Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petaka Saham
Januar mengepalkan tangannya. Ia tahu Rini adalah dalang di balik sabotase preman di tepi sungai. Rini ingin menyingkirkannya agar tidak ada lagi yang bisa mengklaim hak waris melalui jalur pertunangan dengan Nirmala. Bagi Rini, Nirmala yang hilang adalah berkah, dan Januar yang lumpuh adalah kemenangan.
"Dia haus kekuasaan sampai kehilangan akal sehatnya," ucap Januar dengan nada rendah yang mengancam. "Cari tahu di mana rongsokan mobil itu dan siapa preman yang dia sewa. Kalau aku tidak bisa memiliki Dizan Holding melalui Nirmala, maka aku akan meruntuhkan gedung itu bersama Rini di dalamnya."
****
Berbanding terbalik dengan kebisingan intrik di Jakarta, di sebuah desa terpencil di kaki gunung Jawa Barat, suasana terasa sangat tenang. Nirmala Dizan duduk di teras sebuah rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu. Ia mengenakan daster kain tipis milik ibu Ale dan kain sarung untuk menutupi kakinya yang masih lebam.
Ini adalah rumah keluarga Ale. Ibu Ale, seorang wanita paruh baya yang bersahaja, baru saja meletakkan segelas teh melati hangat dan singkong rebus di depan Nirmala.
"Makan dulu, Neng. Di sini nggak ada gedung tinggi, tapi udaranya bersih buat bersihin pikiran," ucap Ibu Ale dengan senyum tulus.
Nirmala tersenyum kecil, namun matanya tetap menyiratkan kesedihan yang dalam. Di tempat ini, tidak ada yang tahu bahwa dia adalah seorang putri konglomerat. Di sini, dia hanyalah seorang wanita yang butuh perlindungan.
Ale muncul dari dalam rumah, sudah mengenakan tas ranselnya. Wajahnya tampak berat.
"Gue harus balik ke Jakarta sore ini, Nona," ucap Ale pelan. "Ujian akhir gue nggak bisa ditunda lagi. Kalau gue nggak lulus, beasiswa gue dicabut, dan gue nggak punya kekuatan apa-apa lagi buat bantu lo nanti."
Nirmala berdiri, ada ketakutan yang tersirat di wajahnya. "Kamu... kamu mau meninggalkanku di sini?"
Ale mendekat, memegang kedua bahu Nirmala. "Cuma sebentar. Di sini aman. Ibu dan Bapak bakal jagain lo. Nggak akan ada orang Januar atau Bibi lo yang bisa nemuin tempat ini. Gue bakal cari informasi di Jakarta, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kantor bokap lo."
Nirmala menatap mata Ale yang jujur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak melihat pamrih di mata seorang pria. Januar menginginkan sahamnya, pamannya menginginkan perusahaannya, namun pemuda ini hanya menginginkannya tetap bernapas.
"Janji kamu akan kembali?" bisik Nirmala.
Ale mengangguk mantap. "Gue janji. Jaga diri lo baik-baik. Belajar makan apa adanya, belajar hidup tanpa pelayan. Karena saat gue balik nanti, gue mau lo siap buat rebut balik apa yang jadi hak lo."
Saat motor tua Ale mulai menjauh menyusuri jalan setapak yang berbatu, Nirmala berdiri di bawah pohon kamboja tua. Ia melihat punggung Ale menghilang di balik bukit. Kesunyian desa itu kini terasa mencekam bagi Nirmala, namun di dalam dadanya, ada sebuah tekad yang mulai mengeras.
Ia bukan lagi bunga butik yang lemah. Di bawah perlindungan keluarga sederhana ini, Nirmala Dizan mulai menanggalkan kulit lamanya. Ia akan belajar menjadi badai yang suatu saat nanti akan menyapu bersih tawa histeris Rini Susilowati.
****
Senin pagi di Bursa Efek Indonesia biasanya penuh dengan harapan, namun bagi Suteja Group, hari itu adalah awal dari kiamat finansial. Monitor besar di ruang kendali bursa menampilkan grafik berwarna merah darah yang terjun bebas. Saham Suteja Group (SUTJ) ambruk seketika saat pembukaan pasar.
Penyebabnya sederhana namun mematikan: sebuah memo rahasia yang diedarkan oleh Dizan Holding ke jaringan perbankan nasional. Rini Susilowati, dengan otoritas baru yang ia miliki, mengancam akan menarik seluruh deposito triliunan rupiah milik Dizan Holding jika bank-bank tersebut memberikan napas kredit kepada Januar Suteja.
Di kantornya, Januar Suteja menatap layar monitor dengan mata merah yang kurang tidur. Ponselnya terus berdering—telepon dari para kreditur yang marah, menuntut jaminan tambahan, dan investor yang panik.
"Brengsek! Wanita gila itu benar-benar ingin menguburku hidup-hidup!" raung Januar, menyapu semua barang di atas mejanya hingga berhamburan ke lantai. "Rini bukan lagi sekadar haus kekuasaan, dia sudah kehilangan kewarasannya!"
Januar tahu, satu-satunya cara menghentikan kegilaan ini adalah dengan menghadirkan Nirmala Dizan. Hanya tanda tangan Nirmala sebagai ahli waris sah yang bisa membatalkan segala keputusan gila yang dibuat oleh "Dewan Boneka" bentukan Rini.
****
Sementara itu, di kantor pusat Dizan Holding, suasana terasa lebih seperti markas organisasi bayangan daripada sebuah perusahaan publik. Rini Susilowati kini tidak lagi hanya bermain dengan angka-angka legal. Di sudut ruangannya, seorang pria asing dengan aksen Spanyol yang kental baru saja keluar—perwakilan dari kartel Kolombia yang menjadi sekutu gelap barunya.
Rini telah melintasi batas yang tidak pernah berani disentuh oleh Marwan Dizan. Ia menggunakan dana gelap kartel untuk menyuap sejumlah pejabat penting, memastikan setiap langkah hukum yang ia buat untuk menguasai Dizan Holding tidak akan tersentuh. Permainan harga saham ia mainkan dengan anggun, menjatuhkan lawan dan menelan perusahaan-perusahaan kecil dalam satu kedipan mata.
Elias Dizan duduk di kursi direktur utama dengan keringat dingin yang terus membasahi dahinya. Ia melihat istrinya, yang kini sedang duduk di meja kerja Marwan, perlahan menaikkan selendang sutranya untuk menutupi mulut.
"Hmph... Mmph... Hahahahahaha!"
Tawa itu meledak, diredam oleh kain sutra namun tetap terdengar seperti suara gergaji yang mengiris logam. Rini tertawa hingga tubuhnya melengkung ke belakang.
"Lihat itu, Elias! Lihat grafik Suteja Group! Merah... semerah darah yang tumpah di sungai!" seru Rini di sela tawanya yang histeris. Air mata kebahagiaan yang gila membasahi pipinya. "Januar Suteja sekarang hanyalah seekor tikus yang terpojok di gudang kosong!"
****
Pintu ruangan terbuka sedikit. Liana, asisten pribadi Rini yang dingin dan efisien, masuk dengan langkah tanpa suara. "Nyonya, ada informasi terbaru."
Rini menghentikan tawanya seketika, matanya yang tajam menatap Liana. "Bicaralah."
"Intelijen kita di lapangan menemukan keberadaan Nirmala. Dia bersembunyi di sebuah desa terpencil di wilayah Sukabumi, tinggal bersama keluarga mahasiswa bernama Aleandra itu," lapor Liana. "Dan mata-mata kita di kantor Suteja melaporkan bahwa Januar sudah mengetahui hal ini. Dia sedang dalam perjalanan menuju ke sana dengan tim taktisnya."
Mendengar nama Januar, tawa Rini meledak kembali, kali ini lebih tak terkendali. Ia memukul-mukul meja jati itu dengan telapak tangannya.
"Dia mau menjemput pengantinnya? Hahaha! Betapa romantisnya si duda itu!" Rini berdiri, matanya berkilat penuh kebencian. "Liana, gerakkan orang-orang kita. Aku tidak mau Januar menyentuh seujung rambut pun dari Nirmala. Tapi aku juga tidak mau Nirmala kembali ke Jakarta. Biarkan mereka bermain kucing-kucingan di hutan Sukabumi. Pastikan Januar tidak pernah sampai ke desa itu, dan pastikan Nirmala merasa bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar."