Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pesta Rakyat
(Esmeralda Aramoa)
(Aleksander De Januer)
-----
Ketenangan di lereng bukit terusik oleh suara tabuhan gendang dan tiupan seruling yang menggema dari lembah. Malam ini adalah perayaan syukuran panen raya, sebuah tradisi tahunan di mana seluruh penduduk desa berkumpul untuk makan besar dan menari. Tentu saja, kehadiran pasangan paling fenomenal di desa, Esme dan suaminya yang raksasa, sangat dinantikan.
Esme berdiri di depan cermin, merapikan gaun sederhana berwarna hijau lumut yang jarang ia pakai. Ia menyematkan sisir kayu mawar pemberian AL di rambutnya.
Di sudut ruangan, AL tampak gelisah. Ia memakai kemeja biru yang sudah diperbaiki kancingnya, dengan rambut yang baru saja Esme sisir rapi. namun raut wajahnya menunjukkan kewaspadaan yang tinggi.
"Moa, kenapa kita harus pergi ke tempat bising itu?" tanya AL sambil memperhatikan tangannya yang besar. "Paman Silas bilang akan banyak orang. Bagaimana jika mereka menyenggolmu? Bagaimana jika aku tidak sengaja meremuk tangan mereka karena terlalu berisik?"
Esme berbalik, tersenyum menenangkan sambil mengelus lengan AL. "Ini hanya pesta, Aleksander. Kita hanya akan makan dan menyapa tetangga. Kau sudah belajar menjadi pria terhormat, bukan? Ingat, jangan mengeluarkan kuku, jangan menggeram, dan yang paling penting... jangan mempraktekkan teori 'dominan' Bang Togar di depan orang banyak."
AL menghela napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang karena keramaian yang akan dihadapi. "Baiklah. Aku akan menjadi dindingmu."
---
Begitu mereka tiba di alun-alun desa, suasana langsung riuh. Cahaya obor menerangi lapangan, dan aroma daging panggang memenuhi udara. Kehadiran AL seketika menjadi pusat perhatian. Dengan tinggi badan yang menjulang dan wajah yang luar biasa tampan, AL terlihat seperti dewa kuno yang tersesat di pesta petani.
"Esme! Aleksander! Kemari!" panggil Paman Silas dari meja utama.
Para pria desa segera merangkul AL. Bang Togar, dengan wajah yang sudah agak memerah karena minuman tuak, langsung menarik AL menjauh dari Esme.
"Oi, Aleks! Bagaimana? Sudah kau coba trik 'pelukan dari belakang' yang aku ajarkan kemarin?" bisik Bang Togar dengan suara yang sayangnya masih bisa didengar Esme.
AL menjawab dengan wajah sangat serius, "Sudah. Moa bilang dia suka, tapi dia juga mengancam akan menyuntikku dengan obat gajah. Apakah itu bagian dari permainan suami istri, Bang?"
Tawa para pria pecah. Esme hanya bisa menutupi wajahnya dengan telapak tangan, ingin sekali rasanya masuk ke dalam lubang kelinci saat itu juga.
Namun, suasana berubah ketika sekelompok pemuda dari desa tetangga datang. Mereka adalah kelompok pengangkut kayu yang terkenal kasar dan sering mencari keributan. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh besar dengan tato di lengannya, mulai memperhatikan Esme yang sedang berdiri sendirian di dekat meja minuman.
"Hei, lihat nona manis ini," ucap pria asing itu sambil mendekati Esme. "Sejak kapan desa ini punya dokter secantik ini? Mau menari bersamaku, Manis?"
Esme mundur selangkah, merasa tidak nyaman. "Maaf, aku sedang menunggu suamiku."
"Suami? Yang mana? Si raksasa kaku itu?" pria itu tertawa meremehkan. "Dia terlihat seperti orang yang tidak tahu cara bersenang-senang. Lebih baik bersamaku."
Pria itu mencoba meraih tangan Esme. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kulit Esme, sebuah bayangan besar menyelimuti mereka. Udara di sekitar mereka mendadak terasa dingin dan berat.
AL sudah berdiri di belakang Esme. Dia tidak menggeram, dia tidak berteriak. Dia hanya berdiri diam dengan tatapan mata kuning yang berkilat tajam di bawah cahaya obor. Tangan AL yang besar mendarat di bahu Esme, menariknya masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang dengan gerakan yang sangat posesif.
"Tangannya," ucap AL dengan suara yang sangat rendah, bergetar seperti suara mesin yang menderu. "Jangan sentuh milikku."
Pria asing itu mendongak, dan seketika nyalinya menciut. Melihat AL dari dekat terasa seperti melihat maut. Aura predator AL keluar secara alami, membuat insting paling dasar manusia mana pun berteriak untuk lari.
"A-aku hanya ingin mengajak menari..." gagap pria itu sambil mundur teratur.
"Dia hanya menari denganku," sahut AL dingin.
Esme bisa merasakan detak jantung AL yang stabil namun kuat di punggungnya. Ia merasa sangat aman, sekaligus sedikit ngeri melihat betapa cepatnya insting pelindung AL bangkit. Esme segera memegang tangan AL. "Sudah, Aleksander. Dia sudah pergi. Mari kita duduk."
