Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Lidia memutuskan ikut buk Sum ke kampungnya. Dari pada tidak punya tujuan lebih baik menerima ukuran tangan orang baik. Dalam hati Lidia menyemangati dirinya sendiri bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk dirinya dan untuk Panca serta Wulan.
"Ayo masuk, nak." ajak buk Sum menyuruh Lidia memasuki rumahnya yang sederhana.
"Maaf keadaanya begini, nak. Moga kamu betah."
Lidia memindai ruangan yang nampak tertata rapi, meski sederhana tapi nyaman itu yang ia rasakan.
"Ibu tinggal sendiri?" tanya Lidia sambil meletakan tas ransel yang ia bawa.
"Iya."
"Keluarga yang lain mana?" tanya Lidia kepo.
"Anak ibu kerja di kota sedangkan suami ibu sudah tiada." Buk Sum membuatkan segelas teh hangat u tuk Lidia dan untuk dirinya sendiri.
"Ooh." angguk Lidia.
"Ini minum dulu dan cobain kue buatan ibuk." Buk Sum meletakan segelas teh hangat dan cemilan buatan tanganya sendiri.
"Makasih, bu. Maaf merepotkan." ujar Lidia sungkan.
"Ga apa - apa, anggap saja rumah sendiri."
"Berarti tadi ibu dari kota habis nengokin anaknya ya?" tanya Lidia sambil menikmati minuman dan kue.
"Iya, ibu biasanya tiga bulan sekali akan ke kota untuk menengok anak dan menantu ibu." ada senyum bahagia terbit di sudut bibir buk Sum.
"Ooh, bu. Ibu ga takut tinggal sendirian di sini?"
"Galah, apa yang di takutkan. Kita itu punya Allah jadi serahkan saja semuanya pada Allah. Lagian di sini juga banyak tetangga yang baik, yang ada saat di butuhkan." kekeh buk Sum.
Setelah berbincang - bintang tentang banyak hal, bu Sum menyuruh Lidia istirahat di kamar bekas putrinya yang sudah lama kosong.
"Kamu istirahat aja dulu. Ibuk mau ke warung sebentar."
Lidia mengangguk lalu merapikan baju yang ia bawa kedlaam lemari yang masih kosong. Ia menata kamar sedikit agar terasa lebih nyaman. Karna lelah Lidia merebahkan tubuhnya dan tak lama terdengar dengkuran halus pertanda ia sudah tertidur.
Buk Sum yang sudah kembali dari warung melihat Lidia sebentar dan tersenyum saat melihat Lidia tidur dengan nyenyaknya. Wanita itu bergegas kebelakang membawa belanjaannya dan mengeksekusi.
Sekitar jam empat sore Lidia terjaga dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka sedikit demi sedikit menyesuaikan pendar cahaya. Ia duduk termenung mengingat ia sekrang ada di mana. Setelah kesadarannya kembali, Lidia perlahan turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
"Sudah bangun, nak?" tanya byk Sum yang tengah duduk sambil melipat pakain.
"Maaf saya tidurnya lama." ucap Lidia tak enak hati.
"Ga apa - apa, kamu pasti lelah melakuan perjalan jauh. Kamu mau mandi?" tanya buk Sum.
"Iya, bu. Kamar mandinya di mana?" tanya Lidia.
"Itu sebelah dapur, pintu cat hijau." Lidia yang sudah membawa perlengkapan mandi bergegas menuju kamar mandi karna badanya teras lengket. Guyuran air terasa sangat dingin di kulit Lidia membuatnya menggigil dan secepat kilat menyelesaikan ritual mandinya. Mungkin karna belum terbiasa, air di kampung berbeda dengan air di kota rasanya.
"Airnya dingin banget, bu." Lidia memakai jaket dan menutupi kakinya dengan selimut untuk mengurangi rasa dingin yang mendera.
"Kenapa kamu ga bilang, tadi ibuk bisa rembukan air panas dulu."
"Ga apa - apa, bu. Mungkin karna masih belum terbiasa saja, lama - lama juga kuat." kekeh Lidia yang merasa sudah agak hangat badanya.
Lidia memulai kehidupan barunya di kampung bersama buk Sum, sebagian Panca di kota hidup terpuruk dan nampak kacau. Bagaiman pernikahan Panca dan Wulan? lanjut bab berikutnya.
...****************...
Assalamualaikum kk
Di tunggu saran dan masukannya kk😘
Jangan lupa mampir di karya thor yang lain.
Mohon dukungannya berupa like dan komen yang banyak 😘😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?