NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Serangan yang Tidak Terlihat

Serangan itu datang tanpa suara.

Tidak ada email resmi. Tidak ada rapat darurat. Hanya bisik-bisik yang tumbuh seperti retakan halus—tak terlihat, tapi perlahan merusak fondasi.

Aruna menyadarinya dari cara orang-orang memandangnya pagi itu.

Beberapa rekan kerja yang biasanya menyapa kini hanya mengangguk singkat. Percakapan terhenti saat ia mendekat. Bahkan staf junior yang dulu nyaman bertanya kini terlihat ragu.

Ia duduk di mejanya dengan ekspresi tenang, meski perutnya terasa mengencang.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan dari nomor internal yang tidak dikenal:

Hati-hati. Ada rumor kalau kamu sengaja menjatuhkan Hendra demi posisi.

Aruna membaca kalimat itu dua kali. Tidak ada emosi di wajahnya—tapi pikirannya langsung bekerja.

Rumor.

Senjata paling murah… dan paling efektif.

Ia menutup layar tanpa membalas.

Sepuluh menit kemudian, undangan rapat mendadak masuk. Divisi legal. Topik: klarifikasi internal terkait konflik kepentingan.

Aruna berdiri dan berjalan menuju ruang rapat dengan langkah stabil. Di dalam, tiga orang sudah duduk. Ekspresi mereka formal—terlalu formal untuk sesuatu yang seharusnya administratif.

“Kami menerima laporan anonim,” kata salah satu dari mereka, “yang menyebutkan Anda memiliki motif pribadi dalam investigasi Eastbay.”

Aruna mengangkat alis sedikit. “Motif pribadi seperti apa?”

“Ambisi jabatan,” jawabnya hati-hati.

Sunyi jatuh.

Aruna menautkan tangan di meja. “Apakah laporan itu disertai bukti?”

“Tidak.”

“Kalau begitu,” katanya tenang, “ini bukan klarifikasi. Ini opini.”

Ketiga orang itu saling pandang.

“Kami tetap perlu mencatat respons Anda,” kata yang lain.

“Silakan catat,” balas Aruna. “Saya tidak memiliki konflik kepentingan. Semua tindakan saya berada dalam jalur legal dan pengawasan CEO.”

Nama Calvin disebut tanpa penekanan—tapi cukup untuk menggeser dinamika ruangan.

Rapat selesai tanpa keputusan. Namun pesan sudah jelas: seseorang sedang mencoba mengikis kredibilitasnya dari dalam.

Begitu keluar, Aruna melihat Calvin berdiri di ujung lorong. Tangannya di saku celana, ekspresinya datar.

“Mereka mulai,” katanya.

Aruna mengangguk. “Rumor.”

Calvin berjalan mendekat. “Reputasi lebih mudah dihancurkan daripada fakta.”

“Saya tahu,” jawab Aruna pelan. “Dan mereka berharap saya bereaksi.”

Tatapan Calvin tajam, mengamati setiap detail wajahnya. “Kamu tidak akan.”

Bukan pertanyaan.

“Tidak,” kata Aruna. “Reaksi memberi mereka bahan.”

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Calvin bergerak tipis. Persetujuan tanpa kata.

“Mulai sekarang,” katanya, “semua komunikasi terkait kasus ini lewat jalur resmi. Tidak ada celah.”

Aruna mengangguk.

Saat ia berbalik hendak pergi, suara bisikan terdengar dari sudut pantry. Tidak keras. Tidak perlu.

“…katanya dekat banget sama CEO…”

Langkah Aruna berhenti sepersekian detik.

Bukan karena malu. Bukan karena marah.

Karena ia sadar—serangan berikutnya tidak akan menyasar pekerjaannya.

Melainkan dirinya.

Ia melanjutkan langkah tanpa menoleh.

Di mejanya, layar komputer menyala dengan dokumen terbuka. Tangannya bergerak otomatis mengetik, tapi pikirannya tetap tajam.

Mereka ingin ia goyah. Ingin ia membela diri. Ingin ia terlihat bersalah.

Aruna menarik napas panjang.

Diam bukan lagi strategi bertahan.

Diam sekarang adalah bentuk kendali.

Aruna menyandarkan punggungnya sebentar ke kursi. Untuk pertama kalinya hari itu, ia mengizinkan dirinya merasakan lelah yang menumpuk diam-diam. Bukan karena pekerjaan—melainkan karena harus terus berdiri tegak saat orang lain berusaha membuatnya terlihat rapuh. Dan ia menolak memberi mereka kepuasan itu.

Dan selama ia masih menguasai itu, permainan belum dimenangkan siapa pun.

Di seberang ruangan, Calvin menatapnya sekilas. Tidak ada kata. Tidak perlu.

