NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Kuil Kematian

Tubuh Lunaris menegang, setelah kalimat dengan suara dingin pemuda asing itu terucap. Pemuda itu lalu memundurkan sedikit tubuhnya.

Saat mata perak itu menatap Lunaris dari atas ke bawah ada perasaan aneh yang membuat bulu kuduk Lunaris berdiri.

Angin dingin kembali berhembus pelan semakin menambah rasa menyesakkan di tempat itu.

Kini Lunaris menyadari dimana dia berada sekarang. Tempat ia berdiri saat ini bukanlah sekadar bangunan tua biasa.

Di kalangan penduduk kota, kompleks reruntuhan yang tersembunyi di balik hutan kota ini dikenal dengan nama Kuil Kematian. Wilayah terlarang yang dipagari kawat berduri dan papan peringatan bahaya yang sudah berkarat.

Ada sebuah urban legend yang beredar luas, diceritakan dari mulut ke mulut dengan nada berbisik. Konon, ratusan tahun yang lalu, tempat ini adalah sarang dari sesosok monster penghisap darah.

Dalam cerita-cerita horor itu, makhluk tersebut digambarkan memiliki wujud yang sangat mengerikan. Tubuh kurus kering setinggi pohon, kulit pucat yang mengelupas, taring-taring tajam yang mencuat tidak beraturan, dan mata merah menyala yang bisa melihat ke dalam jiwa.

Legenda mengatakan bahwa monster itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur di dalam kuil kuno di pusat reruntuhan, menunggu mangsa.

Monster itu dikatakan memiliki kemampuan untuk mencium aroma keputusasaan. Ia akan membisikkan panggilan gaib kepada jiwa-jiwa yang patah, menarik mereka yang sedang bersedih, putus asa, dan kehilangan arah untuk datang ke tempat ini.

Itulah sebabnya tempat ini sering menjadi lokasi ditemukannya orang-orang yang mengakhiri hidup.

Bukan satu dua kali tapi lebih dari puluhan kali. Penduduk percaya, mereka tidak bunuh diri atas kemauan sendiri, melainkan karena "ditarik" oleh monster itu untuk dijadikan tumbal, agar ia bisa memakan sisa-sisa kehidupan mereka.

Dan malam ini, tanpa sadar, Lunaris telah melangkah masuk ke dalam legenda itu. Ia adalah jiwa patah yang sempurna untuk santapan sang monster.

Lunaris masih terdiam, tubuhnya kaku seolah dipaku ke lantai batu yang dingin. Ironisnya, sosok yang berdiri di hadapannya sama sekali tidak mirip dengan monster buruk rupa dalam cerita.

Pemuda itu... indah. Terlalu indah untuk menjadi nyata.

Namun, mata peraknya yang bersinar redup di tengah kegelapan memiliki daya tarik yang mematikan. Mata itu seolah menghipnotis, menarik kesadaran Lunaris masuk ke dalam pusaran abu-abu yang tak berdasar.

Ada bahaya di sana, sebuah ancaman yang jauh lebih menakutkan dan berbahaya.

Hingga akhirnya, Lunaris mengerjap, memutus kontak mata itu dengan susah payah. Ia menarik napas tajam, mencoba mengembalikan akal sehatnya yang sempat hilang karena pesona asing pemuda itu.

"Siapa lo sebenernya?" Tanya Lunaris. Suaranya terdengar parau dan bergetar, memecah kesunyian kuil yang mencekam.

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana dengan postur tubuh yang santai namun mendominasi, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana hitamnya.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai miring.

Itu bukan senyum ramah. Itu adalah senyum penuh teka-teki yang membuat insting bertahan hidup Lunaris menjerit waspada. Pemuda itu menatap Lunaris seolah sedang menelanjangi jiwanya, menikmati ketakutan yang terpancar dari gadis itu.

Melihat seringai itu, Lunaris mundur selangkah secara naluriah. Rasa waspada meledak di kepalanya. Orang ini... atau makhluk ini, jelas berbahaya

"Siapa aku tidak penting. Yang jelas kau sudah mengganggu tidurku dengan ratapanmu yang menyedihkan itu." Suaranya acuh, tanpa empati.

Mata Lunaris melebar memelototi cowok itu tanpa sadar. Baiklah cerita hidup Lunaris belakangan ini memang menyediakan, bahkan rasanya sudah sangat hancur karena pelecehan yang baru dia terima hingga membuat Lunaris rasanya ingin mengakhiri hidupnya saja.

Tapi saat hal itu diucapkan langsung oleh pemuda asing itu entah kenapa Lunaris sedikit tersinggung mendengarnya.

Apalagi perundungan Bracia dan teman-temannya telah melampaui batas. Bukan hanya tubuhnya yang disakiti—tamparan, cakaran, siraman air, dan benturan kepala ke dinding—tapi juga mentalnya, dihina karena status sosialnya dan ibunya yang seorang janda. Ia pernah melapor, tapi tak seorang guru pun berani menentang Bracia karena posisi ayahnya.

