andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Pikiranku bercabang ke mana-mana. Yang pertama tentang kode 172 yang terus menghantui sejak dua hari terakhir. Yang kedua tentang kamera pengintai yang ternyata terpasang di bajuku. Aku menelan ludah. Sejak dua hari lalu aku belum sempat ganti baju. Ini sudah hari ketiga aku mengenakan kemeja yang sama. Baru sekarang aku sadar betapa cerobohnya diriku.
Ponselku bergetar. Pesan dari Andika masuk.
“Ayah di mana? Kata mamah mau antar baju.”
Aku spontan mencium bajuku sendiri. Bau apek memang mulai terasa, meski masih tertutup aroma parfum. Biasanya aku selalu punya stok baju di mobil. Tapi tugas mendadak membuat semua rutinitasku berantakan. Aku lupa menyiapkan apa pun.
“Ayah masih bertugas,” balasku singkat.
Tak lama pesan lain masuk. “Kata ibu ayah harus ganti baju.”
Aku terdiam. Ada rasa aneh. Kenapa Andika terdengar begitu ngotot. Aku menggeleng, mencoba menenangkan diri. Jangan berprasangka berlebihan, pikirku.
“Hei,” suara Zaki dan tepukan di bahuku membuyarkan lamunanku. “Lu dipanggil Pak Haris ke ruang komando.”
“Oke,” jawabku. “Gue ambil parfum dulu.”
“Mobil lu kan di Polsek Pasar Rebo,” kata Zaki santai. “Entah masih utuh atau sudah jadi abu.”
Ucapannya seperti petir kecil di kepalaku. Astaga, mobil itu aku beli dengan susah payah.
Zaki tertawa terbahak. “Panikan lu.”
“Tenang aja,” lanjutnya. “Mobil lu sama mobil gue aman. Bentaran lagi dianter ke sini.”
“Lu bikin kaget aja,” gerutuku kesal.
Aku berdiri. Seluruh tubuh terasa pegal, sendi-sendi seperti berkarat. “Gue ke toilet dulu.”
“Izin dulu sama gue,” sahutnya iseng.
“Orang gila,” dengusku sambil pergi.
Di toilet, aku membasuh muka. Air dingin menyentuh kulit, sedikit menyegarkan. Saat menatap cermin, mataku tertumbuk pada sebuah kancing di kemejaku. Kancing itu terlihat berbeda.
“Sejak kapan kancing ini terpasang?” gumamku.
Aku membuka kemeja perlahan. Kemeja ini tampak baru. Aku mengernyit. Sejak kapan Ratna membelikannya? Aku menghitung kancingnya. Harusnya tujuh. Satu sudah lepas. Tinggal enam.
Aku melepas kancing itu satu per satu. Tiga terlihat normal. Tiga lainnya terasa berat dan aneh. Jantungku berdegup lebih cepat. Aku memotret semuanya lalu memperbesar gambar di layar ponsel. Ada pola kecil, hampir tak terlihat.
Aku memasukkannya ke aplikasi AI.
Hasilnya membuat tanganku gemetar. Kancing pertama teridentifikasi sebagai modul GPS. Kancing kedua alat penyadap.
“Apa artinya ini,” bisikku.
Pikiranku melompat liar. Ratna? Tidak mungkin. Andika? Dadaku terasa sesak hanya dengan membayangkannya. Aku menutup mata, menarik napas panjang.
Aku mengambil kantong plastik hitam. Kemeja itu kubasahi hingga benar-benar lembap, lalu kumasukkan ke dalam plastik. Untung aku masih memakai kaus dalam dan jaket.
“Andi, Andi,” suara Zaki memanggil dari luar.
Aku segera keluar.
“Kenapa lama banget lu?” katanya.
“Tadi BAB,” jawabku seadanya.
“Semua orang nungguin lu.”
“Oke,” kataku singkat.
Aku melangkah menuju ruang komando dengan jantung berdebar, seperti sedang menyusuri lorong panjang tanpa tahu apa yang menunggu di ujungnya. Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya. Pintu terbuka, dan hawa ruangan yang dingin menyambutku. Aku duduk di kursi kosong di samping Andi. Seketika, pandangan semua orang tertuju padaku. Tatapan mereka tajam, membuat tengkukku meremang, seolah aku sedang berdiri di tengah bidikan senapan.
“Kenapa kamu pakai jaket kulit Andi?” suara Pak Cipto memecah keheningan.
Aku menghela napas pelan, berusaha tetap tenang. “Tadi baju saya tersiram air, Pak, waktu cuci muka,” jawabku singkat.
Pak Anton mengangkat tangan, menghentikan pembahasan. “Sudahlah, jangan bahas baju. Kita sudah dapat hasil dari Polres Purwakarta.”
