hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Matahari baru saja terbit, namun apartemen Safira sudah disibukkan dengan aroma kopi yang kuat. Vian, yang semalam sempat terguncang, tampak lebih tenang pagi ini. Ia duduk di meja makan, mencoba fokus pada buku pelajarannya. Kehadiran Safira yang tetap bersikap biasa saja—tanpa ledakan amarah atas kejadian di taman—memberinya rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bel apartemen berbunyi tepat pukul tujuh pagi. Safira melirik monitor interkom dan mendapati Raka dan Bima berdiri di sana. Mereka tidak datang dengan setelan jas mahal untuk bekerja, melainkan hanya mengenakan kemeja santai, membawa beberapa tas besar yang tampak berat.
Safira membukakan pintu, membiarkan kedua abang kandungnya itu masuk.
"Kami sudah keluar dari rumah," ucap Raka tanpa basa-basi begitu pintu tertutup. Ia meletakkan sebuah tas kulit di atas meja. "Dan ini adalah semua dokumen asli yang selama ini Papa simpan di brankas pribadinya. Termasuk catatan aset Ibu yang sebenarnya tidak pernah Papa jual, tapi dia jaminkan secara ilegal."
Bima mengangguk, wajahnya tampak sangat lelah namun lega. "Kami juga membawa rekaman CCTV dari area belakang rumah yang selama ini tidak pernah diakses siapa pun. Di sana ada bukti bagaimana Mama Ratih sering membuang barang-barangmu dan menyuruh pelayan untuk tidak memberimu makan saat Papa tidak ada. Maaf... maaf karena kami baru memberikannya sekarang."
Safira menatap dokumen-dokumen itu. Ada getaran kecil di tangannya. Selama bertahun-tahun ia mencari bukti-bukti ini sendirian, dan sekarang, kedua abangnya menyerahkannya begitu saja.
"Kenapa?" tanya Safira singkat. "Kalian tahu ini akan membuat posisi kalian di Maheswara Group terancam. Kalian bisa kehilangan segalanya."
"Kami sudah kehilangan adik kami selama bertahun-tahun, Fira," jawab Bima dengan suara serak. "Kehilangan harta tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa malu setiap kali kami melihat wajahmu sekarang. Kami tidak minta kamu memaafkan kami hari ini, atau besok. Kami hanya ingin membantu merobek topeng mereka sampai ke akar-akarnya."
Vian yang mendengar percakapan itu dari meja makan, mendekat. Ia menatap Raka dan Bima dengan tatapan yang sulit diartikan. Baginya, kedua kakaknya ini adalah sosok yang dulu ia kagumi namun juga ia takuti karena selalu berpihak pada kebohongan.
"Bang Raka, Bang Bima... kalian beneran nggak bakal balik ke sana?" tanya Vian pelan.
Raka berlutut agar sejajar dengan tinggi Vian, ia menepuk bahu adik laki-lakinya itu. "Enggak, Vian. Kami akan tinggal di apartemen yang tidak jauh dari sini. Kalau kamu butuh bantuan soal basket atau pelajaran, kamu tahu ke mana harus mencari kami."
Safira mengambil dokumen itu, lalu menatap Raka dan Bima dengan tatapan yang sedikit melunak. "Aku akan memberikan dokumen ini pada tim audit. Dan soal kalian... aku tidak akan menjanjikan apa pun. Tapi terima kasih sudah memilih untuk menjadi manusia pagi ini."
Di kediaman Maheswara yang kini terasa seperti kuburan, Ratih duduk di lantai kamarnya yang berantakan. Ia baru saja mendapati bahwa Raka dan Bima telah membawa lari dokumen-dokumen penting dari brankas Raga. Ia tahu, ajalnya di rumah ini sudah sangat dekat.
Ia mengambil ponsel lamanya, nomor yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi.
"Halo... ini aku," bisik Ratih ke seberang telepon. "Aku butuh bantuanmu. Gadis itu... Safira. Dia harus hilang. Aku tidak peduli bagaimana caranya, buat dia mengalami kecelakaan atau apa pun. Aku akan bayar berapa pun yang kamu minta lewat sisa perhiasan yang masih aku simpan."
Suara berat di seberang sana tertawa. "Lama tidak bicara, Ratih. Kamu masih saja licik seperti dulu. Baiklah, kirimkan lokasinya. Aku akan mengatur orang-orangku."
Maya, yang mengintip dari balik pintu kamar ibunya, gemetar ketakutan. Ia membenci Safira, ia ingin Safira menderita, tapi ia tidak pernah terpikir untuk menghilangkan nyawa seseorang. Namun, ketakutannya pada kemiskinan dan kehilangan status membuatnya kembali menutup pintu dan diam. Ia memilih untuk menjadi kaki tangan dalam kebisuan.
Semenjak memutuskan untuk keluar sepenuhnya dari keluarga Maheswara, Safira memilih pendidikan homeschooling untuk menyelesaikan tingkat akhirnya agar bisa lebih leluasa mengatur waktu. Di balik ketenangannya di apartemen, Safira sebenarnya sedang mengelola portofolio investasi rahasia yang ia bangun dari sisa peninggalan ibunya, bekerja sama dengan firma hukum internasional untuk memindahkan aset-aset tersebut ke bawah entitas baru yang tidak terdeteksi oleh radar ayahnya. Fokusnya kini bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan membangun pondasi bisnis yang mandiri di sektor teknologi keuangan, yang perlahan-lahan mulai ia operasikan dari meja kerjanya setiap malam demi menjamin masa depan Vian tanpa harus bergantung pada satu rupiah pun dari nama besar Maheswara.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas