NovelToon NovelToon
Selir Palsu Dari Abad - 21

Selir Palsu Dari Abad - 21

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah sejarah / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.

Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.

Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Yang Hampir Mundur

Hujan turun pelan malam itu, tidak deras dan tidak juga berhenti. Seperti suasana hati Selir Li.

Ia duduk di tepi ranjang paviliunnya, memeluk lutut, menatap pintu yang tertutup rapat. Lampu minyak menyala redup, membuat bayangannya tampak lebih kecil dari biasanya.

“Kenapa aku gemetar?” gumamnya.

Ia bukan pengecut.

Ia hanya lelah.

Di paviliun sebelah, Selir Zhang mondar-mandir seperti kucing kebingungan.

“Dia lama sekali,” katanya sambil menoleh ke pintu.

Song An duduk tenang, menuangkan teh.

“Dia sedang berpikir,” jawabnya.

“Berpikir atau ketakutan?” tanya Selir Zhang jujur.

“Keduanya,” jawab Song An ringan.

Selir Zhang menghela napas. “Aku juga takut.”

“Tapi kau tetap datang,” balas Song An.

“Karena aku tidak mau sendirian.”

Song An tersenyum kecil. “Itu alasan yang bagus.”

Tak lama kemudian, pintu diketuk pelan.

Selir Li masuk.

Wajahnya pucat.

Matanya merah.

Ia tidak langsung duduk.

“Aku…” suaranya tertahan. “Aku tidak tahu apakah aku bisa melanjutkan.”

Selir Zhang langsung berdiri. “Hei…”

Song An mengangkat tangan, memberi isyarat tenang.

“Duduk dulu,” kata Song An lembut.

Selir Li menurut.

Ia menunduk lama.

“Aku takut,” katanya akhirnya. “Bukan hanya ketahuan. Tapi… kalau semua ini berakhir buruk.”

Selir Zhang duduk di sampingnya. “Kita semua takut.”

“Tapi kalian terlihat lebih berani,” balas Selir Li.

Song An menggeleng pelan. “Tidak. Aku hanya lebih terbiasa.”

“Terbiasa dengan apa?”

“Dengan kehilangan,” jawab Song An jujur.

Hening.

“Aku tidak ingin mati di istana ini,” kata Selir Li lirih.

“Kita juga tidak,” jawab Selir Zhang cepat.

Song An menatap Selir Li. “Kau tidak harus melanjutkan.”

Selir Li terkejut. “Apa?”

“Kau boleh berhenti,” lanjut Song An. “Aku tidak akan memaksamu.”

Selir Zhang menoleh cepat. “Tapi....”

“Biarkan dia memilih,” potong Song An.

Selir Li menutup wajahnya dengan tangan.

Beberapa detik berlalu.

“Aku benci istana ini,” katanya teredam. “Aku benci dipaksa. Aku benci merasa kecil.”

Ia menurunkan tangannya.

“Tapi aku lebih benci jika orang-orang seperti mereka menang.”

Song An tersenyum tipis. “Jadi?”

Selir Li menarik napas dalam-dalam. “Aku takut. Tapi aku tidak mundur.”

Selir Zhang langsung memeluknya. “Aku tahu kau tidak akan.”

Song An menuangkan teh lagi. “Baik. Kita lanjut. Tapi lebih hati-hati.”

Keesokan harinya, penyamaran kembali dilakukan.

Kali ini lebih konyol.

“Kenapa kita jadi tukang bersih kolam?” protes Selir Zhang sambil memegang jaring.

“Karena tidak ada yang memperhatikan tukang bersih kolam,” jawab Song An.

Selir Li menatap pakaian mereka. “Aku bau lumpur.”

“Penyamaran berhasil,” balas Song An.

Kolam timur adalah wilayah yang jarang disentuh selir.

Namun jalur airnya terhubung ke luar istana.

“Di sini,” bisik Song An. “Perhatikan siapa yang datang tanpa alasan.”

Mereka pura-pura bekerja.

Selir Zhang hampir terpeleset.

“Aku akan mati terjatuh sebelum dibunuh musuh,” gumamnya.

“Jangan mati dulu,” jawab Song An. “Kita belum selesai.”

Seorang pria datang dengan berpakaian rapi, bahkan terlalu rapi untuk sekadar lewat.

