Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Ekor Cantik dan Mangkuk Kedua
Tepuk tangan untuk kelompok kami akhirnya mereda.
Aku kembali duduk di bangku belakang, menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan misi penjinakan bom, padahal cuma menjelaskan rumus debit air. Rafan di seberang sana memberikan acungan jempol tersembunyi, yang kubalas dengan tatapan datar.
"Baiklah, kita lanjutkan ke sisa kelompok berikutnya," suara Bu Laras memecah euforia kelas.
Tiga kelompok tersisa—Kelompok 1 (Rafan dan Kevin), Kelompok 4, dan Kelompok 5—maju bergantian.
Kelompok Rafan tentu saja tampil memukau dengan gaya public speaking Rafan yang seperti diplomat PBB, ditambah Kevin yang cuma senyum-senyum ganteng sebagai pemanis visual. Kelompok lainnya tampil standar, membaca teks dari kertas atau slide yang penuh tulisan kecil-kecil.
Jujur saja, aku tidak terlalu menyimak.
Otakku sudah beralih fungsi. Dari mode Analisis Geografis menjadi mode Pencernaan. Jam dinding di atas papan tulis seolah bergerak dalam slow motion. Jarum detiknya berdetak mengejek perutku yang mulai keroncongan.
Tik... Tok... Tik... Tok...
"Baiklah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, pelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini," ucap Bu Laras akhirnya, kalimat terindah yang kudengar hari ini. "Jangan lupa revisi laporan kalian dikumpulkan minggu depan. Selamat siang."
"Siang, Bu!"
Begitu Bu Laras keluar, aku langsung memasukkan laptop ke dalam tas dengan gerakan efisien. Tidak ada basa-basi. Tujuanku cuma satu: Kantin. Kios Pak De.
Aku berdiri, menyandang tas, dan melangkah cepat menuju pintu keluar.
Namun, baru dua langkah keluar dari kelas, aku menyadari ada suara langkah kaki lain yang menderap di belakangku. Langkah kaki yang ringan, berirama, dan... persisten.
Aku berhenti mendadak. Langkah di belakangku ikut berhenti. Aku jalan lagi. Langkah itu ikut jalan lagi.
Aku menghela napas, lalu menoleh ke belakang.
Zea.
Gadis itu berdiri di sana dengan senyum tanpa dosa, kedua tangannya memegang tali tas punggungnya. Dia memiringkan kepala sedikit, matanya berkedip jenaka.
"Ngapain ngikutin?" tanyaku.
"Siapa yang ngikutin?" elaknya santai, lalu melangkah maju mensejajarkan posisinya di sampingku. "Aku juga mau ke kantin kok. Searah, kan? Lagian, sesama anggota kelompok sukses harus merayakan keberhasilan presentasi tadi."
"Presentasi tadi cuma tugas biasa, Ze. Nggak ada yang perlu dirayain," jawabku sambil kembali berjalan.
"Ih, dasar kaku! Tadi itu keren banget tau!" Zea berceloteh riang di sampingku, langkah kakinya sedikit melompat-lompat kecil menyesuaikan langkahku yang lebar. "Kamu liat muka Kevin pas kamu jelasin rumus itu? Dia sampe melongo kayak ikan mas koki! Terus Bu Laras, dia kayak mau ngasih kamu nilai 100 saat itu juga."
Aku hanya diam, membiarkan dia bicara sendiri. Tapi anehnya, suara cerewetnya tidak lagi terasa mengganggu seperti minggu lalu. Justru terasa seperti... background noise yang familier.
Sesampainya di kantin, suasana sudah seperti medan perang. Ratusan siswa berebut makanan. Tapi bagiku, target sudah terkunci.
"Pak De, Sop Ayam satu. Biasa," pesanku begitu sampai di depan kios favorit.
"Siap, Mas Cal! Pedes ya?"
"Banget."
"Samain Pak!" suara di sebelahku menyahut.
Aku menoleh. Zea lagi. Dia nyengir lebar. "Apa? Aku juga laper, Cal. Dan sop ayam di sini emang enak, kan kamu yang rekomendasiin."
Aku memutar bola mata, tapi tidak bisa menahan senyum tipis di sudut bibir. "Terserah."
Setelah mendapatkan nampan kami, masalah klasik muncul lagi: Meja penuh. Pohon ketapang tempat kami biasa duduk sudah diokupasi oleh geng anak kelas 12.
"Yah... penuh," keluh Zea, bibirnya manyun sedikit. "Gimana nih, Cal?"