AL tidak langsung melepaskan rangkulannya. Dia menatap ke sekeliling lapangan, memastikan tidak ada lagi mata yang menatap Esme dengan niat kurang ajar. Para mentor sesatnya—Bang Togar dan kawan-kawan—malah bersiul kagum melihat gebrakan AL.
"Nah! Itu baru dominan, Aleks! Kau memang murid terbaikku!" teriak Bang Togar sambil mengangkat gelas jahenya.
AL menoleh ke arah Bang Togar, lalu kembali menatap Esme dengan wajah polosnya yang tiba-tiba kembali. "Moa, apakah tadi aku sudah melakukan insting pria dengan benar? Paman Silas bilang suami harus seperti pagar berduri, tidak boleh ada yang lewat tanpa izin."
Esme menghela napas, rasa bangga dan malu bercampur jadi satu. "Iya, kau pagar berduri yang sangat tampan. Tapi sekarang, ayo kita makan. Aku lapar."
Mereka duduk di bangku kayu panjang. AL dengan telaten mengambilkan potongan daging terbaik untuk Esme. Di tengah pesta, musik mulai mengalun lebih lembut. Beberapa pasangan mulai menari di tengah lapangan. AL memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Moa, apakah kita harus bergerak-gerak seperti mereka juga?" tanya AL.
"Itu namanya menari, Aleksander. Kau mau mencoba?"
AL berdiri, menarik tangan Esme menuju tengah lapangan. Karena tinggi badan mereka yang terpaut jauh, AL harus sedikit membungkuk. Dia meletakkan tangannya di pinggang Esme dengan sangat hati-hati, sementara Esme mengalungkan tangannya di leher AL.
"Bang Togar bilang, saat menari, aku boleh menarikmu lebih dekat," bisik AL dengan wajah yang sangat serius, seolah-olah dia sedang menjalankan misi rahasia negara.
"Bang Togar benar-benar harus dikarantina," gumam Esme, namun ia tetap mengikuti gerakan kaki AL yang ternyata cukup luwes.
Di bawah sinar rembulan dan cahaya obor, mereka berdansa. AL menatap wajah Esme dengan penuh pemujaan. Baginya, Esme adalah seluruh dunianya. Dia tidak peduli tentang masa lalu atau siapa pria asing yang mencarinya. Baginya, kenyataan adalah kehangatan tangan Esme di lehernya.
Tiba-tiba, AL mendekatkan wajahnya ke telinga Esme. "Moa, aku punya pertanyaan kritis."
"Apalagi kali ini?" Esme sudah bersiap dengan serangan jantung berikutnya.
"Tadi Bang Togar bilang, kalau kita menari seperti ini terus, detak jantung kita akan menyatu, dan itu adalah tanda kalau kita harus segera melakukan ritual 'merangkak di lantai' itu di rumah. Apakah kau merasakannya juga? Jantungku rasanya mau meledak."
Esme tersandung kakinya sendiri. "AL! Itu karena kau baru saja mengancam orang dan menari! Bukan karena ritual itu!"
"Tapi rasanya sangat nyaman, Moa. Aku ingin menari bersamamu setiap malam," AL memeluk Esme lebih erat di tengah lapangan, tidak peduli dengan sorakan godaan dari penduduk desa.
Malam itu berakhir dengan AL yang menggendong Esme pulang ke bukit karena Esme mengeluh kakinya pegal. Di sepanjang jalan setapak, AL bercerita tentang betapa bangganya dia menjadi suami Esme.
"Kau tahu, Moa? Saat pria tadi mencoba menyentuhmu, aku merasa ada sesuatu yang panas di dadaku. Rasanya seperti aku ingin berubah menjadi sangat besar dan menghancurkan apa pun yang mengganggumu," ucap AL jujur.
Esme mengelus rambut belakang AL yang pendek dan rapi. "Itu namanya rasa sayang yang besar, Aleksander. Tapi kau harus belajar mengontrolnya. Kau manusia sekarang, bukan lagi... bukan lagi yang dulu."
"Aku manusia karena kau ada, Moa," sahut AL pendek namun penuh makna.
Sesampainya di rumah, Ocan sudah menunggu di atas pagar dengan wajah bosan. Dia menatap AL yang menggendong Esme dengan tatapan meremehkan, seolah berkata, "Baru pulang jam segini, dasar manusia tidak tahu aturan."
AL menurunkan Esme dengan lembut di teras. Sebelum masuk, AL mencium dahi Esme lagi—pelajaran yang paling dia ingat. "Selamat tidur, Istriku. Terima kasih sudah membawaku ke pesta."
Esme masuk ke kamarnya dengan perasaan berdebar yang tidak kunjung hilang. Di dalam kegelapan, ia menatap sisir mawar di tangannya. Kebohongan ini semakin lama semakin terasa seperti kebenaran yang indah. Namun, di kejauhan, di luar pagar pondok mereka, sesosok bayangan sedang mengamati rumah itu dengan teropong. Masa lalu tidak akan membiarkan mereka bahagia terlalu lama.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Esme akan mulai menyadari bahwa mereka sedang diawasi, ataukah AL akan semakin jauh masuk ke dalam perannya sebagai suami dan mulai menuntut "hak-hak" suami yang lebih nyata sesuai ajaran Bang Togar?