"Bukannya lo terlalu kasar mengatakan hal itu secara langsung?” Suaranya bergetar samar.

“Tapi bukankah yang kukatakan adalah fakta?" Lunaris terdiam, menolak mengakui jika yang dikatakan pemuda itu adalah benar.

Hidupnya memang menyedihkan Lunaris tidak akan menyangkalnya. "Lo gak ngerti apa yang udah gue alami." Isakannya pecah.

"Mereka terus menggangguku, menginjak-injak harga diriku, bahkan gak segan ngehancurin masa depan gue." Ucap Lunaris sarat akan rasa jijik pada dirinya sendiri ketika mengingat kembali pelecehan dari lima orang siswa yang dibawa Bracia.

Pemuda itu memandang Lunaris tanpa ekspresi, seakan kisah Lunaris tidak cukup mampu untuk mendatangkan simpati dari pemuda itu.

"Lebih menyedihkan dari yang kukira ternyata." Ucap cowok itu. "Lalu apa yang kau lakukan di sini?"

"Gue..... Gue gak tau. Gue bahkan gak sadar kenapa kaki gue ngebawa gue sampe ke sini. Tapi ini kan kuil. Jadi mungkin aja disini ada yang bakal denger do'a gue. Dan ngabulin keinginan gue buat nyusul ibu."

Pemuda itu kemudia terkekeh saat mendengar jawaban Lunaris.

"Kenapa lo ketawa? Lo pikir ada yang lucu?"

Pemuda itu menggeleng, "Tidak, hanya saja kau datang ke tempat yang salah. Tempat ini bukan tempat yang tepat untuk berdoa."

Lunaris menatap heran wajah cowok itu, "Apa maksud lo?"

"Sayangnya tempat ini bukan sekedar kuil untuk berdoa, gak ada dewa yang akan mendengar doamu disini. Tempat ini adalah penjara yang dikutuk."

Wush....

Mendengar ucapan pemuda itu, angin dingin berhembus lagi membuat Lunaris bergidik samar. "Lo bercanda? Gue emang gak percaya adanya dewa, tapi kuil tetap tempat suci."

Traktak....

"Karena nyatanya memang begitu." Tepat setelah mengatakan hal itu hal yang tidak terduga terjadi lagi —

syung.....

Brak!

Kejadiannya begitu cepat, saat Lunaris menyadari jika chandelier yang tergantung di langit-langit diatasnya terjatuh, benda itu sudah hampir mengenai kepalanya dan tidak ada waktu untuk menyelamatkan diri.

"Aaaaaaa" Lunaris memejamkan matanya saat lampu kristal gantung yang berada tepat di atas Lunaris terjatuh hampir menimpa Lunaris jika saja pemuda asing itu tidak bergerak cepat.

Dengan secepat kilat pemuda itu meraih Lunaris yang hampir tertimpa lampu gantung. Membawanya menjauhi Altar.

Lampu itu akhirnya jatuh menimpa peti yang sebelumnya menjadi tempat tidur si pemuda bermata perak itu.

Napas Lunaris tersengal, tubuhnya gemetar hebat dalam gendongan cowok bermata abu-abu.

Rasa takut yang mencekam membuat Lunaris memejamkan mata rapat-rapat, menanti benturan keras yang dia kira akan mengakhiri segalanya. Namun, detik demi detik berlalu, dan tidak ada rasa sakit yang datang.

Tidak ada rasa sakit tulang patah, tidak ada hentakan keras. Hanya... keheningan setelah dentuman keras dari lampu yang terjatuh, diselingi hembusan angin malam yang dingin.

Cowok itu menatap lekat Lunaris yang memejamkan matanya, "Kau bisa membuka matamu sekarang." Suara Pemuda asing itu terdengar lagi, datar dan sedikit bosan, memecah keheningan.

Lunaris ragu-ragu membuka matanya perlahan. Cahaya bulan yang pucat menyapa penglihatannya dari jendela, dan dia mendapati dirinya sudah berada di tempa yang cukup jauh dari tempatnya berdiri sebelumnya — dengan keadaan baik-baik saja dan dalam gendongan pemuda bermata perak itu.

Padahal Lunaris jelas ingat jika barusan tubuhnya hampir tertimpa lampu. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa dengan cepat menyelamatkannya.

"Gak mau turun? Atau kau mau aku gendong terus?"

Mendengar perkataan cowok itu, Lunaris buru-buru turun, tapi karena keadaannya masih dalam shock dan linglung membuat kaki Lunaris lemas hingga tubuhnya langsung jatuh terduduk.

Belum lagi rasa nyeri di tangan dan kakinya yang patah semakin memperburuk keadaan Lunaris.

Lunaris mencoba berdiri, tapi kakinya benar-benar lemas dan nyeri, membuatnya terduduk kembali di lantai batu yang dingin.

"G-gue selamat?" Tanya Lunaris lebih pada dirinya sendiri, suaranya parau, matanya membelalak penuh kaget dan bingung.

"Kau masih bernafas itu bukti kau tidak jadi mati tertimpa lampu. Ah ngomong-ngomong kau ini berat juga ya." Jawab pemuda itu, senyum sinis terselip di bibirnya.

Ia mengacak rambutnya sendiri, seolah kejadian tadi tak lebih dari gangguan kecil.

Lunaris mendongak, matanya berair. Walaupun pikirannya sedang kacau sekarang tidak bisa membuat Lunaris menyembunyikan perasaan bingung dan herannya akan kehadiran pemuda asing itu yang tiba-tiba.

"Lo...... Sebenernya siapa lo?!" Ia baru menyadari betapa anehnya kemunculan pemuda itu yang tiba-tiba.

Apalagi dengan berbagai kejadian aneh sebelum cowok itu hadir.

Angin yang berhembus membawa aura mencekam, getaran gempa, hingga lantai retak dan pemuda itu keluar dari sebuah peti mati lalu lampu gantung yang tiba-tiba terjatuh begitu saja. Penampilan pemuda itu juga sangat aneh dengan rambut panjang dan kemeja kuno.

Lalu yang terakhir, gerak tubuh pemuda itu dengan kecepatan tak wajar semakin menambah rasa was-was dalam diri Lunaris.

Lunaris menatap cowok itu, mencari jawaban di wajahnya yang tampak acuh tak acuh.

"Apa… apa lo hantu?" Bulu kuduknya tiba-tiba merinding, tapi kaki cowok itu jelas menapak di lantai, mengenakan sepatu hitam mengkilap.

Cowok itu terkekeh, suaranya dingin. "Serius kau bertanya seperti itu? Kau kira aku makhluk rendah tak kasat mata itu?" Rambut gelapnya tersapu angin lembut, matanya yang perak memancarkan aura tajam, seolah bisa menembus kegelapan.

Lunaris mengerutkan kening. "Lalu gimana Lo bisa tiba-tiba keluar dari dalam peti?" Kecurigaannya bertambah.

Pemuda itu entah kenapa seperti membawa perasaan mencekam yang mencekik Lunaris. Dan Lunaris tentu saja dilanda kebingungan karena kemunculan pemuda itu yang tiba-tiba.

Apa dia itu benar-benar hantu? Tapi saat Lunaris melirik ke arah kaki pemuda itu—kaki jenjang yang terbalut celana hitam dan sepatu berwarna senada yang mengkilap itu masih napak di tanah.

Lunaris berusaha mengabaikan pemuda itu. Sungguh, dia berusaha. Namun, Lunaris seolah-olah dicengkeram oleh sihir mengerikan yang menahannya untuk terus memperhatikan pemuda itu.

Pemuda ini terlihat kaya meskipun pakaiannya kuno, gayanya mirip karakter manhwa yang sering ia baca—tampan, dingin, dan berbahaya.

Ia terkekeh lagi, seolah pertanyaan Lunaris cukup lucu untuk ditertawakan. "Meskipun pikiranmu masih sangat berkabut dengan berbagai emosi, kau masih bisa berpikir kritis juga ternyata."

Pemuda itu melangkah mendekat, memperhatikan penampilan Lunaris yang kacau—seragam olahraga yang kusut, bahkan beberapa bagian ada yang robek, wajah sembab penuh air mata dan babak belur. "Apakah kau habis terkena badai? Penampilanmu kacau sekali."

Lunaris buru-buru menarik seragamnya untuk menutupi tubuhnya. "Bukan urusan lo." katanya pelan, suaranya nyaris bisik, memalingkan muka.

"Benar juga sih, memang bukan urusanku." Pemuda itu mengangkat bahu mengalah, tak ingin memperpanjang perdebatan.

Lunaris menatapnya, bingung. "Lalu apa maksud perkataan lo sebelumnya? Dan juga lo itu siapa sih? Apa lo beneran monster yang ada dalam cerita?"

"Seperti yang aku katakan, jika tempat ini adalah penjara terkutuk. Tempat untuk mengurung yang orang-orang anggap sebagai ancaman keseimbangan antara cahaya dan kegelapan, atau mungkin ya seperti lo bilang tempat ini adalah tempat untuk mengurung monster yang orang-orang ceritakan."

"Omongan lo makin buat gue bingung."

"Yah memang tidak semua orang bisa paham sih. Tempat ini sudah lama dilupakan dan dibiarkan terbengkalai, tapi sialnya mantra segelnya masih sangat kuat."

"Jadi lo monster yang bikin orang-orang bunuh diri disini?"

Cowok itu mengedikan bahunya acuh, mata peraknya berkilat misterius. "Mungkin,"

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!