Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Serangan yang Tidak Terlihat
Serangan itu datang tanpa suara.
Tidak ada email resmi. Tidak ada rapat darurat. Hanya bisik-bisik yang tumbuh seperti retakan halus—tak terlihat, tapi perlahan merusak fondasi.
Aruna menyadarinya dari cara orang-orang memandangnya pagi itu.
Beberapa rekan kerja yang biasanya menyapa kini hanya mengangguk singkat. Percakapan terhenti saat ia mendekat. Bahkan staf junior yang dulu nyaman bertanya kini terlihat ragu.
Ia duduk di mejanya dengan ekspresi tenang, meski perutnya terasa mengencang.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan dari nomor internal yang tidak dikenal:
Hati-hati. Ada rumor kalau kamu sengaja menjatuhkan Hendra demi posisi.
Aruna membaca kalimat itu dua kali. Tidak ada emosi di wajahnya—tapi pikirannya langsung bekerja.
Rumor.
Senjata paling murah… dan paling efektif.
Ia menutup layar tanpa membalas.
Sepuluh menit kemudian, undangan rapat mendadak masuk. Divisi legal. Topik: klarifikasi internal terkait konflik kepentingan.
Aruna berdiri dan berjalan menuju ruang rapat dengan langkah stabil. Di dalam, tiga orang sudah duduk. Ekspresi mereka formal—terlalu formal untuk sesuatu yang seharusnya administratif.
“Kami menerima laporan anonim,” kata salah satu dari mereka, “yang menyebutkan Anda memiliki motif pribadi dalam investigasi Eastbay.”
Aruna mengangkat alis sedikit. “Motif pribadi seperti apa?”
“Ambisi jabatan,” jawabnya hati-hati.
Sunyi jatuh.
Aruna menautkan tangan di meja. “Apakah laporan itu disertai bukti?”
“Tidak.”
“Kalau begitu,” katanya tenang, “ini bukan klarifikasi. Ini opini.”
Ketiga orang itu saling pandang.
“Kami tetap perlu mencatat respons Anda,” kata yang lain.
“Silakan catat,” balas Aruna. “Saya tidak memiliki konflik kepentingan. Semua tindakan saya berada dalam jalur legal dan pengawasan CEO.”
Nama Calvin disebut tanpa penekanan—tapi cukup untuk menggeser dinamika ruangan.
Rapat selesai tanpa keputusan. Namun pesan sudah jelas: seseorang sedang mencoba mengikis kredibilitasnya dari dalam.
Begitu keluar, Aruna melihat Calvin berdiri di ujung lorong. Tangannya di saku celana, ekspresinya datar.
“Mereka mulai,” katanya.
Aruna mengangguk. “Rumor.”
Calvin berjalan mendekat. “Reputasi lebih mudah dihancurkan daripada fakta.”
“Saya tahu,” jawab Aruna pelan. “Dan mereka berharap saya bereaksi.”
Tatapan Calvin tajam, mengamati setiap detail wajahnya. “Kamu tidak akan.”
Bukan pertanyaan.
“Tidak,” kata Aruna. “Reaksi memberi mereka bahan.”
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Calvin bergerak tipis. Persetujuan tanpa kata.
“Mulai sekarang,” katanya, “semua komunikasi terkait kasus ini lewat jalur resmi. Tidak ada celah.”
Aruna mengangguk.
Saat ia berbalik hendak pergi, suara bisikan terdengar dari sudut pantry. Tidak keras. Tidak perlu.
“…katanya dekat banget sama CEO…”
Langkah Aruna berhenti sepersekian detik.
Bukan karena malu. Bukan karena marah.
Karena ia sadar—serangan berikutnya tidak akan menyasar pekerjaannya.
Melainkan dirinya.
Ia melanjutkan langkah tanpa menoleh.
Di mejanya, layar komputer menyala dengan dokumen terbuka. Tangannya bergerak otomatis mengetik, tapi pikirannya tetap tajam.
Mereka ingin ia goyah. Ingin ia membela diri. Ingin ia terlihat bersalah.
Aruna menarik napas panjang.
Diam bukan lagi strategi bertahan.
Diam sekarang adalah bentuk kendali.
Aruna menyandarkan punggungnya sebentar ke kursi. Untuk pertama kalinya hari itu, ia mengizinkan dirinya merasakan lelah yang menumpuk diam-diam. Bukan karena pekerjaan—melainkan karena harus terus berdiri tegak saat orang lain berusaha membuatnya terlihat rapuh. Dan ia menolak memberi mereka kepuasan itu.
Dan selama ia masih menguasai itu, permainan belum dimenangkan siapa pun.
Di seberang ruangan, Calvin menatapnya sekilas. Tidak ada kata. Tidak perlu.
