NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"AFNAN, BERANINYA KAU BERKATA DEMIKIAN?" Menyetir mobilnya dengan ugal-ugalan, Dareen berkata tanpa menatap lawan bicara, nafasnya tak beraturan tanda amarah menguasai akal sehatnya.

Tertawa tanpa arti, Afnan mengenggam erat sabuk pengaman yang melindunginya, netranya sesekali terpenjam sebab Dareen mengendarai mobil dengan begitu cepat, beberapa kali pula terdapat tikungan tajam dan kecepatan tak dikurangi sedikitpun.

Dengan gemetar Afnan menoleh, "Kak please, aku belum Ingin menjadi janda, aku masih ingin hidup untuk melihat peluncuran produk baru hermes." Ujarnya melemas.

"Kau panik hah? Lalu saat kau mempermalukan aku, apa otak pintarmu itu bisa berpikir?" Seru Dareen dengan sengit, melirik Afnan sebentar sebelum akhirnya menambah kecepatan.

Melototkan matanya, Afnan menggelengkan kepala cepat, "Kakak marah? Ayo selesaikan permasalahan ini dengan kepala dingin, aku tau kepala kakak panas, namun nyawa kita hanya satu kak."

Celotehan Afnan nyatanya semakin membuat Dareen semakin emosi, seharusnya wanita itu meminta maaf lalu dengan sadar diri meminta memberhentikan mobil dan turun, maka dengan senang hati ia akan memaafkan.

Namun sedari tadi Afnan terus berteriak bagai orang gila yang mana membuat darah Dareen mendidih, emosi terasa sudah berada di ujung kepala dan siap meledak kapan saja.

"Kau pikir aku peduli!?" Pekik Dareen tertantang, bahkan dengan sengaja pria itu hampir menabrak pejalan kaki, membuat Afnan reflek berteriak bagai orang sinting.

Netra indah itu bergetar ketakutan, hampir saja mereka akan membunuh orang lain tanpa tau kesalahannya, "Calm down, kakak sudah tua, jika terus begini malah rambut kakak yang akan memutih semua!"

"Tutup mulut cerewetmu itu! Berisik!"

Menutup mata sejenak, Afnan mengatur pernafasan, benar.... menghadapi pria paranoid seperti Dareen bukanlah dengan amarah atau hanya teriakan, ia harus bersabar.

Menepuk dadanya kuat seolah memberi motivasi pada dirinya sendiri, Afnan menoleh pada Dareen yang kini terlihat begitu menahan amarah, dengan geram ia mendekat, lantas menggoyangkan lengan Dareen.

"Baik! Baik! Kakak tidak takut mati bukan? Ayo mati bersama saja, dengan begitu kita akan menjadi pasangan setan setelah ini!" Tandas Afnan melototkan mata.

Nyatanya pengaruh Afnan cukup besar, mobil Dareen bergerak dengan tidak beraturan, sang wanita yang optimis ingin mati karena bersama pujaan hati sedangkan sang pria yang kini takut setengah mati jika tiba-tiba mereka benar akan bertemu Tuhan.

"AFNAN!" Bentak Dareen.

Menulikan indra pendengaran, Afnan semakin kuat menggoyangkan lengan Dareen, bahkan kendali mobil mungkin sudah wanita itu kuasai.

Pun beberapa suara klakson terdengar bersahutan melihat bagaimana ugal-ugalannya mobil Dareen melaju di jalan umum, tentu saja mereka emosi bahkan mengutarakan seruan kasar pada sang pelaku.

"Woi bajingan, kurang ajar! Jika kau ingin mati ya mati sendiri jangan mengajak kami!" Celetuk salah satu pengemudi mobil yang dengan sengaja menongolkan kepadanya melalui jendela mobil.

Menghempaskan tangan Afnan kini Dareen mengambil alih, memilih untuk berhenti di tepi jalan untuk menenangkan rasa takut yang tiba-tiba menelusup di dada Dareen.

Bagaimana bisa wanita itu tidak takut mati!?

"Kita tidak jadi mati bersama?" Celetuk Afnan cepat, menatap Dareen polos tanpa dosa, seolah kelakuan setannya tadi bukanlah permasalahan besar.

Menggelengkan kepala, Dareen mengusap keringat yang membanjiri dahi, adrenalinnya terasa teruji bukan main, "Kau ingin mati? Maka matilah sendiri Afnan!"

"Mana mau! Aku ingin mati bersama Kak Dareen!" Afnan menjawab cepat, menatap wajah datar sang suami yang sayangnya kini terlihat begitu pucat pasi seolah tidak memiliki aliran darah.

"Kau gi-"

Tiba-tiba suara kaca mobil di ketuk, membuat Dareen menolah, membuka kaca dengan perlahan, senyuman manis terpatri di bibirnya, tentu saja ia tau jika setelah ini ia akan dimaki karena berkendara secara ugal-ugalan.

"Maaf, anda ini sedang mabuk atau memang mau cari mati?" Pria berkepala botak itu berkata tegas, menatap Dareen seolah ingin memakan pria itu secara hidup-hidup.

Dareen meringis, "Saya tau jika saya sa-"

"Pak maaf, suami saya memang sedang ​menguji kesehatan jantung dan radar kasih sayang kami." Potong Afnan cepat dari kursi sebelah, memasang ekspresi sangat serius, lantas tersenyum menyebalkan.

"Tadi kami sedang simulasi kiamat kecil, kami bisa selamat bersama dari kebut-kebutan maut, berarti cinta kami teruji, tapi sayangnya gagal, suami saya ini malah berhenti, mohon pengertiannya ya bapak."

​Pria botak itu melongo, alisnya bertaut, "Simulasi kiamat? Nyonya anda sehat atau gila? Ini jalan raya, bukan arena balap sirkuit!" Beonya dengan jengkel, sebab mendapat jawaban tak masuk akal.

​"Justru itu pak," Afnan berkata semangat, "Arena sirkuit kurang menantang, jika di jalan raya, jackpot! Kami bisa sekalian beramal jantung ke pengguna jalan lain karena saking kagetnya, lumayan pak, pahalanya banyak."

​Dareen memijat pelipisnya, rasa nyut-nyutan memenuhi kepalanya sekarang, ia pusing bukan main mendengar jawaban tak masuk akal dari Afnan, dan bagaimana bisa pria botak itu menanggapi celotehan tak bermutu Afnan?

​"Amal jantung? Anda ini bicara apa sih nyonya? Anda nyaris menabrak orang dan membahayakan semua orang! Anda pikir nyawa itu seharga tas chanel yang bisa diganti jika rusak?" Tegas pria botak itu, suaranya naik satu oktaf.

​Afnan memajukan bibirnya, wanita itu kini tampak begitu kesal, "Wah, Kenapa bawa-bawa chanel sih pak? Tidak nyambung dong dengan pembahasan awal kita, masa sekarang ingin membahas tas saya?"

​Pria botak itu mengusap wajahnya dengan frustrasi, tidak mengerti apa yang dibicarakan lawan bicaranya, "Saya tidak peduli tas anda! Yang saya pedulikan adalah keselamatan umum! Anda bisa dipenjara karena ini!"

​"Penjara?" Afnan tertawa kecil, "Makin seru dong pak, saya bisa menjadi inspirasi narapidana lainnya." Serunya tanpa gemetar.

Jelas berbeda dengan isi hatinya, Afnan memang pemberani, namun melihat wajah tegas nan menakutkan pria botak itu membuat nyalinya sedikit menciut, anggap saja sedari tadi ia hanya mencoba mengulur waktu.

​"Bapak." Panggil Afnan menatap pria itu dengan pandangan prihatin.

"Sepertinya Bapak sedang stress berat, mau saya belikan kopi susu kekinian? Atau Bapak haus? Daripada marah-marah, mending ngopi dulu, biar otaknya bisa berpikir lurus, darah tinggi tidak baik pak, apalagi bapak botak, nanti kepalanya semakin panas."

​Pria botak itu terdiam, rahangnya mengeras mendengar setiap penuturan yang Afnan ucapkan dengan santai, ia membuka mulut, siap melontarkan maki-makiannya kembali.

​"CUKUP! HENTIKAN PERDEBATAN TAK BERMUTU INI!

​Dareen tiba-tiba berteriak dengan suara mengeras, matanya melotot antara marah, frustrasi, dan kelelahan mental.

​"Afnan, tutup mulutmu! Bapak, terima kasih atas sarannya, saya minta maaf, kali ini saya akan jalan pelan-pelan. Tolong pergilah! Sebelum saya ikut gila!" Dareen cepat-cepat menutup kaca mobil, mengabaikan tatapan tercengang dari pria botak itu dan klakson dari mobil di belakangnya.

​Dareen menyandarkan kepala ke headrest, napasnya terengah-engah lantas ia menoleh ke Afnan yang kini tersenyum puas tanpa rasa bersalah.

​"Lihat kak, dia pergi, memang dia saja yang terlalu serius, kitakan cuma main-main, yakan?" Ujar Afnan lembut, menepuk lutut Dareen.

​Dareen hanya bisa memejamkan mata dan berbisik lirih, "Aku rasa, aku benar-benar ingin mati sekarang, tapi mati sendiri tanpa kau Afnan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!