Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 Orang-Orang yang Merasa Aman
Orang-orang berubah saat mereka merasa tidak lagi diawasi.
Elena mempelajarinya sejak hari pertama keluar dari rumah sakit. Apartemen terasa berbeda—lebih sunyi, lebih longgar, seolah-olah ia bukan lagi pusat kendali di dalamnya. Marcus memindahkan beberapa barang “demi kenyamanan.” Selene sering datang tanpa memberi tahu.
Mereka tidak bertanya apakah Elena keberatan.
Itu tanda pertama.
“Elena, aku akan lembur,” kata Marcus suatu malam. Nada suaranya santai, bahkan lega. “Selene akan menemanimu sebentar.”
Elena duduk di sofa, tongkat tipis di tangannya—properti yang ia pakai hanya saat mereka ada. “Terima kasih,” katanya lembut. “Aku tidak ingin merepotkan.”
Marcus mencium keningnya. Terlalu cepat. Lalu pergi.
Pintu tertutup. Sunyi tersisa.
Selene duduk di seberang, menyilangkan kaki. “Kau kelihatan lebih tenang sekarang.”
“Aku sudah menerima,” jawab Elena. “Tidak semua hal bisa kita kendalikan.”
Selene tersenyum. Senyum orang yang percaya dirinya menang. “Benar.”
*****
Malam-malam berikutnya, Elena mengumpulkan serpihan.
Ia mendengarkan percakapan yang dianggap tidak penting. Ia menghafal langkah kaki. Ia menghitung jeda saat ponsel diletakkan sembarangan. Ia mengingat nama yang disebut setengah berbisik.
Marcus berhenti mengunci laptopnya. Selene berbicara terlalu bebas di ruang tamu. Mereka tertawa—lebih sering dari sebelumnya.
Aman, pikir mereka.
Ia tidak melihat.
Padahal Elena melihat pola.
*****
Suatu siang, Elena duduk di meja makan saat Selene menerima panggilan. Suaranya rendah, tapi cukup jelas.
“Dokumennya sudah dipindahkan. Tenang saja—dia tidak akan mengecek.”
Elena menyentuh cangkirnya, pura-pura mencari arah. “Selene?”
Selene menutup telepon cepat. “Ya?”
“Apa aku mengganggumu?”
“Tidak. Sama sekali tidak.” Ada jeda. “Kau butuh sesuatu?”
“Elena menggeleng. “Hanya… air.”
Selene berdiri, meninggalkan ponselnya di meja.
Kesalahan kecil.
Elena meraba—terlalu tepat untuk orang yang benar-benar buta. Ia menggeser ponsel itu sedikit, cukup untuk melihat layar menyala kembali. Nama Marcus muncul. Potongan pesan di notifikasi cukup jelas.
Malam ini aman.
Elena memejamkan mata saat Selene kembali. “Terima kasih.”
Senyum Selene melebar. “Sama-sama.”
*****
Malam itu, Elena duduk sendiri di kamar. Ia membuka laci yang jarang disentuh Marcus. Dokumen lama tersusun rapi—kontrak, email cetak, catatan tangan. Semua hal yang pernah ia kelola sebelum “kecelakaan.”
Ia mengambil satu map.
Tidak dibaca. Belum.
Ia hanya memastikan ia masih bisa mengaksesnya.
*****
Saat Marcus pulang, ia menemukan Elena tertidur. Tongkatnya tergeletak di lantai. Ia memindahkannya ke dekat ranjang, lalu keluar tanpa menoleh.
Elena membuka mata.
Ia tidak tidur.
Ia menunggu.
Orang-orang yang merasa aman selalu lupa satu hal:
bahwa ketenangan adalah waktu paling berbahaya.
Dan Elena Rowena tidak lagi menunggu untuk diselamatkan.
Ia sedang menyiapkan akhir.
Elena berdiri di depan jendela, merasakan dingin kaca di telapak tangannya. Di bawah sana, lampu kota berkilau seperti titik-titik yang mudah dipadamkan. Ia mengingat satu nama yang belum disebut, satu transaksi yang terlalu rapi, satu tanda tangan yang tidak seharusnya ada.
Semua itu akan ia buka perlahan.
Tidak sekarang.
Tidak saat mereka masih tertawa.
Ia akan menunggu hingga mereka membuat kesalahan berikutnya—
kesalahan yang tidak bisa ditarik kembali.
Karena ketika kebohongan merasa aman, kebenaran selalu datang terlambat—dan menghancurkan segalanya sekaligus.
Dan Elena memastikan, saat itu tiba, tak ada satu pun dari mereka siap menghadapinya.