“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: KILAT DAN KEPINGAN TAKDIR
Langit di atas Kampung Kenanga seolah sedang menumpahkan kemarahan yang tertahan. Awan hitam berarak rendah, bergulung-gulung menciptakan rupa raksasa yang menakutkan. Angin bergerak kencang, menyapu debu jalanan dan menggoyang pucuk-pucuk pohon kelapa hingga melengkung ekstrem. Petir menyambar setiap beberapa menit, mengirimkan dentuman yang menggetarkan kaca-kaca rumah penduduk.
Kampung itu sunyi senyap. Tidak ada suara tawa dari warung kopi, tidak ada anak-anak yang bermain di halaman. Semua orang sudah meringkuk di balik pintu rumah mereka, mencari kehangatan di balik selimut sebelum hujan lebat benar-benar mengamuk.
Di pertigaan jalan masuk kampung, sebuah angkutan desa yang catnya sudah mengelupas dan mesinnya terbatuk-batuk berhenti dengan suara decit rem yang memilukan telinga. Pintu gesernya terbuka, dan seorang pemuda melompat turun.
"Makasih, Pak," ucap pemuda itu singkat, suaranya berat namun sopan.
Sopir angkot hanya mengangguk sekilas sebelum segera tancap gas, seolah takut terjebak badai di jalanan yang sepi itu.
Pemuda itu adalah Rimba Dipa Johanson. Sosoknya sangat mencolok untuk ukuran pemuda desa. Tingginya mencapai 187 sentimeter, jangkung, walau kerangka tulang bahunya lebar namun dia tidak terlalu kekar. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara garis tegas kaukasia dan kelembutan Asia. Kulitnya putih, hidungnya mancung, dan matanya memiliki warna yang sulit dijelaskan di bawah temaram cahaya kilat. Rambut cokelatnya yang agak pirang dibiarkan panjang hingga menyentuh kerah kemeja flanel kotak-kotak yang ia kenakan. Kemeja itu tidak dikancingkan, memamerkan kaos oblong polos di dalamnya, dipadukan dengan celana jeans yang dipotong seadanya hingga batas lutut.
Rimba mendongak, menatap langit yang semakin pekat. "Sial, sebentar lagi pasti tumpah," gumamnya pada diri sendiri.
Ia merapatkan kemejanya. Rimba baru saja kembali dari kampung sebelah untuk mengembalikan buku referensi pemrograman milik seorang temannya. Ia merasa harus mengembalikannya sekarang karena dua bulan lagi, ia akan meninggalkan tanah kelahirannya ini. Sebuah universitas swasta ternama di ibu kota provinsi telah memberikannya beasiswa penuh di jurusan IT. Sebuah keajaiban kecil bagi seorang anak yatim piatu yang tinggal di pelosok.
Pikirannya melayang sesaat pada kakeknya yang baru meninggal dua minggu lalu. Kakek adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sejak kecelakaan maut itu merenggut nyawa ayah Amerikanya dan ibu Indonesianya saat Rimba baru berusia tujuh tahun. Ia masih ingat dinginnya besi mobil yang ringsek dan bau bensin yang menyengat saat itu. Kini, ia benar-benar sebatang kara, menghuni rumah kayu warisan kakeknya yang mulai rapuh dimakan usia.
Tes…
Satu tetes air berukuran besar jatuh tepat di hidungnya. Rimba tersentak dari lamunannya. Ia mulai melangkah cepat menyusuri jalan kampung yang membelah keheningan. Di sisi kanannya, hutan desa tampak seperti dinding hitam yang mengancam, sementara di sisi kirinya, hamparan sawah dan kebun masyarakat membentang luas, kini tertutup kabut tipis akibat hawa dingin yang turun.
Rimba mempercepat langkahnya menjadi lari-lari kecil. Ia hanya perlu melewati satu belokan lagi sebelum masuk ke area pemukiman yang lebih rapat.
Namun, tepat di tikungan yang gelap, tiga bayangan manusia muncul dari balik pohon beringin besar. Langkah Rimba terhenti mendadak. Jantungnya berdegup kencang.
"Wuih, lihat siapa ini. Si Bule Kampung sudah mau pulang," suara parau itu memecah suara angin.
Tiga orang pria dengan pakaian kumal dan aroma alkohol yang tercium samar menghalang jalan. Salah satunya, yang paling pendek dengan bekas luka di pipi, maju selangkah sambil memainkan sebilah pisau lipat.
"Mau apa kalian?" tanya Rimba, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun lututnya sedikit gemetar.
"Jangan pura-pura bodoh, Rimba. Kami tahu kakekmu meninggalkan tabungan. Lagi pula, kau mau kuliah ke kota, kan? Pasti kantongmu tebal," sahut preman yang lain, yang bertubuh gempal.
"Aku tidak punya uang. Beasiswa itu gratis, aku tidak bawa apa-apa," jawab Rimba jujur.
Preman dengan bekas luka itu tertawa mengejek. "Bule pelit. Periksa kantongnya!"