Keduanya tahu hal yang sama:
Serangan sudah berubah arah.
Dan ini baru permulaan dari perang yang lebih personal.
Aruna menatap layar komputernya, tapi pikirannya melayang. Setiap bisikan yang ia dengar di pantry tadi, setiap tatapan aneh dari rekan kerja, semuanya menempel di pikirannya. Mereka tidak menyerang dengan jelas—mereka menyerang lewat bayangan, lewat ketidakjelasan yang membuat orang lain meragukan dirinya tanpa perlu bukti.
Ia menutup dokumen itu sejenak dan menghela napas panjang. Ada rasa lelah yang tidak hanya fisik, tapi menempel di tulang dan otot. Sejak pagi, ia sudah berdiri di tengah badai yang tidak terlihat, menghadapi perang psikologis yang jauh lebih melelahkan daripada audit dan rapat gabungan.
Aruna tahu, lawan yang menggerakkan rumor ini bukan sembarangan. Mereka memahami cara kerja kantor, memahami psikologi orang, dan tahu cara memanfaatkan setiap celah untuk menimbulkan keraguan. Setiap langkah yang ia ambil harus diperhitungkan dengan teliti, karena sekali goyah… semuanya bisa runtuh.
Ia menatap keluar jendela. Kota terlihat tenang, tetapi di dalam gedung ini, perang sedang berlangsung. Tidak ada ledakan, tidak ada sirine, hanya bisik-bisik yang berlapis, memanipulasi opini, dan perlahan memengaruhi suasana hati semua orang. Bahkan beberapa staf junior yang biasanya bersahabat kini menahan diri. Aruna merasakan garis batasnya tergeser—mereka tidak lagi menyerang pekerjaan, tapi dirinya sendiri.
Tangannya bergerak otomatis mengetik catatan: siapa saja yang mengirim pesan, siapa yang diam di pantry, siapa yang terlihat ragu saat ia melewati lorong. Setiap detail tercatat. Ini bukan paranoia—ini strategi. Ia tidak bisa membiarkan diri dikontrol oleh ketakutan atau rumor.
Pikiran tentang ibunya muncul. Bagaimana jika rumor itu sampai ke telinga keluarga atau orang yang ia sayangi? Rasanya seperti udara dingin masuk melalui celah pintu. Tekanan itu membuat Aruna mengencangkan genggaman di mouse. Ini lebih dari sekadar profesionalisme—ini personal, dan batas itu sudah disentuh.
Calvin kembali melangkah mendekat, senyap seperti bayangan. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diuraikan—tegas, protektif, tapi tidak berlebihan. Sekali lagi, Aruna menyadari bahwa kehadirannya bukan hanya sebagai CEO yang mengawasi, tapi sebagai seseorang yang benar-benar mengerti apa yang sedang dihadapi Aruna.
“Semua orang di kantor mulai bergerak berdasarkan rumor, bukan fakta,” ucap Calvin pelan. “Itu cara mereka melemahkanmu tanpa terlihat menyerang.”
Aruna mengangguk. “Dan mereka pikir aku akan panik.”
“Tapi kamu tidak,” lanjut Calvin. “Kamu tetap tenang. Dan itu membuat mereka kehilangan kendali.”
Aruna menarik napas. Ia tahu benar—diamnya bukan tanda kelemahan. Diamnya adalah kekuatan. Setiap langkah yang mereka rencanakan untuk menjatuhkannya, kini bisa dilawan dengan ketenangan itu.
Senyum tipis muncul di wajahnya, samar tapi nyata. Ini bukan senyum kemenangan, tapi senyum yang mengatakan: aku masih berdiri. Aku masih mengendalikan diriku sendiri.
Di seberang ruangan, Calvin menatapnya lagi. Kedua mata mereka bertemu, dan untuk satu detik, ada pemahaman yang tidak perlu kata-kata. Serangan ini pribadi, ya. Tapi mereka bukan lawan yang tidak bisa ditangani.
Aruna membuka laptopnya lagi. Pikirannya lebih fokus sekarang. Setiap pesan, setiap gerakan rekan kerja, akan dicatat. Setiap rumor akan dianalisis. Ini adalah perang diam—perang psikologis—dan ia akan memimpin strategi.
“Mulai sekarang,” gumam Aruna pelan pada dirinya sendiri, “tidak ada satu pun yang bisa menguasai emosiku. Mereka ingin aku goyah, tapi aku tetap di sini.”
Dan di dalam hatinya, ia tahu satu hal: serangan mungkin tidak terlihat, tapi Aruna tidak lagi menjadi target pasif. Diamnya kini adalah kendali, dan setiap langkah mereka akan diperhitungkan.
Perang ini baru permulaan, tapi untuk pertama kalinya, Aruna merasa… siap.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/