan maut, ditemani penyesalan ayahnya yang terlambat.
Rasa sakit Putri perlahan memudar.
Bunyi bip-bip monitor detak jantung yang monoton, isak tangis pak Brahma yang memilukan, dan dinginnya ruangan ICU, semuanya lenyap. Ditarik menjauh oleh sebuah gaya gravitasi lembut yang membawanya melayang.
Putri membuka matanya.
Tidak ada lagi langit-langit putih rumah sakit, tidak ada selang infus yang menancap di tangannya.
Ia berdiri di hamparan padang rumput yang luas, bermandikan cahaya keemasan yang hangat, kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, bukan membawa aroma obat-obatan, melainkan melati yang menenangkan.
Di kejauhan, berdiri seorang wanita. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana yang berkibar pelan. Wajahnya bersinar, memancarkan keteduhan yang luar biasa.
Meski Putri belum pernah melihat wajah itu secara langsung, hanya lewat selembar foto usang yang disembunyikan mbak Sumi, pembantu keluarga mereka yang juga ikut merawatnya sejak bayi.
Putri langsung mengenali ibunya, ikatan darah tidak bisa berbohong.
"Ibu...?" panggil Putri, suaranya bergetar.
Wanita itu tersenyum, senyum paling indah yang pernah Putri lihat. Ia merentangkan kedua tangannya.
Tanpa pikir panjang, Putri berlari. Ia berlari kencang, tidak ada rasa sakit di kakinya, tidak ada sesak di dadanya. Ia menghambur ke dalam pelukan wanita itu.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Putri merasakan pelukan seorang ibu.
Hangat, aman, dan penuh cinta.
Putri menangis sejadi-jadinya di bahu ibunya. Menumpahkan segala penderitaan yang ia pendam selama dua puluh tahun lebih. Tentang ayah yang dingin, tentang tamparan ibu tiri, tentang Devan yang kejam, dan tentang penyakit yang menyiksanya.
"Sakit, Bu... Di sana sakit sekali," adu Putri terisak seperti anak kecil. "Aku nggak kuat. Aku mau ikut Ibu saja. Tolong bawa aku pergi..."
Ibunya mengelus rambut Putri dengan lembut, mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
"Ibu tahu, Sayang. Ibu melihat semuanya dari sini. Ibu melihat setiap tetes air matamu," ucap ibunya lembut. Suaranya seperti alunan musik yang menentramkan jiwa. "Maafkan Ibu karena meninggalkanmu sendirian di dunia yang kejam itu."
Putri menggeleng dalam pelukan ibunya. "Jangan suruh aku pulang, Bu. Aku capek."
Perlahan, sang ibu melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Putri dan menatap manik mata anaknya lekat-lekat.
"Belum saatnya, Nak," ucap ibunya tegas namun lembut. "Tempatmu belum di sini."
"Tapi kenapa? Nggak ada yang menginginkan aku di sana, Bu. Mas Devan... dia cuma mau Tamara. Ayah juga nggak peduli."
"Salah," potong ibunya, "kamu salah, Putri."
Wanita cantik itu menghapus air mata di pipi Putri.
"Lihat dirimu! Kamu anak ibu, kamu kuat. Kamu bertahan hidup di rahim ibu meski dunia menolakmu, dan kamu bertahan hidup sampai sekarang meski badai menghantammu. Itu bukti bahwa kamu wanita kuat."
Sang ibu menangkup wajah Putri. "Kamu harus kembali, Putri. Kamu harus sembuh, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirimu sendiri."
Tatapan sang ibu berubah serius, menyalurkan kekuatan yang membakar semangat. "Ingat ini, Nak. Kebahagiaan itu bukan ditunggu, tapi diperjuangkan. Jangan biarkan apa yang menjadi hakmu, diambil lagi oleh orang lain. Kamu istri sah Devan. Kamu wanita yang tulus mencintainya, jangan biarkan kelemahanmu menjadi jalan bagi wanita lain untuk merebut tempatmu lagi."
"Tamara," desis Putri pelan.
"Jangan biarkan dia menang," bisik ibunya, "jangan biarkan suamimu jatuh ke pelukan wanita yang pernah mengkhianatinya. Devan butuh kamu, meski dia belum menyadarinya. Ayahmu butuh kamu untuk menebus dosanya. Pulanglah, Putri! Rebut kembali hidupmu. Jadilah sehat, jadilah kuat, dan tunjukkan pada mereka siapa nyonya rumah yang sebenarnya."
Putri tertegun. Kata-kata ibunya merasuk ke dalam jiwanya, membangkitkan sisi lain dirinya yang selama ini tertidur. Sisi yang ingin melawan, sisi yang ingin diakui.