Keduanya tahu hal yang sama:

Serangan sudah berubah arah.

Dan ini baru permulaan dari perang yang lebih personal.

Aruna menatap layar komputernya, tapi pikirannya melayang. Setiap bisikan yang ia dengar di pantry tadi, setiap tatapan aneh dari rekan kerja, semuanya menempel di pikirannya. Mereka tidak menyerang dengan jelas—mereka menyerang lewat bayangan, lewat ketidakjelasan yang membuat orang lain meragukan dirinya tanpa perlu bukti.

Ia menutup dokumen itu sejenak dan menghela napas panjang. Ada rasa lelah yang tidak hanya fisik, tapi menempel di tulang dan otot. Sejak pagi, ia sudah berdiri di tengah badai yang tidak terlihat, menghadapi perang psikologis yang jauh lebih melelahkan daripada audit dan rapat gabungan.

Aruna tahu, lawan yang menggerakkan rumor ini bukan sembarangan. Mereka memahami cara kerja kantor, memahami psikologi orang, dan tahu cara memanfaatkan setiap celah untuk menimbulkan keraguan. Setiap langkah yang ia ambil harus diperhitungkan dengan teliti, karena sekali goyah… semuanya bisa runtuh.

Ia menatap keluar jendela. Kota terlihat tenang, tetapi di dalam gedung ini, perang sedang berlangsung. Tidak ada ledakan, tidak ada sirine, hanya bisik-bisik yang berlapis, memanipulasi opini, dan perlahan memengaruhi suasana hati semua orang. Bahkan beberapa staf junior yang biasanya bersahabat kini menahan diri. Aruna merasakan garis batasnya tergeser—mereka tidak lagi menyerang pekerjaan, tapi dirinya sendiri.

Tangannya bergerak otomatis mengetik catatan: siapa saja yang mengirim pesan, siapa yang diam di pantry, siapa yang terlihat ragu saat ia melewati lorong. Setiap detail tercatat. Ini bukan paranoia—ini strategi. Ia tidak bisa membiarkan diri dikontrol oleh ketakutan atau rumor.

Pikiran tentang ibunya muncul. Bagaimana jika rumor itu sampai ke telinga keluarga atau orang yang ia sayangi? Rasanya seperti udara dingin masuk melalui celah pintu. Tekanan itu membuat Aruna mengencangkan genggaman di mouse. Ini lebih dari sekadar profesionalisme—ini personal, dan batas itu sudah disentuh.

Calvin kembali melangkah mendekat, senyap seperti bayangan. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diuraikan—tegas, protektif, tapi tidak berlebihan. Sekali lagi, Aruna menyadari bahwa kehadirannya bukan hanya sebagai CEO yang mengawasi, tapi sebagai seseorang yang benar-benar mengerti apa yang sedang dihadapi Aruna.

“Semua orang di kantor mulai bergerak berdasarkan rumor, bukan fakta,” ucap Calvin pelan. “Itu cara mereka melemahkanmu tanpa terlihat menyerang.”

Aruna mengangguk. “Dan mereka pikir aku akan panik.”

“Tapi kamu tidak,” lanjut Calvin. “Kamu tetap tenang. Dan itu membuat mereka kehilangan kendali.”

Aruna menarik napas. Ia tahu benar—diamnya bukan tanda kelemahan. Diamnya adalah kekuatan. Setiap langkah yang mereka rencanakan untuk menjatuhkannya, kini bisa dilawan dengan ketenangan itu.

Senyum tipis muncul di wajahnya, samar tapi nyata. Ini bukan senyum kemenangan, tapi senyum yang mengatakan: aku masih berdiri. Aku masih mengendalikan diriku sendiri.

Di seberang ruangan, Calvin menatapnya lagi. Kedua mata mereka bertemu, dan untuk satu detik, ada pemahaman yang tidak perlu kata-kata. Serangan ini pribadi, ya. Tapi mereka bukan lawan yang tidak bisa ditangani.

Aruna membuka laptopnya lagi. Pikirannya lebih fokus sekarang. Setiap pesan, setiap gerakan rekan kerja, akan dicatat. Setiap rumor akan dianalisis. Ini adalah perang diam—perang psikologis—dan ia akan memimpin strategi.

“Mulai sekarang,” gumam Aruna pelan pada dirinya sendiri, “tidak ada satu pun yang bisa menguasai emosiku. Mereka ingin aku goyah, tapi aku tetap di sini.”

Dan di dalam hatinya, ia tahu satu hal: serangan mungkin tidak terlihat, tapi Aruna tidak lagi menjadi target pasif. Diamnya kini adalah kendali, dan setiap langkah mereka akan diperhitungkan.

Perang ini baru permulaan, tapi untuk pertama kalinya, Aruna merasa… siap.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!