Dua preman lainnya maju dan mencengkeram lengan Rimba. Rimba mencoba berontak. Insting bertahannya muncul, ia menyentakkan lengannya dan berhasil melepaskan diri sesaat. "Jangan sentuh aku!" teriaknya.
Bugh!
Satu pukulan mendarat telak di perut Rimba. Ia terbungkuk, oksigen seolah hilang dari paru-parunya.
"Melawan, ya? Kau pikir karena badanmu tinggi kau bisa hebat?" Preman gempal itu melayangkan tinju ke wajah Rimba.
Rimba mencoba membalas dengan pukulan serampangan, namun ia tidak memiliki dasar bela diri sama sekali. Ia hanyalah pemuda kutu buku yang menghabiskan waktunya dengan buku dan layar komputer tua milik kakeknya. Dalam sekejap, ia menjadi bulan-bulanan.
Pukulan dan tendangan mendarat di tulang rusuk, wajah, dan punggungnya. Rimba jatuh tersungkur di aspal jalanan yang kasar. Dunia terasa berputar. Darah mulai mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya yang robek. Kesadarannya mulai mengabur saat sebuah tendangan terakhir mendarat tepat di kepalanya.
Rimba pingsan.
"Cuma segini? Cih, payah," gumam salah satu preman sambil merogoh saku jeans Rimba. Mereka hanya menemukan dompet kulit usang berisi beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan sebuah ponsel lama dengan layar retak.
"Sialan, benar-benar miskin!" Preman itu meludah ke arah tubuh Rimba yang tak berdaya. "Buang dia ke parit, biar tidak menghalangi jalan."
Dua dari mereka menyeret tubuh jangkung Rimba dan melemparkannya begitu saja ke parit sedalam satu meter di sisi jalan yang mulai terisi air. Setelah itu, ketiganya menghilang dengan cepat ke dalam kegelapan hutan desa.
Hujan akhirnya tumpah. Bukan sekadar rintik, melainkan hujan lebat yang seolah ingin menenggelamkan bumi.
Air dingin yang membanjiri parit mulai meresap ke dalam baju Rimba, menyentuh luka-lukanya yang masih terbuka. Rasa perih yang luar biasa memaksa kesadarannya kembali. Rimba terbatuk, memuntahkan air bercampur darah. Tubuhnya terasa remuk, seolah setiap tulangnya telah dipatahkan.
"Ugh..." Ia mengerang pelan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Rimba menggerakkan jemarinya yang kaku. Ia merangkak perlahan, kuku-kukunya tertancap di tanah parit yang becek. Perjuangannya terasa sangat lama hanya untuk naik kembali ke permukaan jalan. Setiap gerakan memicu rasa sakit yang menghunjam jantung.
Setelah perjuangan yang melelahkan, ia berhasil mencapai tepian aspal. Dengan napas tersengal dan wajah yang bengkak hingga sebelah matanya sulit terbuka, Rimba mencoba berdiri. Ia bertumpu pada lututnya yang gemetar.
Saat itulah, ia melihatnya.
Di tengah gelapnya langit dan derasnya hujan, ujung mata Rimba menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ia mendongak dengan susah payah. Sebuah cahaya terang—jauh lebih terang dari kilat manapun—muncul dari balik awan.
Cahaya itu tidak diam seperti bintang, juga tidak meluncur lurus seperti meteor. Cahaya itu bergerak liar. Ia berputar-putar ganas di angkasa, meliuk-liuk dengan kecepatan yang melampaui logika manusia, menciptakan jejak neon kebiruan di langit yang hitam.
Rimba terpaku. Rasa sakit di tubuhnya seolah terlupakan sejenak oleh pemandangan aneh itu. "Apa itu...?" bisiknya lirih.
Tiba-tiba, cahaya yang tadinya berputar di ketinggian itu berhenti mendadak. Ia seolah "melihat" Rimba yang berdiri sendirian di jalanan sepi itu. Dalam sepersekian detik, cahaya itu membelok tajam, menukik turun dengan kecepatan yang menciptakan suara dengungan tinggi yang memekakkan telinga.
Rimba tidak sempat menghindar. Ia bahkan tidak bisa mengedipkan mata.
BLAARR!
Cahaya itu menghantam kening Rimba dengan kekuatan yang terasa seperti ledakan nuklir kecil. Tidak ada api, tidak ada darah tambahan, hanya sebuah benturan energi murni yang membuat seluruh saraf di tubuh Rimba seakan terbakar.
Tubuh jangkungnya terlempar ke belakang, melayang beberapa meter sebelum kembali jatuh terjerembab ke dalam parit yang sama.
Keheningan kembali menyelimuti jalanan itu, hanya menyisakan suara hujan yang semakin deras menghantam bumi. Rimba Dipa Johanson terkapar diam di dasar parit, tak sadarkan diri, sementara di keningnya, sebuah simbol redup yang tak terlihat mulai meresap ke dalam kulitnya, mengubah takdirnya selamanya.