“Siapa dia?” bisik Selir Li.

Song An melirik cepat. “Pejabat tinggi.”

“Yang mana?” tanya Selir Li

“Yang tidak seharusnya sering ke sini.” jawab Song An

Pria itu berbicara singkat dengan penjaga kolam.

Memberi sesuatu.

Lalu pergi.

Song An mencatatnya dalam hati.

“Dia bukan pejabat biasa,” gumam Selir Zhang. “Bukan pelayan.”

“Dan bukan prajurit biasa,” tambah Selir Li.

“Benar,” jawab Song An. “Dia punya akses.”

Saat mereka hendak pergi tiba tiba terdengar suara seseorang memanggil mereka

“Hei!”

Suara itu membuat Selir Zhang hampir menjatuhkan jaring.

“Kenapa kalian di sini?” tanya penjaga kolam curiga.

Song An langsung membungkuk sedikit. “Air keruh.”

“Biasanya kalian sore.”

“Biasanya tidak hujan,” jawab Song An cepat.

Penjaga itu menatap mereka satu per satu.

Jantung Selir Li berdetak kencang.

“Cepat selesai,” kata penjaga itu akhirnya.

Begitu mereka pergi, Selir Zhang berbisik, “Aku hampir teriak.”

“Kau menahan diri,” jawab Song An. “Itu kemajuan.”

Malamnya, mereka melapor pada Kaisar Shen.

“Aku mengenal pria itu,” kata Kaisar Shen setelah mendengar deskripsi. “Dia pejabat penghubung luar.”

“Artinya?” tanya Selir Zhang.

“Artinya dalang bukan di balik layar,” jawab Kaisar Shen. “Dia berdiri di panggung.”

Song An mengangguk. “Dan merasa aman.”

“Kita harus bergerak pelan,” lanjut Kaisar Shen.

“Selalu,” jawab Song An.

Setelah pertemuan, Selir Li tertinggal.

Ia menatap Kaisar Shen.

“Yang Mulia,” katanya pelan, “jika kami ingin pergi sekarang…”

Kaisar Shen menatapnya serius. “Aku akan mengizinkan.”

Selir Li tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Ia menoleh ke Song An.

“Tapi aku belum pergi.”

Song An tersenyum balik. “Aku tahu.”

Malam itu, ketiganya duduk lagi di paviliun.

Tidak berbicara lama.

Hanya duduk.

Mendengarkan hujan.

“Aku masih takut,” kata Selir Zhang.

“Aku juga,” jawab Selir Li.

Song An memandang ke depan. “Takut berarti kita masih hidup.”

“Dan kita tidak sendirian,” tambah Selir Zhang.

Lampu minyak bergoyang pelan.

Di luar paviliun, hujan terus turun.

Dan jauh di dalam istana,

seseorang mulai merasa

bahwa ketenangan ini

terlalu tenang

untuk benar-benar aman.

Bersambung

1
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Tiara Bella
bagus ceritanya berasa lg nnton dracin....
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wulan Sari
lanjut
Wulan Sari
biyasa di dalam pasti ada intrik kekuasaan semoga kaisar Shen dan selir 2 bisa mengatasinya semangat 💪 salam
Wulan Sari
setelah baca cerita ini tentang Kekaisaran semakin menarik biyasa intrik kekuasaan semoga nanti selir yang mengungkap menjadi permaisuri dan akhir bisa bahagia Dan happy end semangat 💪 Thor salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂 trimakasih 🙏
Cindy
lanjut kak
@de_@c!h
kaisar Shen belum punya permaisuri Thor?...
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
miss blue 💙💙💙
selir nya banyak yg mau bebas, kaisar mulai tau, kenapa gak di kumpulin aja, di berikan pikihan yg mau bebas bisa bebas yg bertahan ya silahkan, tp yg pasti song an pasti bakalan di paksa. menetap walau mau bebas 🤣🤣
Eka Haslinda
sepertinya selir bayangan cocok menjadi calon permaisuri masa depan
Cindy
lanjut kak
Ma Em
Song an berhasil membuka topeng Selir Chen pasti kaisar Shen bertambah kagum sama Song an .
Ma Em
Semoga Song an , selir Li dan selir Zhang bisa mengungkap rahasia apa yg akan dilakukan oleh selir Chen dimalam pesta perayaan istana .
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!