Ruangan seketika sunyi. Semua mata kini tertuju ke layar besar di depan. Layar menyala, menampilkan citra hutan di sekitar Jatiluhur. Setelah tiga jam penyisiran, kata laporan itu, mereka menemukan sebuah gua. Gambar berganti. Sebuah mulut gua tampak gelap, tapi bagian dalamnya terang, jelas ada lampu di sana.
“Di dalam gua tersebut ada beberapa ruangan,” jelas operator. “Termasuk ruang komputer.”
Gambar menampilkan dinding batu yang dingin, tapi di hadapannya berdiri beberapa komputer yang tersusun rapi. Kontras yang aneh. Alam dan teknologi bertemu di tempat yang seharusnya liar.
“Diperkirakan gua ini ditinggalkan empat hari lalu,” lanjutnya. “Menurut keterangan warga, sering ada nenek-nenek keluar masuk gua, tapi tak ada yang berani mendekat. Di sekitar lokasi banyak hewan buas.”
Gambar berganti lagi. Sebuah ruangan lain muncul. Busur dan anak panah tergantung rapi, alat bidik, peralatan olahraga, semua tertata seolah baru saja digunakan. Aku menelan ludah. Ini bukan tempat persembunyian biasa. Ini markas latihan.
Lalu gambar terakhir muncul. Sebuah ruang besar.
“Dan ini yang paling mencengangkan,” ucap Pak Anton pelan.
Dinding gua itu dipenuhi foto. Seratus tujuh puluh dua foto. Wajah-wajah manusia menatap kosong ke arah kamera. Di bawahnya tertera nama, usia, alamat, bahkan catatan kecil tentang kebiasaan mereka.
“Ada 172 foto beserta data lengkap,” sambung Pak Haris. “Dan jurnal aktivitas beberapa korban.”
“Apakah korban kemarin termasuk dalam daftar itu?” tanya Pak Nurdin.
“Benar,” jawab Pak Haris mantap.
Dadaku bergetar. Artinya satu hal. Nirmala masih hidup.
“Apakah keberadaan Nirmala ada di sana, Pak?” tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar.
“Jejaknya tidak ditemukan,” jawab Pak Haris. “Tapi kami menduga dia masih hidup. Ada tulisan tangan, seperti buku harian.”
Gambar diperbesar. Sebuah foto lelaki tua muncul di layar. Wajahnya penuh luka, matanya cekung, tapi sorotnya tajam.
“Dalam diary disebutkan Nirmala ditolong seorang kakek tua. Ini fotonya.”
“Tolong perbesar,” ucap Pak Romi.
Operator memperbesar gambar. Pak Romi menyipitkan mata. “Bukankah itu Piter?”
Pak Anton berdiri mendekat, wajahnya tegang. “Piter Nelson,” gumamnya.
“Siapa dia?” tanyaku.
Pak Anton duduk kembali. Ekspresinya berubah, seperti membuka pintu masa lalu. “Piter Nelson. Veteran tentara Amerika. Mantan pasukan elit. Setelah itu jadi tentara bayaran. Sepuluh tahun terakhir menghilang. Di kalangan pasukan elit, dia legenda.”
Aku menatap Pak Anton dan Pak Romi. Hanya mereka berdua yang tampak benar-benar mengenalnya. Aku baru sadar, dua orang ini bukan polisi biasa.
“Apakah ini didalangi Piter?” tanya Pak Romi.
“Dalam buku harian disebutkan orang tua itu meninggal,” jawab Pak Anton.
Layar menampilkan halaman lusuh. Tulisan tangan terbaca jelas.
17 Januari 2022. Kirangga, terima kasih sudah menemaniku. Sesuai pesanmu, jasadmu kuberikan pada serigala.
Ruangan membeku. Jika Nirmala dilatih oleh mantan tentara elit, dia bukan lagi korban. Dia mungkin telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Tapi tetap saja, tiga tahun terasa terlalu singkat untuk menciptakan pembunuh yang bergerak serapi ini.
“Daftar sudah ada,” ucap Pak Haris. “Sekarang kita harus mengamankan 172 orang itu. Tidak ada tempat yang lebih aman selain di sini.”
Pak Romi menggeleng pelan. “Saya ragu. Setiap pergerakan kita seperti terbaca. Begitu satu pelaku perundungan kita keluarkan, tak lama dia jadi target. Saya curiga ada pengintai di antara kita.”
Dadaku berdegup keras. Tiga benda asing di bajuku terasa semakin berat, seolah menekan dadaku dari dalam. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan. Jika benar ada pengintai, aku tak yakin musuh itu berada di luar ruangan ini.