Aku memindai area kantin dengan cepat. Mataku menangkap satu meja kosong di sudut paling pojok, dekat tempat pengembalian piring kotor. Bukan tempat strategis, agak bau sabun cuci piring, tapi setidaknya sepi.
"Situ," tunjukku.
Zea tidak protes. Dia mengikutiku ke meja pojok itu.
Kami duduk berhadapan. Uap sop ayam mengepul di antara wajah kami. Aku langsung meracik sambal, menuangkannya cukup banyak sampai kuahnya berubah kemerahan.
"Gila... lambung kamu terbuat dari besi ya?" komentar Zea ngeri melihat jumlah sambal di mangkukku.
"Biar melek," jawabku singkat, lalu mulai menyuap.
Zea ikut makan dengan tenang sejenak. Tapi aku tahu, ketenangan Zea itu palsu. Dia pasti sedang menahan diri untuk tidak bicara. Dan benar saja, baru tiga suapan, dia meletakkan sendoknya.
"Cal," panggilnya.
Aku menatapnya sambil mengunyah. "Hm?"
Zea menopang dagu dengan kedua tangannya, menatapku lekat-lekat. Matanya berkilat jahil.
"Sembilan hari lagi lho," ucapnya penuh arti.
Aku menelan makananku. "Apanya?"
"Pekan Olahraga, Tuan Pikun," Zea terkekeh. "Ingat taruhan kita? Sembilan hari lagi menuju pembuktian apakah kamu beneran 'Dewa' atau cuma omong kosong."
Aku kembali menyendok kuah sop. "Aku nggak pernah bilang aku Dewa. Kamu yang berasumsi."
"Tapi kamu setuju sama taruhannya," Zea mengingatkan, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja. "Medali Emas Tenis Meja. Kalau kamu menang, aku berhenti gangguin kamu. Kalau kamu kalah—atau aku nggak puas—kamu harus kabulin satu permintaanku."
"Aku ingat," jawabku tenang. "Dan aku nggak berencana kalah."
Zea tersenyum miring. Dia memajukan wajahnya sedikit, menantang.
"Yakin banget nih? Lawanmu nanti bukan cuma anak bawang lho, Cal. Denger-denger Kak Bagas—yang kamu 'tidurin' kemarin—juga ikut Tenis Meja. Dia pasti dendam kesumat sama kamu."
Aku berhenti makan sejenak. Bagas ikut Tenis Meja? Menarik.
"Baguslah," gumamku. "Biar sekalian aku kasih dia mimpi buruk kedua."
Zea tertawa renyah mendengar jawaban sombongku yang diucapkan dengan nada datar itu.
"Duh, ngerinya," ledek Zea. "Tapi serius, Cal. Kamu udah latihan belum? Bet kamu mana? Kok aku nggak pernah liat kamu bawa alat?"
"Ada di rumah. Nggak perlu dibawa ke sekolah kalau belum tanding."
"Ih, sombong lagi!" Zea mencubit lengan seragamku pelan. "Awas ya kalau nanti pas tanding kamu kaku. Sebagai manajer—"
"Siapa yang angkat kamu jadi manajer?" potongku cepat.
"Aku angkat diri aku sendiri!" balas Zea tak mau kalah. "Pokoknya mulai besok, pulang sekolah kita latihan. Aku mau liat skill kamu. Nggak ada penolakan. Titik."
Aku menatap Zea pasrah. Gadis ini benar-benar keras kepala. Dia seperti virus yang perlahan menginfeksi sistem kehidupanku yang tenang. Tapi anehnya, aku tidak berniat mencari antivirusnya.
"Kamu ini..." aku menggelengkan kepala, lalu menyodorkan kerupuk putihku padanya. "Makan tuh kerupuk. Biar mulutnya diem dikit."
Zea tertawa lagi, mengambil kerupuk itu dengan senang hati.
"Makasih, Cal! Kamu emang paling pengertian deh," ucapnya dengan nada menggoda yang dibuat-buat.
Kami menghabiskan sisa waktu istirahat di meja pojok itu. Di tengah hiruk-pikuk kantin, di antara denting sendok dan obrolan ratusan siswa, aku merasa... nyaman.
Mungkin karena sop ayamnya yang enak. Atau mungkin karena gadis berisik di depanku ini, yang entah bagaimana, berhasil membuatku merasa bahwa menjadi "Jenius Rendahan" tidaklah seburuk itu.
Sembilan hari lagi. Aku menatap Zea yang sedang sibuk mengunyah kerupuk dengan pipi menggembung.
Baiklah, batinku. Akan kumenangkan emas itu. Bukan untuk pembuktian pada dunia, tapi mungkin... cuma mungkin... untuk melihat senyum konyol itu lagi.